8 Karakteristik Obligasi Yang Harus Diketahui Investor

Karakteristik Utang Obligasi

Segala hal di dunia ini kebanyakan relatif. Itu pun berlaku untuk investasi obligasi. Dalam berinvestasi, investor dapat memutuskan sendiri ingin obligasi dengan karakteristik yang bagaimana, ingin mendapatkan keuntungan maksimum namun resiko lebih besar atau yang relatif tenang dan nyaman dengan tujuan menghindari kerugian. Boleh juga perpaduan keduanya. Cek karakteristik obligasi berikut ini.

Obligasi dikelompokkan dalam instrumen investasi yang cukup diminati masyarakat selain dari deposito, reksadana, saham, emas, maupun properti. Biasanya, obligasi disebut juga dengan surat utang. Definisi obligasi sebagai istilah yang digunakan di pasar modal adalah surat pernyataan utang penerbit kepada pemegang obligasi. Maksudnya pihak yang mengeluarkan obligasi adalah debitur, sementara pembeli adalah kreditur. Obligasi ini bisa dikeluarkan oleh pemerintah dan juga perusahaan. Untuk obligasi di negara kita biasanya menawarkan jangka waktu dari 1 hingga 10 tahun. Nah selama jangka waktu tersebut akan diberikan bunga atau kupon sesuai pokok utang yang telah ditetapkan di depan.

Berinvestasi dalam bentuk obligasi sangat dipengaruhi oleh kondisi makro ekonomi seperti laju Inflasi yang biasanya juga menentukan suku bunga dari Bank Indonesia (BI Rate). Misalnya mulai tahun 2011 sampai tahun 2016 yang pengecualiannya adalah tahun 2013, besaran inflasi maupun suku bunga BI cukup bagus untuk penanaman modal di obligasi. Hanya di tahun 2013 dimana angka inflasi dan suku bunga BI meningkat membuat investasi obligasi kurang begitu menguntungkan. Oleh karena itu, bagi investor awam, setidaknya harus memperhatikan dengan cermat kondisi inflasi dan BI Rate naik atau tidak.

Tentu saja tak hanya dua indikator itu saja. Berbagai karakteristik obligasi yang harus diketahui Investor berikut ini pun cukup penting dalam memastikan keputusan untuk menanamkan dana ke obligasi. Berikut poin-poin karakteristik obligasi yang harus diketahui Investor :

1. Nilai Pari (Par Value)

Didefinisikan dengan nilai pokok yang diperoleh pembeli obligasi saat tanggal jatuh tempo sampai. Untuk contoh: PT Andalas Tbk mengeluarkan obligasi ke pasar perdana dengan nilai nominal Rp100 miliar. Untuk pembelian minimal ditetapkan sebesar Rp1 miliar. Nah, harga perdana obligasi tadi dikonversi ke nilai 100%. Nilai persentase itu dinamakan nilai Pari atau harga Pari. Obligasi yang dibeli investor selanjutnya dicatat lalu diperjualbelikan dalam pasar sekunder yaitu di bursa yang harganya akan berfluktuasi, bisa kurang dari 100% atau malah melejit melebihi. Harga obligasi yang tadinya 100% dapat meningkat 110% atau 115% dan seterusnya. Berarti, jika obligasi yang dibeli Investor berharga Rp1 miliar atau Pari 100% kemudian saat diperdagangkan di pasar sekunder naik ke 110%, pembeli selanjutnya dari obligasi itu harus membayarnya senilai Rp1,1 miliar.

2. Interest Rate atau Coupon Bond

Merupakan besaran bunga yang ditambahkan ke nilai Pari obligasi. Kupon tersebut harus diberikan ke pemegang obligasi. Pembayaran kupon diberikan dengan periode waktu sudah ditetapkan yang lazimnya tiap 3 bulan atau 6 bulan sekali. Kupon obligasi itu meliputi fixed coupon atau kupon tetap dan floating coupon atau kupon mengambang.

Fixed coupon menawarkan nilai yang sama dari pertama kali ditentukan sampai tanggal jatuh tempo. Sedangkan floating coupon menawarkan nilai yang merujuk ke besaran suku bunga dari BI rate. Misalnya obligasi dengan nominal Rp1 miliar diberlakukan kupon tetap sebesar 7% serta diberikan setiap 6 bulan. Itu artinya besaran kupon obligasi yang diperoleh sebanyak 7% x Rp1 miliar atau Rp.70 juta.

3. Maturity Date

Yaitu saat untuk para pemegang obligasi memperoleh kembali nilai pokok dari penerbit. Penentuan tanggal maturity date atau jatuh tempo berlainan antar penerbit, apakah itu obligasi negara ataupun perusahaan swasta. Misalnya 1 tahun tau 5 tahun. Yang membedakan adalah, makin pendek periodenya, maka akan lebih gampang diperkirakan, menawarkan resiko rendah, namun jumlah profit yang diperoleh dari pembayaran kupon tak begitu tinggi.

Lalu obligasi yang mempunyai waktu jatuh tempo makin lama periodenya akan cukup susah diperkirakan sebab besaran inflasi dan suku bunga tentu naik turun, menawarkan resiko lebih tinggi, namun jumlah profit yang diperoleh dari pembayaran kupon akan makin tinggi. Ini adalah salah satu karakteristik dalam perbedaan saham dan obligasi.

4. Issuer atau Penerbit

Karakteristik obligasi yang harus diketahui Investor yang ini pun penting. Resiko terjelek jika keliru menentukan issuer obligasi yaitu nilai pokok obligasi yang tak kembali karena gagal bayar. Indikasi jika issuer obligasi berpotensi gagal bayar yaitu ketika membayar kupon. Penerbit obligasi ternyata tak mampu membayarnya dan menunggak. Untuk mengantisipasi kejadian tersebut, maka para Investor bisa menemukan informasi penting dari daftar Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) yang dapat dikunjungi dengan membuka website www.pefindo.com.

5. Saat Penerbit Dilikuidasi

Seumpama resiko terjelek seperti gagal bayar karena penerbit obligasi bangkrut dan dilikuidasi maka aset-aset dijual. Hasil dari penjualan tersebut yang diprioritaskan adalah menyelesaikan kewajiban membayar hak kepada para pemegang obligasi.

6. Wali Amanat

Pihak yang dipilih penerbit obligasi dalam mewakili kepentingan para pemegang obligasi dinamakan dengan wali amanat. Wali amanat bertugas memfasilitasi dan memastikan bahwa kepentingan dan hak pemegang obligasi terpenuhi sehingga tak mengalami kerugian. Wali amanat berhubungan dengan indeture. Indeture sendiri merupakan kontrak antara penerbit obligasi dan wali amanat yang berisi detil hak dan kewajiban penerbit maupun pemegang obligasidiantaranya nilai nominal, kupon, jatuh tempo, dan beberapa ketentuan lainnya dalam melindungi para pemegang obligasi.

7. Keunggulan Obligasi

Pembeli obligasi akan memperoleh bunga atau kupon dimana nominalnya lebih besar dibanding bunga deposito. Tipe kupon obligasi yang diberikan ada yang fixed dan ada pula yang floating. Kelebihan lain dari obligasi ini yaitu kemudahan untuk diperjualbelikan di pasar sekunder berdasarkan tata cara yang telah diatur Bursa Efek Indonesia.

Di samping kupon, pembeli obligasi pun akan memperoleh benefit dalam bentuk capital gain. Capital gain adalah selisih harga beli dan jual obligasi ketika diperdagangkan. Obligasi pun dapat menjadi agunan dalam pengajuan kredit ke bank. Berinvestasi dalam bentuk obligasi merupakan pilihan aman sebab pembayaran nominal pokok maupun kupon sudah diatur dalam Undang-undang yang dikeluarkan pemerintah

8. Keterbatasan Obligasi

Perlu dimengerti oleh investor bahwa obligasi tak selamanya secure, sebab ditemukan obligasi yang mengalami gagal bayar oleh issuer. Akibatnya investor pun tak akan memperoleh profit alias nilai investasi yang diharapkan hilang. Hanya saja, potensi itu cuma terjadi untuk tipe obligasi yang tak diatur dalam undang-undang yang dikeluarkan pemerintah. Kelemahan obligasi yang lain yaitu rentan dipengaruhi kondisi ekonomi yang menurun, situasi politik yang memanas, dan juga acuan suku bunga BI Rate yang turun. Kecuali itu, kalangan investor pun menjadi lebih gampang menderita kerugian apabila menjual obligasi di pasar sekunder sebelum jatuh tempo sebab harga jual yang didapat biasanya lebih murah dibanding harga beli.

Sebagaimana bentuk investasi lain, ada berbagai hal yang harus dipelajari dan dipahami lebih mendetil. Mengetahui dan mempelajari berbagai hal dasar bisa mencegah investor salah strategi dalam berinvestasi di obligasi. Pengetahuan yang harus dikuasai investor salah satunya adalah karakteristik obligasi. Selamat berinvestasi!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *