Analisis Fundamental Saham: Analisis Kualitatif

  • Saham
analisis kualitatif

Ada dua jenis analisis evaluasi saham: fundamental dan teknis, tetapi ada juga analisis kualitatif, yaitu wilayah analisis yang subjektif dan sering disebut dengan metrik halus (soft metrics). Metrik halus adalah aspek perusahaan publik yang tidak bisa diukur atau dituliskan dengan angka.

Secara umum, metrik halus adalah bagian dari analisis kualitatif yang jarang digunakan.

Karakteristik Analisis Kualitatif

Ketika melakukan analisis kualitatif untuk suatu perusahaan, kebanyakan ahli investasi akan melihat pada model bisnis, keuntungan yang dimiliki pada persaingan industri, manajemen, dan tata kelola perusahaan (corporate governance). Hal-hal ini membantu menentukan bagaimana suatu perusahaan mendapatkan keuntungan, keunikan yang dimiliki oleh perusahaan tersebut terhadap pesaingnya, orang-orang siapa saja yang membuat keputusan, dan bagaimana perusahaan tersebut memperlakukan pemegang sahamnya. Data yang dikumpulkan akan memberi gambaran bagaimana suatu perusahaan akan berkembang sembari memberikan keuntungan untuk pemegang sahamnya.

Meskipun begitu, semua faktor tersebut belum bisa memberikan gambaran penuh. Faktor emosional seperti kepuasan konsumen, apresiasi karyawan, dan hubungan yang baik dengan pemasok juga penting.

Yang Jarang Ditemui

Analisis SWOT (strengths, weaknesses, opportunities, dan threats) belum cukup untuk menerangkan faktor kesuksesan suatu perusahaan – analisis SWOT sudah sangat umum digunakan. Laporan tahunan juga tidak cukup untuk mengevaluasi aspek tidak berwujud (intangible) dari suatu perusahaan. Kepuasan adalah kunci dan bisnis yang sukses tentu memilikinya.

Jika suatu perusahaan gagal memberikan kepuasan untuk karyawan, pemasok, dan konsumennya, dengan urutan tersebut, hanya tinggal menghitung waktu hingga harga saham perusahaan tersebut jatuh. Berbagai argument berbeda juga muncul mengenai hal ini. Banyak ahli yang percaya bahwa kepuasan konsumen dan karyawan belum tentu merupakan dua hal yang berbeda. Meskipun karyawan suatu perusahaan bahagia, konsumennya belum tentu merasa sama.

Tetapi Tony Hsieh, CEO dari Zappos.com, platformretail sepatu daring terbesar di dunia dan pemenang berbagai penghargaan pelayanan konsumen, mengatakan bahwa “…Pelayanan konsumen intinya adalah membuat konsumen bahagia, dan budayanya adalah membuat karyawan bahagia. Jadi, sebenarnya, kita berusaha memberikan kebahagiaan, baik untuk konsumen maupun karyawan, dan kita juga menerapkan filosofi ini pada vendor,” di sebuah artikel untuk majalah SUCCESS pada Mei 2010.

Sikap juara inilah yang kemungkinan membuat Amazon.com untuk mengakuisisi Zappos seharga $1,2 milliar pada tahun 2009.

Kepuasan Konsumen

Profesi bidang pemasaran selama bertahun-tahun telah mencoba mengukur kepuasan konsumen untuk menentukan nilai suatu merek. Studi tahunan seperti Forrester Research’s Customer Experience, American Customer Satisfaction Index, dan Prophet’s Reputation Management Index, adalah tiga contoh dari berbagai studi kepuasan konsumen.

Sebagai contoh, American Customer Satisfaction Index menunjukkan bahwa harga saham suatu perusahaan yang memiliki kedudukan tinggi di dalam indeks tersebut akan bernasib lebih baik daripada perusahaan yang berada di kedudukan rendah. Bahkan, di antara tahun 1994 hingga 2007, perusahaan yang memiliki kedudukan di 25 persen atas memberikan keuntungan sebesar 420 miliar dollar untuk para pemegang sahamnya, dibandingkan dengan 111 miliar dollar untuk perusahaan yang menduduki posisi 25 persen di bawah – dengan kata lain, perusahaan yang memuaskan konsumennya mendapatkan keuntungan lebih sebanyak 4 kali lipat.

Banyak analis yang setuju bahwa kapitalisasi pasar sangat dipengaruhi oleh kekuatan suatu merek. Pada sebuah studi yang dilakukan oleh ahli pemasaran David Aaker dan Robert Jacobson, 34 perusahaan yang diteliti di antara tahun 1989 hingga 1992 menunjukkan bahwa perusahaan yang memiliki kenaikan pada nilai merek mendapat keuntungan balik sebanyak 30%, sementara perusahaan yang mengalami penurunan nilai merek menurun hingga 10%.

Jika anda belum yakin bahwa kepuasan konsumen mempengaruhi harga saham, Customer Experience Index tahunan dari Forrester Research memiliki daftar kedudukan perusahaan pada pelayanan konsumen. Perusahaan yang menduduki posisi 10 besar secara rutin melampaui S&P 500. Jika penemuan ini sedikit diubah untuk menyesuaikan laba sebelum bunga dan pajak (operating profits), hasilnya justru akan lebih terlihat.

Kepuasan Karyawan

Perusahaan manapun yang benar-benar tertarik pada kepuasan konsumen harus mengedepankan kebutuhan karyawannya terlebih dahulu; jika tidak, ibaratnya akan seperti memiliki gerobak sebelum kuda. JetBlue di tahun 2007 menyadari bahwa karyawannya tidak terpuaskan ketika JetBlue menelantarkan ribuan penumpangnya karena badai es di New York. Semangat karyawan jatuh dan, akibatnya, kepuasan konsumen juga jatuh. Sampai titik tersebut, JetBlue melakukan survey kepada karyawannya setiap setahun sekali untuk mencari pendapat.

JetBlue berusaha untuk menjadi lebih baik dengan menerapkan “Net Promoter,” sebuah sistem penilaian yang menhitung seberapa banyak karyawan yang secara aktif mempromosikan perusahaannya, baik sebagai tempat kerja dan tempat melakukan bisnis. Setelah sistem ini dapat melihat kepuasan karyawan di tiap departemen, JetBlue bisa memberikan program yang adil untuk semua karyawannya dan memberikan hasil yang baik.

Karyawan adalah wajah suatu merek. Cara tercepat untuk mencemarkan nilai suatu merek (brand equity) adalah dengan memperlakukan para karyawan tersebut secara tidak hormat. Jika karyawan sudah tidak percaya, konsumen pun akan merasa sama. Tanpa konsumen, anda tentu tidak memiliki bisnis! SAS, sebuah perusahaan swasta perangkat lunak, sangat mengerti tentang hal tersebut.

Jim Goodnight, CEO dan salah satu pendiri dari SAS, telah memiliki jabatannya selama 40 tahun SAS sudah berdiri, dan sejak awal Goodnight menekankan pentingnya gaji dan asuransi tambahan suatu karyawan (employee benefits), yang membuat perusahaannya menduduki posisi 50 teratas pada daftar “100 Best Companies To Work For” pada Fortune selam 13 tahun hingga 2016. Pada laporan kewajiban sosial perusahaannya di tahun 2008, SAS menyatakan bahwa “Jika anda memperlakukan karyawan seperti dia akan menguntungkan perusahaan, maka karyawan tersebut akan menguntungkan perusahaan … Inti dari model bisnis yang unik ini cukup sederhana: Karyawan yang puas akan membuat konsumen puas.” Sama halnya dengan perusahaan publik.

Kepuasan Partner Bisnis

Meskipun perusahaan anda terintegrasi secara vertikal, anda akan tetap membutuhkan partner bisnis, dan hubungan yang anda miliki dengan para pemasok tersebut akan memberikan dampak pada hasil akhir produk atau jasa yang anda jual, baik secara positif maupun negatif. Salah satu dari tujuh nilai utama yang dimiliki oleh Whole Foods adalah komitmennya pada para pemasok. Dengan membuat hubungan kerja sama yang baik dengan perusahaan tempat Whole Foods memberi stok barang, Whole Foods bisa memberikan konsumennya pelayanan belanja yang terbaik.

Meskipun begitu, memiliki pelayanan konsumen yang baik tidaklah cukup – barang yang dijual juga harus memiliki kualitas yang baik. Whole Foods juga seringkali memenuhi kualitas barang yang baik, dan karenanya bisa memiliki harga yang lebih tinggi daripada toko kebutuhan sehari-hari (grocery) lainnya, yang juga mengakibatkan pada keuntungan yang lebih besar.

Kesimpulan

Para investor cenderung menghabiskan waktunya mengkhawatirkan analisis kuantitatif. Rasio seperti earnings-per-share dan return on equity selalu diperhatikan, sedangkan aspek tidak berwujud seperti kepuasan konsumen ditinggal begitu saja untuk survey tahunan yang nantinya juga ditelantarkan. Baca artikel analisis fundamental vs kuantitatif untuk lebih lanjut.

Harus kita akui bahwa kita hidup di dunia kuantitatif. Apapun yang kita lakukan selalu melibatkan daftar 10 besar satu dan lainnya. Kita ingin cara cepat dan daftar-daftar tersebut memberikan jawabannya. Analisis kualitatif, di sisi lain, memang rumit, dan kebanyakan pengidola Benjamin Graham menganggapnya terlalu subjektif.

Meskipun begitu, bisnis yang harga sahamnya secara konsisten terus naik tentu sudah memuaskan seluruh pemegang sahamnya. Seperti perkataan Warren Buffet yang sudah sering dikutip: “Hati-hati dengan si culun yang memiliki rumus.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *