8 Perbedaan Asuransi Syariah dan Konvensional

Asuransi Syariah vs Konvensional

Terdapat dua macam asuransi tersedia di pasar yaitu asuransi syariah dan konvensional (umum).

Perbedaan asuransi syariah dan konvensional adalah dari mekanisme risikonya. Asuransi konvensional mempunyai prinsip jual beli risiko (transfer risk) sedangkan asuransi konvensional mempunyai prinsip bagi risiko (sharing risk).

Asuransi syariah adalah produk dengan sistem berdasarkan syariat atau ketentuan dalam agama Islam. Peraturannya sesuai dengan prinsip tolong-menolong antar anggota atau ta’awun, asas saling melindungi atau takafuli, dan berbagi risiko antara anggota asuransi.

Asuransi konvensional adalah produk yang membebankan premi sehingga nasabah memperoleh kompensasi berbentuk perlindungan dari risiko. Risikonya berhubungan dengan kesehatan atau malah kematian.

Sebagai program mempersiapkan dana darurat dan perlindungan diri, pastinya nasabah mesti mengerti persis variasi produk yang tersedia. Agar tak keliru, simak secara detail penjelasan perbedaan asuransi syariah dan konvensional:

1. Asuransi Syariah vs Konvensional: Aturan Dasar

Aturan dasar atau mekanisme asuransi syariah dan konvensional tak sama.

Untuk asuransi syariah, aturan pertanggungan risiko yaitu dari perusahaan asuransi dan peserta atau istilahnya adalah risk sharing alias berbagi risiko. Anggota akan saling menolong satu sama lain dengan mengumpulkan dana bersama. Dana yang terkumpul kemudian dikelola dengan membagi risiko antara perusahaan dengan anggota asuransi.

Sementara untuk asuransi konvensional, risiko dari anggota akan ditanggung perusahaan. Sifatnya menyeluruh dengan mekanisme risk transfer. Jadi, asuransi konvensional akan menanggung seluruh risiko dari peserta mulai dari kekayaan, kesehatan, dan bahkan nyawa. Namun itu pastinya disesuaikan dengan ketentuan yang ada.

2. Perbedaan Mendasar dari Segi Perjanjian atau Akad

Prinsip dasar asuransi syariah adalah menggunakan perjanjian yang digunakan sebagai pondasi yaitu akad takaful yang artinya saling menolong. Bilamana peserta mengalami masalah atau terkena musibah maka peserta lain langsung menolong menggunakan dana sosial atau tabarru’.

Sementara prinsip dasar asuransi konvensional adalah menggunakan akad tabaduli yang artinya perjanjian jual-beli. Akad tersebut diimplementasikan sesuai syara’ yakni mesti ada kepastian dari beberapa hal berikut misalnya ada pembeli, ada penjual, ada obyek jual beli, keepakatan harga, serta ada ijab qabul. Tiap pihak yang terlibat harus saling memahami serta menyetujui perjanjian yang telah dilakukan.

3. Kontras dalam Pengelolaan Dana

Dalam asuransi syariah, dana adalah milik seluruh peserta dengan begitu perusahaan cuma bertindak menjadi pengelola dana namun tidak punya hak menguasai. Dana tersebut kemudian dijalankan dengan maksimal sehingga bisa menghasilkan gain bagi seluruh peserta serta menerapkan mekanisme yang terbuka.

Dalam pengoperasian dana asuransi syariah, dana harus disalurkan ke berbagai obyek halal serta dilarang yang bersifat tak jelas atau samar alias syubhat. Tak jelas itu bisa dilihat dari sisi hukum, sifat, atau kenyataannya. Produk investasi yang digunakan mesti berdasarkan ketentuan syariat.

Untuk asuransi konvensional, uang premi mesti ditanggung nasabah sebagaimana proses jual-beli kebanyakan. Dana tersebut kemudian dijalankan menurut kesepakatan, umpamanya ditanamkan sebagian untuk biaya dan investasi. Bisa juga pertimbangan lain mengikuti pilihan produk asuransi untuk memperoleh profit optimal.

4. Perbedaan dari Segi Otoritas Pengawas

Agar peserta tak dirugikan, maka pengawasan dana asuransi cukup penting dilakukan oleh pemerintah. Namun, ada perbedaan asuransi syariah dan asuransi konvensional dalam pengawasan ini.

Asuransi syariah mengikutsertakan pihak ketiga dalam mengawasi aktifitas asuransi yakni Dewan Pengawas Syariah (DPS). DPS berfungsi mengawasi mekanisme transaksi perusahaan sehingga tak keluar dari ketentuan syariah. DPS harus bertanggung awab ke MUI (Majelis Ulama Indonesia).

Sementara untuk asuransi konvensional, tak ditemukan lembaga pengawas tertentu dalam aktifitas maupun transaksi yang dilakukan perusahaan asuransi. Akan tetapi pada intinya tiap perusahaan asuransi yang legal dan terdaftar akan diatur dan diawasi OJK (Otoritas Jasa Keuangan).

5. Perbedaan Bila Tak Ada Klaim

Dalam asuransi konvensional berlaku apa yang dinamakan dana hangus. Itu berlaku saat tak terjadi klaim dari peserta pada periode waktu asuransi yang telah ditetapkan.

Umpamanya dana hangus dari asuransi perjalanan saat perjalanan telah selesai dilakukan. Lalu ada dana asuransi properti hangus saat jangka waktu polis habis.

Sementara dalam asuransi syariah tak menerapkan dana hangus. Dana masih dapat diklaim kendati selanjutnya sebagiannya ditempatkan untuk dana tabarru atau dana sosial. Saat peserta tak mampu meneruskan asuransi syariah maka dana yang telah dibayarkan masih bisa diambil seluruhnya.

Lain pada asuransi konvensional, dana otomatis hangus saat masa polis habis, tak mampu melunasi premi yang masih berlangsung, serta beberapa peraturan yang lain.

6. Lain dalam Surplus Underwriting

Surplus underwriting adalah dana yang didapatkan peserta apabila ada surplus dari rekening sosial atau tabarru. Tak terkecuali dari pemasukan lain sesudah dipotong untuk pembayaran klaim atau santunan serta pinjaman apabila memang ada.

Di asuransi syariah, dikenal sistem surplus underwriting untuk seluruh peserta asuransi. Pemberian keuntungannya adalah prorata atau sama banyaknya.

Sedangkan untuk asuransi konvensional, tak tersedia pembagian keuntungan namun dikenal no-claim bonus untuk sebagian produk asuransi. Itu merupakan pembagian kompensasi yang dihitung underwriter untuk peserta bila tak sekalipun mengajukan klaim pada periode tertentu.

7. Perbedaan dari Segi Zakat dan Wakaf

Salah satu perbedaan antara asuransi umum dan asuransi syariah adalah pada poin zakat dan wakaf.

Wakaf merupakan penyerahan harta benda tahan lama atau hak milik ke penerima wakaf yang tujuan utamanya adalah untuk kemaslahatan umat. Mengingat wakaf punya fungsi perlindungan maka peserta asuransi bisa juga mewakafkan manfaat asuransi berbentuk santunan asuransi meninggal dunia atau dana tunai polis.

Sementara zakat adalah nilai tertentu yang harus diserahkan orang Islam ke beberapa kelompok orang yang berhak umpamanya golongan orang miskin atau fakir. Zakat memiliki ketentuan wajib dalam asuransi syariah yang dipungut dari nilai laba perusahaan.

Ketentuan zakat dan wakaf tak ditemukan dalam asuransi konvensional. Pembayaran dana polis dapat diserahkan ke ahli waris betul aturan yang ada.

8. Perbedaan dalam Pembayaran Klaim

Dalam asuransi syariah, membayar klaim peserta diambilkan dari dana tabungan. Pada asuransi syariah, polis dapat diminta atas nama setiap anggota keluarga mulai dari bapak, ibu, serta anak-anak. Setiap anggota keluarga bisa memperoleh jaminan perawatan di rumah sakit. Klaim pun umum diberikan menggunakan metode cashless dari seluruh tagihan yang muncul.

Sementara asuransi konvensional menanggung klaim peserta yang diambilkan dari uang perusahaan, disesuaikan dengan ketentuan dalam polis. Dalam asuransi konvensional, polis cuma bisa atas nama 1 orang saja, walaupun tersedia manfaat polis khusus untuk anggota keluarga.

Dalam asuransi konvensional, ada beberapa jenis pembayaran klaim meliputi reimburse, cash plan maupun cashless. Peserta pun dapat mengajukan double claim, sesuai dengan ketetapan yang berlaku untuk tiap-tiap jenis polis asuransi.

Animo masyarakat yang besar pada produk asuransi syariah pastinya cukup menggembirakan. Masyarakat akan makin leluasa memilih lewat beragamnya produk asuransi yang bisa disesuaikan dengan harapan. Setelah mengetahui perbedaan antara asuransi syariah dan asuransi konvensional tentu akan makin memudahkan memilih. Namun yang pasti pemilihan harus disesuaikan dengan kesanggupan membayar premi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *