Perbedaan Reksa Dana dan ETF Serta Persamaannya

reksa dana vs etf

Baik Reksa dana maupun ETF keduanya sama-sama memiliki konsep investasi dana gabungan yang dikolektifkan dari para investor. Dana yang dikumpulkan digunakan untuk membangun sekuritas bersama yang menawarkan keuntungan bagi para investor melalui diversifikasi portofolio nya oleh manajer investasi.

Persamaan

Reksa dana dan ETF sama-sama memiliki 100 hingga 3000 sekuritas individu yang berbeda dalam kumpulan dana yang dikolektifkan. Meskipun keduanya memiliki konsep yang sama dan diatur dengan undang-undang sekuritas yang sama, reksa dana dan ETF memiliki perbedaan utama yang cukup mencolok.

Reksa Dana

Manajemen Investasi MFS di Amerika Serikat pertama kali menawarkan reksa dana pada tahun 1924. Pada saat itu, reksa dana sudah menyediakan penawaran dana gabungan. Beberapa reksa dana dikelola secara aktif sehingga para investor melihat sekuritas tersebut sebagai peluang mendapatkan keuntungan, meskipun ada beberapa reksa dana yang dikelola secara pasif. Dengan pengelolaan secara aktif, para investor yakin bahwa hal tersebut dapat membangun portofolio yang optimal daripada hanya mengikuti indeks pasar. Perlu diingat bahwa reksa dana menawarkan berbagai macam pilihan dana yang dapat dikelola secara aktif sedangkan ETF cenderung menawarkan pilihan dana yang dikelola secara pasif.

Pilihan yang ditawarkan tersebut tentunya menunjukkan betapa kompleksnya reksa dana. Biaya yang dibutuhkan juga cukup tinggi karena manajer investasi diberi tugas yang cukup sulit dalam mengidentifikasi sekuritas terbaik agar sesuai dengan strategi portofolio yang diinginkan oleh para investor. Reksa dana juga sudah sejak lama diintegrasikan kepada perusahaan pialang dengan layanan penuh (maksudnya dalam menjual dan membeli unit penyertaan). Hal tersebut merupakan faktor penambahan biaya dan penentuan jenis saham yang akan diinvestasikan.

Reksa dana dibuat untuk didistribusikan dalam berbagai macam jenis saham. Setiap jenis reksa dana memiliki struktur atau jumlah pembiayaan yang berbeda dan dibebankan kepada investor untuk membayar beban penjualan pada broker. Dapat disimpulkan bahwa jenis yang berbeda akan mempengaruhi jumlah biaya operasional yang berbeda juga.

Investor akan mengetahui seberapa besar biaya operasional reksa dana melalui expense ratio atau beban operasi yang diberikan oleh manajer investasi. Beban tersebut merupakan perbandingan dalam satu tahun antara rata-rata nilai aset bersih dan beban operasional pengelolaan dana investasi reksa dana. Biaya tersebut adalah biaya tahunan yang harus dibayarkan oleh para investor. Expense ratio terdiri dari biaya manajemen, biaya operasional, dan biaya 12b-1. Biaya 12b-1 adalah salah satu pembeda yang mendasar antara reksa dana dan ETF. Reksa dana memerlukan biaya tersebut untuk mendukung biaya yang dibutuhkan dengan penjualan dana sekuritas oleh pialang. Berbeda dengan reksa dana, ETF tidak membutuhkan biaya 12b-1 sehingga beban operasi reksa dana dapat dibilang lebih tinggi dari ETF.

Hal penting yang perlu diingat baik-baik oleh para investor adalah reksa dana dipengaruhi oleh nilai aset bersih (NAB) yang dihitung pada akhir perdagangan. Sehingga investor yang ingin melakukan transaksi jual beli reksa dana perlu mempertimbangkan NAB yang baru muncul di penghujung hari perdagangan. Ketika sudah didapatkan jumlah NAB nya maka investor dapat menjumlahkan pesanan mereka. Biaya yang dikeluarkan reksa dana juga biasanya lebih tinggi dari ETF karena butuh jasa yang digunakan untuk mengelola dana secara aktif sedangkan ETF dikelola secara pasif.

ETF

Exchange-Traded Funds atau dikenal sebagai ETF adalah jenis reksa dana yang berbentuk KIK atau Kontrak Investasi Kolektif di mana unit penyertaannya diperdagangkan di Bursa Efek. ETF pertama kali dikenalkan pada tahun 1993 yang bertujuan untuk mengikuti indeks S&P 500. Jumlah ETF kemudian meningkat lebih dari 3400 ETF di penghujung akhir tahun 2017. Peraturan ETF mengharuskan dana dikelola secara pasif dengan sekuritas yang berperan untuk melacak indeks.

Sepanjang sejarah, kepopuleran ETF bagi investor adalah tujuannya yang ingin mendapatkan eksposur ke segmen pasar tertentu dengan keuntungan diversifikasi hampir di seluruh sektor. Beberapa tahun terakhir, Smart Beta Funds – kombinasi strategi pengelolaan investasi secara aktif dan pasif – telah menarik perhatian para investor sehingga lima tahun terakhir telah terjadi peningkatan aset sebanyak 20% setiap tahunnya. Dalam penawaran ETF, Smart Beta ETF menyedikan jenis produk indeks yang disesuaikan dengan faktor yang ada sehingga investor dapat memilih sesuai dengan karakteristik yang diinginkan. Pilihan ETF ini memberikan lebih banyak variasi dibandingkan ETF yang dikelola secara pasif saja.

Pertimbangan penting lainnya bagi para investor ETF adalah biaya. ETF tidak menanggung beban penjualan sehingga investor hanya akan membayar uang komisi apabila diperlukan saat memperdagangkannya. Namun, kebanyakan ETF diperdagangkan secara gratis. Biaya operasional ETF biasanya lebih rendah karena berbagai macam faktor seperti biaya manajemen yang rendah karena manajer investasi mengelola dana ETF secara pasif dan tidak memerlukan analisis saham. Biaya transaksi juga lebih rendah karena sedikitnya perdagangan yang dibutuhkan. Biaya 12b-1 yang sudah disinggung di awal juga tidak dibebankan kepada para investor ETF.

Perbandingan harga ETF dan reksa dana juga cukup berbeda. ETF diperdagangkan sepanjang waktu di Bursa Efek seperti saham. Investor akan tertarik berinvestasi pada ETF karena penjualannya aktif seperti saham dan dapat ditaruh ke dalam aktivitas transaksi portfolio mereka. Harga sekuritas yang dicantumkan dalam portofolio para investor adalah harga real-time berbeda dengan reksa dana yang tiap harinya harga berubah-ubah.

Perbedaan Reksa Dana dan ETF Dalam Perpajakan

Sama seperti investasi lainnya, baik reksa dana dan ETF akan dikenai pajak keuntungan modal sesuai dengan jangka waktunya. Investor harus membayar pajak ini ketika mereka mendapatkan keuntungan. Keuntungan modal dengan pajak jangka pendek berlaku untuk saham yang dimiliki kurang dari satu tahun sebelum dijual. Sedangkan keuntungan modal yang dimiliki lebih dari satu tahun sebelum dijual akan dikenakan pajak jangka panjang. Keuntungan modal jangka panjang biasanya dikenakan pajak 0%, 15%, dan 20% tergantung pada jenisnya. Investor reksa dana maupun ETF juga harus membayar pajak atas dividen yang diterima. Dividen biasa dikenakan pajak seperti pajak pada penghasilan biasa, namun dividen dengan keuntungan modal jangka panjang akan dikenai pajak yang lebih tinggi.

Perbedaan reksa dana dan ETF dalam pajak dapat dilihat dari RD yang dikenai pajak yang lebih tinggi. Hal tersebut disebabkan oleh pendistribusian keuntungan modal reksa dana kepada para investor. Berbeda dengan reksa dana, ETF tidak perlu membayar biaya pendistribusian modal sehingga ETF dikenai pajak yang lebih sedikit. Uang – hasil investasi – yang disimpan hingga batas waktu tertentu tidak akan dikenakan pajak apapun. Demikian investasi melalui rekening tersebut dapat tumbuh bebas dari pajak dan tidak akan dikenakan pajak saat perdagangan dilakukan.

Poin Penting

  • Reksa dana dan ETF menawarkan berbagai macam pilihan produk investasi dengan cara mengumpulkan dana dari para investor
  • Reksa dana lebih kompleks dibandingkan ETF karena jenis dan biayanya yang berbeda-beda
  • Hal yang menarik bagi investor dari ETF adalah kemampuannya dalam melacak indeks pasar sedangkan reksa dana menawarkan berbagai pilihan dana yang dikelola secara aktif
  • ETF diperdagangkan secara aktif sepanjang hari sedangkan reksa dana memiliki jam tutup perdagangan setiap harinya
  • Reksa dana dikelola secara aktif sedangkan ETF cenderung dikelola secara pasif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *