6 Masalah Keuangan Yang Dapat Mengganggu Rumah Tangga

  • Keluarga
6 Masalah Keuangan Yang Dapat Mengganggu Rumah Tangga

Argumen tentang keuangan seringkali menghambat mulusnya kehidupan rumah tangga. Dengan sepertiga orang dewasa yang memiliki pasangan menganggap uang sebagai salah satu sumber konflik terbesar di dalam suatu hubungan, tentu tidak mengherankan jika masalah keuangan adalah penyebab utama perceraian. Meskipun begitu, berbagai masalah tersebut bisa saja bermunculan bahkan sebelum “sah” diucapkan.

Berikut beberapa masalah keuangan yang paling umum dialami oleh pasangan suami istri untuk membantu Anda menjalani kehidupan pernikahan dengan kondisi keuangan yang lebih baik.

  • Jika Anda sedang berada di dalam hubungan yang serius, Anda dan pasangan Anda harus nyaman dan jujur dengan percakapan seputar keuangan, kebiasaan, tujuan, dan kekhawatiran Anda.
  • Disini lah dimana ego, rasa ingin mengontrol, dan dinamika pasangan suami istri perlu diteliti. Dengan kerja sama, Anda akan mencapai lebih banyak hal dengan pasangan Anda dibandingkan jika Anda bekerja sendiri.
  • Jika Anda memiliki masalah utang, Anda dan pasangan Anda dapat menggunakan berbagai alat dan strategi untuk mulai membayar utang menuju kondisi keuangan yang lebih stabil.
  • Keberadaan anak akan mengubah segalanya; Anda dan pasangan Anda sebaiknya saling mengutarakan harapan dan pemikiran tentang cara mendidik anak dan membiayai kebutuhannya jauh sebelum anak Anda lahir.
  • Pasangan yang memiliki masalah dalam komunikasi seputar uang bisa meminta bantuan penasehat untuk perencanaan keuangan keluarga dengan arahan yang objektif.

1. Mana yang Milik Saya, Anda, dan Kita Berdua

Terkadang, ketika kedua orang di dalam suatu hubungan memiliki pekerjaan dan seringkali tidak sependapat seputar masalah keuangan atau terlalu sibuk untuk berbicara tentang hal tersebut, mereka seringkali memutuskan untuk membagi tagihan menjadi dua atau mengalokasikannya dengan cara lain yang adil. Ketika tagihan sudah dibayar, Anda dan pasangan Anda dapat menggunakan uang yang tersisa sesuai keinginan masing-masing. Meskipun metode ini terlihat seperi cara yang baik, apa yang Anda atau pasangan Anda beli atau gunakan dengan sisa uang tersebut dapat menjadi masalah. Metode ini juga memecah seberapa banyak uang yang Anda dan pasangan Anda bisa gunakan, mengurangi nilai keuangan di dalam pernikahan Anda, dan juga mengahalangi Anda dan pasangan Anda untuk merencanakan tujuan jangka panjang, seperti membeli rumah atau menabung untuk biaya pensiun. Selain itu, metode tersebut juga dapat menimbulkan kebiasaan dimana Anda atau pasangan Anda akan saling menyembunyikan uang.

Pembagian tagihan menjadi dua tersebut juga tidak memberikan kepastian jika salah satu dari Anda kehilangan pekerjaan; memutuskan untuk mengurangi jam kerja atau memotong gaji untuk mencoba pekerjaan lain; memilih untuk berhenti kerja untuk mengurus anak atau orang tua, atau kembali mengenyam pendidikan; atau situasi lainnya dimana salah satu dari Anda harus menjadi tulang punggung satu-satunya. Anda dan pasangan Anda harus mendiskusikan apa yang Anda lakukan jauh sebelum hal-hal tersebut terjadi.

2. Utang

Dari cicilan biaya pendidikan hingga mobil, kartu kredit dan kebiasaan judi, sebagian besar orang akan duduk di pelaminan membawa beban keuangan. Jika salah satu dari Anda memiliki utang yang lebih banyak–atau jika salah satu dari Anda tidak memiliki utang sama sekali–diskusi tentang pemasukan, pengeluaran, dan pembayaran utang akan cepat menjadi berapi-api.

Mereka yang berada di dalam situasi seperti itu mungkin bisa sedikit lega karena, faktanya, utang yang dimiliki oleh seseorang tidak akan turut menjadi beban pasangannya jika mereka memutuskan untuk menikah. Meskipun begitu, kebanyakan negara bagian (yang menggunakan common law) akan menganggap utang yang dimiliki setelah menikah akan dibebankan pada Anda dan pasangan Anda. Utang yang dimiliki secara individu akan tetap dibebankan secara individu juga, kecuali untuk biaya hidup anak, biaya rumah, dan biaya makanan, yang tetap menjadi utang tergabung.

3. Kepribadian

Kepribadian masing-masing pasangan memiliki peran yang besar dalam diskusi dan kebiasaan seputar keuangan. Bahkan jika Anda dan pasangan Anda bebas utang, konflik yang biasa muncul diantara yang menghabiskan uang dan yang menabung tetap dapat muncul. Ketahui kepribadian keuangan Anda dan pasangan Anda dan diskusikan perbedaan yang ada secara terbuka.

Secara singkat, beberapa orang memiliki kebiasaan untuk menabung yang sering dipandang sebagai seseorang yang pelit dan menghindari resiko, beberapa orang menghabiskan lebih banyak uang dan suka menarik perhatian, dan beberapa lainnya senang belanja dan membeli barang. Beberapa orang menumpuk utang–seringkali tanpa berpikir panjang–dan beberapa lainnya bisa berinvestasi yang rela menunda kenikmatan seakrang demi masa depan yang mandiri. Kebanyakan dari kita memiliki lebih dari satu sifat-sifat tersebut, tetapi biasanya akan kembali ke satu tipe tertentu. Manapun sifat yang Anda dan pasangan Anda miliki, Anda harus tetap kenali kebiasaan buruk dan coba untuk memperbaikinya.

4. Pembagian Kekuasaan

Pembagian kekuasaan dapat meliputi salah satu dari empat situasi berikut: ketika salah satu dari Anda memiliki pekerjaan yang digaji dan satu yang lainnya tidak; ketika Anda dan pasangan Anda ingin memiliki pekerjaan tetapi salah satu dari Anda sedang menganggur; ketika salah satu dari Anda memliki gaji yang lebih besar daripada yang lain; atau ketika salah satu dari Anda memiliki keluarga yang memiliki status ekonomi lebih tinggi daripada yang lain. Jika berbagai situasi ini muncul, siapapun yang menjadi tulang punggung keluarga (atau yang memiliki atau mendapatkan uang lebih banyak) seringkali ingin menjadi penentu prioritas pengeluaran keluarga. Meskipun sepertinya wajar-wajar saja, Anda dan pasangan Anda harus tetap bekerja sama sebagai tim. Perlu diingat meskipun akun bersama menawarkan transparansi dan akses yang lebih baik, akun bersama bukanlah solusi untuk dinamika kekuasaan/keuangan yang tidak seimbang di dalam suatu pernikahan.

5. Anak

Anda dan pasangan Anda mungkin sering memikirkan untuk memiliki anak atau tidak. Kebutuhan utama seperti sandang, pangan, papan dan kebutuhan lainnya seperti menabung untuk pendidikan anak, tim olahraga sekolah, les ballet, pakaian yang sedang tren, gaun pesta prom, kendaraan, dan biaya kuliah adalah bagian-bagian dari daftar panjang pengeluaran biaya hidup seorang anak. Belum lagi pengeluaran untuk anak yang sudah dewasa dan hidup mandiri. Dan belum lagi pula jika anak Anda tidak tinggal mandiri dan tetap tinggal bersama Anda.

Biaya hidup tentu bukan segalanya. Jika salah satu dari Anda memutuskan untuk bekerja dari rumah, atau berhenti bekerja sepenuhnya demi mengurus anak, Anda dan pasangan Anda harus mendiskusikan bagaimana hal tersebut mengubah dinamika pernikahan Anda, harapan untuk pensiun Anda, gaya hidup Anda, dan sebagainya.

6. Keluarga Besar

Mengurus keuangan bersama dan menghormati tujuan, kebutuhan, dan harapan yang Anda atau pasangan Anda miliki terhadap keluarga besar Anda bisa menjadi sulit.

Sebagai contoh, ibu mertua istri Anda ingin berlibur ke Bali. Mertua suami Anda ingin mobil baru. Kakak ipar istri Anda tidak bisa membayar cicilan rumah. Suami kakak ipar suami Anda terkena PHK. Sekarang salah satu dari Anda akan mengirimkan uang dan yang lain akan bertanya mengapa uang tersebut tidak digunakan untuk kebutuhan rumah tangga terlebih dahulu atau bahkan biaya liburan Anda berdua terlebih dahulu.

Dan sebaliknya juga. Ibu mertua suami Anda akan membiayai tiket pesawat pulang untuk liburan. Ibu mertua istri Anda akan membiayai mobil baru karena istri Anda hanya punya Avanza, bukan Alphard. Ibu mertua istri Anda memberi hadiah mewah dan ibu mertua Anda tidak bisa membelikan hadiah yang sama. Kebahagiaan keluarga terkadang benar-benar sampai ke dompet Anda! (Ini maksudnya sarkasme.)

Cara Mengurus Keuangan dalam Hubungan Pernikahan

pernikahan

Jika Anda sudah sampai sejauh ini, Anda mungkin tidak akan kaget jika ternyata cara terbaik mengurusi masalah keuangan dalam rumah tangga adalah dengan komunikasi dan kejujuran dalam mendiskusikan harapan, keinginan, tujuan, dan kekhawatiran. Anda dan pasangan Anda juga harus memiliki empati, mengesampingkan ego, dan mengurangi keinginan untuk mengontrol. Memang, hal-hal tersebut sulit dilakukan. Tidak, tidak ada alat ajaib yang dapat membantu Anda. Beberapa pasangan sulit menemukan titik temu; bukan berarti mereka payah atau tidak mampu mencapai kesuksesan meskipun sudah menggunakan alat dan teknik untuk mendiskusikan masalah.

Ketahui Cara Mengurus Utang

Untuk sebagian besar pasangan, mengurus utang seringkali menjadi urutan pertama. Dengan mengetahui apa yang akan Anda hadapi, Anda akan dapat menghadapinya lebih mudah. Kedua orang dalam pasangan harus memiliki diskusi yang jujur tanpa menghakimi salah satu pasangan tentang kebiasaan keuangan atau pengeluaran yang buruk yang harus dihindari. Anda dan pasangan Anda juga sebaiknya mendata utang yang dimiliki dan berusaha melunasinya dengan berbagai cara, seperti membayar utang dengan bunga yang tinggi terlebih dahulu atau membayar utang yang paling kecil terlebih dahulu (yang bisa disebut dengan metode utang bola salju).

Tandatangani Perjanjian Pranikah (Atau Pascanikah)

Jika Anda tidak kunjung setuju tetapi hati Anda mengatakan untuk tetap melanjutkan, perjanjian pranikah dapat menjadi pilihan. Perlu diketahui bahwa pasangan Anda dapat merasa tersinggung dengan adanya perjanjian pranikah. Cara terbaik adalah dengan mendiskusikan kekhawatiran keuangan yang membuat perjanjian pranikah salah satu jalan keluar. Jika Anda dan pasangan Anda pernah menikah sebelumnya, Anda mungkin memliki asset keuangan yang Anda ingin wariskan.

Jika pernikahan Anda sudah sah dan Anda ingin lebih dari janji nikah untuk melindungi diri Anda, Anda mungkin ingin menandatangani perjanjian pascanikah (atau kontrak pernikahan). Kontrak ini dapat menegaskan rasa cinta Anda dan pasangan Anda, tetapi akan sulit disetujui dan justru bisa mengurangi rasa percaya jika kontrak tersebut tidak digunakan atau dituliskan dengan benar.

Ketahui Sifat Keuangan Anda

Kepribadian, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, adalah aspek lain dari hubungan Anda yang memiliki peran besar dalam perencanaan keuangan dalam pernikahan. Perhatikan masa-masa kencan, dan tetap jujur tentang diri Anda. Mendiskusikan pandangan dan perasaan Anda dapat membantu Anda dan pasangan Anda merasa nyaman, atau setidaknya memberikan gambaran apa yang akan dihadapi.

Kontrol Ego Anda

Masalah dinamika kekuasaan dapat memperburuk keadaan keuangan dalam rumah tangga secara cepat. Rasa dianggap lebih rendah akan menumpuk kebencian secara cepat. Jika Anda berperan sebagai tulang punggung keluarga, Anda perlu berbicara sensitif tentang pilihan pengeluaran yang dilakukan oleh pasangan. Jika Anda bukanlah tulang punggung keluarga, Anda harus siap dengan stress dan ketegangan yang hampir tidak terhindarkan, bahkan dalam hubungan pernikahan yang baik. Subjek ini akan muncul dengan frekuensi yang semakin meningkat pada pasangan yang menikah di hari nanti.

Banyak studi yang sudah menunjukkan bahwa mereka yang memiliki kekuasaan lebih banyak akan bertindak lebih egois, impulsif, agresif, dan akan memiliki empati lebih rendah. Tiap pasangan dalam hubungan pernikahan harus mengetahui apakah perilakunya membantu tujuan pernikahan yang baik dan seimbang atau tidak.

Salah satu solusi yang sudah memberikan hasil sukses adalah untuk pihak yang memiliki pendapatan lebih tinggi untuk menentukan pilihan pengeluaran pada pihak yang memiliki pendapatan lebih rendah. Butuh kepribadian tertentu untuk menyerahkan kekuasaan yang dimiliki, tetapi jika Anda bisa melakukannya, hal tersebut mungkin bisa membantu.

Diskusikan Urusan Keluarga

Seperti yang Tolstoy sudah tulis di Anna Karenina, “Seluruh keluarga bahagia mirip; tiap keluarga yang tidak bahagia memiliki perbedaan bentuk ketidakbahagiannya.” Keluarga besar dapat menjadi sumber masalah dan tidak ada nasehat tertentu yang bisa membantu Anda menghadapi tiap situasi dan emosi yang pasti akan Anda lalui. Bahkan jika Anda berada di sisi argumen pemenang, yang kalah dapat memberikan hukuman yang menutupi kemenangan tersebut. Berhubungan dengan pasangan yang marah dan frustasi akan membuat Anda menderita. Buatlah keputusan yang sudah disetujui sebelumnya (seperti meminta izin) yang bisa membantu mengurangi masalah. Menjadi seseorang yang pengertian juga dapat membantu. Tentu cara yang terbaik adalah dengan mengikuti pepatah jangan meminjamkan uang kepada teman Anda, karena Anda akan kehilangan teman dan uang Anda juga.

Ajari Kebiasaan Baik

Jika Anda memutuskan untuk memiliki anak, ajari dia tentang keuangan sejak dini. Mempersiapkan anak Anda untuk masa depan keuangan yang bertanggungjawab akan mengurangi sifat boros nantinya. Gunakan uang jajan dan tujuan untuk mengajari anak Anda tentang pendapatan, pengeluaran, dan menabung.

Keuntungan Memiliki Keuangan yang Baik

Meskipun ada tantangan, menikah juga memiliki dampak baik pada keuangan. Menikah adalah cara yang baik untuk mendapatkan pendapatan dua kali lipat tanpa memiliki pengeluaran yang dua kali lipat juga. Jika Anda memiliki tujuan yang sama, Anda dan pasangan Anda dapat mencapai tujuan tersebut lebih cepat jika Anda bekerja sama. Perlu diingat juga bahwa, meskipun Anda sudah hampir benar setiap kalinya, bukan berarti Anda dan pasangan Anda tidak akan memiliki argumen tentang keuangan di hari lain.

Kesimpulan

rumah tangga

Komunikasi yang baik dan jujur, meskipun terkadang agak menyakiti, yang dilakukan sebelum dan sesudah menikah dapat mengurangi masalah keuangan dalam rumah tangga dan membantu diskusi yang jujur seputar kekhawatiran, kebiasaan, harapan, dan berbagai hal-hal yang Anda dan pasangan Anda saling sembunyikan. Jika Anda akan memiliki hubungan yang serius dan untuk seumur hidup, Anda dan pasangan Anda harus mendiskusikan hal-hal tersebut.

Komunikasi yang buruk adalah sumber berbagai masalah di dalam hubungan pernikahan. Disinilah rumah tangga Anda akan diuji. Sama seperti masalah kesehatan umum lainnya, masalah keuangan–jika tidak diurus–akan menjadi lebih besar dan sulit untuk diselesaikan. Cara terbaik untuk memastikan Anda dan pasangan Anda menyetujui keuangan di dalam hubungan pernikahan adalah dengan membicarakan keuangan Anda secara regular, jujur, dan tanpa saling menghakimi. Jangan bicarakan keuangan jika Anda sedang marah, lelah, atau mabuk. Beberapa pasangan memiliki jadwal tertentu, seperti di tiap bulan, tiap empat bulan, atau setahun sekali untuk membicarakan tujuan jangka pendek maupun panjang. Mereka juga meminta bantuan penasehat atau perencana keuangan profesional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *