Cara Menghitung Bunga Pinjaman Bank [Rumus Lengkap]

Rumus Bunga Pinjaman Bank

Tak banyak para debitur yang memahami dengan baik bunga pinjaman bank yang diambilnya. Ini umumnya disebabkan debitur hanya menghitung nilai pinjaman yang didapatkan dan besar bunga yang diberlakukan, lalu besarnya cicilan yang harus ditanggung per bulannya. Sementara bunga pinjaman yang diberlakukan pihak bank pasti menggunakan perhitungan tersendiri. Pelajari cara menghitung bunga pinjaman bank berikut ini.

Perhitungan bunga pinjaman bank itu bermacam-macam. Bisa saja berbeda jika Anda meminjam di BCA, BRI, Mandiri, atau Panin. Jenisnya banyak, mulai dari kredit rumah, kredit kendaraan bermotor dan juga KTA.

Nah, apa manfaatnya bagi debitur mempelajari mengenai rincian penghitungan bunga serta persentase yang dimiliki? Yang pasti tujuannya agar semakin paham dan terhindar dari jeratan bunga kredit yang mencekik keuangan.

Setiap macam kredit hampir semuanya diberlakukan bunga dimana perhitungannya bisa berbeda-beda. Berikut diberikan contoh cara menghitung bunga kredit bank sesuai jenis bunga yang diberlakukan:

Rumus Bunga Pinjaman dengan Sistem Flat

rumus pinjaman sistem flat
Gunakan rumus ini untuk pinjaman sistem flat

Pinjaman yang memberlakukan bunga flat adalah yang termudah dihitung. Karena setiap bulan nilai cicilannya sama. Demikian juga untuk angsuran pokok dengan bunganya. Seluruhnya dihitung dengan proporsional, mengikuti jangka waktu kredit yang diambil. Untuk menghitung, rumus yang digunakan adalah:

Bunga setiap bulan = (P x I x t) / jb

Dimana:

P = pokok pinjaman

I = suku bunga per tahun

t = jumlah tahun tenor pinjaman

jb = jumlah bulan dari tenor pinjaman

Misalnya: Pak Adi mendapatkan kredit dari sebuah bank nasional dengan besarnya pokok pinjaman Rp 18.000.000. Pihak bank memberlakukan suku bunga flat sebesar 5% per tahun. Pak Adi sendiri memilih tenor kredit selama 24 bulan.

Maka penghitungan bunganya adalah sebagai berikut : Rp (18.000.000 X 5% X 2) / 24 = Rp 75.000. Itu artinya, dari angsuran di bulan pertama sampai yang bulan terakhir jumlahnya adalah sama yaitu Rp 825.000/bulan. Meliputi angsuran pokok Rp750.000 ditambah bunga flat sebesar Rp 75.000.

Rumus Bunga Pinjaman dengan Sistem Bunga Efektif

rumus pinjaman sistem efektif
Punya kredit dengan sistem bunga efektif? Gunakan rumus ini.

Bunga efektif acapkali diaplikasikan untuk pinjaman jangka panjang, umpamanya kredit perumahan maupun pinjaman dengan sifat investasi. Tipe perhitungan ini pun dinamakan sliding rate.

Dengan berjalannya hari maka kalkulasi porsi bunga maupun pinjaman pokok berubah kendati jumlah angsuran masih sama. Dihitung sesuai sisa pokok hutang yang masih ditanggung oleh debitur.

Tingkat bunga yang ditanggung akan lebih kecil dibanding bunga flat karena macam kredit yang mesti dilunasi ini adalah jangka panjang. Angsuran di bulan kedua memiliki jumlah lebih rendah dibanding angsuran di bulan pertama. Angsuran di bulan ketiga pun nilainya akan lebih rendah dibanding angsuran kedua dan seterusnya.

Cara menghitung bunga pinjaman bank dengan sistem bunga efektif menggunakan rumus:

Bunga = SP x I x (30/360)

Dimana:

SP = nilai pokok pinjaman bulan sebelumnya

I = besar suku bunga per tahun

30 = jumlah hari sebulan

360 = jumlah hari dalam setahun

Misalnya: Bu Anita mendapatkan kredit dengan pokok Rp 18.000.000 dimana pihak bank memberlakukan bunga 10 % per tahun. Bu Anita mengambil tenor pinjaman selama 24 bulan. Maka perhitungannya adalah sebagai berikut:

Nominal bunga efektif bulan 1 adalah Rp 18.000.000,00 x 10% x (30 hari/360 hari) = Rp 149.940

Angsuran pokok ditambah bunga bulan 1 adalah Rp 750.000 + Rp 149.940 = Rp 899.940

Nilai bunga efektif bulan 2 adalah Rp 17.250.000 x 10% x (30 hari/360 hari) = Rp 143.175

Angsuran pokok ditambah bunga bulan 2 adalah Rp 750.000 + Rp 143.175 = Rp 893.175

Dari perumpamaan tadi, nampak jika angsuran pertama dan kedua ada perbedaan, dimana angsuran pertama senilai Rp.899.940, dan angsuran kedua senilai Rp 893.175. Besaran angsuran kedua lebih rendah dibanding angsuran pertama.

Menghitung Bunga Pinjaman dengan Sistem Bunga Anuitas

Kurang lebih menyerupai perhitungan bunga efektif. Akan tetapi ada modifikasi. Bunga pada awal kredit akan nampak cukup besar namun selanjutnya bertahap akan menurun ketika mendekati berakhirnya waktu kredit. Untuk perhitungannya pun seperti bunga efektif. Perbedaannya yaitu angsuran akan tetap tiap bulan. Kendati nilai bunga dan angsuran pokok berubah sesuai tenor kredit. Itu bertujuan agar mempermudah nasabah ketika membayar angsuran. Prinsipnya, sisa hutang menurun, namun angsuran tak berubah besarannya.

Sementara berdasarkan sifat perhitungan yang dilakukan, digunakan dua macam bunga, meliputi:

1. Bunga Fixed atau Tetap

Kendati bunga naik, namun itu tak akan berubah, sepanjang masa kredit masih berlangsung. Kendati situasi pasar naik turun namun akad kredit yang ditetapkan bersama di awal tak bisa diubah. Misalnya dalam kesepakatan ditetapkan di awal, suku bunga yang dibebankan adalah 12% dan akan tetap sebesar itu. Oleh karena itu sampai masa kredit selesai bunga yang dikenakan sama yaitu sebesar 12%.

Kelemahan dari perhitungan bunga fixed ini yaitu kalau suku bunga pasar lagi turun, itu artinya bunga tetap yang ditanggung nasabah terbilang tinggi.

Berikut contoh untuk perhitungannya:

Misalnya pokok kredit sebesar Rp18.000.000 dengan bunga diberlakukan 12% per tahun. Debitur mengambil tenor pinjaman selama 24 bulan. Cara menghitung besarannya adalah:

Bulan 1:

Bunga = 12% X Rp 18.000.000/12 X 1 = Rp 180.000

Pokok hutang = Rp 18.000.000/24 = Rp 750.000

Angsuran bulan 1 = Rp 750.000 + Rp 180.000 = Rp 930.000

Bulan 2:

Sisa pokok hutang = Rp 18.000.000 – Rp 930.000 = Rp 17.270.000

Bunga = 12% X Rp17.270.000/12 x 1 = Rp 172.700

Angsuran bulan 2 = Rp 750.000 + Rp 172.700 = Rp 922.700

Demikian selanjutnya sampai angsuran tuntas atau lunas mengikuti tenor pinjaman yang dipilih debitur.

2. Bunga Mengambang

Untuk bunga mengambang atau dinamakan juga floating, pihak bank otomatis menyesuaikan tingkat bunga disesuaikan bunga yang berlaku di pasar, berbeda dengan bunga tetap.

Mengingat bunga yang diterapkan adalah mengambang, otomatis mengalami naik turun mengikuti suku bunga pasar. Kalau suku bunga pasaran meningkat, tentu otomatis besaran bunga pinjaman bank pun naik. Begitupun sebaliknya.

Lazimnya digunakan untuk kredit perumahan, kredit modal usaha, ataupun pinjaman jangka panjang lain.

Berikut cara menghitungnya:

Anggap saja jika asumsi tingkat suku bunga sebagai berikut:

Besar bunga di bulan 1 sampai bulan 4 : 12%

Besar bunga di bulan 5 sampai bulan 8: 14%

Maka menggunakan metode bunga mengambang, besaran pokok kredit tak berubah. Untuk perhitungan suku bunga contohnya adalah sebagai berikut :

Misalnya pokok kredit: Rp 18.000.000 dengan tenor kredit selama 24 bulan maka :

Untuk perhitungan bulan 1 :

Bunga = 12% X Rp 18.000.000/12 X 1 = Rp 180.000

Pokok kredit = Rp 18.000.000/24 = Rp 750.000

Angsuran bulan 1 = Rp 750.000 + Rp 180.000 = Rp 930.000

Untuk perhitungan bulan 5 :

Bunga = 14% X Rp 18.000.000/12 X1 = Rp 210.000

Angsuran bulan 5 = Rp 750.000 + Rp 210.000 = Rp 960.000

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *