Lompat ke konten
Daftar Isi
ForexIMF leaderboard banner ads.

Daftar Saham Perusahaan Kesehatan Terbaik di Indonesia 2022, Beserta Kinerja

Saham Sektor Kesehatan Terbaik

Saham kesehatan adalah saham dari perusahaan yang bergerak di bidang medis. Perusahaan kesehatan biasanya menawarkan produk dan jasa berupa laboratorium, farmasi (obat-obatan), dan rumah sakit.

Sejak awal pandemi, beberapa emiten dari kelompok saham kesehatan malah mendapatkan berkah. Performa indeks IDX healthcare yang meliputi 21 emiten sempat mengalami penguatan. Misalnya saja saham kesehatan dengan kode DGNS naik 111,2 persen selama tahun (ytd) ke level 1.320.

Apabila dicermati untuk short term, tren peningkatan saham sektor kesehatan di 2021 terutama yang bergerak di bidang farmasi akan masih berlangsung ke tahun 2022 karena pelaku pasar optimis dengan kondisi saat ini. Hanya saja pelaku pasar harus selektif menentukan saham yang hendak dibeli.

Investor harus lebih berhati-hati sebab saham-saham yang telah meningkat signifikan biasanya akan mengalami profit taking.

Berikut daftar saham perusahaan kesehatan terbaik di 2022 yang tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan ulasan singkat kinerjanya:

1. Diagnos Laboratorium Utama (DGNS)

Diagnos Laboratorium Utama (DGNS)

PT Diagnos Laboratorium Utama Tbk adalah saham kesehatan yang resmi melantai di bursa awal Januari 2021 lalu. Di perdagangan perdana, saham DGNS pun langsung melejit sebesar 35% menjadi Rp270/saham dan hingga akhir 2021, saham perusahaan ini berhasil dijual dengan harga 745 per lembar.

Perusahaan ini mengeluarkan maksimal 250 Juta lembar saham yang merupakan 20% dari keseluruhan modal yang ditempatkan. Harga nominal saham senilai Rp25 dengan harga IPO Rp 200/saham.

Mayoritas dana dari hasil IPO tersebut direncanakan untuk peningkatan bisnis seperti pembangunan laboratorium maupun pembangunan beberapa cabang di sejumlah kota besar. Separuh lebih dana yang didapatkan untuk menambah modal kerja.

Dilansir dari laporan keuangan kuartal ketiga milik perusahaan ini, DGNS berhasil mencetak pendapatan sebesar 250 miliar rupiah atau 2,5 kali lipat lebih tinggi dibanding September 2020. Sejalan dengan peningkatan pendapatan, laba DGNS pun naik 130% dari 27 miliar menjadi 63,9 miliar rupiah.

Perusahaan kesehatan ini mengembangkan teknologi dan inovasi terbaru di bidang kesehatan misalnya Genomics untuk memetakan genetik manusia sehingga bisa dideteksi penyakit atau kesehatannya.

2. Meditama Metropolitan (SAME)

Meditama Metropolitan adalah salah satu saham perusahaan kesehatan terbaik yang bergerak di bidang pengelolaan rumah sakit. Pada September 2021, perusahaan manajemen rumah sakit ini mencatatkan laba sebesar 146,6 miliar rupiah. Berbalik dari September 2020 lalu yang mana perusahaan justru merugi 457 miliar.

Perusahaan ini berniat menambah modal dengan rights issue sebanyak 5,71 miliar saham baru yang harga nominalnya Rp20/saham. Dana yang dikumpulkan dari rights issue itu akan dimanfaatkan menjalankan ekspansi serta investasi usaha termasuk pengambilalihan PT Elang Medika Corpora (EMC) dari PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) senilai Rp 1,35 triliun.

Meditama Metropolitan bisa memperkuat mutu layanan serta efisiensi operasional. Rumah sakit mulai pulih kunjungan pasiennya namun investor perlu memperhitungkan likuiditas cash yang banyak memengaruhi kinerja emiten.

3. Royal Prima (PRIM)

Royal Prima (PRIM)
Sumber: sahamonline.

Performa perusahaan yang mengeluarkan saham kesehatan terutama di bidang rumah sakit secara umum memiliki tren positif. Termasuk saham PRIM yang makin cemerlang.

Di kuartal ketiga tahun 2021, emiten ini mencatat peningkatan laba bersih mencapai 499% jadi Rp 105 miliar dibanding periode sebelumnya yang cuma Rp 17,6 miliar. Laba bersih per saham pun tumbuh Rp31,08 dari tadinya Rp 5,22.

4. Kalbe Farma (KLBF)

Kalbe Farma (KLBF)

Sebagai salah satu perusahaan farmasi terbesar di Indonesia, PT Kalbe Farma mampu memberikan performa bagus pada kuartal 3 tahun 2021. Emiten yang melantai di Bursa Efek Indonesia dengan kode KLBF ini mencatat peningkatan top line dan juga bottom line.

KLBF menghasilkan peningkatan penjualan bersih sampai 11,7% yoy ke Rp19,09 triliun dari sebelumnya Rp17,095 triliun tahun lalu. Peningkatan kinerja KLBF September 2021 itu tak lepas dari situasi perekonomian yang mulai menunjukkan perbaikan. Hasil ini melebihi ekspektasi yang mana pihak KLBF sendiri menargetkan pertumbuhan penjualan 10% pada akhir tahun 2021.

5. Mitra Keluarga Karyasehat (MIKA)

Mitra Keluarga Karyasehat (MIKA)

Sepanjang tahun 2021 harga saham perusahaan pengelola rumah sakit Mitra Keluarga ini terus mengalami kontraksi. Bahkan pada tanggal 27 Desember, harga saham perusahaan ini sempat menyentuh titik terendah di harga 2.210 per lembar.

Meskipun demikian, kondisi keuangan MIKA justru mengalami perbaikan. Pendapatan perusahaan ini naik 47% dari 2,3 triliun menjadi 3,4 triliun rupiah. Begitupun halnya laba bersih perusahaan ini juga meningkat 69,3% dari 570 miliar ke 966 miliar rupiah.

Tahun 2022 ini MIKA tetap punya  prospek meningkat karena semakin meningkatnya kesadaran masyarakat tentang kesehatan. Sebagai sebuah investasi untuk jangka waktu panjang, MIKA tetap menarik untuk dibeli dan di-hold dalam jangka waktu tertentu.

6. Kimia Farma (KAEF)

Kimia Farma (KAEF)

Kimia Farma adalah perusahaan kesehatan terbaik di Indonesia, terutama dalam bidang farmasi dan alat kesehatan. Rekan jejaknya yang mumpuni menghantarkannya menjadi salah satu saham blue chip terbaik di Indonesia saat ini.

Data penjualan perusahaan farmasi BUMN terbesar dengan kode saham KAEF ini hingga 9 pulan 2021 naik 34,7% YoY ke Rp9 triliun dibanding tahun 2020 senilai Rp 7 triliun. Memang berbagai produk yang dikeluarkan KAEF adalah obat dan suplemen serta alat-alat kesehatan yang cukup dibutuhkan selama pandemi Covid-19 melanda.

Kondisi laba KAEF tahun 2021 juga lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Pada September 2020, perusahaan ini sempat merugi 28 miliar. Namun September 2021 ini mereka berhasil memperoleh laba 7 miliar. Ini artinya meskipun produk obat-obatan dibutuhkan di kala covid, namun tetap saja kondisi ekonomi masyarakat memainkan peran penting dalam industri ini.

Kimia Farma tetap berupaya mempertahankan kinerja keuangan yang diantaranya adalah memperkuat pemasaran, efisiensi beban usaha, serta manajemen modal kerja. Perusahaan farmasi plat merah ini berkomitmen terus memenuhi kebutuhan pemerintah utamanya untuk penanganan Covid-19.

7. Medikaloka Hermina (HEAL)

Medikaloka Hermina (HEAL)

Perusahaan pengelola rumah sakit PT Medikaloka Hermina mencatat peningkatan kinerja signifikan selama sembilan bulan 2021. Peningkatan laba bersih naik sampai 191% yoy menjadi Rp 988 miliar dibanding  periode tahun lalu yang hanya Rp 339 miliar.

Untuk kuartal III 2021 Medikaloka Hermina mencatat pendapatan bersih hingga Rp 4,6 miliar yang berasal dari pendapatan rawat inap di mana sepertiganya adalah pasien Covid-19. HEAL tetap optimistis dengan prospek pendapatan yang akan diraih di masa mendatang.

Sayangnya kinerja yang baik ini belum juga didukung dengan peningkatan harga saham. Sejak anjlok pada akhir Juli lalu, saham RS. Hermina ini masih belum juga membaik.

Selama masa pandemi Covid-19 yang masih melonjak, HEAL bakal mengoptimalkan peluang tersebut dengan memperbanyak tersedianya tempat tidur khusus pasien Covid. Di samping itu, rencana perluasan HEAL tahun ini guna menambah empat rumah sakit baru, sekaligus penambahan satu rumah sakit lewat akuisisi dipandang dapat memperbesar kemampuan layanan HEAL.

8. Sido Muncul (SIDO)

Sido Muncul (SIDO)

Saham emiten Sido Muncul dengan kode SIDO menjadi incaran kalangan investor di bursa akhir-akhir ini. Bukan hanya di sektor kesehatan, SIDO juga termasuk dalam saham kategori consumer goods. Meskipun menjadi incaran namun data year-to-date pergerakan harga saham SIDO tidak terlalu mengesankan.

Harga saham di awal tahun 2021 lalu sebesar Rp795/saham dan hingga akhir tahun ini menguat 6,8 %. Dari data laporan keuangan kuartalan ketiga tahun 2021, Sido Muncul sudah mencatatkan penjualan sebesar Rp 2,7 triliun yang artinya meningkat 23% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang sebanyak Rp. 2,257 triliun.

Wabah pandemi Covid 19 secara langsung membuat penjualan produk-produk herbal Sido Muncul mengalami kenaikan seiring dengan kesadaran masyarakat yang makin tinggi dalam hal menjaga kesehatan.

nv-author-image

Pratomo Eryanto

Pratomo Eryanto memiliki motto "Investasi tidak harus membosankan". Sebagai penggiat dunia pasar saham, Pratomo memiliki misi meningkatkan literasi finansial masyarakat Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *