Daftar Saham Perusahaan Kesehatan Terbaik di Indonesia 2021, Beserta Kinerja

  • Saham
Saham Sektor Kesehatan Terbaik

Saham kesehatan adalah saham dari perusahaan yang bergerak di bidang medis. Perusahaan kesehatan biasanya menawarkan produk dan jasa berupa laboratorium, farmasi (obat-obatan), dan rumah sakit.

Meskipun terjadi lonjakan kasus baru akibat wabah Covid-19, beberapa emiten dari kelompok saham kesehatan malah mendapatkan berkah. Performa indeks IDX healthcare yang meliputi 21 emiten sempat mengalami penguatan. Misalnya saja saham kesehatan dengan kode DGNS naik 111,2 persen selama tahun (ytd) ke level 1.320.

Apabila dicermati untuk short term, tren peningkatan saham sektor kesehatan di 2021 terutama yang bergerak di bidang farmasi akan masih berlangsung karena pelaku pasar optimis dengan kondisi saat ini. Hanya saja pelaku pasar harus selektif menentukan saham yang hendak dibeli.

Peningkatan beberapa saham kesehatan kebanyakan diakibatkan kejadian melonjaknya kasus covid-19 di Indonesia beberapa bulan ini. Investor harus lebih berhati-hati sebab saham-saham yang telah meningkat signifikan biasanya akan mengalami profit taking.

Berikut daftar saham perusahaan kesehatan terbaik di 2021 yang tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan ulasan singkat kinerjanya:

1. Diagnos Laboratorium Utama (DGNS)

Diagnos Laboratorium Utama (DGNS)

PT Diagnos Laboratorium Utama Tbk resmi melantai di bursa awal Januari 2021 lalu. Di perdagangan perdana, saham DGNS pun langsung melejit sebesar 35% menjadi Rp270/saham. Perusahaan ini mengeluarkan maksimal 250 Juta lembar saham yang merupakan 20% dari keseluruhan modal yang ditempatkan. Harga nominal saham senilai Rp25 dengan harga IPO Rp 200/saham.

Mayoritas dana dari hasil IPO tersebut direncanakan untuk peningkatan bisnis seperti pembangunan laboratorium maupun pembangunan beberapa cabang di sejumlah kota besar. Separuh lebih dana yang didapatkan untuk menambah modal kerja. Pihak perusahaan pun mengembangkan teknologi dan inovasi terbaru di bidang kesehatan misalnya Genomics untuk memetakan genetik manusia sehingga bisa dideteksi penyakit atau kesehatannya.

2. Meditama Metropolitan (SAME)

Perusahaan pengelola rumah sakit OMNI ini berniat menambah modal dengan rights issue sebanyak 5,71 miliar saham baru yang harga nominalnya Rp20/saham. Dana yang dikumpulkan dari rights issue itu akan dimanfaatkan menjalankan ekspansi serta investasi usaha termasuk pengambilalihan PT Elang Medika Corpora (EMC) dari PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) senilai Rp 1,35 triliun.

Meditama Metropolitan bisa memperkuat mutu layanan serta efisiensi operasional. Rumah sakit mulai pulih kunjungan pasiennya namun investor perlu memperhitungkan likuiditas cash lebih-lebih pada saat pandemi Covid-19 sebagaimana saat ini.

3. Royal Prima (PRIM)

Royal Prima (PRIM)
Sumber: sahamonline.

Performa perusahaan yang mengeluarkan saham kesehatan terutama di bidang rumah sakit secara umum memiliki tren positif. Termasuk saham PRIM yang makin cemerlang.

Di kuartal pertama tahun 2021, emiten ini mencatat peningkatan laba bersih mencapai 589,13% jadi Rp15,85 miliar dibanding periode sebelumnya yang cuma Rp2,30 miliar. Laba bersih per saham pun tumbuh Rp4,68 dari tadinya Rp0,68. Jika di kuartal pertama 2020 pendapatan PRIM cuma Rp45,66 miliar maka kini meningkat 110,49% ke Rp96,11 miliar.

Pendapatan PRIM tadi ditunjang dari pendapatan Kemenkes sebesar Rp 50,95 miliar. Peningkatan pendapatan PRIM termasuk disebabkan membludaknya jumlah pasien Covid-19 yang masuk.

4. Kalbe Farma (KLBF)

Kalbe Farma (KLBF)

Sebagai salah satu perusahaan farmasi terbesar di Indonesia, PT Kalbe Farma mampu memberikan performa bagus semester pertama tahun 2021. Emiten yang melantai di Bursa Efek Indonesia dengan kode KLBF ini mencatat peningkatan top line dan juga bottom line.

KLBF menghasilkan peningkatan penjualan bersih sampai 6,6% yoy ke Rp12,37 triliun dari sebelumnya Rp11,6 triliun tahun lalu. Peningkatan kinerja KLBF semester pertama 2021 itu tak lepas dari situasi perekonomian yang mulai menunjukkan perbaikan. Pemerintah memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat menyentuh angka 3,3% sampai semester I 2021.

Mengoptimalkan peningkatan penjualan, KLBF mencoba berinovasi dengan produk dan layanan lebih murah yang dibutuhkan masyarakat. Target pertumbuhan penjualan bersih tahun 2021 ditetapkan dari 7% hingga 10%. KLBF masih menetapkan besarnya anggaran belanja modal Rp1 triliun untuk pengembangan volume produksi maupun distribusi.

5. Mitra Keluarga Karyasehat (MIKA)

Mitra Keluarga Karyasehat (MIKA)

PT Mitra Keluarga Karyasehat mencatat peningkatan kinerja selama 2020. Perusahaan di bidang rumah sakit tersebut mencatat pertumbuhan pendapatan sampai 6,69% yoy ke Rp3,42 triliun dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp3,21 triliun. Jumlah laba bersih terkerek menjadi Rp 841,67 miliar atau meningkat sekitar 6%.

Peningkatan performa MIKA pada 2020 terkait dengan pasien Covid-19 yang cukup banyak. Rumah sakit swasta mulai menampung pasien corona, maka pendapatan pun meningkat imbas hal tersebut. Tahun 2021 ini MIKA tetap punya  prospek meningkat karena kebutuhan pasien Covid-19 yang tinggi. Sebagai sebuah investasi untuk jangka waktu panjang, MIKA tetap menarik untuk dibeli dan di-hold dalam jangka waktu tertentu.

6. Kimia Farma (KAEF)

Kimia Farma (KAEF)

Kimia Farma adalah perusahaan kesehatan terbaik di Indonesia menurut banyak ahli, terutama dalam bidang farmasi dan alat kesehatan. Rekan jejaknya yang mumpuni menghantarkannya menjadi salah satu saham blue chip terbaik di Indonesia saat ini.

Data penjualan perusahaan farmasi BUMN terbesar dengan kode saham KAEF ini hingga 9 pulan pertama 2020 naik 2,43% YoY ke Rp7,04 triliun dibanding tahun 2019 senilai Rp6,87 triliun.

Memang berbagai produk yang dikeluarkan KAEF adalah obat dan suplemen serta alat-alat kesehatan yang cukup dibutuhkan selama pandemi Covid-19 melanda. Kendati begitu, ditemukan penurunan laba bersih perusahaan. Yang mana untuk kuartal tiga 2020 laba bersih emiten mencapai kurang-lebih Rp45,3 miliar atau anjlok dibanding periode yang sama 2019 yang bisa sebesar Rp60,9 miliar.

Kimia Farma tetap berupaya mempertahankan kinerja keuangan yang diantaranya adalah memperkuat pemasaran, efisiensi beban usaha, serta manajemen modal kerja. Perusahaan farmasi plat merah ini berkomitmen terus memenuhi kebutuhan pemerintah utamanya untuk penanganan Covid-19.

7. Medikaloka Hermina (HEAL)

Medikaloka Hermina (HEAL)

Perusahaan pengelola rumah sakit, PT Medikaloka Hermina mencatat peningkatan kinerja signifikan selama tiga bulan pertama 2021. Peningkatan laba bersih yang diatribusikan ke pemilik entitas induk sampai 294,27% yoy menjadi Rp283,25 miliar dibanding  periode tahun lalu yang hanya Rp71,84 miliar.

Untuk kuartal I 2020 Medikaloka Hermina mencatat pendapatan bersih hingga Rp983,89 miliar yang berasal dari pendapatan rawat inap di mana sepertiganya adalah pasien Covid-19. HEAL tetap optimistis dengan prospek pendapatan yang akan diraih di masa mendatang.

Selama masa pandemi Covid-19 yang masih melonjak, HEAL bakal mengoptimalkan peluang tersebut dengan memperbanyak tersedianya tempat tidur khusus pasien Covid. Di samping itu, rencana perluasan HEAL tahun ini guna menambah empat rumah sakit baru, sekaligus penambahan satu rumah sakit lewat akuisisi dipandang dapat memperbesar kemampuan layanan HEAL.

8. Sido Muncul (SIDO)

Sido Muncul (SIDO)

Saham emiten Sido Muncul dengan kode SIDO menjadi incaran kalangan investor di bursa akhir-akhir ini. Bukan hanya di sektor kesehatan, SIDO juga termasuk dalam saham kategori consumer goods. Meskipun menjadi incaran namun data year-to-date pergerakan harga saham SIDO tidak terlalu mengesankan.

Harga saham di awal tahun 2021 lalu sebesar Rp795/saham dan hingga semester pertama ini baru menguat 1,26 %. Dari data laporan keuangan yang diberikan dalam semester I tahun 2021, Sido Muncul sudah mencatatkan penjualan sebesar Rp1,65 triliun yang artinya meningkat 13,36% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang sebanyak Rp.1,45 triliun.

Pencapaian laba semester I tahun 2021 pun telah menyamai 53,74 % dibanding realisasi tahun 2020. Wabah pandemi Covid 19 secara langsung membuat penjualan produk-produk herbal Sido Muncul mengalami kenaikan seiring dengan kesadaran masyarakat yang makin tinggi dalam hal menjaga kesehatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *