Lompat ke konten
Daftar Isi

9 Dampak Pengangguran Terhadap Masyarakat dan Individu

Dampak Pengangguran Terhadap Masyarakat dan Individu

Pengangguran adalah orang tidak dapat memiliki pekerjaan namun sedang mencari kerja.

Masalah pengangguran merupakan masalah yang dihadapi oleh semua negara. Tidak hanya bagi perusahaan dan karyawan, tingkat pengangguran juga merupakan hal yang akan mempengaruhi perekonomian sebuah negara. 

Berikut ini 9 dampak pengangguran terhadap masyarakat dan individu:

1. Individu Kehilangan Sumber Pendapatannya

Sumber pendapatan seorang individu ada banyak mulai dari gaji, upah dan keuntungan penjualan, hingga keuntungan yang diperoleh dari investasi di pasar uang maupun pasar modal. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwasanya gaji dan upah adalah salah satu sumber pendapatan utama seseorang. 

Ini artinya, individu akan kehilangan sumber pendapatan utama tersebut apabila dia diberhentikan dari pekerjaan utamanya. Padahal, pendapatan utama ini bisa jadi digunakan untuk keperluan penting, seperti memenuhi kebutuhan sehari-hari dan berobat.

2. Daya Beli Masyarakat Berkurang

Kehilangan pendapatan utama (penurunan disposable income) nantinya akan berujung pada pengurangan pengeluaran untuk konsumsi karena kemampuan atau daya beli masyarakat yang menurun. Misalnya, A yang pada awalnya mendapatkan gaji sebesar Rp5.000.000 per bulan dan bisa pergi ke salon setiap bulannya harus memberhentikan pengeluaran tersebut karena dia dipecat dari perusahaan. 

Apabila hal ini tidak hanya terjadi pada A saja, tetapi juga pada jutaan orang lainnya, hal ini akan mengakibatkan penurunan pertumbuhan ekonomi. Apabila masalah ini dibiarkan berlarut-larut, maka akan semakin banyak orang yang masuk ke dalam jurang kemiskinan dan ekonomi sebuah negara akan berhenti. 

3. Penurunan Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi atau yang sering juga dihitung dengan GDP (Gross Domestic Product) adalah salah satu indikator yang menunjukkan bahwa perekonomian sebuah negara sedang bergerak. Ada beberapa pendekatan yang digunakan untuk menghitung GDP. Salah satunya adalah pendekatan pengeluaran. 

Dalam penghitungan GDP via pendekatan pengeluaran, ada beberapa faktor ekonomi yang harus diperhatikan, yaitu pengeluaran pemerintah (sederhananya, pajak-subsidi), konsumsi rumah tangga, investasi, dan net ekspor. 

Ketika daya beli masyarakat menurun, otomatis pengeluaran konsumsi rumah tangga juga akan menurun. Selain itu, pendapatan pajak yang digunakan oleh pemerintah juga akan menurun, sebab pajak salah satunya dibebankan pada penghasilan (gaji) dan pertambahan nilai (PPn). Jadi jika masyarakat tidak mendapatkan gaji, tidak akan ada objek pajak pendapatan dan karena daya beli masyarakat menurun, pendapatan pajak pertambahan nilai juga akan menurun. 

Dari segi investasi, penurunan daya beli pertama akan menyurutkan investor asing untuk menanamkan modalnya ke Indonesia. Kedua, penurunan daya beli akibat berkurangnya pendapatan akan mendorong investor domestik untuk mencairkan dana investasinya demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akibatnya, sektor investasi juga akan menurun.

4. Peningkatan Masalah Kesehatan

Menjadi pengangguran juga berdampak kepada masalah kesehatan. Tidak sedikit orang yang mengalami depresi karena dipecat. Hal ini bisa terjadi karena banyak faktor termasuk kaget karena mendadak tidak memiliki pekerjaan, atau merasa tidak berharga karena mengira dia dipecat karena tidak mampu memenuhi kualitas yang dibutuhkan perusahaan. 

Cara orang untuk mengatasi rasa khawatir akibat pemecatan ini ada berbagai macam. Termasuk diantaranya adalah melarikan diri dengan mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan terlarang. Pada akhirnya, hal ini juga akan memperburuk kesehatannya. Alasan lain yang bisa menyebabkan pengangguran berdampak pada kesehatan adalah berkurangnya kemampuan individu untuk pergi ke dokter, membeli obat atau konsultasi ke psikolog dan psikiater. 

5. Meningkatnya Jumlah Kriminalitas

Dampak peningkatan tingkat pengangguran terhadap jumlah kriminalitas adalah objek yang banyak diteliti oleh para ahli ekonomi. Asumsi dari penelitian tersebut adalah kehilangan pekerjaan utama akan mendorong orang untuk melakukan hal apapun, termasuk tindakan kriminal, untuk bertahan hidup. Asumsi ini berkesimpulan kalau tingkat pengangguran naik, maka tingkat kriminalitas di sebuah daerah juga akan meningkat. 

Beberapa hasil penelitian mengkonfirmasi adanya relasi ini. Akan tetapi, beberapa penelitian lain membuktikan sebaliknya. Artinya, tingkat kriminalitas tidak memiliki korelasi apapun dengan tingkat pengangguran. Namun demikian, hasil penelitian tersebut sangat bergantung pada data dan metode penelitian yang digunakan, serta daerah yang diteliti. 

6. Potensi Pembengkakan Pengeluaran Pemerintah

Pengangguran tidak hanya menurunkan pendapatan pajak, tetapi juga bisa meningkatkan pengeluaran pemerintah. Hal ini karena pemerintah dituntut untuk memberikan bantuan, baik itu dalam bentuk tunai maupun non tunai kepada para orang yang menganggur supaya peningkatan pengangguran tersebut tidak menyebabkan dampak sistemik ke perekonomian. 

Contoh sederhananya adalah pemberian kartu prakerja yang diberikan oleh pemerintah Indonesia pada pandemi covid19 lalu. Selain memberikan bantuan berupa uang tunai sebesar Rp600.000 untuk 4 bulan, pemerintah juga menyediakan beasiswa pelatihan dengan menggaet banyak perusahaan mitra. 

Harapannya adalah, pengangguran yang tercipta akibat covid19 tidak memberikan dampak sistemik, serta ketika pandemi usai atau pendapatan dari prakerja berhenti, masyarakat bisa bertahan dengan menggunakan keahlian yang baru mereka dapatkan. 

7. Potensi Peningkatan Gagal Bayar Utang

Dalam memenuhi berbagai kebutuhan yang penting dan bernilai besar, banyak individu yang menggunakan mekanisme utang bank. Oleh sebab itu, ketika individu tersebut mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK), ada kemungkinan dia akan gagal membayar utangnya. Apabila hal ini terjadi secara serentak dalam jumlah besar, tidak menutup kemungkinan pertumbuhan industri perbankan di Indonesia akan melambat. 

Banyak bank mengatasi hal ini dengan berbagai program, seperti keringanan pembayaran suku bunga, perpanjangan kontrak utang atau bahkan dua-duanya. Namun untuk mendapatkan fasilitas tersebut, seorang individu harus berkata jujur mengenai pemutusan hubungan kerja yang dia peroleh.

8. Penurunan Keterampilan Kerja

Seseorang yang sudah lama tidak bekerja di sebuah pekerjaan tertentu bisa kehilangan ketrampilan yang telah dimilikinya selama ini. Hal ini karena dia lama tidak latihan atau mengasah kemampuannya. Padahal keterampilan di dunia kerja tersebut penting untuk dipertahankan oleh seorang pengangguran supaya bisa mendapatkan pekerjaan lainnya.

Masalah ini bisa disiasati dengan cara mengikuti berbagai kursus saat menganggur dan bagi sebagian profesi, bisa disiasati dengan menjadi pekerja lepas (freelance). Dengan mengikuti kursus atau menjadi pekerja lepas, seseorang bisa mendapatkan skill baru sekaligus mempertahankan keahlian yang lama dimilikinya.

9. Dampak Pengangguran Terhadap Bisnis

Bagi sebuah perusahaan, pengangguran bisa berdampak positif maupun negatif. Berdampak positif karena adanya banyak tenaga kerja yang siap direkrut untuk masuk ke perusahaan. Hal ini khususnya untuk tenaga kerja dengan skill mumpuni. 

Namun, pengangguran juga bisa berdampak negatif bagi bisnis. Hal ini karena penurunan daya beli akibat banyaknya pengangguran juga berpotensi menurunkan pendapatan yang bisa diperoleh oleh sebuah perusahaan. 

Dengan berbagai dampak di atas, maka tidak heran jika tingkat pengangguran di sebuah negara harus dikelola dengan sebaik mungkin.

nv-author-image

Farichatul Chusna

Setelah lulus dari Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Farichatul Chusna aktif sebagai penulis artikel ekonomi, investasi, bisnis, dan keuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *