Istilah ARA dan ARB Dalam Saham

  • Saham
ARA dan ARB

Dari berbagai pilihan bentuk investasi, saham boleh dianggap mampu menghasilkan imbal hasil atau return paling besar bila dibanding pilihan lainnya. Namun sesuai hukum alam, makin tinggi keuntungan maka resiko yang menyertai pun sebanding. Oleh karena itu, disarankan bagi investor pemula yang ingin masuk ke saham, belajar dulu hal-hal yang berkaitan dengan saham.

Untuk para pemain saham yang sudah beberapa lama melakukan trading maupun berinvestasi, dua istilah berikut pasti kerap diperbincangkan. Keduanya adalah ARA dan ARB. Bagi investor awam, boleh jadi masih belum paham dengan istilah di dunia pasar modal itu. Mari simak penjelasan berikut ini.

Kedua istilah tadi berhubungan dengan apa yang dinamakan auto rejection. Auto rejection sendiri adalah proses perdagangan dalam saham dengan tujuan utama melindungi investor. Jadi auto rejection adalah pembatasan paling bawah dan paling atas dari kasus harga saham yang naik atau turun dalam satu hari perdagangan. Mekanisme bursa otomatis menolak atau me-reject order jual atau beli yang masuk apabila harga saham sudah mencapai batas atas atau bawah. Auto rejection digunakan demi menjamin proses trading saham di lantai bursa dapat berlangsung dengan wajar.

Batas atas dan batas bawah dari auto rejection ditetapkan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) yang ketentuannya adalah sebagai berikut :

  • Harga saham antara Rp.50 hingga Rp.200 maka batas atas dan bawah dalam sehari maksimal 35%.
  • Harga saham antara Rp200 hingga Rp5000 maka batas atas dan bawah dalam sehari maksimal 25%.
  • Harga saham lebih dari Rp.5000 maka batas atas dan bawah dalam sehari maksimal 20%.
  • Saham IPO ditentukan batas atas dan bawah adalah dua kali persentase auto rejection.
  • Order beli saham paling banyak adalah 50.000 lot atau 5% dari total efek tercatat yang bila melebihi dari ketentuan tersebut, otomatis terkena auto rejection.

ARA Dalam Saham

Dalam perdagangan di bursa, harga saham dapat saja naik, turun atau bahkan malah stagnan. Jika harga saham naik di hari itu, tentu ada batas atas kenaikannya dan bukannya bergerak terus tanpa batas. Nah batas inilah yang dinamakan ARA atau Auto Reject Atas. Ambang atas tersebut ditetapkan dalam bentuk persen. ARA sendiri sudah ditentukan dalam sistem Jakarta Automated Trading System (JATS) NEXT-G sesuai dengan Keputusan Direksi Bursa Efek Indonesia No. Kep-00023/BEI/03-2020.

Misalnya : 13 Oktober 2020 harga pasar saham BRIS yaitu kode saham untuk bank BRI Syariah mengakhiri hari pada level Rp.1.125. BRIS dapat saja naik sampai harga Rp1.405 saat dibuka 14 Oktober 2020 yang artinya naik 24,89%. Mengingat kisaran harga saham BRIS dimulai dari Rp.200 hingga Rp.5.000 itu artinya batas ARA saham BRIS sebesar 25%.

Contoh lain : saham TLKM ditutup dengan harga Rp.3.000 pada perdagangan kemarin. Dalam aturan yang berlaku, batas auto rejection atas untuk harga saham tersebut yaitu maksimal 25%. Lonjakan harga saham TLKM hari ini paling tinggi yaitu: Rp3.000 ditambah Rp3.000 x 25% atau Rp3.750. Sehingga bila saham TLKM harganya sudah di atas Rp3.750 otomatis mengalami ARA.

ARA dapat saja meningkat hingga dua kali lipat terutama pada saham yang pertama kali diperdagangkan di lantai bursa ataupun pada hari pertama perdagangan. Sering terjadi saham yang belum lama melakukan IPO (initial public offering) langsung saja melonjak hingga beberapa kali lipat di hari pertama perdagangan di lantai bursa.

Kecuali jenis-jenis saham IPO, ada juga tipe saham tertentu yang harganya dapat meningkat sampai mencapai nilai ARA. Yaitu saham yang mengalami sentimen tertentu, antara lain adanya aksi korporasi berupa merger maupun akuisisi. Jadi sebuah saham dapat saja harganya menyentuh ARA di hari perdagangan tersebut, atau dapat pula menyentuh di perdagangan hari berikutnya.

Saham yang harga pasarnya terjadi ARA kebanyakan bukan termasuk kelompok saham dengan nilai kapitalisasi pasar besar yang biasa disebut dengan big caps. ARA sering terjadi pada saham dengan kapitalisasi kecil hingga menengah. Adanya ARA seakan mengesankan bahwa berinvestasi saham itu  dapat memberikan gain seketika. Meski begitu, harus dimengerti jika nilai ARA suatu saham tak mesti dapat diperkirakan para pemain saham. Jadi para pemodal harus selalu mempertimbangkan resiko yang selalu ada dalam investasi saham.

ARB Dalam Saham

Adapun ARB pengertiannya merupakan kebalikan dari ARA. ARB yang kepanjangannya Auto Reject Bawah. Pengertiannya yaitu batas terendah penurunan harga saham. ARB bisa dikatakan merupakan ambang bawah sebuah harga saham dapat turun. Dalam kondisi normal nilai ARB dinyatakan dalam persen sebagaimana ARA. Hanya saja, beberapa waktu lalu tepatnya Maret 2020 terjadi penurunan harga pasar saham yang cukup signifikan imbas dari pandemi Covid 19. Akibat kejadian tersebut maka regulator BEI pun menyesuaikan aturan nilai ARB hanya sebesar 10% dari tadinya yang berada di kisaran 20% – 35%. Hanya saja nilai ARB yang 10% tadi kenyataannya tak memadai, karena itu regulator pun menyesuaikan lagi batas ARB ke nilai 7%.

Jadi pada bulan Maret 2020 lalu, beberapa hari saja perdagangan dilakukan telah terjadi harga saham banyak yang menyentuh nilai ARB. Saham ARB di bulan Maret 2020 itu tidak sebatas saham lapis kedua atau lapis ketiga, namun juga beberapa saham LQ-45. LQ-45 adalah kelompok 45 jenis saham paling likuid yang diperdagangkan di bursa. Saham-saham LQ-45 itu adalah saham yang mempunyai fundamental yang sangat baik.

Berdasarkan Keputusan Direksi Bursa Efek Indonesia No. Kep-00023/BEI/03-2020 dijelaskan bahwa harga saham dapat turun dimana batasnya hingga Rp50. Itu artinya harga saham tak dapat turun lebih dalam di bawah Rp.50. Efek pandemi Covid-19 memang berpengaruh kemana-mana, kini banyak  saham di BEI yang terjerembab di harga hanya Rp50.

Saham di bursa yang kerap mengalami ARA atau ARB lebih pas bila dimainkan trader yang telah berpengalaman. Khususnya lagi bagi trader yang memang sudah sering menghadapi naik turun harga saham secara cepat. Saham dengan ARA atau ARB sebaiknya dihindari oleh mereka yang baru belajar berinvestasi saham.

Naik dan turunnya harga saham secara mencolok dalam satu hari yang terjadi di bursa dapat disebabkan berbagai hal. Boleh jadi saham tersebut memang tak cukup likuid yang menyebabkan harganya naik turun tak terkendali. Sebab lainnya seperti munculnya rumor yang dimanfaatkan bandar agar saham tersebut bergerak. Oleh karena itu, para investor saham harus mengerti dulu resiko saham yang mengalami ARA atau ARB sebelum memutuskan untuk order.

Lalu bagaimana bagi para investor pemula dengan kejadian saham yang mengalami ARA atau ARB? Kembali lagi pada tujuan utama berinvestasi dalam saham yang sejatinya merupakan investasi jangka panjang. Jadi bukan tipe trader yang memainkannya setiap hari. Pilih saja saham lapis pertama atau kedua dengan fundamental keuangan bagus dan biarkan harganya berkembang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *