Lompat ke konten

Istilah ARA dan ARB Dalam Saham

ARA dan ARB

Sebuah saham bisa dihentikan perdagangannya di bursa efek karena mengalami ARA dan ARB. Bagi investor awam, boleh jadi masih belum paham dengan istilah di dunia pasar modal itu. Mari simak penjelasan berikut ini.

Kedua istilah tadi berhubungan dengan apa yang dinamakan auto rejection. Auto rejection adalah proses perdagangan dalam saham dengan tujuan utama melindungi investor. Jadi auto rejection adalah pembatasan paling bawah dan paling atas dari kasus harga saham yang naik atau turun dalam satu hari perdagangan.

Mekanisme bursa otomatis menolak atau me-reject order jual atau beli yang masuk apabila harga saham sudah mencapai batas atas atau bawah. Auto rejection digunakan demi menjamin proses trading saham di lantai bursa dapat berlangsung dengan wajar.

Kebijakan mengenai persentase auto rejection atas dan bawah ini berubah seiring dengan kebijakan BEI. Pada pandemi lalu misalnya, batas ARB ditetapkan sekitar 7% demi menjaga likuiditas transaksi di bursa. Namun, per 5 Juni 2023 kebijakan ARA dan ARB ini diubah lagi dengan rincian sebagai berikut sesuai dengan SK BEI No. Kep-00055/BEI/03-2023:

Rentang hargaAuto rection atasAuto rection bawah
50-20035%35%
>200-5.00025%25%
>5.00020%25%
Auto rejection

Oleh karena mudahnya nilai ARA dan ARB ini berubah, maka pastikan Anda mengetahui kebijakan auto rejection atas dan auto rejection bawah yang terbaru ya.

Pengertian ARA Dalam Saham

ARA (Auto Rejection Atas) adalah nilai batas kenaikan harga saham naik di suatu hari. Ambang atas tersebut ditetapkan dalam bentuk persen.Mekanisme ARA sudah ditentukan dalam SK Direktur BEI SK BEI No. Kep-00055/BEI/03-2023.

Contoh: 13 Oktober 2023 harga pasar saham BRIS yaitu kode saham untuk bank BRI Syariah mengakhiri hari pada level Rp.1.125. BRIS dapat saja naik sampai harga Rp1.405 saat dibuka 14 Oktober 2020 yang artinya naik 24,89%. Mengingat kisaran harga saham BRIS dimulai dari Rp.200 hingga Rp.5.000 itu artinya batas ARA saham BRIS sebesar 25%.

Contoh lain: saham TLKM ditutup dengan harga Rp4.000 pada perdagangan kemarin. Dalam aturan yang berlaku, batas auto rejection atas untuk harga saham tersebut yaitu maksimal 25%. Lonjakan harga saham TLKM hari ini paling tinggi yaitu: Rp4.000 ditambah Rp4.000 x 25% atau Rp5.000. Sehingga bila saham TLKM harganya sudah di atas Rp5.000 otomatis mengalami ARA.

ARA dapat saja meningkat hingga dua kali lipat terutama pada saham yang pertama kali diperdagangkan di lantai bursa ataupun pada hari pertama perdagangan. Sering terjadi saham yang belum lama melakukan IPO (initial public offering) langsung saja melonjak hingga beberapa kali lipat di hari pertama perdagangan di lantai bursa.

Selain jenis-jenis saham IPO, ada juga tipe saham tertentu yang harganya dapat meningkat sampai mencapai nilai ARA. Saham yang mengalami hal ini biasanya sedang terkena sentimen tertentu, antara lain adanya aksi korporasi berupa merger maupun akuisisi. Jadi sebuah saham dapat saja harganya menyentuh ARA di hari perdagangan tersebut, atau dapat pula menyentuh di perdagangan hari berikutnya.

Saham yang harga pasarnya terjadi ARA kebanyakan bukan termasuk kelompok saham dengan nilai kapitalisasi pasar besar yang biasa disebut dengan big caps. ARA sering terjadi pada saham dengan kapitalisasi kecil hingga menengah.

Adanya ARA seakan mengesankan bahwa berinvestasi saham itu  dapat memberikan gain seketika. Meski begitu, harus dimengerti jika nilai ARA suatu saham tak mesti dapat diperkirakan para pemain saham. Jadi para pemodal harus selalu mempertimbangkan resiko yang selalu ada dalam investasi saham.

Pengertian ARB Dalam Saham

ARB adalah batas terendah penurunan harga saham. ARB adalah kebalikan dari ARA. Pada pandemi covid19 lalu, nilai ARB untuk semua fraksi harga adalah sebesar 7% demi menjaga likuiditas transaksi saham di Bursa Efek Indonesia. Namun seiring dengan perbaikan ekonomi negeri ini, BEI lantas menerbitkan SK BEI No. Kep-00055/BEI/03-2023 yang berlaku efektif sejak Juni 2023 lalu. Dalam SK tersebut, nilai ARB dibatasi sebagaimana telah dijabarkan pada tabel di atas.

Ini artinya, katakanlah saham JPFA pada tanggal 5 Oktober 2023 sebesar Rp1.000. Saham ini akan mengalami ARB apabila harganya turun sebesar Rp150 atau mencapai Rp850 per lembar. Dengan demikian, sekuat apapun sentimen negatif yang menimpa JPFA pada hari itu, harga saham perusahaan produk peternakan ini tidak akan turun di bawah level 850 rupiah per lembar.

Manfaat ARA dan ARB

Manfaat utama adanya ARA dan ARB adalah untuk menjaga investor, khususnya investor pemula dan ritel dari pergerakan harga yang terlalu tajam. Saham yang berkali-kali menembus level ARA atau ARB dalam satu periode waktu tertentu, biasanya terkena suspensi atau pemberhentian dagang sementara. Suspensi ini akan terus berlaku sampai BEI merasa kalau pergerakan harga saham tersebut bisa kembali normal.

Dengan adanya ARA dan ARB, fluktuasi pergerakan suatu emiten dalam suatu hari dapat terkendali. Seorang trader dapat memperhitungkan timing yang sesuai untuk melakukan buy atau sell suatu saham dengan memiliki jaminan tidak akan turun dengan harga yang terlalu ekstream dikarenakan adanya ARB dan tidak akan naik melebihi batas ARA yang telah ditetapkan.

Saham di bursa yang kerap mengalami ARA atau ARB lebih pas bila dimainkan trader yang telah berpengalaman. Khususnya lagi bagi trader yang memang sudah sering menghadapi naik turun harga saham secara cepat. Saham dengan ARA atau ARB sebaiknya dihindari oleh mereka yang baru belajar berinvestasi saham.

Naik dan turunnya harga saham secara mencolok dalam satu hari yang terjadi di bursa dapat disebabkan berbagai hal. Selain sentimen, hal ini bisa disebabkan karena rendahnya nilai free float (proporsi saham perusahaan yang dijual kepada publik di bursa) saham tersebut. Ketika free float sebuah perusahaan rendah, maka sentimen negatif maupun positif sedikit saja bisa mendorong perubahan harga yang cukup tajam.

Lalu bagaimana bagi para investor pemula dengan kejadian saham yang mengalami ARA atau ARB? Jika Anda adalah investor jangka panjang dan yakin kalau penurunan atau kenaikan harga saham tersebut sementara waktu saja, maka Anda bisa menunggu hingga masa suspensi selesai. Namun bagi para trader, adanya ARA dan ARB seharusnya menjadi salah satu pertimbangan pokok dalam menentukan target profit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *