Lompat ke konten
Daftar Isi

Kredit Konsumtif: Pengertian, Fungsi, Contoh & Cara Menghindarinya

Seseorang memegang kartu kredit dan uang di depan laptop.

Dalam dunia keuangan, baik dalam rumah tangga maupun perusahaan, penggunaan kredit adalah salah satu aktivitas yang paling sering ditemui. Istilah ini seringkali berkonotasi negatif karena pada dasarnya kredit adalah aktivitas pinjam-meminjam uang yang dibayar secara mengangsur. 

Akan tetapi, pada kenyataannya, baik individu maupun bisnis akan menggunakan kredit untuk memenuhi kebutuhan masing-masing. Yang membedakan penggunaan keduanya adalah pada tujuan dan fungsi kredit itu sendiri. Untuk individu, penggunaan kredit ini diberi nama kredit konsumtif, sedangkan skala bisnis disebut dengan kredit produktif. 

Apakah Anda pernah mendengar istilah tersebut? Jika belum, mari simak penjelasan lebih dalam mengenai kredit konsumtif mulai dari pengertian, fungsi, contoh, hingga cara menghindarinya!

Pengertian Kredit Konsumtif

Sesuai dengan namanya, konsumtif merujuk pada aktivitas mengonsumsi sesuatu yang dilakukan oleh seseorang. Dengan kata lain, kredit konsumtif berarti jenis kredit yang diberikan kepada perorangan untuk memenuhi kebutuhan konsumsinya. 

Kebutuhan konsumsi ini dapat berupa pembelian sandang atau pangan, pembelian kebutuhan tersier, hiburan, dan masih banyak lagi. Penggunaan kredit konsumtif ini dapat dikatakan bersifat pasif di mana artinya seseorang tidak akan menghasilkan pendapatan dari penggunaan pinjaman tersebut. 

Tenggat waktu peminjaman kredit ini pun relatif singkat karena umumnya digunakan untuk keperluan mendesak dan akan dibayarkan ketika seseorang sudah mendapatkan gaji atau pendapatan. Selain itu, pengajuan kredit konsumtif ini juga tidak memerlukan kartu kredit sebagai syarat peminjaman. 

Jenis pinjaman ini biasanya dikeluarkan oleh bank yang bekerja sama dengan perusahaan tertentu untuk mempermudah transaksi konsumen. Jadi, perusahaan bisa menyediakan opsi pembayaran angsuran dalam pembelian barang selama konsumen tersebut mampu bertanggung jawab. 

Adanya kredit konsumtif ini bisa menjadi pedang bermata dua bagi penggunanya. Pasalnya, jika seseorang tidak memiliki manajemen keuangan yang baik, pembayaran pinjaman tersebut bisa saja menjadi terhambat. Selain itu, perilaku konsumtif juga bisa muncul karena kemudahan pengajuan pinjaman tanpa kartu kredit ini. 

Namun, di sisi lain, jenis pinjaman ini sangat membantu seseorang untuk memenuhi keperluan yang penting dan mendesak di saat tidak ada pegangan uang atau dana. 

Fungsi Kredit Konsumtif

Berikut ada beberapa fungsi dari penggunaan kredit konsumtif yang biasanya diajukan oleh seseorang: 

1. Pemenuhan kebutuhan konsumsi sehari-hari 

Umumnya, seseorang mengajukan pinjaman konsumtif ini untuk membeli atau memenuhi kebutuhan pribadi atau keluarga sehari-hari. Kebutuhan ini dapat bersifat habis-pakai atau bertujuan untuk meningkatkan produktivitas seseorang.

Misalnya, pembelian motor untuk transportasi sehari-hari. Ketika membeli motor, Anda akan dihadapkan pada pilihan pembayaran tunai atau kredit. Bagi sebagian orang, pembelian tunai adalah opsi terbaik untuk menghindari cicilan dan suku bunga yang besar.

Namun, bagi sebagian orang lainnya, uang tunai tersebut dapat dialokasikan untuk kebutuhan lain sehingga opsi pembayaran cicilan adalah yang terbaik. Kedua metode pembayaran tersebut tentu akan memberi dampak baik dan buruk 

2. Solusi untuk kebutuhan mendesak

Dalam kehidupan sehari-hari, berbagai macam hal yang mendesak mungkin saja terjadi. Misalnya, perbaikan motor yang rusak, pembiayaan rawat inap di rumah sakit, dan masih banyak lagi. 

Terkadang kasus-kasus tersebut muncul secara mendadak sehingga seseorang tidak memiliki persiapan uang atau tabungan untuk mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Maka dari itu, fungsi kredit konsumtif adalah bisa jadi solusi untuk mengatasi situasi mendesak tersebut.

Adanya pinjaman tersebut akan memberikan akses seseorang untuk mendapatkan dana dan bisa membiayai segala kebutuhan tersebut. 

Contoh Kredit Konsumtif

Salah satu contoh kredit konsumtif yang paling sering diajukan adalah kredit alat elektronik atau gadget. Pasalnya, kebutuhan akan penggunaan alat elektronik semakin tinggi sehingga setiap orang setidaknya harus memiliki 1 perangkat memadai untuk beraktivitas sehari-hari. 

Kredit elektronik ini diberikan untuk membeli perangkat elektronik seperti smartphone, laptop, peralatan rumah tangga, dan lain sebagainya. 

Perbedaan Kredit Konsumtif dan Kredit Produktif

Walaupun kredit konsumtif dan produktif keduanya sama-sama ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan, ada beberapa perbedaan mendasar yang bisa dijadikan perhatian. Berikut adalah perbedaan antara kedua jenis pinjaman tersebut: 

1. Tujuan pinjaman

Berbeda dari kredit konsumtif, kredit produktif adalah pemberian pinjaman yang diberikan kepada perusahaan yang tujuannya untuk pengembangan bisnis. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, pinjaman konsumtif tidak dikelola untuk mendapatkan penghasilan di masa mendatang, tetapi hanya untuk pemenuhan kebutuhan saat itu. 

Sementara itu, pinjaman produktif berfokus untuk mendanai operasional bisnis, mengekspansi perusahaan, membiayai inventaris bisnis, dan masih banyak lagi. Dana tersebut akan dikelola dengan baik untuk bisa menghasilkan pendapatan dari barang atau jasa yang ditawarkan. 

2. Suku bunga

Suku bunga yang dibebankan pada pinjaman konsumtif dan produktif jelas berbeda. Kredit konsumtif biasanya akan dikenakan beban bunga yang lebih tinggi dibandingkan pinjaman produktif. Nilai suku bunga konsumtif ini bergantung dari seberapa besar jumlah pinjaman yang diajukan, periode waktu pinjaman, dan faktor-faktor lainnya. 

Di sisi lain, kredit produktif umumnya membebankan bunga yang tidak terlalu besar ke individu atau perusahaan. Namun, bunga tersebut tetap akan berefek pada pengeluaran perusahaan apabila uang yang dikelola tidak bisa menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi dari jumlah pinjaman. Dalam hal ini, perusahaan akan kesulitan membayar besarnya bunga dari bank atau lembaga keuangan lainnya. 

3. Tenggat waktu pembayaran pinjaman

Dari segi periode waktu pembayaran, kredit konsumtif relatif lebih singkat terkait waktu pelunasannya. Umumnya, tenggat waktu yang diberikan berkisar selama 10 s.d. 48 bulan. 

Sementara itu, kredit produktif diberikan tenggat waktu lebih lama di mana bisa mencapai 5 tahun bahkan lebih tergantung dari jumlah pinjaman yang disetujui. 

Cara Menghindari Kredit Konsumtif

Untuk menghindari perilaku konsumtif dari penggunaan kredit, berikut ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk menghindarinya: 

1. Buat anggaran keuangan

Cara pertama yang perlu Anda lakukan adalah membuat anggaran keuangan untuk merinci pendapatan, pengeluaran, dan prioritas kebutuhan sehari-hari. Anda bisa membuat anggaran ini tiap bulan untuk membatasi pengeluaran yang tidak diperlukan. 

Tentukan jumlah batasan yang harus dikeluarkan dan fokus pada kebutuhan utama seperti sandang, pangan, dan papan. Dengan berpacu pada anggaran ini, Anda akan lebih bisa menahan diri dan mengambil keputusan terbaik sebelum melakukan pembelian. 

2. Bedakan antara kebutuhan dengan keinginan

Jika sekarang Anda masih sering tergoda akan diskon besar terhadap barang nonessensial, sekarang saatnya untuk bisa membedakan dan membatasi diri. Buat skala prioritas terhadap kebutuhan dan keinginan yang perlu dipenuhi terlebih dahulu. 

Anda juga dapat mempertanyakan kepada diri sendiri terlebih dahulu apakah barang yang akan dibeli benar-benar untuk memenuhi kebutuhan atau hanya sekadar keinginan belaka. 

Kini Anda sudah mengetahui pengertian hingga contoh dari kredit konsumtif. Walaupun penggunaan pinjaman ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan, Anda perlu menghindari perilaku konsumtif dengan menerapkan beberapa cara yang sudah dibahas di atas.

nv-author-image

Lusita Amelia

Lusita Amelia adalah seorang content writer dengan pengalaman menulis berbagai macam jenis artikel. Dia menekuni kepenulisan di bidang investasi, bisnis, ekonomi, dan isu-isu terkini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *