Lompat ke konten
Daftar Isi

10 Saham LQ45 Terbaik Yang Layak Dipertimbangkan (2023)

Saham LQ45 Terbaik Yang Layak Dipertimbangkan

Indeks Lq45 adalah indeks saham yang berisi 45 saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang memiliki kapitalisasi pasar besar dan likuiditas bagus. Indeks ini dihitung dengan cara sedemikian rupa, sehingga anggotanya akan terus berubah-ubah setiap kali dievaluasi. Evaluasi terakhir yang dilakukan oleh BEI terhadap indeks yang satu ini terjadi pada Desember tahun 2022 lalu.

Berikut ini daftar saham indeks lq45 terbaik menurut fund fact sheet indeks ini yang diterbitkan pada Desember tahun 2022:

1. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI)

Tidak dapat dipungkiri bahwasanya Bank BRI adalah emiten sektor keuangan yang sedang menarik pada awal tahun ini. Dengan nilai kapitalisasi pasar sebesar 693 triliun rupiah atau naik sebesar 12% pada periode Januari 2022- Januari 2023, bisnis BRI relatif diuntungkan dengan adanya perbaikan ekonomi Indonesia pasca covid19.

Perusahaan ini juga secara konsisten terus bermanuver mengembangkan bisnisnya. Pada tahun 2019, bank pelat merah ini mengakuisisi perusahaan pelat merah lainnya, Danareksa sekuritas untuk mengembangkan bisnis di sektor investasi. Pada tahun 2021 lalu, BRI, PNM dan Pegadaian juga bekerjasama untuk mendirikan holding ultra mikro (UMI) dan pada akhirnya, tahun 2022 lalu perusahaan ini mengakuisis Pegadaian.

2. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)

Jika BRI merupakan perusahaan perbankan pelat merah terbesar, maka Bank BCA adalah perusahaan perbankan swasta terbesar di Indonesia. Tidak hanya itu, BCA juga merupakan emiten dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia dengan nilai market cap di atas 1.000 triliun rupiah per Januari 2023.

Dilansir dari Investor.com, analis dari PT Mandiri Sekuritas menyebutkan bahwa harga saham perusahaan ini berpotensi naik ke level Rp9.200 per lembar, padahal saat tulisan ini dibuat, harga saham BBCA masih berada pada level Rp8.275 per lembar. Hal ini salah satunya berdasarkan kinerja bagus yang dicatatkan oleh perusahaan ini pada periode Januari 2022- November 2022. Pada periode tersebut, laba bank yang satu ini mencapai 36,45 triliun rupiah atau naik 21% dibandingkan laba pada periode yang sama di tahun sebelumnya.

3. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)

Saham ketiga dalam fund fact sheet indeks Lq45 periode Desember 2022 adalah saham milik Bank Mandiri. Per Januari 2023, saham bank yang berdiri pasca krisis 1998 ini dijual dengan harga 9.700 per lembar atau naik 38% dibandingkan harganya pada Januari 2022.

Sepanjang tahun 2022 lalu, perusahaan perbankan ini fokus pada pengembangan bisnis UMKM. Hal ini diwujudkan dalam penyaluran pendanaan sebesar 40 triliun kepada 351 ribu lebih pelaku usaha tersebut. Tidak hanya itu, Bank Mandiri juga mengembangkan Rumah BUMN, tempat yang disediakan untuk melatih sumber daya manusia UMKM. Per akhir tahun 2022 diberitakan bahwa terdapat 23 Rumah BUMN (RB) yang tersebar di seluruh Indonesia dengan 13.969 UMKM binaan dan lebih dari 50 ribu tenaga kerja.

4. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM)

Saham lq45 terbaik berikutnya datang dari market leader industri telekomunikasi Indonesia, PT Telkom Indonesia. Pada periode Januari 2022- Januari 2023, harga saham perusahaan ini turun 7% dan menjadi salah satu saham pemberat IHSG pada periode tersebut. Meskipun demikian, secara keuangan kinerja perusahaan ini tercatat cukup baik.

Telkom mencatatkan peningkatan pendapatan pada periode Januari- September 2022 dari 106 triliun rupiah di tahun 2021 menjadi 108 triliun rupiah. Di samping kenaikan pendapatan ini, laba perusahaan sedikit menurun dari 25 triliun menjadi 23 triliun rupiah pada periode yang sama. Apabila dilihat dari laporan keuangannya, diperkirakan hal ini akibat pembengkakan biaya penyusutan dan amortisasi yang meningkat dari 22 triliun pada September 2021 menjadi 25 triliun pada September 2022. Namun, tidak menutup kemungkinan hal ini juga disebabkan oleh kerugian investasi Telkom atas GoTo.

5. PT Astra International Tbk (ASII)

PT Astra International Tbk adalah perusahaan konglomerasi Indonesia yang didirikan pada tahun 1957 oleh Tjia Kian Tie dan Liem Pen Hong. Sebagai perusahaan konglomerasi, ASII bergerak di banyak sektor mulai dari sektor agrikultur hingga otomotif dan keuangan.

Dengan harga saham senilai Rp5.850 per lembar, nilai kapitalisasi pasar ASII mencapai lebih dari 200 triliun rupiah dan menjadikan perusahaan ini sebagai salah satu perusahaan dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia. Analis dari beberapa perusahaan sekuritas memperkirakan pertumbuhan yang baik saham ini pada tahun 2023.

Hal ini karena pertumbuhan positif penjualan mobil dan motor pada tahun 2022 yang melampaui ekspektasi yang diperkirakan masih akan berlanjut pada tahun 2023 ini. Meskipun demikian, adanya kenaikan suku bunga dan pengurangan insentif pajak PPN diperkirakan menjadi salah satu penghambat pertumbuhan ini.

6. GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO)

Dalam dua tahun ke belakang ini, nama Gojek dan Tokopedia menjadi emiten yang sering diperbincangkan. Maklum, perusahaan yang masih menyandang status startup ini merupakan salah satu perusahaan teknologi terbesar di Indonesia dengan jumlah pengguna aplikasinya lebih dari 200 juta orang pengguna.

Meskipun memiliki basis konsumen yang besar, namun nyatanya perusahaan ini masih harus bersusah payah di pasar modal. Pasca dirilis pada April 2022 lalu, saham GOTO beberapa kali menurun tajam. Puncaknya, saham teknologi ini dijual dengan harga 115 rupiah per lembar atau turun lebih dari 69% sejak IPO.

Tampaknya, penurunan ini tidak lepas dari kinerja keuangan perusahaan tersebut. Pada triwulan 3 tahun 2022, GOTO tercatat membukukan peningkatan kerugian secara yoy dari 12,2 triliun rupiah menjadi 20,9 triliun rupiah. Hal ini disebabkan oleh peningkatan beban, khususnya beban penjualan dan pemasaran yang meroket dari 4 triliun menjadi 11 triliun rupiah. Padahal, pada saat yang sama, pendapatan perusahaan ini juga meningkat dari 3 triliun ke 7 triliun rupiah.

7. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI)

Tidak ingin kalah dari saham sektor perbankan lainnya, saham BBNI juga diperkirakan akan memiliki kinerja baik tahun ini. Analis dari BRI Danareksa Sekuritas mendefinisikan ada 4 hal yang bisa mendorong kinerja BNI tahun ini. Pertama pertumbuhan penyaluran kredit yang diperkirakan naik hingga 8,6%. Kedua, peningkatan net interest margin (NIM). Ketiga, peningkatan pengeluaran operasional dan keempat biaya kredit yang lebih murah (Kontan).

Bank BNI juga terus melakukan inovasi keuangan tahun ini, mulai dari menambah jumlah ATM setor tarik, hingga mulai masuk ke industri perbankan digital dengan Bank Mayora.

8. PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT)

Jika mendengar nama perusahaan ini saja mungkin Anda tidak mengenalnya, namun PT. Sumber Alfaria Trijaya Tbk adalah perusahaan yang mengoperasikan salah satu jaringan minimarket terbesar di Indonesia, Alfamart. Didirikan pada tahun 1989 oleh salah satu orang terkaya di Indonesia, Djoko Susanto, Alfamart kini telah memiliki lebih dari 17.800 gerai di seluruh Indonesia.

Harga saham AMRT ini naik sebanyak 145% pada periode Januari 2022- Januari 2023. Hal ini disinyalir karena potensi bagus yang dimiliki oleh perusahaan ini seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian Indonesia, percepatan konsumsi akibat tahun pemilu 2024 dan inovasi yang dilakukan oleh perusahaan ini sendiri melalui omnichannel, Alfagift.

9. PT Adaro Energy Indonesia TBK

Rekomendasi saham blue chip yang ke-9 adalah dari PT Adaro Energy Indonesia Tbk. Perusahaan dengan kode saham ADRO ini merupakan salah satu perusahaan tambang batubara terbesar di Indonesia. Oleh sebab itu, seperti perusahaan lainnya harga saham dan pendapatan Adaro juga diperkirakan akan meningkat seiring dengan peningkatan harga komoditi ini di pasar dunia.

10. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA)

Saham lq45 terbaik ke-10 adalah saham perusahaan tambang emas PT Merdeka Copper Gold (MDKA). Selain tambang emas, perusahaan ini juga mengelola tambang nikel di bawah nama anak perusahaannya. Produksi nikel perusahaan ini rencananya akan digenjot supaya mencapat 6-8 juta ton pada semester kedua tahun 2023 ini. Tidak hanya itu, anak perusahaan MDKA yang bernama PT. Merdeka Battery Materials, rencananya juga akan melakukan IPO pada tahun ini.

nv-author-image

Farichatul Chusna

Setelah lulus dari Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Farichatul Chusna aktif sebagai penulis artikel ekonomi, investasi, bisnis, dan keuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *