Lompat ke konten

Apa itu Zero Coupon Bonds?

Zero coupon bonds

Keuntungan investasi di obligasi atau surat utang bersumber dari dua faktor, yaitu capital gain dan kupon. Capital gain adalah selisih antara harga jual dan harga beli instrumen tersebut, sementara kupon adalah potensi keuntungan yang dibayarkan penerbit obligasi kepada investor. 

Namun, saat ini ada jenis surat utang lain yang tidak membayarkan kuponnya kepada investor. Surat utang ini disebut dengan zero coupon bonds. Lalu, darimana sumber keuntungan investor? Simak pembahasannya berikut ini.

Apa itu Zero Coupon Bonds?

Zero coupon bonds (ZCB) adalah jenis obligasi yang tidak membayarkan fixed coupon-nya. Investor bisa membeli zero coupond bonds dengan harga diskon dan ketika tanggal jatuh tempo obligasi tersebut tiba, investor akan dibayar sesuai dengan harga nominalnya (face value). Maka dari itu, obligasi ini juga disebut deep discount bonds

Face value tersebut ditentukan berdasarkan perkiraan compound interest yang akan diperoleh investor ketika tenor surat utang tersebut berakhir.

Misalnya, sebuah perusahaan menerbitkan obligasi A untuk mendanai proyeknya dengan tenor 20 tahun.  Perusahaan tersebut memperkirakan kalau dengan suku bunga saat ini sebesar 5,5% dan target harga obligasi adalah Rp20.000.000 saat ini investor bisa membeli obligasi A tersebut dengan harga Rp6.855.000.

Selisih antara Rp20.000.000 dan Rp6.855.000 (sebesar RP13.145.000) inilah yang menjadi sumber pendapatan utama investor. Selain itu, investor juga bisa menjual surat berharga ini di pasar sekunder sebelum tenor obligasi tersebut habis dan ketika harganya sedang lebih tinggi dibandingkan dengan harga belinya. Tujuannya supaya dia bisa mendapatkan capital gain.

Surat utang ini bisa diterbitkan oleh perusahaan swasta maupun pemerintah pusat dan daerah. Namun, emiten di Indonesia sejauh ini masih belum ada yang menerbitkan surat utang jenis ini.

Perbedaan Zero Coupon Bonds dengan Obligasi Lainnya

1. Pembayaran Kupon

Perbedaan utama antara ZCB dan surat utang pada umumnya terletak pada pembayaran kupon. Obligasi biasa umumnya memiliki fixed coupon yang dibayarkan secara berkala oleh perusahaan kepada investor, sementara obligasi jenis yang satu ini tidak. 

2. Jangka waktu

Biasanya, jangka waktu atau tenor zero coupon bonds lebih panjang dibandingkan obligasi biasa. Jika tenor obligasi biasa sekitar 3-5 tahun, maka tenor surat utang jenis ini bisa sampai 10-15 tahun. Akan tetapi ada juga ZCB yang memiliki jangka waktu sangat pendek (di bawah 1 tahun), seperti Treasury Bills. Oleh sebab itu, ZCB lebih cocok untuk instrumen investasi jangka panjang.

3. Tingkat volatilitas

Zero coupon bond cenderung memiliki tingkat volatilitas harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan surat utang biasa. Hal ini karena, jangka waktunya yang panjang, potensi perubahan harga karena suku bunga dan investor pasti berpikir ulang terlebih dahulu sebelum membeli instrumen yang satu ini, sehingga peminatnya sedikit. 

Keuntungan dan Kekurangan Membeli Zero Coupon Bonds

Keuntungan

1. Tidak perlu khawatir dengan volatilitas pasar

Karena besaran suku bunga, face value dan tenor sudah ditentukan, investor bisa memperkirakan sendiri berapa jumlah keuntungan yang bisa diperoleh ketika tenor sudah berakhir. Rumus menghitung harga untuk memperkirakan keuntungan tersebut adalah:

Zero-coupon bond yang harus dibayarkan investor = Face Value ÷ (1 + suku bunga yang diinginkan)^tenor dalam satuan tahun. Untuk mempermudah penghitungan, Anda bisa menggunakan kalkulator bunga majemuk

Tentunya besaran keuntungan tersebut baru akan terwujud jika Anda memegang instrumen ini sampai tanggal jatuh temponya dan tidak menjualnya di pasar sekunder. 

2. Instrumen investasi jangka panjang selain saham

Umumnya saham dipahami sebagai satu-satunya instrumen yang cocok untuk investasi jangka panjang. Namun, kini dengan ZCB, Anda bisa menggunakan instrumen ini sebagai bentuk diversifikasi. Supaya hasilnya lebih bagus, jangan lupa memilih emiten yang memiliki skor kredit bagus ya. 

Kerugian

1. Pendapatan dari ZCB terkena pajak

Menurut beberapa sumber, instrumen investasi ini masih belum ada di Indonesia. Namun berkaca dari Amerika Serikat, pendapatan yang diperoleh dari instrumen ini tetap dikenai pajak penghasilan setiap tahunnya. 

2. Risiko suku bunga

Sama seperti jenis obligasi lainnya, harga ZCB juga terpengaruh oleh besaran suku bunga acuan. Apabila suku bunga acuan naik, harga sebuah obligasi akan turun, karena investor memiliki opsi obligasi baru atau deposito yang lebih menarik. Bahkan, penurunan harga ZCB akibat peningkatan suku bunga ini bisa lebih tajam dibandingkan surat utang biasa. Alasannya karena tenor ZCB panjang dan peminatnya sedikit. 

3. Risiko inflasi

Seperti yang telah disebutkan di atas, besaran return atau suku bunga ZCB sudah ditentukan di awal, sebelum investor membeli instrumen ini dan biasanya suku bunga ini menggunakan sistem fixed coupon (tetap). Misalnya, kalau hanya 5,5% setiap tahunnya, maka dalam jangka waktu 20 tahun, investor juga hanya akan mendapatkan kenaikan harga sebesar 5,5%. Padahal, besaran suku bunga ini harus lebih besar dibandingkan inflasi. Sebab kalau nilainya sama dengan inflasi, investor tidak akan mendapatkan laba. Nah, masalahnya adalah tingkat inflasi suatu negara pasti berubah-ubah setiap tahunnya tergantung kondisi ekonomi saat itu. 

4. Likuiditas rendah

Karena banyak faktor, peminat obligasi jenis ini cenderung lebih rendah dibandingkan dengan jenis lainnya. Akibatnya, tingkat likuiditasnya rendah juga. Ini artinya, Anda tidak akan bisa mencairkan atau membeli obligasi jenis ini dengan cepat. 

Cara Memilih Zero Coupon Bonds

Terdapat beberapa faktor yang harus Anda pertimbangkan saat memilih instrumen investasi ini, yaitu:

  1. Tingkat suku bunga dan risiko yang ditawarkan. Umumnya, semakin tinggi suku bunga yang ditawarkan, semakin tinggi pula tingkat risiko yang harus ditanggung oleh investor.
  2. Tanggal jatuh tempo (tenor). Secara teori, semakin panjang tenor obligasi, semakin besar pula keuntungan dari instrumen tersebut.
  3. Credit rating emiten yang menerbitkan. Anda bisa melihat credit rating ini di laman resmi PT. Perusahaan Pemeringkat Efek. 
  4. Potensi likuiditas. Kira-kira banyak yang akan membutuhkan obligasi yang diterbitkan atau tidak.
  5. Potensi penggunaan obligasi dan kualitas keuangan emiten. Data mengenai kedua hal ini bisa dilihat di prospektus obligasi perusahaan.
  6. Potensi perkembangan ekonomi Indonesia kedepannya. Tujuannya supaya Anda tahu kira-kira berapa tingkat inflasi negeri ini ketika Anda memegang instrumen tersebut.

Nah, itu tadi pembahasan mengena zero coupon bond. Jadi, kalau instrumen ini sudah ada di Indonesia, apakah Anda akan membelinya?

nv-author-image

Farichatul Chusna

Setelah lulus dari Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Farichatul Chusna aktif sebagai penulis artikel ekonomi, investasi, bisnis, dan keuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.