Lompat ke konten

Aset Produktif VS Aset Konsumtif

Aset Produktif vs Aset Konsumtif

Memiliki aset adalah suatu bagian penting dari kehidupan seseorang, terutama oleh seorang pengusaha, baik yang berwujud maupun tidak berwujud. Jenis kekayaan tersebut terdiri dari aset produktif dan aset konsumtif, di mana keduanya memiliki kegunaan tertentu serta karakteristiknya tersendiri.

Aset (aktiva) produktif dan konsumtif memiliki perbedaan tersendiri, baik dari segi kegunaan maupun nilainya. Mari kita bahas secara lebih rinci mengenai kedua jenis kekayaan tersebut pada artikel ini.

Pengertian Aset Produktif

Aset produktif adalah aset yang nilainya dari masa ke masa akan semakin meningkat, sehingga dapat menghasilkan keuntungan (profit) dan bisa dijadikan sebagai passive income.

Contohnya antara lain: rumah atau bangunan, tanah, lahan pertanian (sawah, kebun), emas murni, saham, apartemen, dan lain sebagainya.

Semua jenis barang tersebut mampu memberikan keuntungan di masa mendatang, sehingga sangat cocok apabila dijadikan sebagai instrumen investasi untuk jangka panjang maupun pendek.

Dari waktu ke waktu aktiva produktif nilai jualnya jadi semakin mahal dibandingkan ketika pertama kali membelinya, contohnya apabila pada tahun 2006 Anda membeli tanah seharga 100 juta rupiah, maka pada tahun 2022 meningkat pesat harganya menjadi 500 juta rupiah atau mungkin lebih dari itu. Misalnya tanah tersebut tidak langsung dibangun, Anda bisa menyewakannya sebagai tempat usaha ataupun menjualnya kembali dengan harga lebih mahal ketika sedang membutuhkan uang.

Pengertian Aset Konsumtif

Aset konsumtif adalah barang yang nilainya semakin turun secara signifikan dari masa ke masa serta tidak menghasilkan keuntungan, namun bisa membantu dalam menunjang kehidupan sehari-hari.

Contoh bentuk kekayaan tersebut misalnya mobil, sepeda motor, HP, televisi, AC, maupun berbagai barang elektronik lainnya. Tanpa adanya barang konsumtif tersebut, pekerjaan sehari-hari bisa saja terhambat.

Misalnya Anda pada tahun 2014 membeli mobil seharga 250 juta rupiah, kemudian 8 tahun kemudian harganya turun menjadi 175 juta rupiah. Meskipun demikian, bukan berarti Anda tak boleh memiliki barang yang merupakan aset konsumtif, sebab barang tersebut pasti berguna apalagi digunakan untuk keperluan penunjang hidup dan bukan sekedar untuk kepuasan diri saja. Contohnya yaitu menggunakannya untuk pekerjaan, menjalankan suatu bisnis, dan sebagainya.

Barang konsumtif dapat mengalami penurunan kualitas, sehingga di masa mendatang harganya jadi lebih murah dibandingkan ketika pertama kali membelinya. Hal ini karena barang-barang tersebut bisa saja mengalami kerusakan, penggantian spare part, dan lain sebagainya.

Aset Produktif VS Aset Konsumtif

Perbedaan aset produktif dan aset konsumtif dapat dilihat dari nilai serta kegunaannya. Aset produktif diartikan sebagai suatu kekayaan yang nilai jualnya semakin meningkat di masa mendatang meskipun bukan merupakan penunjang kebutuhan hidup harian. Sedangkan aset konsumtif sebagai barang yang nilainya semakin turun jika menjualnya di masa mendatang, namun barang tersebut bisa dipakai untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

Berikut ini merupakan perbedaan lainnya dari aktiva produktif dan aset konsumtif.

1. Penyusutan nilai barang dari waktu ke waktu

Perbedaan pertama adalah pada penyusutan nilai barang di kemudian hari. Aset konsumtif tidak mengalami penyusutan, sebab nilai jualnya semakin meningkat dari waktu ke waktu. Sehingga sangat cocok apabila dijadikan sebagai instrumen investasi masa depan, sekaligus memberikan tambahan penghasilan berupa passive income secara berulang.

Sedangkan aset konsumtif nilai jualnya mengalami penurunan dari waktu ke waktu karena kualitasnya juga jadi berkurang. Jadi meskipun Anda baru memakainya sebentar, barang tersebut tetaplah termasuk bekas dan akhirnya dijual lebih murah dibandingkan saat pertama kali membelinya.

2. Jenis investasi

Aktiva produktif merupakan jenis investasi, baik jangka panjang maupun jangka pendek. Hal ini karena nilainya jadi lebih tinggi pada masa mendatang, sehingga bisa dijadikan sebagai tambahan pendapatan.

Aset konsumtif tidak dapat dijadikan sebagai investasi, kecuali Anda membelinya memang untuk dijadikan sebuah usaha, contohnya membuat usaha penyewaan barang tertentu. Meskipun bukan termasuk investasi yang memberikan keuntungan besar di masa depan, tetapi dapat membantu dalam menunjang kehidupan sehari-hari karena kegunaannya di masa kini.

3. Kemampuan dalam menghasilkan keuntungan

Seperti pada penjelasan sebelumnya, perbedaan lain dari kedua bentuk kekayaan tersebut yaitu pada kemampuannya dalam menghasilkan keuntungan. Aset produktif mampu memberikan keuntungan lebih besar dari waktu ke waktu karena tidak mengalami penyusutan. Sedangkan aset konsumtif dapat mengalami penyusutan kualitas, sehingga tidak dapat memberikan keuntungan jika dijual kembali di masa depan.

Keunggulan Aset Produktif

Setelah mengetahui definisi dari aset produktif, mari simak keunggulannya berikut ini.

1. Nilainya meningkat dari waktu ke waktu

Keunggulan aktiva produktif adalah nilainya pasti meningkat dari masa ke masa, di mana harga jualnya bisa lebih tinggi jika dibandingkan saat pertama kali membelinya. Oleh karena itu, barang tersebut bisa dijadikan sebagai instrumen investasi lalu memberikan passive income yang menguntungkan.

2. Bisa dijadikan sebagai investasi jangka panjang

Aktiva produktif bisa dijadikan sebagai investasi jangka panjang, sebab berkaitan pada nilainya yang selalu meningkat di masa depan. Contohnya adalah properti seperti bangunan dan tanah, maupun perkebunan, emas, dan sebagainya di mana harganya jadi lebih mahal jika dijual kembali.

3. Bisa dijadikan sebagai passive income

Memiliki aset produktif tak perlu mengkhawatirkan masa tua berlebihan, sebab kekayaan tersebut mampu menghasilkan passive income secara berulang. Sehingga ketika nantinya Anda sudah pensiun, sudah tak lagi bekerja, maupun sedang butuh tambahan uang, aset tersebut tetap memberikan keuntungan lebih tinggi dibandingkan harga beli sebelumnya.

Kekurangan Aset Produktif

Meskipun memiliki banyak kelebihan, ini kekurangan aset produktif yang perlu diketahui.

1. Biaya awal investasinya mahal

Aset produktif memang dapat memberikan keuntungan lebih di masa mendatang. Akan tetapi, biaya awal investasi yang harus dikeluarkan pun tidak murah, bahkan bisa puluhan sampai ratusan juta rupiah. Maka dari itu, cara mendapatkan aset seperti ini yaitu dengan mengumpulkan uang terlebih dahulu agar dapat memilikinya.

2. Bukan termasuk penunjang kebutuhan hidup sehari-hari

Aset produktif memang bukan termasuk penunjang kebutuhan sehari-hari, apalagi sebagai konsumsi karena bukan termasuk benda yang cepat habis dan mudah menyusut. Jadi misalnya Anda memilikinya namun tidak disewakan atau dijual, maka tidak akan mendapatkan keuntungan.

Keunggulan Aset Konsumtif

Memiliki aset konsumtif tentu memiliki keunggulannya tersendiri jika dilihat dari segi kegunaan bendanya. Berikut ini adalah beberapa keunggulannya.

1. Membantu menunjang kegiatan sehari-hari

Aset konsumtif memang bukan termasuk investasi yang nilainya meningkat di masa depan, tetapi dapat membantu dalam menunjang kegiatan sehari-hari. Misalnya mesin cuci, bisa dipakai untuk membantu pekerjaan rumah yaitu mencuci segala jenis pakaian dengan mudah.

2. Sebagai bentuk kepuasan diri maupun pemenuhan kebutuhan

Orang-orang membeli barang konsumtif biasanya karena dijadikan sebagai bentuk kepuasan diri maupun pemenuhan kebutuhan hidup. Misalnya membeli kamera DSLR terbaru lalu dipakai untuk meningkatkan kemampuan pada bidang fotografi atau mungkin hanya dijadikan sebagai hobi.

3. Biaya investasi awal tidak semahal aset produktif

Berdasarkan segi pengeluaran biaya awal, aset konsumtif tak semahal produktif, sehingga tak heran jika jumlah aset konsumtif lebih banyak dibandingkan produktif.

Kekurangan Aset Konsumtif

Berikut ini adalah kekurangan aset konsumtif yang perlu diketahui agar bisa dijadikan sebagai pertimbangan.

1. Tidak memberikan keuntungan secara signifikan

Seperti pada penjelasan di poin sebelumnya bahwa aset konsumtif memiliki kekurangan, yaitu tidak dapat memberikan keuntungan secara signifikan. Hal ini karena barangnya mengalami penurunan kualitas seiring bertambahnya waktu. Jika dijual kembali pun, harganya pasti jauh lebih murah daripada ketika pertama membelinya.

2. Nilainya semakin turun dari waktu ke waktu

Nilai barang konsumtif pun juga semakin turun seiring bertambahnya waktu karena adanya penurunan kualitas pada barangnya. Meskipun Anda telah memberikan berbagai bentuk perawatan yang mahal, hal tersebut tidak akan menaikkan nilai jualnya.

Jadi itulah perbedaan aset produktif dan aset konsumtif. Tak ada salahnya jika saat ini sedang memiliki aset konsumtif lebih banyak, asalkan sudah mulai merencanakan untuk memiliki aktiva produktif sebagai investasi masa depan.

nv-author-image

Zahrah Firyal Salma

Zahrah Firyal Salma adalah seorang yang memiliki minat pada informasi edukasi tentang finansial, maupun memberikan informasi penting lainnya seputar produk keuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.