Lompat ke konten
Daftar Isi

Cara Beli Tanah di Metaverse

Cara Beli Tanah di Metaverse

Dalam 13 tahun sejak pertama kali dirilis, cryptocurrency kini tidak hanya terdiri dari mata uang crypto yang memungkinkan setiap orang di dunia untuk mengirim uang dengan tanpa perantara bank atau institusi keuangan tradisional lainnya. 

Cryptocurrency kini bahkan menciptakan dunianya sendiri yang memungkinkan orang di seluruh dunia untuk menonton konser, ikut pameran seni dan hal-hal lainnya dengan tanpa kehadiran fisik melalui metaverse. 

Metaverse mirip dengan role-playing game seperti harvest moon dan yang lainnya. Bedanya, seluruh aset dalam game tersebut bisa dibangun secara unik oleh pemain itu sendiri dan bisa diperjualbelikan menggunakan uang nyata. Adapun yang dimaksud seluruh aset disini tidak hanya item atau power melainkan juga tanah dan bangunan. 

Cara Beli Tanah di Metaverse

Berikut ini penulis jabarkan cara membeli tanah virtual di salah satu platform metaverse terkemuka yaitu Decentraland. Perlu diingat bahwa tata cara pembelian tanah di platform metaverse lain bisa jadi berbeda. 

1. Masuk ke akun marketplace metaverse

Langkah yang pertama adalah masuk ke akun platform metaverse seperti, Decentraland, Axie Infinity atau the Sandbox. Jika Anda belum memiliki akun, silahkan buat akun terlebih dahulu dengan memasukkan nama dan email lalu mengklik kode verifikasi yang telah dikirimkan ke email Anda. 

2. Pastikan Anda memiliki token dan dompet crypto yang sesuai

Langkah yang kedua adalah pastikan Anda memiliki token dan dompet crypto yang sesuai. Dalam platform Decentraland, token crypto yang digunakan untuk membeli item termasuk tanah adalah MANA dan dompet ethereum yang sering digunakan adalah MetaMask.

Apabila Anda belum memiliki token crypto ini, Anda bisa membelinya di crypto exchange terlebih dahulu. Anda bisa membeli MANA menggunakan ethereum atau menggunakan uang fiat. 

3. Tautkan dompet crypto

Setelah berhasil membeli MANA di crypto exchange, kini saatnya Anda menautkan dompet crypto yang Anda gunakan dengan platform Decentraland tersebut. Dengan demikian, ketika pembelian terjadi, pihak platform akan secara langsung mengkreditkan hasil pembelian tersebut ke dompet crypto Anda. 

4. Pilih tanah yang tersedia

Sama seperti tanah di dunia nyata pada umumnya, tanah virtual di metaverse juga terdiri dari berbagai spesifikasi, mulai dari ukuran, jarak lokasi dengan fasilitas umum dan lain sebagainya. Spesifikasi ini dan rincian harganya tercatat di marketplace sehingga Anda bisa memilih secara langsung. 

Kalau Anda masih ragu dengan spesifikasi yang tertera di marketplace, Anda bisa langsung mengeceknya dengan membuka aplikasi decentraland milik Anda. Dengan demikian, Anda bisa survey secara langsung mengenai kondisi tanah tersebut dan bangunannya. 

5. Klik buy

Jika Anda sudah menemukan tanah yang sesuai keinginan, maka Anda bisa langsung klik buy di bagian marketplace atau melakukan tawar menawar terlebih dahulu dengan pemilik tanah yang sebelumnya. Setelah proses pembelian terverifikasi, saldo koin di dompet crypto Anda akan berkurang dan tanah tersebut sudah bisa Anda pakai untuk keperluan apapun. 

Keuntungan Membeli Tanah di Metaverse

Meskipun tidak seperti tanah di dunia nyata yang bisa dijadikan tempat tinggal, tanah virtual di dunia metaverse juga memiliki beberapa keuntungan di antaranya:

1. Investasi yang menguntungkan

Dilansir dari CNBC, sepanjang tahun 2021 nilai penjualan tanah virtual di Metaverse mencapai angka 500 juta USD atau sekitar 7,6 triliun rupiah. Nilai ini diperkirakan naik 2 kali lipat pada tahun 2022 dengan mencapai 1 miliar USD atau lebih dari 14 triliun. 

Hal ini salah satunya disebabkan oleh rebranding yang dilakukan Facebook pada Oktober 2021 lalu. Ketika itu, Facebook mengganti namanya menjadi Meta dan mulai berfokus pada pengembangan dunia metaverse. 

2. Tidak bisa jadi rumah, tapi bisa jadi venue konser

Tanah di metaverse memang tidak sepenuhnya bisa menjadi barang substitusi dari tanah di dunia nyata karena tidak bisa dibangun rumah untuk melindungi diri Anda dari kondisi alam. Namun bukan berarti tanah dan bangunan di metaverse tidak ada gunanya. 

Dengan adanya dunia virtual ini, Anda bisa menonton konser, mengikuti pameran lukisan atau bahkan ikut judi di kasino secara langsung dan online. Bahkan beberapa musisi dunia seperti Justin Bieber, Tinashe dan Snoop Dogg pernah mengadakan konser di platform metaverse. 

Jadi, Anda tidak perlu pergi ke Los Angeles untuk menonton konser Justin Bieber atau ke Prancis untuk melihat pameran lukisan museum Louvre. Yang perlu Anda lakukan adalah login ke aplikasi metaverse dan memasang peralatan yang dibutuhkan. 

Bagi perusahaan atau produsen, hal ini berarti peluang investasi yang besar. Karena itu artinya mereka bisa mengadakan konser secara online, dengan biaya produksi lebih murah, tanpa takut covid19 dan bisa mengumpulkan orang dari seluruh dunia. Maka dari itu, tidak heran kalau banyak perusahaan berinvestasi pada tanah  virtual di metaverse. 

3. Beli tanah tanpa ribet

Poin lain yang membuat banyak perusahaan besar masuk ke dunia metaverse adalah kemungkinan untuk membangun gedung virtual dengan tanpa hal-hal yang berkaitan dengan pemerintah seperti, pajak, NPWP dan lain sebagainya.

Hal ini tentu sangat menghemat biaya dan waktu. Mengingat kalau membangun gedung di dunia nyata, sebuah perusahaan harus membeli tanah dulu, mengurus sertifikat dan lain sebagainya yang bisa jadi tidak membuat usaha mereka efisien dan menguntungkan.

Kerugian Membeli Tanah di Metaverse

1. Volatilitas harga

Harga tanah virtual di aplikasi metaverse apapun sangat bergantung pada nilai tukar koin crypto yang digunakan. Padahal, volatilitas harga koin crypto sangat tajam. Akibatnya, kalau harga koin crypto naik, maka harga tanah di metaverse juga naik sebaliknya, kalau harga koin crypto anjlok, maka harga tanah virtual juga anjlok. 

2. Ancaman hacking

Para pengembang aset crypto boleh jadi mengklaim kalau produk mereka tidak bisa diretas. Namun nyatanya, beberapa kali hacker bisa dengan sukses meretas dompet digital atau sistem crypto exchange. Ini artinya, pada dasarnya keamanan cryptocurrency termasuk transaksi di metaverse masih belum sepenuhnya aman dan perlu banyak pengembangan.

4. Ancaman bubble

Kita tidak pernah tahu apakah cryptocurrency, NFT dan metaverse ini akan menjadi “the next big thing” di masa depan atau tidak. Apabila memang akan menjadi “the next big thing”, maka investasi dan spekulasi di tanah virtual ini memang bagus dilakukan. Akan tetapi, kalau nyatanya metaverse ini hanyalah trend atau bubble saja, bisa jadi bubble tersebut akan meletus pada suatu titik tertentu. 

Belajar dari krisis subprime mortgage di Amerika Serikat pada tahun 2008, istilah bubble dalam crypto bisa berarti suatu kondisi dimana harga aset naik terus menerus lalu tiba-tiba anjlok bahkan sampai minus. Tentu risiko ini akan lebih membahayakan pada dunia metaverse mengingat bahwa tidak ada pemerintah atau otoritas keuangan yang mengatur dunia virtual ini.

nv-author-image

Farichatul Chusna

Setelah lulus dari Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Farichatul Chusna aktif sebagai penulis artikel ekonomi, investasi, bisnis, dan keuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *