Lompat ke konten

Apa itu CVV atau CVC dalam Kartu Kredit

Apa itu CVV atau CVC dalam Kartu Kredit

Sebagai pemilik kartu kredit, ada beberapa data yang harus Anda simpan rapat-rapat supaya kartu kredit (CC) Anda tidak dibobol oleh orang. Data yang pertama adalah nomor PIN (personal identification number), data yang kedua adalah nomor kartu dan tanggal kadaluarsanya, data keempat adalah kode OTP (one time password) dan data yang terakhir adalah nomor CVV atau CVC. 

Data-data di atas perlu Anda jaga kerahasiaannya baik ketika Anda berbelanja secara offline maupun online. Sebab, kalau sampai ada satu atau dua data yang bocor, tidak menutup kemungkinan Anda akan menderita rugi besar. 

Boleh dikatakan nomor PIN, kode OTP dan nomor kartu sudah pernah Anda ketahui sebelumnya. Apalagi jika Anda punya kartu ATM juga. Tapi, bagaimana dengan CVC atau CVV dalam kartu kredit? Data apakah itu? Simak ulasannya di bawah ini.

Pengertian CVV

CVV adalah kependekan dari card verification value. Sedangkan CVC adalah kependekan dari card verification code. Kedua istilah ini menggambarkan angka yang sama yaitu tiga angka yang biasanya terletak di bagian belakang kartu kredit dan di sisi kanan tanda tangan pemilik.

Hanya saja kartu kredit berlogo Visa menggunakan istilah CVV sementara Mastercard menggunakan istilah CVC. Istilah lain dari CVV dan CVC ini adalah CSC atau card security code.

Kedua kode ini pada awalnya dikembangkan oleh Michael Stone, seorang karyawan Equifax pada tahun 1995. Ketika itu, Stone mengembangkan kode alfanumerik sepanjang 11 karakter. Penemuan Stone ini lantas dibeli dan dikembangkan lebih lanjut oleh APACS (UK Association of Payment Clearing Services). 

Pada tahun 1997 kode ini sudah mulai digunakan oleh kartu kredit terbitan Mastercard sedangkan kartu kredit dari Visa baru memakainya pada tahun 2001. Sejak saat itu sampai sekarang kode ini banyak digunakan oleh berbagai merk credit card di seluruh dunia. 

Fungsi CVV

Fungsi utama CVV atau CVC adalah sebagai pengganti PIN atau tanda tangan saat pemilik kartu bertransaksi secara online. Bank, sebagai pihak penerbit kartu akan menganggap bahwa transaksi yang dilakukan oleh pengguna tersebut sah apabila pengguna kartu kredit tersebut mencantumkan 3 digit angka ini. Apabila ketiga angka ini tidak dicantumkan, maka sistem akan langsung menolak permintaan pembayaran. 

Mudahnya seperti ini. Ketika Anda bertransaksi menggunakan kartu kredit secara offline, Anda akan diminta untuk membubuhkan tanda tangan atau mengetikkan nomor PIN Anda di mesin EDC sebagai bentuk pernyataan bahwa yang belanja menggunakan kartu ini adalah pemiliknya langsung. 

Nah karena Anda bertransaksi secara online, tentu Anda tidak bisa memberikan tanda tangan ataupun mengetikkan nomor PIN kartu. Oleh karena itu sebagai bentuk pernyataan kalau yang berbelanja menggunakan kartu ini adalah pemiliknya, Anda diminta untuk mencantumkan 3 digit nomor CVC atau CVV ini. Karena fungsinya yang penting inilah nomor CVV atau CVC ini tidak boleh sembarangan diberitahukan kepada orang lain. 

Tips Menjaga Keamanan CVV

Lalu, bagaimana cara menjaga keamanan data 3 digit nomor ini? Berikut ini tips menjaga keamanan CVV:

1. Berbelanja di situs online terpercaya dengan menggunakan jaringan pribadi

Tips yang pertama adalah dengan berbelanja di situs online terpercaya dengan menggunakan jaringan pribadi. Alasannya adalah saat ini banyak peretas yang bisa memasuki gadget Anda secara online apabila situs online tempat Anda belanja tidak dibekali dengan program keamanan tingkat tinggi. 

Lebih dari itu, risiko peretasan ini juga semakin tinggi apabila Anda menggunakan wifi publik alih-alih jaringan pribadi. Sebab, wifi publik cenderung lebih bisa diretas oleh virus, malware atau sejenisnya. 

2. Jangan beritahukan kode CVV kepada siapapun termasuk pihak yang mengaku dari bank

Tips selanjutnya adalah jangan memberitahukan data kartu kredit Anda termasuk nomor CVV ini kepada siapapun. Bahkan kepada orang yang mengaku dari pihak bank sekalipun. Anda perlu ingat bahwasanya pihak bank tidak akan menghubungi Anda terlebih dahulu dan tidak akan meminta data rahasia semacam ini. 

Salah satu cara melakukan hal ini juga dengan tidak mengisi formulir apapun yang meminta data kartu kredit Anda selain form pembelian barang atau jasa yang Anda butuhkan di situs terpercaya. 

3. Menutup kode CVV dengan selotip

Dengan menutup kode CVV dengan selotip, nomor tersebut tidak akan terlihat oleh orang lain yang secara sengaja mengikuti Anda ke kasir atau ATM demi mencuri data kartu kredit tersebut. 

Meskipun sederhana, tapi praktek ini merupakan hal paling mudah yang bisa Anda lakukan untuk menjaga kerahasiaan kode ini terutama jika Anda sedang berbelanja di pusat perbelanjaan. 

4. Tidak menggesek kartu kredit dua kali

Salah satu modus penipuan kartu kredit yang banyak terjadi di Indonesia adalah modus skimming. Metodenya adalah pelaku bekerja sama dengan kasir memasang alat penyadap kecil di mesin EDC untuk menyadap data kartu tersebut. Data ini kemudian dia gunakan untuk hal-hal yang tidak dibenarkan secara hukum. 

Untuk menghindari hal ini, pastikan ketika belanja offline kasir hanya menggesek kartu Anda sekali saja. Apabila dia beralasan mesin atau kartunya tidak bisa digunakan, maka segeralah ganti dengan kartu kredit Anda yang lain atau ganti dengan kartu debit. 

5. Tidak menyimpan data kartu kredit di ponsel

Bisa jadi Anda adalah tipe orang yang kemanapun akan membawa ponsel daripada dompet sehingga Anda memilih untuk mencatat nomor dan CVV Anda di gawai ini. Segera sudahi kebiasaan tersebut demi keamanan data Anda pribadi. 

Sebab sama seperti laptop dan gawai lainnya, ponsel juga mudah diretas sehingga data tersebut juga bisa digunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Belum lagi jika ponsel tersebut hilang atau tertinggal entah dimana. 

Untuk mengurangi risiko ini, hindari menyimpan data kartu kredit di ponsel. Sebagai gantinya, jika Anda perlu uang mendadak untuk membeli sesuatu, gunakan kartu debit atau dana tabungan di mobile banking. 

Terapkan juga hal-hal yang dapat mencegah kebocoran data kartu kredit lainnya termasuk mengaktifkan pemberitahuan riwayat penggunaan dana melalui SMS atau email. Dengan mengaktifkan notifikasi ini, Anda dapat segera tahu jika ada penggunaan yang mencurigakan menggunakan data kartu Anda dan bisa segera meminta pemblokiran kartu ke bank terkait. 

Di tengah zaman yang serba modern dan internet ini, kerahasiaan data pribadi dipertaruhkan. Banyak orang yang kehilangan uang banyak karena kurang teliti dalam memanfaatkan dan menjaga aset mereka. Oleh sebab itu, jaga kerahasiaan data pribadi Anda sebaik mungkin demi keamanan dan kenyamanan diri Anda sendiri sekarang maupun di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.