Daftar Saham Energi Indonesia Terbaik di 2021, Beserta Penjelasan Kinerja

  • Saham
Perusahaan Energi di Indonesia

Jika berniat terjun lebih dalam ke investasi saham, para investor pemula harus mengetahui berbagai istilah umum yang digunakan. Salah satu yang cukup penting adalah pengelompokan saham berdasarkan sektor. Tiap emiten yang terdaftar di bursa bergerak di berbagai sektor misalnya pertambangan, pertanian, energi dan banyak lagi. Membeli saham sektor energi menjadi pilihan banyak investor di bursa.

Saham energi adalah saham dari perusahaan yang memperdagangkan produk dan jasa yang berhubungan dengan ekstraksi energi tak terbarukan maupun energi terbarukan (alternatif). Pemasukan keuntungannya secara langsung terpengaruh harga komoditas dunia, misalnya: pertambangan minyak bumi, gas alam, dan batu bara.

Berikut daftar saham energi terbaik yang melantai di Bursa Efek Indonesia di 2021 berikut kinerjanya:

1. Elnusa (ELSA)

Elnusa (ELSA)
Sumber: medcom.

PT Elnusa Tbk meneruskan performa keuangannya yang spektakuler dengan berkonsentrasi ke strategi bisnis jangka panjang. Salah satu perusahaan energi terbesar di Indonesia ini berhasil membukukan pendapatan usaha Semester 1 tahun 2021 sebesar Rp 3,7 triliun yang artinya meningkat 2,2% bila dibanding semester 1 tahun 2020.

Dua hal utama cenderung memberikan dampak pada kinerja keuangan perusahaan pada semester 1 2021 ini yaitu berkepanjangannya wabah pandemi Covid-19 dan mundurnya sejumlah proyek dari KKKS. Meski begitu performa keuangan Elnusa semester 1 2021 masih mengalami peningkatan.

2. Medco Energi (MEDC)

Medco Energi
Sumber: Siar.

Permintaan energi yang anjlok membuat performa PT Medco Energi Internasional Tbk pun menurun. Upaya yang dilakukan korporasi untuk membenahi kinerja tentu sangat dipengaruhi adanya peningkatan demand dan juga harga komoditas. Lainnya adalah berkurangnya beban utang yang selama ini ditanggungnya.

Dalam tahun 2020, Medco membukukan besar kerugian mencapai US$ 189 juta. Kerugian itu meningkat apabila dikomparasi jumlah kerugian tahun 2019 yang hanya US$ 38,76 juta saja.

3. Perusahaan Gas Negara (PGAS)

Perusahaan Gas Negara (PGAS)

PGAS adalah saham energi terbarukan yang memiliki status sebagai BUMN. Posisi kas dan setara kas PGAS di penghujung 2020 meningkat ke US$566 juta bila dibanding akhir 2019 yang hanya US$424 juta.

Nilai kas yang cukup besar tersebut memudahkan PGAS dalam mengoperasikan usahanya dengan normal. Kendati performa neraca keuangan PGAS meningkat positif namun unguk pendapatan maupun laba terjadi penurunan yang lumayan signifikan. Perusahaan mencatat penyusutan kinerja keuangan sepanjang 2020.

Sesuai laporan keuangan yang dirilis, perusahaan gas milik negara ini mencatat rugi tahun berjalan yang bisa diatribusikan ke entitas induk senilai US$216 juta. Sementara di tahun 2019 pihak perusahaan dapat mencatat laba tahun berjalan senilai US$113 juta. Karenanya memiliki value yang baik, PGAS bisa menjadi pilihan bagi value investor.

4. PT AKR Corporindo (AKRA)

PT AKR Corporindo (AKRA)

AKRA diperkirakan dapat meraup laba bersih sesudah pajak senilai Rp.530 miliar sampai Rp.550 miliar untuk semester I tahun 2021. Perkiraan tersebut meningkat sebesar 25% – 28% year on year. Peningkatan itu disokong dengan 10% lebih pertumbuhan untuk volume distribusi bahan bakar dan pemulihan dua digit untuk kategori kimia.

Performa usaha penyaluran bahan bakar minyak yang ditangani AKRA menunjukkan peningkatan dari saat mewabahnya pandemi Covid-19. Faktor tersebut disebabkan pertumbuhan ceruk pasar pada kategori batubara serta normalnya volume penjualan Freeport.

5.  PT Indika Energy Tbk (INDY)

PT Indika Energy Tbk (INDY)

Indika Energy adalah perusahaan energi terbarukan di Indonesia terbaik karena sudah merambah ke teknologi tenaga surya. Emiten ini sukses memberikan performa bagus pada semester I tahun 2021 ini.

Perusahaan yang juga bergerak di tambang batubara tersebut mencatat pertumbuhan pendapatan serta laba bersih pada semester pertama 2021. INDY mencatat laba bersih senilai US$ 12 juta. Prestasi tersebut kontras dengan raihan  periode sebelumnya yang mengalami kerugian hingga US$ 21,91 juta. Itu artinya saham INDY mampu memberikan laba bersih per saham dasar senilai US$ 0,0023.

Pemasukan yang dihasilkan INDY meliputi kontrak dan jasa senilai US$ 235,17 juta, penjualan batubara sebesar US$ 1,03 miliar, serta perdagangan yang lain senilai US$ 19,50 juta.

6. Adaro Energy (ADRO)

Adaro Energy (ADRO)

Adaro adalah salah satu perusahaan energi swasta di Indonesia paling ternama sehingga termasuk dalam kategori perusahaan blue chip. Sektor bisnisnya juga sangat menjanjikan.

Harga batubara dunia terus melejit. Karenanya masa depan emiten batubara pun masih dapat tumbuh, termasuk PT Adaro Energy. Kendati harga batubara relatif meningkat dari awal tahun 2021, namun performa ADRO pada kuartal pertama 2021 ini malah tak begitu solid.

Terbukti, pemasukan emiten anjlok sebesar 7,8% year on year ke US$ 692 juta. Sedangkan laba bersih anjlok 27 % yoy menjadi US$ 72 juta.  Kendati performa ADRO untuk tiga bulan pertama jatuh namun, tren peningkatan harga batubara kemungkinan akan berdampak pada kinerja keuangan emiten ini yang menjadi positif tahun ini.

7. Energi Mega Persada (ENRG)

Energi Mega Persada (ENRG)
Source: petroglobalnews.

Perusahaan minyak dan gas, PT Energi Mega Persada Tbk. sukses mencatatkan peningkatan keuntungan sekalipun terjadi penyusutan pendapatan di tahun 2020 lalu. Emiten yang kode sahamnya ENRG tersebut mencatat penjualan sebesar US$324,8 juta di sepanjang 2020.

Pencapaian tersebut jatuh 3 % bila dibanding pencapaian 2019 sejumlah US$334,34 juta. Walaupun begitu, perusahaan dapat membukukan pertumbuhan 92 % dari laba bersih yang bisa diatribusikan untuk pemilik entitas induk menjadi sebanyak US$53,69 juta. Di tahun 2019 lalu ENRG cuma membukukan laba bersih sebanyak US$28 juta.

Perusahaan dapat menaikkan volume produksi minyak dan gas di tahun 2020 meskipun harga minyak dan gas global sedang turun.

8. Bumi Resources (BUMI)

Bumi Resources (BUMI)
Source: Rajawali Adikarya.

Manajemen PT Bumi Resources optimistis dapat mewujudkan pencapaian produksi tahun 2021 menyusul perkiraan volume produksi batu bara pada Semester I 2021 yang menyentuh angka 41 juta ton. Salah satu strategi yang diambil yaitu lewat revisi RKAP. Kini, target produksi Kaltim Prima Coal (KPC) akan ditambah menjadi kurang-lebih 60 juta ton usai revisi rampung.

Naiknya harga batu bara bisa menggenjot kinerja keuangan perusahaan batu bara terbesar di Indonesia ini pada kuartal I-2021. Selama tahun 2020, saham BUMI menguat sebesar 43,24%. Namun karena harga sahamnya yang jatuh, banyak yang menganggap Bumi Resources termasuk dalam ciri saham gorengan.

9. Super Energy (SURE)

Super Energy (SURE)

Emiten gas dengan kode saham “SURE” ini membuat proyeksi pencapaian top line di tahun 2021 kurang-lebih Rp 478 miliar dan bottom line kurang-lebih Rp 56 miliar. Proyeksi  kinerja perusahaan tahun 2021 itu mengikuti situasi perekonomian yang terjadi saat ini. Apalagi SURE pun sulit memperkirakan situasi ekonomi makro hingga akhir tahun 2021 nanti.

Super Energy menjual gas berupa compressed natural gas (CNG), liquified petroleum gas (LPG), dan Condensate. Sebagian besar penjualan gas membidik perusahaan makanan maupun perusahaan pengolahan kapur. Sementara penjualan gas lainnya adalah ke industri tekstil dan rokok.

Strategi yang diambil korporasi yaitu berupaya memperoleh sumber gas baru, menempuh efisiensi, mendapatkan pembiayaan hutang berbunga murah serta mendongkrak penjualan.

10. Ratu Prabu Energi (ARTI)

Ratu Prabu Energi (ARTI)

PT Ratu Prabu Energi Tbk yang memiliki kode saham ARTI merupakan emiten energi yang menjalankan usahanya di sektor produksi dan jasa minyak dan gas bumi. Korporasi pun mengoperasikan usaha di pertambangan lain termasuk tambang emas dan batu bara. Selain itu, saham ARTI pun menguasai usaha properti.

Jumlah saham ARTI yang dimiliki umum sebanyak 7,8 miliar lembar dimana publik menguasai 57,5%, diikuti PT Ratu Prabu yang merupakan pengendali sebanyak 33%, dan DP Bukit Asam sebanyak 9,3%. ARTI adalah salah satu emiten terpengaruh COVID-19 dimana membukukan penurunan pendapatan bersih sebanyak 78,94% menjadi Rp30,05 miliar dari Rp142,69 miliar pada periode sama tahun sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *