Daftar Saham Pertambangan Terbaik di Indonesia, Prospek dan Kinerja di 2021

  • Saham
Perusahaan Sektor Tambang Indonesia

Saham pertambangan adalah saham dari perusahaan yang bergerak pada sektor ekstraksi metal, mineral, dan material energi. Berbagai perusahaan di sektor mining terutama batu bara sudah melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sektor pertambangan di IDX dianggap masih cukup menarik untuk dibeli investor seiring dengan naiknya harga komoditas energi ditambah pemulihan perekonomian dalam negeri. Sektor tambang adalah salah satu pendukung pemulihan ekonomi Indonesia. Lihat saja harga batu bara yang kini mencapai $90 per ton dari sebelumnya hanya $50 per ton. Pun komoditas nikel dari semula $12.000 per ton kini sudah melonjak sampai sebesar $4.000.

Dari banyaknya emiten di industry ini, lalu yang mana yang layak untuk dipilih sebagai pengisi portofolio jangka panjang?

Simak daftar saham pertambangan terbaik di Indonesia berikut ini.

1. Bukit Asam (PTBA)

Bukit Asam (PTBA)

Saham dengan kode PTBA ini mencatat laba bersih sebesar Rp500,51 miliar selama kuartal pertama 2021. Pencapaian tersebut anjlok 44,58% dibanding pencapaian laba bersih pada periode lalu yang menembus angka Rp903,25 miliar. Pendapatan PTBA memang menurun dengan hanya sebanyak Rp3,99 triliun atau anjlok 22,02% dibanding periode sama tahun sebelumnya sebanyak Rp5,12 triliun.

Pendapatan saham pertambangan PTBA tahun ini diproyeksikan senilai Rp20,71 triliun dan laba bersih mencapai Rp3,09 triliun. Sejumlah analis saham memberikan rekomendasi beli saham PTBA dengan target harga Rp3.300.

2. Indo Tambangraya Megah (ITMG)

Indo Tambangraya Megah (ITMG)

Emiten tambang ini sukses mencetak kinerja cemerlang pada semester pertama 2021. Laba bersihnya mencapai US$117,62 juta atau melejit 293% dikomparasi laba bersih pada periode tahun sebelumnya yang cuma US$29,88 juta. Untuk pendapatannya sendiri meraih US$676,30 juta yang artinya naik 3,72% dari pendapatan tahun lalu yang sebanyak US$652,02 juta.

Sumber pendapatan itu dimonopoli penjualan batu bara ke pihak ketiga sebesar US$643,6 juta, lalu ke pihak berelasi sebanyak US$27,39 juta. Kemudian penjualan bahan bakar ke pihak ketiga senilai US$4,10 juta serta penjualan jasa sebesar US$1,14 juta.

3. Adaro Energy (ADRO)

Adaro Energy (ADRO)

Adaro merupakan salah satu perusahaan tambang terbesar di Indonesia yang ditunjukkan melalui market cap yang besar. Tren positif harga batu bara merupakan pemicu membaiknya kinerja emiten yang memiliki di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan ini. Harga batu bara tetap akan menguat bersamaan dengan lonjakan permintaan batu bara dari China imbas aktivitas ekonomi negeri tirai bambu itu yang menggeliat.

ADRO memasang target volume produksi tahun 2021 sebanyak 54 juta ton dengan 14 juta ton per kuartalnya. Sebagian analis memberikan rekomendasi agar para investor membelinya pada target Rp1.675. Kinerja cemerlang juga menempatkan Adaro sebagai salah satu saham energi terbaik.

4. Aneka Tambang (ANTM)

Aneka Tambang (ANTM)

Aneka Tambang merupakan salah satu saham pertambangan terbaik dengan membukukan peningkatan performa pada tiga bulan pertama 2021. Perusahaan ini mencatat pendapatan bersih sebanyak Rp9,21 triliun yang artinya meningkat 77,04% dari periode tahun lalu yang cuma Rp5,20 triliun. Antam bahkan sudah melakukan ekspansi ke Papua dengan mengambil alih bekas ladang PT Freeport Indonesia.

ANTM mencatat laba bersih sebanyak Rp630,37 miliar sementara di tahun lalu masih rugi Rp281,84 miliar. Perkiraan, pendapatan ANTM tahun ini dapat meningkat sebanyak 5% yoy dengan laba bersih juga bisa meningkat kurang-lebih 22% yoy.  Mayoritas sumber pendapatan itu ditunjang dari penjualan emas dan kemudian disusul feronikel serta biji besi.

Karena memiliki prospek jangka panjang baik serta merupakan anak perusahaan BUMN, Antam cocok diintegrasikan dalam strategi portofolio pasif untuk jangka panjang.

5. Vale Indonesia (INCO)

Vale Indonesia (INCO)

Selama kuartal pertama 2021, perusahaan tambang dengan kode INCO ini membukukan performa positif. Dari data, perusahaan penghasil nikel itu mencatat pendapatan sebanyak US$207 juta yang meningkat 18,3% yoy. Sedangkan untuk bottom line, INCO mencatat US$33,7 juta yang meningkat 16,4% yoy.

Sedangkan untuk periode kuartal, laba bersihnya melonjak sampai 5 kali lipat dari US$6,2 juta ke US$33,7 juta. Fenomena tersebut mengikuti meningkatnya nilai average selling prices nikel senilai 17% sekaligus juga adanya penambahan rentang margin. Analis memberikan rekomendasi beli saham INCO pada target harga Rp6.700.

6. Timah (TINS)

Timah (TINS)

Prestasi PT Timah Tbk menunjukkan perbaikan pada kuartal pertama 2021. Saham pertambangan dengan kode TINS ini dapat mencatat laba bersih sebanyak Rp10,34 miliar sementara pada periode tahun lalu malah masih rugi mencapai Rp412,85 miliar. Faktor tersebut disokong dengan harga timah rafinasi yang kuat, yang membuat harga jual rata-rata alias average selling price (ASP) pun membaik sehingga menghasilkan profitabilitas cukup bagus.

Sejumlah analis merekomendasikan agar investor tetap hold saham TINS pada target Rp1.700/lembar. Harga timah yang kuat ditambah ekspektasi pulihnya kondisi perekonomian sehingga produksi pun meningkat maka memudahkan TINS untuk mencetak besaran laba yang lebih besar. Dengan fundamental yang sangat kokoh, TINS sangat cocok dijadikan investasi long term.

7. Bumi Resources (BUMI)

Bumi Resources (BUMI)

Emiten dengan kode BUMI ini cukup percaya diri memproyeksikan kinerja margin sepanjang tahun 2021 akan meningkat sejalan dengan naiknya harga batu bara dunia. Seperti diketahui harga batu bara internasional terus memperlihatkan tren recovery setelah terpuruk di level rendah dampak dari pandemi Covid-19. Hal ini menguntungkan karena Bumi Resources berfokus pada batu bara dan minyak.

BUMI memasang target volume produksi tahun 2021 pada rentang 85 sampai 90 juta ton. Target itu lebih besar dibanding perkiraan produksi tahun 2020 yang hanya 83-84 juta ton.

8. Benakat Integra (BIPI)

Benakat Integra (BIPI)

Emiten ini dahulu namanya PT Astrindo Nusantara Infrastruktur adalah perusahaan yang memiliki bidang usaha pengadaan infrastruktur pertambangan batu bara. Lewat anak perusahaan yang dimiliki yaitu PT Astrindo Mahakarya Indonesia, BIPI menawarkan layanan handling batu bara serta rental crusher, membawahi pelabuhan penanganan batu bara di Bengalon, Asam Asam dan Mulia Barat. Juga crusher yang berbasis di Sangatta dan pengembangan proyek infrastruktur batu bara.

Kendati saham BIPI hanya seharga Rp50, namun performa keuangan dari Januari hingga September 2020 terhitung cerah. Pendapatan yang diraih BIPI sebesar US$51,13 juta atau meningkat 6,36% dikomparasi dengan tahun 2019 di periode sama yang hanya US$48 juta.

Bila emiten pertambangan ini dapat mempertahankan kinerja keuangannya pada tahun 2021 ini disertai peningkatan harga batu bara maka potensi menangguk laba akan terbuka sehingga harga saham pun meningkat.

9. Surya Eka Perkasa (ESSA)

Surya Eka Perkasa (ESSA)

Prestasi positif yang dicapai emiten dengan kode saham ESSA ini pada kuartal pertama 2021 didukung oleh recovery harga pasar LPG dan amonia yang kian membaik. Tren positif itu diprediksi masih akan berlangsung sampai kuartal kedua tahun 2021. Selama kuartal I tahun sebelumnya, harga amonia jatuh cukup dalam dan merupakan yang terendah pada rentang 11 tahun ke belakang.

Dengan begitu pemulihan harga yang ada sekarang akan pasti akan menambah pendapatan sekaligus laba perusahaan secara mencolok. Harga amonia pun makin meningkat pada kuartal kedua 2021 disebabkan ekonomi dunia yang sudah mendapatkan pijakan usai dihajar pandemi Covid-19.

10. Apexindo Pratama Duta (APEX)

Apexindo Pratama Duta (APEX)

Emiten saham pertambangan ini optimis mencermati masa depan bisnis memasuki kuartal dua 2021. Kinerja emiten akan ditunjang penambahan utilisasi khususnya pada rig lepas pantai karena adanya beberapa kontrak baru yang akan dikerjakan. APEX yakin dapat mewujudkan peningkatan kinerja sepanjang tahun 2021 ini.

Sekarang ada 3 kontrak baru di mana pengerjaan start kuartal kedua 2021 ini meliputi: Rig Yani dari Pertamina Hulu Mahakam, Pertamina Hulu Mahakam untuk Rig Maera, Rig Raniworo Pertamina Hulu Energy Nunukan Company, Pertamina Hulu Energi Anggursi dan Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *