Lompat ke konten

Daftar Saham Pertambangan Terbaik di Indonesia, Prospek dan Kinerja di 2022

Perusahaan Sektor Tambang Indonesia

Saham pertambangan adalah saham dari perusahaan yang bergerak pada sektor ekstraksi metal, mineral, dan material energi. Berbagai perusahaan di sektor mining terutama batu bara sudah melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sektor pertambangan di IDX dianggap masih cukup menarik untuk dibeli investor seiring dengan naiknya harga komoditas energi ditambah pemulihan perekonomian dalam negeri. Sektor tambang adalah salah satu pendukung pemulihan ekonomi Indonesia.

Lihat saja harga batu bara yang kini mencapai $161 per ton dari sebelumnya hanya $90 per ton. Trend ini kemungkinan akan berlanjut hingga pertengahan tahun 2022 ketika krisis energi di India dan China sudah mulai membaik.

Dari banyaknya emiten di industiy ini, lalu yang mana yang layak untuk dipilih sebagai pengisi portofolio jangka panjang?

Simak daftar saham pertambangan terbaik di Indonesia berikut ini.

1. Bukit Asam (PTBA)

Bukit Asam (PTBA)

Bukit Asam merupakan perusahaan pertambangan pelat merah yang sudah ada sejak jaman Hindia Belanda. Fokus utama PTBA adalah pertambangan batu bara di Sumatera Selatan dan beberapa wilayah lain di Indonesia.

Setelah sebelumnya sempat anjlok pada kuartal pertama tahun 2021, pendapatan dan laba bersih Bukit Asam pada September 2021 menunjukkan peningkatan signifikan. Perusahaan berkode PTBA ini berhasil membukukan pendapatan sebesar 19 triliun. Nilai ini 60% lebih tinggi dibandingkan September 2020 yang hanya 12 triliun saja.

Seiring dengan peningkatan pendapatan, laba PTBA juga turut meningkat dari 1,7 triliun hike 4,8 triliun. Hal ini diperkirakan karena kenaikan harga batu bara internasional. Namun demikian, peningkatan ini harus diperhatikan lagi mengingat pada Januari 2022 pemerintah melarang ekspor batu bara demi memenuhi kebutuhan domestik.

2. Indo Tambangraya Megah (ITMG)

Indo Tambangraya Megah (ITMG)

Tampaknya ITMG adalah salah satu primadona baru perusahaan tambang di Indonesia. Sepanjang tahun 2021 saja harga sahamnya melesat hingga 48,7%. Hal ini bukan tanpa alasan. Sepanjang tahun 2021, ITMG memang mencatatkan kinerja yang baik. Tren ini kemungkinan akan terus berlanjut di tahun 2022.

Emiten tambang ini sukses mencetak kinerja cemerlang pada kuartal ketiga 2021. Laba bersihnya mencapai US$ 204 juta atau melejit 87% dikomparasi laba bersih pada periode tahun sebelumnya yang cuma US$29,88 juta. Untuk pendapatannya sendiri meraih US$1.323 juta yang artinya naik 34% dari pendapatan tahun lalu yang sebanyak US$871 juta.

3. Adaro Energy (ADRO)

Adaro Energy (ADRO)

Adaro merupakan salah satu perusahaan tambang dengan market capt yang besar. Perusahaan yang sudah ada sejak jaman orde baru ini memiliki harga saham yang terus menguat sejak paruh awal tahun 2021. Pada tanggal 13 Januari misalnya, harga per lembar saham ADRo dijual dengan harga 1.300 dan kini harganya kembali naik ke 2.250 per lembar.

Tren positif harga batu bara merupakan pemicu membaiknya kinerja emiten yang memiliki di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan ini. Harga batu bara tetap akan menguat bersamaan dengan lonjakan permintaan batu bara dari China imbas aktivitas ekonomi negeri tirai bambu itu yang menggeliat.

Tercatat hingga kuartal ketiga 2021, ADARO vberhasil mencetak pendapatan sebesar 2,5 miliar USD dan laba hingga 51 juta USD. Hal ini jauh lebih baik dibandingkan kuartal yang sama tahun 2020 yang mana ketika itu Adaro menderita kerugian hingga 88 juta USD. Kinerja cemerlang ini menempatkan Adaro sebagai salah satu saham energi terbaik.

4. Aneka Tambang (ANTM)

Aneka Tambang (ANTM)

Aneka Tambang merupakan salah satu perusahaan pertambangan terbaik khususnya di bidang pertambangan emas yang mana hingga kini Antam dan UBS masih merupakan penguasa pangsa pasar emas di Indonesia.

Pada kuartal ketiga tahun 2021, perusahaan ini mencatat pendapatan bersih sebanyak Rp 26 triliun yang artinya meningkat 30% dari periode tahun lalu yang cuma Rp 18 triliun. Antam bahkan sudah melakukan ekspansi ke Papua dengan mengambil alih bekas ladang PT Freeport Indonesia.

ANTM mencatat laba bersih sebanyak Rp 1,7 triliun.  Mayoritas sumber pendapatan itu ditunjang dari penjualan emas dan kemudian disusul feronikel serta biji besi. Karena memiliki prospek jangka panjang baik serta merupakan anak perusahaan BUMN, Antam cocok diintegrasikan dalam strategi portofolio pasif untuk jangka panjang.

5. Vale Indonesia (INCO)

Vale Indonesia (INCO)

Selama kuartal ketiga 2021, perusahaan tambang dengan kode INCO ini membukukan performa positif. Dari data, perusahaan penghasil nikel itu mencatat pendapatan sebanyak US$ 686 juta yang meningkat 16,8% yoy. Sedangkan untuk laba, INCO mencatat US$33,7 juta yang meningkat 16,4% yoy.

Pada periode yang samalaba bersihnya melonjak sampai 60% dari US$76 juta ke US$123 juta. Menurut pemberitaan CNBC, hal ini karena harga komoditas nikel naik hingga 38% di pasar internasional.

6. Timah (TINS)

Timah (TINS)

Prestasi PT Timah Tbk menunjukkan perbaikan hingga akhir 2021. Saham pertambangan dengan kode TINS ini dapat mencatat laba bersih sebanyak Rp 611 miliar sementara pada periode tahun lalu malah masih rugi mencapai Rp 255 miliar. Faktor tersebut disokong dengan harga timah rafinasi yang kuat, yang membuat harga jual rata-rata alias average selling price (ASP) pun membaik sehingga menghasilkan profitabilitas cukup bagus.

Harga timah yang kuat ditambah ekspektasi pulihnya kondisi perekonomian sehingga produksi pun meningkat maka memudahkan TINS untuk mencetak besaran laba yang lebih besar. Dengan fundamental yang sangat kokoh, TINS sangat cocok dijadikan investasi long term.

7. Bumi Resources (BUMI)

Bumi Resources (BUMI)

Emiten dengan kode BUMI ini cukup percaya diri memproyeksikan kinerja margin sepanjang tahun 2021 akan meningkat sejalan dengan naiknya harga batu bara dunia. Seperti diketahui harga batu bara internasional terus memperlihatkan tren recovery setelah terpuruk di level rendah dampak dari pandemi Covid-19. Hal ini menguntungkan karena Bumi Resources berfokus pada batu bara dan minyak.

BUMI mencatatkan pendapatan hingga 666 miliar USD dan laba sebesar 71 juta USD. Nilai ini jauh lebih baik dibandingkan tahun 2020 lalu. Sebab, saat itu BUMI terpaksa merugi hingga 136 juta USD.

8. PT Astrindo Nusantara Infrastruktur (BIPI)

Benakat Integra (BIPI)

PT Astrindo Nusantara Infrastruktur adalah perusahaan yang memiliki bidang usaha pengadaan infrastruktur pertambangan batu bara. Lewat anak perusahaan yang dimiliki yaitu PT Astrindo Mahakarya Indonesia, BIPI menawarkan layanan handling batu bara serta rental crusher, membawahi pelabuhan penanganan batu bara di Bengalon, Asam Asam dan Mulia Barat. Juga crusher yang berbasis di Sangatta dan pengembangan proyek infrastruktur batu bara.

Hingga akhir kuartal ketiga 2021, perusahaan ini masih membukan penurunan. Tercatat pendapatan turun 13% dari yang awalnya 51 juta USD menjadi 44 juta USD. Laba perusahaan ini juga masih mencatatkan catatan penurunan dari yang awalnya 21 juta USD di tahun 2020 menjadi 17 juta USD tahun 2021.

9. Surya Eka Perkasa (ESSA)

Surya Eka Perkasa (ESSA)

Prestasi positif yang dicapai emiten dengan kode saham ESSA ini pada kuartal ketiga 2021 didukung oleh recovery harga pasar LPG dan amonia yang kian membaik. Tren positif itu diprediksi masih akan berlangsung sampai akhir tahun 2021. Selama tahun sebelumnya, harga amonia jatuh cukup dalam dan merupakan yang terendah pada rentang 11 tahun ke belakang.

Dengan begitu pemulihan harga yang ada sekarang akan pasti akan menambah pendapatan sekaligus laba perusahaan secara mencolok. Harga amonia pun makin meningkat pada kuartal kedua 2021 disebabkan ekonomi dunia yang sudah mendapatkan pijakan usai dihajar pandemi Covid-19.

10. Apexindo Pratama Duta (APEX)

Apexindo Pratama Duta (APEX)

Setelah ada 3 kontrak baru di mana pengerjaan start kuartal kedua 2021 meliputi: Rig Yani dari Pertamina Hulu Mahakam, Pertamina Hulu Mahakam untuk Rig Maera, Rig Raniworo Pertamina Hulu Energy Nunukan Company, Pertamina Hulu Energi Anggursi dan Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore, kinerja APEX meningkat.

Pada kuartal ketiga tahun 2021 misalnya, meskipun pendapatan jatuh dari 46 ke 41 juta USD, perusahaan berhasil membukukan laba. Tahun 2020 lalu, APEX sempat merugi hingga 14 juta USD. Namun kini, perusahaan berhasil membukukan keuntungan lebih dari 3 juta USD.

nv-author-image

Melvern Pradana

Melvern Pradana adalah seorang investor yang aktif menanam modal di pasar saham, cryptocurrency, P2P lending, dan reksa dana. Idolanya adalah Warren Buffett dan Peter Thiel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.