Lompat ke konten

Anjlok Hingga 99%, Apa Itu Token Kripto Luna?

Harga luna anjlok

Investasi pada aset crypto memang selalu dikenal memiliki risiko tinggi karena nilainya yang hanya bergantung pada jumlah penawaran dan permintaan. Namun dalam beberapa minggu ini, dunia crypto internasional digegerkan dengan anjloknya dua mata uang crypto yang sempat besar yaitu Luna dan TerraUSD (UST).

Anjloknya nilai TerraUSD dimulai pada tanggal 9 Mei 2022. Ketika itu, harga algorithmic stablecoin tersebut masih 0,996 USD. Hanya dalam waktu 10 hari, harga aset kripto ini tinggal 0,0889 USD atau turun sekitar 91%. Disisi lain, Luna sebagai sister coin dari Terra sudah anjlok terlebih dahulu sejak pertengahan april. Dari tanggal 9 Mei 2022, harga token ini turun dari 65,64 USD menjadi 0,0001334 atau yang awalnya 1 keping dijual dengan 961.000, kini hanya dijual tidak lebih dari 2 sen rupiah. 

Penurunan harga yang tajam ini tidak lepas dari sistem operasi TerraUSD dan Luna itu sendiri. Oleh sebab itu, mari kita bahas mengenai sistem kedua mata uang ini:

TerraUSD VS Luna

TerraUSD (UST) dan Luna adalah dua aset digital yang dikembangkan oleh Terraform Labs, sebuah perusahaan yang berbasis di Korea Selatan, pada tahun 2018. TerraUSD dikembangkan dalam bentuk stablecoin sementara Luna adalah token yang ditujukan untuk membantu menyeimbangkan nilai TerraUSD tersebut. 

Dari sini Anda setidaknya mendapati 3 istilah penting yaitu stablecoin, coin dan token. Coin adalah mata uang crypto yang dibangun atas sistem blockchain miliknya sendiri yang mana dalam hal ini, TerraUSD beroperasi di atas sistem Terra Blockchain (Investopedia). Adapun token adalah mata uang crypto yang dibangun diatas sistem blockchain milik coin yang mana hal ini Luna juga beroperasi di atas sistem Terra Blockchain. 

Adapun yang dimaksud dengan stablecoin adalah jenis coin crypto yang nilainya didasarkan pada nilai aset lain. Biasanya, aset lain ini berupa mata uang fiat seperti dolar atau rupiah. Tujuannya adalah supaya harga stablecoin tersebut setara dengan 1 mata uang fiat yang dijadikan dasar. Misalnya, 1 USD coin (USDC) setara dengan 1 dolar. 

Namun, TerraUSD ini adalah sub jenis stablecoin yang tidak didasarkan oleh mata uang fiat satu negara saja. Menurut laman coin market cap, nilai TerraUSD didasarkan pada (pegged on) dolar Amerika Serikat, won (mata uang Korea Selatan), tugrik (mata uang Mongolia) dan surat berharga yang diterbitkan oleh International Monetary Fund (IMF). 

Hubungan TerraUSD dan Luna

Seperti yang telah disebutkan di atas, tugas token Luna adalah membantu menyeimbangkan nilai TerraUSD dengan menyerap shock pada stablecoin tersebut. Hal ini penting sebab meskipun didasarkan pada banyak instrumen keuangan, adanya shock pada stablecoin tetap tidak terhindarkan. 

Lalu, bagaimana cara Luna menyerap shock? Caranya adalah Terraform memperbolehkan Luna senilai 1 USD ditukar dengan 1 unit TerraUSD. Luna yang telah ditukarkan lantas dibakar untuk membuat TerraUSD baru. Kalau ada sisa, maka sisanya itu akan dipakai untuk mengembangkan jaringan Terra. 

Dengan demikian, jumlah Luna jadi semakin langka sehingga harganya akan naik. Di sisi lain karena mekanisme ini, nilai TerraUSD jadi lebih stabil di harga 1 TerraUSD sama dengan 1 dolar. 

Kenapa Harga TerraUSD dan Luna Bisa Anjlok?

Hingga saat ini belum bisa dipastikan apa penyebab utama kedua aset crypto ini bisa jeblok. Namun secara garis besar, berikut ini beberapa hal yang kemungkinan membuat dua mata uang buatan Terraform Labs ini bisa hancur dalam waktu singkat:

1. Algorithmic stablecoin

Beberapa pihak menyebutkan bahwa stablecoin yang tidak didasarkan pada mata uang tertentu seperti algorithmic stablecoin lebih rentan terhadap krisis dibandingkan jenis stablecoin lainnya entah bagaimanapun caranya. Sayangnya, TerraUSD adalah salah satu stablecoin jenis ini. 

2. Skema ponzi

Skema ponzi adalah salah satu tindakan kriminal dalam dunia keuangan dan investasi. Sederhananya, operasi skema ponzi adalah seperti ini:

  • Beberapa orang investor dikumpulkan untuk menyetorkan dana “investasi” sejumlah tertentu dengan iming-iming keuntungan tinggi. 
  • Padahal, sebagian besar uang yang terkumpul tersebut tidak diinvestasikan, melainkan dipakai untuk foya-foya oleh si pengumpul dana investasi. Adapun sebagian lainnya dipakai untuk jaga-jaga kalau investor di atas menarik uangnya atau mencairkan keuntungan “investasi” tersebut. 
  • Skema ponzi akan semakin menguntungkan dan rumit kalau jumlah investor yang terlibat ada banyak. 

Dalam konteks TerraUSD VS Luna, Terraform Labs mendorong pemilik Luna untuk menukar uangnya dengan staking TerraUSD dengan iming-iming keuntungan 19,5%. Akibatnya sebelum kedua cryptocurrency ini kolaps, ada 70% TerraUSD atau sekitar 14 miliar USD yang didapatkan dari skema staking. 

Karena skema ini, banyak orang yang membeli TerraUSD untuk kemudian ditukar dengan Luna ketika nilai stablecoin tersebut turun dari 1 USD ke 0.99 USD. Ini artinya, trader yang membeli TerraUSD untuk ditukar dengan Luna tersebut akan untung 0,1 USD pada setiap penukaran. 

Hal ini berakibat harga TerraUSD naik cepat karena tingginya permintaan dan turun cepat juga karena mayoritas TerraUSD tersebut akan ditukar dengan Luna sehingga menurunkan supply. 

Maka dari itu, tidak heran kalau pada 7 Mei 2022, ada UST senilai 2 miliar dolar yang akan dijual. Masalahnya adalah, mesin pembakar UST dan pembuat Luna hanya bisa membakar UST senilai 100 juta dolar per hari. Ini artinya untuk menyelesaikan transaksi sebesar 2 miliar dolar tersebut, Terraform Labs perlu waktu 20 hari. Akibatnya, harga TerraUSD semakin anjlok dari 0,99 USD menjadi 0,91 dan seterusnya.

Sesuai dengan namanya, harusnya nilai stablecoin seperti UST distabilkan dengan menjual aset yang mendasarinya (bitcoin, won dan dolar di atas). Namun seiring dengan anjloknya nilai UST yang sangat cepat, menstabilkan nilai crypto ini dengan menjual aset terkait juga tambah susah. Akibatnya, investor kehilangan kepercayaan terhadap Terraform Labs dan mengakibatkan harga Luna juga ikut anjlok (bahkan relatif lebih dalam) dibandingkan TerraUSD. 

3. Faktor lain

Selain kedua faktor di atas, beberapa pihak menekankan adanya faktor lain yang bisa secara langsung maupun tidak langsung menyebabkan anjloknya nilai Luna dan UST. Salah satu diantaranya adalah dugaan adanya tindakan jahat trader yang ingin membeli Bitcoin dengan posisi short. Caranya adalah menyebabkan UST dan Luna crash sehingga Terraform Labs menjual cadangan Bitcoin yang mereka miliki. 

Di sisi lain, channel YouTube Coffeezilla menyebutkan bahwa bahkan sebelum tragedi 9 Mei terjadi, sudah ada beberapa cuitan di Twitter yang memperkirakan kalau Luna akan kolaps. 

Sayangnya, cuitan tersebut tidak dianggap serius oleh Do Kwon, pendiri Terraform Labs dengan memeriksa kekurangan sistem yang dia bangun. Bahkan Do Kwon justru menantang para pembuat cuitan tersebut untuk melihat bagaimana kondisi Luna selanjutnya.

nv-author-image

Farichatul Chusna

Setelah lulus dari Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Farichatul Chusna aktif sebagai penulis artikel ekonomi, investasi, bisnis, dan keuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.