Lompat ke konten
Daftar Isi

Daftar Saham Farmasi Terbaik di Indonesia (2023)

Saham Farmasi Terbaik di Indonesia

Jasa kesehatan dan obat-obatan selalu dibutuhkan pasar. Maka dari itu, tidak mengherankan jika banyak perusahaan-perusahaan farmasi berdiri di Indonesia dan menjual sahamnya di Bursa Efek Indonesia. 

Jasa layanan perusahaan kesehatan yang listing di BEI dapat dibagi menjadi empat sub layanan yaitu: penyedia layanan kesehatan aka rumah sakit, penyedia alat-alat kesehatan, perusahaan yang menyediakan jasa riset kesehatan dan yang terakhir di bidang produksi dan distribusi obat-obatan (farmasi). 

Namun pada artikel kali ini, Investbro akan membahas daftar saham kesehatan kategori farmasi terbaik di Indonesia. Sebelum masuk ke dalam daftar tersebut, mari kita ketahui apa itu perusahaan sektor farmasi terlebih dahulu.

Apa itu Perusahaan Sektor Farmasi?

Perusahaan sektor farmasi adalah perusahaan yang secara khusus memproduksi dan mendistribusikan obat-obatan untuk didistribusikan ke rumah sakit, klinik dan jaringan apotek di seluruh Indonesia. Obat-obatan disini juga termasuk jamu dan obat tradisional lainnya.

Meskipun demikian, tidak jarang juga perusahaan sektor ini mengembangkan sayap bisnisnya ke usaha yang lain tapi masih masuk lini kesehatan seperti, produksi dan distribusi alat kesehatan atau memiliki jaringan apotek dan klinik sendiri seperti Kalbe Farma. 

Berikut ini beberapa nama perusahaan yang bergerak di bidang farmasi:

  1. Darya-Varia Laboratoria (DVLA)
  2. Indofarma (INAF)
  3. Kimia Farma (KAEF)
  4. Kalbe Farma (KLBF)
  5. Merck (MERK)
  6. Phapros (PEHA) 
  7. Pyridam Farma (PYFA)
  8. Organon Pharma Indonesia (SCPI)
  9. Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul (SIDO)
  10. Soho Global Health (SOHO)
  11. Tempo Scan Pacific (TSPC)
  12. Millenium Pharmacon International (SDPC)

Daftar Saham Farmasi Terbaik di Indonesia

Berikut beberapa saham perusahaan terbaik di tanah air:

1. Kalbe Farma (KLBF)

Kalbe Farma merupakan perusahaan farmasi yang memiliki ratusan cabang yang tersebar di seluruh Indonesia. Tidak hanya itu, produkobat-obatan dari perusahaan ini juga setia menemani masyarakat Indonesia seperti obat masuk angin Bejo, vitamin C Hevit C, dan lain sebagainya. 

Sepanjang tahun 2022, harga saham KLBF menunjukkan performa cukup stabil pada rentang harga Rp1.640-2.000 per lembar. Hal ini tak lepas dari semakin baiknya kondisi masyarakat pasca covid19 dan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan yang satu ini.

Terlepas dari pergerakan harga saham tersebut, kinerja lapangan KLBF boleh dibilang cukup stabil. Hingga akhir September 2022, perusahaan ini berhasil memperoleh pendapatan sebesar 21 triliun atau naik lebih dari 2 triliun dibandingkan September 2021.

2. Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul (SIDO)

Tentu tidak lengkap rasanya jika menyebut produk jamu Indonesia dengan tanpa mengutip Sido Muncul dibelakangnya. Yup! Sido Muncul adalah salah satu perusahaan jamu terkemuka di Indonesia yang sudah listing di Bursa Efek Indonesia. 

Perusahaan farmasi yang sudah berdiri sejak tahun 1940-an ini mengalami penurunan penjualan pada triwulan 3 tahun 2022 lalu. Penjualan barang dagang perusahaan dengan produk Tolak Angin ini menurun dari 2,7 triliun pada September 2021 ke 2,6 triliun rupiah pada September 2022, sementara pada saat yang sama labanya turun dari 867 miliar ke 730 miliar rupiah

Maka dari itu tidak heran kalau selama paruh akhir tahun 2022, harga saham Sido Muncul terus menunjukkan trend penurunan. Saat tulisan ini dibuat, saham Sido Muncul dijual dengan harga 725 per lembar atau turun lebih dari 20% dibandingkan dengan Januari tahun lalu.

3. Kimia Farma (KAEF)

Kimia Farma Tbk adalah perusahaan BUMN terbesar yang bergerak di industri farmasi. Berdiri sejak tahun 1971 dan mulai masuk bursa pada tahun 2001, produk-produk perusahaan yang sebenarnya sudah ada sejak zaman kolonial Belanda ini cukup akrab di telinga masyarakat Indonesia seperti, Paracetamol, Antasida Doen dan lain sebagainya. 

Ditilik dari pergerakan harga sahamnya, trend harga saham perusahaan ini terus menurun sejak awal tahun 2021. Ketika itu, saham perusahaan ini sempat dijual dengan harga 5.650 per lembar sebelum akhirnya jatuh. Per tanggal 13 Januari 2023, saham KAEF dibanderol dengan harga 1.045 rupiah per lembar saham atau 55% lebih murah dibandingkan harga saham ini tahun lalu.

Penurunan harga saham ini seiring dengan penurunan kinerja perusahaan pada tahun 2022. Menurut laporan keuangan triwulan ketiga KAEF, pada periode tersebut perusahaan ini mengalami kerugian hingga 184 miliar rupiah.

4. Tempo Scan Pacific (TSPC)

Perusahaan farmasi dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar keempat adalah Tempo Scan Pacific (TSPC). Sedikit berbeda dengan tiga perusahaan sebelumnya, TSPC tidak hanya memproduksi obat-obatan primer seperti Bodrex, Oskadon dan lain sebagainya, tetapi juga produk farmasi sekunder seperti hand and body lotion Marina, Vidoran Xmart. 

Tempo Scan Pacific (TSPC) adalah perusahaan farmasi yang berdiri pada tahun 1970 dan mulai listing di Bursa Efek Indonesia sejak tahun 1994. Sepanjang tahun 2022 hingga awal 2023, harga saham perusahaan ini cukup stabil kalau tidak bisa dibilang sideways. Sebab, harganya berkisar antara 1.395 rupiah hingga 1.500 rupiah per lembar. 

Sama seperti pergerakan sahamnya, kinerja keuangan TSPC sepanjang 9 bulan tahun 2022 boleh dibilang mixed. Dari segi penjualan, penjualan perusahaan ini meningkat dari 8,3 triliun pada September 2021 ke 9 triliun pada September 2022. Namun dari sisi laba ada sedikit penurunan dari yang awalnya sebesar 586 miliar menjadi 563 miliar rupiah. Dengan kondisi keuangan yang cukup mapan dan volatilitas harga saham yang tidak tajam, saham TSPC adalah salah satu saham perusahaan farmasi yang cocok untuk dibeli investor pemula. 

5. Merck Tbk (MERK)

PT Merck Tbk adalah perusahaan yang bergerak di bidang produksi alat dan bahan yang dibutuhkan untuk keilmuwan di bidang kesehatan. Termasuk diantaranya adalah bahan-bahan kimia. Perusahaan ini merupakan salah satu anak perusahaan dari Merck Group, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang yang sama di Jerman. Meskipun perusahaan induknya sudah ada sejak abad ke-17, namun PT Merck Tbk baru masuk ke Indonesia pada tahun 1970.

Sepanjang Januari tahun 2022- Januari 2023, harga saham MERK terbilang cukup stabil meskipun ada kalanya naik dan turun. Saat ini saham MERK dijual dengan harga Rp4.790 per lembar. Kinerja apik saham MERK ini juga didukung dengan kondisi keuangannya. Penjualan bersih produk perusahaan tersebut mencapai 325 juta rupiah pada September 2022 atau naik 35 juta rupiah dibandingkan tingkat penjualan pada September 2021. Tidak hanya penjualannya, laba bersih perusahaan ini juga naik dari 117 juta rupiah ke 149 juta rupiah pada saat yang sama.

nv-author-image

Farichatul Chusna

Setelah lulus dari Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Farichatul Chusna aktif sebagai penulis artikel ekonomi, investasi, bisnis, dan keuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *