Lompat ke konten

Daftar Saham Farmasi Terbaik di Indonesia (2022)

Saham Farmasi Terbaik di Indonesia

Jasa kesehatan dan obat-obatan selalu dibutuhkan pasar. Maka dari itu, tidak mengherankan jika banyak perusahaan-perusahaan farmasi berdiri di Indonesia dan menjual sahamnya di Bursa Efek Indonesia. 

Jasa layanan perusahaan kesehatan yang listing di BEI dapat dibagi menjadi empat sub layanan yaitu: penyedia layanan kesehatan aka rumah sakit, penyedia alat-alat kesehatan, perusahaan yang menyediakan jasa riset kesehatan dan yang terakhir di bidang produksi dan distribusi obat-obatan (farmasi). 

Namun pada artikel kali ini, Investbro akan membahas daftar saham kesehatan kategori farmasi terbaik di Indonesia. Sebelum masuk ke dalam daftar tersebut, mari kita ketahui apa itu perusahaan sektor farmasi terlebih dahulu.

Apa itu Perusahaan Sektor Farmasi?

Perusahaan sektor farmasi adalah perusahaan yang secara khusus memproduksi dan mendistribusikan obat-obatan untuk didistribusikan ke rumah sakit, klinik dan jaringan apotek di seluruh Indonesia. Obat-obatan disini juga termasuk jamu dan obat tradisional lainnya.

Meskipun demikian, tidak jarang juga perusahaan sektor ini mengembangkan sayap bisnisnya ke usaha yang lain tapi masih masuk lini kesehatan seperti, produksi dan distribusi alat kesehatan atau memiliki jaringan apotek dan klinik sendiri seperti Kalbe Farma. 

Berikut ini beberapa nama perusahaan yang bergerak di bidang farmasi:

  1. Darya-Varia Laboratoria (DVLA)
  2. Indofarma (INAF)
  3. Kimia Farma (KAEF)
  4. Kalbe Farma (KLBF)
  5. Merck (MERK)
  6. Phapros (PEHA) 
  7. Pyridam Farma (PYFA)
  8. Organon Pharma Indonesia (SCPI)
  9. Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul (SIDO)
  10. Soho Global Health (SOHO)
  11. Tempo Scan Pacific (TSPC)
  12. Millenium Pharmacon International (SDPC)

Daftar Saham Farmasi Terbaik di Indonesia

Berikut beberapa saham perusahaan terbaik di tanah air:

1. Kalbe Farma (KLBF)

Kalbe Farma merupakan perusahaan farmasi yang memiliki ratusan cabang yang tersebar di seluruh Indonesia. Tidak hanya itu, produkobat-obatan dari perusahaan ini juga setia menemani masyarakat Indonesia seperti obat masuk angin Bejo, vitamin C Hevit C, dan lain sebagainya. 

Sepanjang tahun 2021, harga saham KLBF menunjukkan performa campuran. Pada paruh awal 2021 harga saham perusahaan ini menunjukkan trend penurunan sementara pada paruh kedua seiring dengan peningkatan jumlah penderita covid19 di negeri ini, harga saham KLBF pun turut naik. Saat ini harga saham perusahaan swasta yang berdiri sejak tahun 1966 ini dijual dengan harga 1655 per lembar. 

Akan tetapi terlepas dari pergerakan harga saham tersebut, kinerja lapangan KLBF boleh dibilang cukup stabil. Hingga akhir September 2021, perusahaan ini berhasil memperoleh pendapatan sebesar 19 triliun atau naik lebih dari 2 triliun dibandingkan September 2020. Selain itu, laba perusahaannya juga naik dari 2,179 triliun pada September 2020 menjadi 2,290 triliun pada tahun 2021. 

2. Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul (SIDO)

Tentu tidak lengkap rasanya jika menyebut produk jamu Indonesia dengan tanpa mengutip Sido Muncul dibelakangnya. Yup! Sido Muncul adalah salah satu perusahaan jamu terkemuka di Indonesia yang sudah listing di Bursa Efek Indonesia. 

Perusahaan farmasi yang sudah berdiri sejak tahun 1951 ini, sejak tahun 2017 hingga tahun 2021 terus konsisten mencatatkan peningkatan penjualan. Tercatat hingga akhir 2021, perusahaan ini berhasil memperoleh pendapatan hingga 4 triliun atau naik 1,5 triliun dibandingkan penjualannya di tahun 2017. 

Tidak hanya itu, laba tahun berjalan Sido Muncul juga terus mengalami peningkatan dari yang awalnya 533 miliar di tahun 2017 menjadi 1,2 triliun pada tahun 2021. Maka dari itu, tidak heran kalau harga saham perusahaan asal Semarang ini terus mencatatkan kenaikan sejak triwulan ketiga tahun 2017. Kini, saham SIDO dijual dengan harga 1.030 rupiah per lembar saham.

3. Kimia Farma (KAEF)

Kimia Farma Tbk adalah perusahaan BUMN terbesar yang bergerak di industri farmasi. Berdiri sejak tahun 1971 dan mulai masuk bursa pada tahun 2001, produk-produk perusahaan yang sebenarnya sudah ada sejak zaman kolonial Belanda ini cukup akrab di telinga masyarakat Indonesia seperti, Paracetamol, Antasida Doen dan lain sebagainya. 

Ditilik dari pergerakan harga sahamnya, trend harga saham perusahaan ini terus menurun sejak awal tahun 2021. Ketika itu, saham perusahaan ini sempat dijual dengan harga 5.650 per lembar sebelum akhirnya jatuh. Per tanggal 25 Maret 2022, saham KAEF dibanderol dengan harga 1.745 rupiah per lembar saham.

Meskipun harga sahamnya merosot tajam, nyatanya kinerja keuangan KAEF terbilang cukup stabil. Hingga triwulan tiga tahun lalu, perusahaan ini berhasil mengumpulkan penjualan sebesar 9,5 triliun atau lebih tinggi 2,5 triliun dibandingkan September 2020. Labanya juga cukup meningkat dari yang awalnya 45 miliar saja pada September 2020 menjadi 294 miliar rupiah pada September 2021. 

4. Tempo Scan Pacific (TSPC)

Perusahaan farmasi dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar keempat adalah Tempo Scan Pacific (TSPC). Sedikit berbeda dengan tiga perusahaan sebelumnya, TSPC tidak hanya memproduksi obat-obatan primer seperti Bodrex, Oskadon dan lain sebagainya, tetapi juga produk farmasi sekunder seperti hand and body lotion Marina, Vidoran Xmart. 

Tempo Scan Pacific (TSPC) adalah perusahaan farmasi yang berdiri pada tahun 1970 dan mulai listing di Bursa Efek Indonesia sejak tahun 1994. Sepanjang tahun 2021, harga saham perusahaan ini cukup stabil kalau tidak bisa dibilang sideways. Sebab, harganya berkisar antara 1.420 rupiah hingga 1.600 rupiah per lembar. 

Sama seperti pergerakan sahamnya, kinerja keuangan TSPC sepanjang tahun 2016 hingga tahun 2020 juga cukup stabil meskipun ada peningkatan pendapatan dan penjualan secara perlahan-lahan. Dengan kondisi keuangan yang cukup mapan dan volatilitas harga saham yang tidak tajam, saham TSPC adalah salah satu saham perusahaan farmasi yang cocok untuk dibeli investor pemula. 

5. Indofarma (INAF)

Perusahaan BUMN farmasi terbesar kedua adalah PT. Indofarma Tbk.  Produk perusahaan bermacam-macam mulai dari obat-obatan primer yang sering ditemui di Apotek seperti Zinkid dan Biovision hingga mesin dan alat-alat kesehatan. 

Sejak paruh kedua tahun 2021, harga saham INAF terus mengalami penurunan. Tercatat saham perusahaan ini sempat menyentuh harga Rp. 3.350 per lembar sebelum akhirnya turun hingga saat ini saham tersebut dijual pada harga Rp. 1690 per lembar. 

Terlepas dari trend merah yang terjadi, kinerja keuangan INAF menunjukkan perbaikan. Pada akhir tahun 2020, perusahaan ini mencatatkan kerugian hingga 3 miliar rupiah namun hingga September 2021, INAF sudah mencatatkan laba sebesar 2,8 miliar rupiah.

Kelima saham di atas merupakan saham yang dirilis oleh perusahaan farmasi dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia. Selain dengan kapitalisasi pasar, pendapatan dan laba, Anda juga bisa menyaring perusahaan terbaik menurut Anda sendiri menggunakan indikator-indikator keuangan lainnya seperti debt to equity ratio, return on equity dan lain sebagainya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.