Lompat ke konten

7 Saham Potensial di 2022

Saham potensial 2022

Tahun 2021 sudah berakhir dan tahun 2022 sudah dimulai. Tahun 2021 mungkin boleh dikatakan sebagai salah satu tahun perbaikan ekonomi dunia pasca digempur Covid-19 di akhir 2019 dan sepanjang tahun 2020. Tentunya kita semua berharap tahun 2022 ekonomi dunia sudah bisa bergerak seperti semula lagi dan investasi mulai membuahkan hasil. 

Berbicara mengenai investasi, sudahkah Anda mengevaluasi kinerja investasi Anda tahun lalu dan menentukan resolusi investasi di masa depan? Berikut ini 7 saham potensial di tahun 2022 yang patut untuk Anda pertimbangkan. 

1. Bank BCA (BBCA)

Di tahun 2022, sektor perbankan adalah salah satu sektor yang diperkirakan memiliki masa depan cerah. Pasalnya, sektor ini tumbuh bersamaan dengan perbaikan ekonomi pasca Covid-19. Belum lagi industri perbankan saat ini sedang mengembangkan bank digital dimana calon pengguna bisa melakukan transaksi perbankan apapun hanya melalui handphone. 

Bank BCA atau BBCA merupakan salah satu perusahaan perbankan dengan nilai aset terbesar di Indonesia dan merupakan saham di Bursa Efek Indonesia dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar pada tahun 2021.

Dilansir dari Bisnis.com, kinerja Bank BCA sepanjang tahun 2021 cenderung meningkat dibandingkan tahun 2020. Bahkan perusahaan yang pernah dimiliki Salim Group ini berhasil membukukan keuntungan sebesar 23 Triliun rupiah sepanjang Januari- September 2021. Trend ini diperkirakan akan terus berlanjut karena Bank BCA memiliki infrastruktur yang dibutuhkan serta konsumen ritel yang loyal. 

2. Bank Mandiri (BMRI)

Tahun ini adalah tahunnya Bank Mandiri. Bank yang dilahirkan dari hasil merger 5 bank terdampak krisis moneter 1998 ini berhasil menjadi bank dengan nilai aset terbesar di Indonesia dan menggeser Bank BRI ke posisi nomor 2. 

Pada paruh awal tahun 2021, laba bersih Bank Mandiri naik sebesar 21,45% yoy dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, jumlah kredit yang berhasil disalurkan bank ini pun meningkat 5,4%.

Sama seperti BCA dan saham perbankan lainnya, prospek pengembangan Bank Mandiri cukup cerah di tahun 2022. Alasannya tentu saja seiring dengan stabilnya ekonomi masyarakat pasca pandemi, bank akan lebih mudah menyalurkan kredit dan masyarakat juga lebih sering menabung. 

3. PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL)

Sektor lain yang diproyeksikan baik di tahun 2022 adalah sektor saham telekomunikasi. Hal ini salah satunya disebabkan karena pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia yang diperkirakan akan meningkat setelah pandemi usai. 

PT Dayamitra Telekomunikasi atau Mitratel adalah anak perusahaan Telkom yang bergerak di bidang jasa penyediaan menara telekomunikasi dan infrastruktur telekomunikasi lainnya untuk berbagai provider telekomunikasi.

Menurut analis dari Danareksa Sekuritas, Niko Margaronis, sebagaimana dilansir CNBC, pendapatan saham MTEL pada tahun 2021 diperkirakan naik hingga 10% mencapai titik 6,8 triliun rupiah sementara laba bersihnya naik hingga 116% ke 1,3 triliun rupiah.

4. PT Astra International (ASII)

Saham industri otomotif juga diperkirakan akan mengalami trend peningkatan pada tahun 2022. Hal ini antara lain disebabkan oleh kenaikan harga batubara dan CPO serta masyarakat yang menghindari naik kendaraan umum akibat pandemi. 

Salah satu pemain industri ini yang diperkirakan memiliki prospek cerah adalah PT Astra International (ASII). Perusahaan yang bergerak di bidang distribusi dan penjualan kendaraan bermotor ini adalah salah satu perusahaan blue-chip di Indonesia. Namun demikian, pada paruh awal 2021, harga saham perusahaan ini sempat anjlok dar 6.225 menjadi 4.750 rupiah per lembar. 

Mulai akhir Juli hingga penutupan tahun, harga saham ini perlahan-lahan bangkit. Selain karena kenaikan harga batubara, hal ini juga diperkirakan akibat perpanjangan kebijakan pengurangan pajak PPnBM dari pemerintah yang mampu mendongkrak penjualan mobil dan motor hingga 78,9%. 

5. PT United Tractor (UNTR)

Seperti yang telah disebutkan di atas, dalam beberapa bulan ini trend harga batu bara di pasar dunia mengalami peningkatan. Oleh sebab itu, emiten yang beroperasi di bidang tambang batu bara juga terkena dampaknya. 

PT United Tractor adalah bagian dari Astra Group yang fokus di bidang pertambangan termasuk tambang batu bara dan emas. Sama seperti ASII, saham perusahaan ini juga sempat anjlok hingga level terendah hingga pertengahan Juli dan kemudian naik kembali. 

Diperkirakan trend kenaikan ini akan berlangsung sedikit lebih lama di tahun 2022 mengingat harga batu bara belum tampak akan mengalami penurunan ditambah dengan usaha perusahaan untuk memasuki tambang baru. 

6. PT Indo Tambangraya Megah (ITMG)

Perusahaan lain yang juga bergerak di bidang pertambangan batu bara adalah PT Indo Tambangraya Megah dengan kode saham ITMG. Per tanggal 31 desember 2021, harga saham perusahaan ini mencapai 20.400 rupiah per lembar. Nilai ini 49% lebih tinggi daripada awal tahun 2021 lalu. 

Dilansir dari  Kontan, perusahaan ini pada kuartal ketiga tahun 2021 berhasil membukukan pendapatan dan laba masing-masing sebesar 1,32 miliar USD dan 231,5 juta USD. Pendapatan dan laba ini meningkat 579% dan 51,9% dibandingkan tahun 2020 lalu. 

Menurut pihak internal perusahaan, hal ini disebabkan karena perusahaan berhasil dengan baik memotong biaya produksi tambang dan penjualan tambang batu bara demi menghadapi pandemi Covid-19. 

7. PT. Metrodata Electronic (MTDL)

Pandemi tidak hanya mendorong masyarakat untuk bekerja di rumah saja tetapi juga mendorong masyarakat untuk membeli komputer maupun handphone baru atau bekas untuk menunjang kegiatan apapun dari rumah saja. 

Maka dari itu, tidak heran jika perusahaan distributor utor kedua produk gawai ini turut mendapatkan keuntungan dari pandemi. Salah satu diantaranya adalah PT Metrodata Electronic atau MTDL. 

Pada kuartal ketiga tahun 2021, perusahaan ini berhasil membukukan pendapatan sebanyak 12,1 triliun dan laba sebesar 3551 miliar. Jumlah ini meningkat masing-masing 20% dan 31% dibandingkan tahun sebelumnya. 

Seiring dengan peningkatan pendapatan dan laba, harga saham MTDL sepanjang tahun 2021 juga terus merangkak naik dari yang awalnya hanya 1.580 rupiah per lembar pada bulan Januari menjadi 3.800 pada akhir tahun. 

Diperkirakan jumlah ini akan meningkat mengingat kebutuhan akan smartphone dan laptop diperkirakan tetap tinggi selama beberapa tahun ditambah rencana perusahaan untuk melakukan stock split pada beberapa bulan ke depan. 

Nah, itu tadi 7 saham potensial di tahun 2022. Pada tahun 2022 diharapkan kondisi ekonomi dan pasar modal Indonesia akan semakin membaik. Apalagi pada tahun ini ada rencana dari duo Gojek-Tokopedia untuk IPO. Tentu semakin banyak harapan dari investor ke BEI di tahun macan ini. 

Tapi Anda perlu ingat bahwasanya 7 saham potensial di atas hanyalah rekomendasi dan bukan kewajiban untuk membeli. Sebaiknya analisislah terlebih dahulu kinerja keuangan dan aspek teknis saham-saham di atas, periksa juga sentimen analisisnya supaya tahun 2022 tidak berubah jadi tahun boncos dan justru berubah jadi tahun berkah. Amin.

nv-author-image

Farichatul Chusna

Setelah lulus dari Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Farichatul Chusna aktif sebagai penulis artikel ekonomi, investasi, bisnis, dan keuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.