Lompat ke konten

Daftar Saham Teknologi Terbaik di Indonesia (2022)

Daftar Saham Teknologi Terbaik di Indonesia

Dalam beberapa tahun ini, industri teknologi di Indonesia mulai berkembang pesat dan mendapatkan nama besar di mata masyarakat. Pasalnya, kondisi demografi Indonesia didominasi oleh generasi muda yang melek teknologi, sehingga potensi pasar teknologi di negeri ini cukup menjanjikan.

Namun demikian, sektor teknologi adalah sektor saham yang masih baru dan seringkali mudah terombang ambing dengan kondisi pasar dan ekonomi nasional internasional. Di Indonesia sendiri, saham-saham teknologi tergabung ke dalam IDXTechno. 

Selama 1 tahun lebih setelah dirilis, nilai indeks yang satu ini sempat meroket hingga lebih dari 3 kali lipat pada akhir Mei 2021- awal Agustus 2021 sebelum akhirnya terus mengalami penurunan hingga kini. Ini artinya, Anda perlu berhati-hati dalam memilih saham yang masuk ke dalam indeks saham satu ini.

Berikut ini daftar saham teknologi terbaik di Indonesia menurut kapitalisasi pasarnya:

1. GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO)

Siapa yang saat ini tidak mengenal Gojek dan Tokopedia? Dengan aplikasi yang masing-masing telah diunduh oleh lebih dari 10 juta pengguna, boleh dibilang bahwa Gojek dan Tokopedia merupakan salah satu market leader di pasar ojek online dan e-commerce. Maka dari itu, tidak heran apabila berita mengenai IPO dua perusahaan yang bergabung menjadi 1 ini sempat menjadi berita besar di pasar modal tanah air. 

Menurut penulis, ada beberapa faktor yang membuat bisnis GOTO memiliki potensi yang baik: 

  • Faktor pertama adalah sektor teknologi adalah sektor yang susah untuk dimasuki perusahaan pendatang baru. 
  • Kedua, Gojek dan Tokopedia sendiri merupakan brand yang rajin berinovasi. Tokopedia misalnya, kini telah menyediakan platform untuk investasi emas dan reksa dana. 
  • Faktor yang ketiga adalah penetrasi penggunaan smartphone dan internet di Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara yang besar, sehingga membuka peluang perusahaan ini untuk ekspansi ke negara tetangga. 

2. Bukalapak.com Tbk (BUKA)

Selain Tokopedia, Bukalapak juga merupakan salah satu pionir online marketplace di Indonesia. Perusahaan yang didirikan oleh 3 mahasiswa ITB, yaitu Achmad Zaky, Nugroho Herucahyono, dan Muhamad Fajrin Rasyid ini mulai masuk e-commerce di Indonesia pada tahun 2010 dan listing di BEI pada tahun 2021. 

Bukalapak juga merupakan perusahaan yang terus melakukan inovasi. Bahkan beberapa sumber menyebutkan bahwa sumber keuntungan perusahaan ini bukan lagi terletak pada aplikasi online marketplace-nya, melainkan dari sektor investasinya ke beberapa perusahaan lain dan kegiatan usahanya dalam menyediakan rantai pasok untuk mitra. 

Memang, saat ini bisnis Bukalapak tidak hanya online marketplace tetapi juga pengadaan barang untuk pemerintah dan perusahaan lainnya, layanan investasi dan supply chain. Dengan layanan yang luas ini, diharapkan Bukalapak mampu bertahan di masa depan. 

3. Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK)

Anda tahu Indosiar? Atau SCTV? Yup, kedua channel televisi ini merupakan bagian dari Elang Mahkota Teknologi Tbk alias Grup EMTEK. Elang Mahkota Teknologi Tbk adalah perusahaan yang didirikan oleh  Eddy Kusnadi Sariaatmadja dan Fofo  Sariaatmadja pada tahun 1983. Perusahaan ini bergerak di bidang teknologi dan media, dengan SCTV dan Indosiar adalah dua produknya yang paling terkenal.

Selain Indosiar dan SCTV, Grup EMTEK juga memiliki jaringan pengelolaan media terintegrasi mulai dari produksi konten di SinemArt, penayangan konten di TV nasional dan digital (O Channel), berbagai website media (Liputan6.com, Kapan Lagi, Brilio dan lain-lain) dan aplikasi over the top dengan Vidio.com. 

Di luar bidang media, perusahaan ini juga berekspansi di bidang finansial dengan mengakuisisi saham Bank Fama Indonesia, serta bergerak di bidang investasi untuk menumbuhkan insan-insan ahli teknologi di Indonesia. 

4. Kresna Graha Investama Tbk (KREN)

Sesuai dengan namanya, Kresna Graha Investama Tbk sebenarnya adalah perusahaan yang bergerak di bidang investasi. Hanya saja, perusahaan ini fokus untuk berinvestasi di perusahaan-perusahaan teknologi. 

Barangkali produk perusahaan ini yang paling terkenal adalah investasinya di PT M Cash Integrasi Tbk (MCAS), sebuah saham yang sempat dipromosikan oleh beberapa selebritis tahun lalu, dan PT Bumilangit Entertainment Corpora, perusahaan yang menaungi proyek pembuatan series superhero Indonesia “Jagat Sinema Bumilangit”. 

Dari proyek mereka terbaru ini, prospek saham KREN terbilang cukup menjanjikan. Alasannya adalah, Jagat Sinema Bumilangit dalam beberapa tahun ini akan menerbitkan film-film superhero Indonesia, seperti Sri Asih, Virgo hingga Si Buta Dari Goa Hantu. Belajar dari MCU, diperkirakan hal ini tidak hanya akan berhenti di film dan series saja, melainkan juga penjualan komik, merchandise, termasuk merchandise yang berbentuk non-fungible token (NFT).

5. Metrodata Electronics Tbk (MTDL)

PT Metrodata Electronics Tbk adalah perusahaan yang bergerak di bidang distribusi produk-produk teknologi di Indonesia dan penyedia jasa konsultasi teknologi. Adapun produk-produk teknologi yang didistribusikan oleh perusahaan ini bermacam-macam mulai dari hardware, seperti Dell dan Acer sampai produk software, seperti Oracle dan Microsoft Azure.

Perusahaan ini didirikan pada tahun 1975 dan mulai listing di Bursa Efek Indonesia pada tahun 1990. Saat ini perusahaan ini memiliki kantor cabang di 20 kota di Indonesia dan termasuk ke dalam indeks IDXTechno, Kompas100, IDX80, Jakarta Islamic Index 70 (JII70), dan IDX Value 30 (IDXV30). 

6. WIR ASIA Tbk (WIRG)

WIR ASIA Tbk adalah perusahaan penyedia teknologi solusi bisnis berdasarkan Augmented Reality (AR), Virtual Reality (VR) & Artificial Intelligence (AI). Perusahaan yang berdiri pada tahun 2009 dengan nama PT Wirya Inovasi ini hingga kini telah menjalankan lebih dari 1000 proyek teknologi di seluruh dunia dan memiliki 5 paten terkait dengan bidangnya. 

Produk perusahaan ini memang tidak menargetkan konsumen akhir sebagai target. Konsumen mereka adalah perusahaan lain yang bertujuan untuk meningkatkan penjualan dengan cara menyediakan layanan teknologi terbaik. Contoh perusahaan yang telah bekerja sama dengan WIRG seperti, Alfamart, Samsung, Danone dan lain sebagainya. 

Meskipun tidak menyentuh konsumen akhir secara langsung, hasil analisis dari PWC menyebutkan bahwa potensi bisnis AR, VR dan AI ini bagus (sumber: investor.id). Perusahaan penyedia jasa konsultasi keuangan terkemuka dunia tersebut menyebutkan kalau pada tahun 2030 diperkirakan bisnis ini akan menyumbang GDP global sebanyak US$ 1,5 triliun dan menyerap tenaga kerja global sebanyak 23 juta orang pada tahun 2030. 

7. Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI)

Perusahaan B2B lainnya yang masuk ke dalam daftar ini adalah PT Solusi Sinergi Digital Tbk. Perusahaan yang berdiri pada tahun 2012 dengan nama PT. Lucaffe Indonesia ini memiliki layanan yang bermacam-macam, mulai dari penyediaan videotron, neonbox, data center hingga mengelola aplikasi ticketing kereta api : KAI Access.

Produk yang bermacam-macam tersebut menargetkan target konsumen yang berbeda pula, mulai dari perusahaan besar seperti PT KAI Indonesia dan pengelola transjakarta, sampai UMKM yang membutuhkan media iklan dan aplikasi POS. 

Diversifikasi produk ini membuat potensi PT Solusi Sinergi Digital menjadi sangat luas. Apalagi saat ini aplikasi POS dibutuhkan UMKM untuk bisa menghubungkan penjualan offline dan online. 

8. Galva Technologies Tbk (GLVA)

PT Galva Technologies Tbk (GLVA) adalah perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan dan distribusi alat-alat teknologi. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1991 dengan nama PT. Galva Technologies Corporation. 

Perusahaan ini memperjualbelikan berbagai produk teknologi untuk berbagai keperluan dan segmen industri. Untuk mendukung usahanya tersebut, PT. Galva Technologies Tbk kini telah bekerjasama dengan berbagai perusahaan besar di dunia, seperti Sony, Yamaha, Hitachi dan Samsung. 

9. DCI Indonesia Tbk (DCII)

Nama DCI Indonesia Tbk mungkin sudah tidak asing lagi ditelinga Anda. Pasalnya meskipun produk perusahaan ini untuk perusahaan lainnya (B2B), namun saham DCII sempat meroket hingga lebih dari 5 kali lipat pada pertengahan Mei tahun lalu. Sejak saat itu, harga saham perusahaan ini relatif konsisten di level Rp30.000-Rp45.000 per lembar.

Tapi, siapa sebenarnya DCI Indonesia Tbk itu, dan apa produknya? PT DCI Indonesia Tbk adalah perusahaan teknologi yang didirikan pada tahun 2011. Layanan jasa perusahaan ini berfokus pada penyediaan jasa penyimpanan data di server (hosting) dan penyediaan data center (colocation).

Data center adalah fasilitas yang digunakan perusahaan untuk menyimpan berbagai data, mulai dari data internal sampai ke data konsumen.Banyak perusahaan yang tidak menyediakan fasilitas data center ini secara mandiri, melainkan menggunakan jasa perusahaan lain, termasuk DCII ini. 

Keberadaan fasilitas ini semakin penting di Indonesia, seiring dengan meningkatnya jumlah transaksi digital. Tentu Anda ingat beberapa bulan lalu ada salah satu fasilitas data center yang terbakar dan mengakibatkan banyak aplikasi dari perusahaan lain yang tidak bisa beroperasi selama beberapa jam bukan? Nah, itu dia pentingnya fasilitas data center yang aman dan nyaman. 

10. Sat Nusapersada Tbk (PTSN)

PT. Sat Nusapersada Tbk (PTSN) adalah perusahaan manufaktur yang memproduksi berbagai komponen produk elektronik dan mesin lainnya yang beroperasi di Batam. Tidak hanya memproduksi komponen, perusahaan ini juga berperan dalam perakitan berbagai produk elektronik dari perusahaan besar dunia. Bahkan pada tahun 2014, PTSN sempat membuat produk smartphone 4G pertama di Indonesia. 

Didirikan pada tahun 1990, perusahaan ini mulai IPO pada tahun 2007. Saat ini klien PT. Sat Nusapersada Tbk umumnya merupakan perusahaan asal Jepang dan Taiwan, seperti Sony, Panasonic, Epson, Erajaya dan banyak lainnya. 

Saham-saham sektor teknologi merupakan saham yang menarik mengingat biasanya perusahaan kategori ini memiliki pertumbuhan yang cepat. Apalagi hal ini didukung dengan potensi ekonomi digital Indonesia. 

Akan tetapi seperti yang telah disebutkan di atas, investasi di perusahaan teknologi juga lebih rawan volatilitas karena dampak ekonomi nasional dan global. Terlebih lagi beberapa perusahaan teknologi belum bisa mendapatkan profit karena besarnya biaya yang harus mereka tanggung. 

Oleh sebab itu, sebaiknya Anda lebih berhati-hati saat memilih saham kategori ini. Daftar di atas hanya merupakan rekomendasi dan bukan ajakan untuk membeli saham tertentu. Investor tetap disarankan untuk membeli produk investasi berdasarkan hasil analisis fundamental dan teknikal yang komprehensif.

nv-author-image

Farichatul Chusna

Setelah lulus dari Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Farichatul Chusna aktif sebagai penulis artikel ekonomi, investasi, bisnis, dan keuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.