Standar Emas: Definisi, Sejarah, Masa Kini

  • Emas
standar emas

Sejarah mencatat bahwa emas telah digunakan sebagai mata uang sejak ribuan tahun lalu. Pada tahun 600 SM, penggunaan emas sebagai mata uang pertama kali dilakukan oleh Bangsa Lydia di Asia Kecil Barat yang sekarang sudah menjadi bagian teritorial Turki.

Bangsa Lydia membuat koin menggunakan campuran alami emas dan perak. Kemudian, bangsa Lydia akhirnya menemukan cara memisahkan emas dari perak pada tahun 560 SM. Dengan penemuan cara tersebut, barulah terciptakan koin emas pertama yang bahannya sepenuhnya emas. Croesus adalah raja pertama yang menggunakan koin emas sehingga koin tersebut dinamai Croesus.

Emas menjadi penentu utama kekayaan sebuah negara dan tingginya nilai sebuah koin. Dengan ambisi agar menjadi lebih kaya dari negara lainnya mereka membutuhkan lebih banyak emas sehingga para penjelajah, salah satunya Columbus, diberikan amanat untuk menjelajah Dunia Baru oleh Spanyol, Portugis dan Inggris. Harapannya adalah menemukan emas di tempat lain yang kemudian diambil dan dimiliki negara tersebut.

Sejarah Awal Standar Emas

Pada tahun 1848, The California Gold Rush atau yang dikenal juga sebagai Demam Emas California terjadi semenjak ditemukannya emas di Sutter’s Mill (sebuah pabrik milik John Sutter) oleh James Marshall. Adanya peristiwa tersebut membantu menyatukan Amerika Barat. Namun setelah mereka menemukan emas, Amerika Serikat mengalami inflasi karena sudah menggunakan standar emas dalam sistem moneter secara de facto sejak tahun 1834. Banyaknya emas yang ada telah menyebabkan kenaikan harga di Amerika Serikat.

Kemudian pada tahun 1861, Menteri Keuangan Salmon Chase mencetak mata uang kertas AS pertama. Undang-Undang Standar Emas tahun 1900 menetapkan emas sebagai satu-satunya logam yang dapat ditebus oleh mata uang kertas seharga $20,67 per ons.

Negara-negara Eropa mengadopsi penerapan sistem standar emas klasik pada tahun 1870-an untuk menyamakan bentuk transaksi di pasar perdagangan dunia. Pemerintah telah menjamin penebusan emas dalam nilai yang ditentukan oleh sejumlah uang kertas. Dengan keterjaminan berharganya uang kertas maka kegiatan transaksi tidak lagi harus menggunakan emas batangan atau koin.

Seiring dengan perubahan besar tersebut, kesuksesan untuk perdagangan internasional adalah dengan meningkatkan kepercayaan walaupun diiringi oleh risiko seperti harga emas dan nilai mata uang turun setiap kali penambang menemukan simpanan emas baru yang besar. Penjaminan uang kertas dengan logam berharga tersebut mengalami pasang surut.

Untuk menstabilkan nilai emas dan mata uang di Amerika Serikat, dibentuklah Federal Reserve (the Fed) sebagai Bank Sentral Amerika Serikat pada tahun 1913. Sistem standar emas ini kemudian tidak diberlakukan lagi saat terjadinya Perang Dunia I. Peristiwa itu sengaja dilakukan karena Amerika Serikat dan negara-negara Eropa butuh mencetak sejumlah uang kertas untuk mendanai keterlibatan mereka dalam Perang Dunia I.

Berakhirnya Perang Dunia I membuat negara-negara tersebut menyadari bahwa penerapan sistem standar emas internasional tak lagi diperlukan dan begitu pula merugikan ekonomi dunia. Pada tahun 1919, Amerika Serikat bersama negara-negara lainnya mulai melakukan rekonstruksi ulang terhadap sistem standar emas. Namun, sistem tersebut hanya menyebabkan deflasi dan pengangguran yang tak terkendali dalam ekonomi dunia sehingga akhirnya pada tahun 1930-an sistem ini sepenuhnya tidak diberlakukan lagi. Pada tahun 1933, Amerika Serikat sepenuhnya meninggalkan sistem tersebut seiringnya memuncaknya the Great Depression yang disebut juga Depresi Hebat atau krisis malaise.

Sistem Standar Emas dan Depresi Hebat

Berhentinya pemberlakuan sistem standar emas membuat para investor mulai berdagang mata uang dan komoditas. Sebagai akibatnya pasar saham mengalami kerugian besar-besaran di tahun 1929. Namun ketika harga emas naik, banyak orang yang menukarnya dengan dolar. Penimbunan emas terjadi akibat hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga keuangan yang berdampak bankrutnya beberapa bank.

Meningkatnya suku bunga di Bank Sentral Amerika Serikat hanya membuat biaya untuk berbisnis menjadi lebih mahal. Padahal, Bank melakukan peningkatan suku bunga dalam upaya mencegah orang menukar uang dengan emas dan menunjukkan bahwa dolar lebih berharga. Peristiwa ini menghasilkan kerugian yang cukup besar yaitu banyaknya perusahaan bangkrut dan tingkat pengangguran yang meningkat drastis.

Presiden baru Amerika Serikat yang terpilih pada tanggal 6 Maret 1933, Presiden Franklin Delano Roosevelt, menutup bank dalam menanggapi penurunan cadangan emas yang ada di The Fed di New York. Kemudian pada tanggal 13 Maret, Bank kembali dibuka dan masyarakat mulai menyerahkan kembali semua emas yang ditimbun. Tak ada lagi yang bisa mengekspor emas maupun menebus emas dengan dolar.

Pada tanggal 20 April, Presiden Roosevelt memerintahkan semua warga Amerika untuk menyerahkan emas mereka dengan imbalan dollar untuk melarang penimbunan emas dan penebusan emas oleh negara lain. Dengan adanya perintah tersebut, terciptalah cadangan emas di Fort Knox yang menjadikan Amerika Serikat sebagai negara yang memiliki persediaan emas terbanyak di dunia.

Pada tanggal 30 Januari 1934, Undang-Undang Jaminan Emas melarang emas dimiliki secara pribadi tanpa lisensi. Pemerintah dapat membayar hutangnya menggunakan dolar dan presiden Roosevelt menaikkan harga emas dari $20,67 per ons menjadi $35 per ons yang berdampak devaluasi pada dolar.

Perjanjian Bretton Woods 1944

Konferensi keuangan dan moneter yang dihadiri oleh delegasi dari 44 negara ini menghasilkan sebuah perjanjian dengan tujuan menciptakan sistem pertukaran mata uang asing secara efisien dengan cara mematok nilai tukar masing-masing mata uang dengan emas. Perjanjian ini mewajibkan para negara anggota untuk mengubah kepemilikan resmi asing di saham menjadi emas dengan patokan harga tertentu.

Sebagai pemegang emas terbanyak, Amerika Serikat dan mata uangnya dolar dijadikan patokan oleh sebagian besar negara anggota tersebut. Hasilnya, bank sentral berupaya mempertahankan nilai tukar yang tetap antara mata uang mereka dan dolar dengan membeli mata uang negara mereka sendiri di pasar valuta asing apabila nilai tukarnya terlalu rendah dibandingkan dengan dolar. Hal ini justru menjadi kebalikannya ketika mata uang mereka bernilai lebih tinggi maka mereka akan terus mencetak lebih banyak uang dan menjualnya. Alhasil, ketika dolar menjadi patokan utama, setiap negara akan dengan mudah dan nyaman dalam berdagang daripada menggunakan emas karena dolar lebih berpengaruh dan efisien.

Dari peristiwa tersebut, nilai tukar dolar mengalami peningkatan yang cukup drastis walaupun nilai tukarnya dengan emas masih sama. Akhirnya dolar Amerika secara de facto telah menjadi mata uang dunia atau internasional.

Berakhirnya Masa Sistem Standar Emas

Pada tahun 1960, Amerika Serikat memiliki $1,6 miliar cadangan emas di Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) yang termasuk total $19,4 miliar cadangan emasnya. Kepemilikannya akan cadangan emas tentunya cukup untuk menutupi $18,7 miliar dolar asing yang beredar.

Dampak buruknya adalah orang Amerika lebih banyak membeli barang impor menggunakan dollar ketika ekonomi AS stabil dan makmur. Hal tersebut menyebabkan defisit neraca pembayaran yang sangat besar sehingga pemerintah asing mengkhawatirkan akan nilai tukar dolar terhadap emas tak lagi didukung oleh Amerika Serikat.

Uni Soviet yang telah menjadi produsen minyak terbesar mengumpulkan dolar AS dalam cadangan devisanya di mana minyak dihargai dalam dolar. Khawatir Amerika akan menyita rekening banknya sebagai taktik perang dingin, Uni Soviet menyimpan semua cadangan dolarnya di bank-bank Eropa yang dikenal sebagai eurodollar.

Pada tahun 1970-an, cadangan emas Amerika Serikat menurun drastis seiring dengan lahirnya kebijakan ekonomi Presiden Nixon yang menciptakan terjadinya stagflasi. Turunnya nilai eurodollar terjadi akibat inflasi dua digit yang menyebabkan banyak bank mulai menebus kepemilikan mereka dengan emas. Amerika Serikat saat itu tak dapat lagi membendung kewajibannya akan penebusan emas ini.

Dari peristiwa tersebut, Presiden Nixon mengubah nilai tukar dolar/emas menjadi $38 per ons. Dia tidak lagi mengizinkan The Fed menebus dolar dengan emas sehingga emas mulai tak memiliki nilai lagi. Pemerintah Amerika Serikat menetapkan harga kembali emas menjadi $42,22 per ons di tahun 1973 dan kemudian memisahkan nilai dolar dari emas pada tahun 1976. Secara drastis nilai emas melonjak hingga $124,84.

Peninggalan Emas

Seiring berakhirnya standar emas, banyak negara mencetak mata uang mereka sendiri dengan jumlah lebih banyak yang menyebabkan inflasi namun juga menyebabkan pertumbuhan ekonomi.

Para ahli ekonomi menganggap standar emas memang diperlukan pada masanya (sebagai pelajaran) namun tak dapat diterapkan dalam ekonomi dunia modern. Sehingga walaupun tak sedikit yang mendukung untuk mengembalikan berlakunya kebijakan standar emas ini, sistem tersebut sangat mustahil untuk diberlakukan kembali.

Namun emas tetaplah memiliki daya tarik sebagai sebuah aset yang memiliki nilai riil. Penyebabnya, investor akan membeli emas setiap kali akan terjadi resesi atau inflasi dengan argumen bahwa emas merupakan harta yang cukup aman. Rekor tertinggi nilai emas terjadi pada tanggal 5 September 2011 di mana harganya mencapai $1,895 per ons.

Kelebihan Emas

  1. Salah satu alasan mengapa emas berharga adalah karena merupakan aset tetap yang dapat menyimpan nilai uang
  2. Pertumbuhannya terjadi secara otomatis dan dapat menstabilkan perekonomian, pelajari cara investasi emas untuk memulai
  3. Mencegah inflasi, ketika pemerintah hanya dapat mencetak uang sebanyak emas yang dimiliki negaranya, inflasi akan terhambat.
  4. Mencegah defisit anggaran dan utang pemerintah, hal tersebut disebabkan oleh jumlahnya yang tidak dapat melebihi pasokan emas yang ada.
  5. Menjadi imbalan untuk negara-negara yang produktif, banyaknya ekspor akan membuat negara memiliki lebih banyak emas sehingga mereka pun dapat mencetak lebih banyak uang. Hal tersebut meningkatkan investasi bisnis ekspor dan mendorong untuk melakukan eksplorasi seperti yang terjadi oleh Spanyol dan negara lainnya untuk menemukan New World selama tahun 1500an juga Demam Emas di California dan Alaska selama tahun 1800-an.

Kekurangan Emas

  1. Bergantungnya perekonomian suatu negara terhadap persediaan emas negaranya, penyebabnya negara tidak akan terlalu mementingkan sumber daya manusia dan bisnisnya sehingga negara-negara tanpa emas yang cukup berada dalam posisi yang sangat tidak diuntungkan. Amerika serikat tidak pernah mengalami masalah tersebut karena sebagian besar penambangan emas terjadi di tanah milik federal di 12 negara bagian barat. Menurut National Mining Association, Nevada merupakan sumber utama penambangan emasnya. Banyak negara berkembang juga yang menjadi produsen emas utama.
  2. Keterpakuan suatu negara akan penyimpanan emas mereka, mereka mulai mengabaikan tugas yang lebih penting untuk memperbaiki kestabilan ekonomi. Federal Reserve menaikkan suku bunga selama masa depresi hebat atau the Great Depression dengan upaya ingin membuat dolar lebih berharga dan mencegah orang untuk menebus emas. Padahal seharusnya mereka menurunkan suku bunganya untuk merangsang ekonomi. Semua itu terjadi akibat mereka terlalu fokus untuk memperhatikan cadangan emas mereka.
  3. Terlalu berupaya untuk melindungi cadangan emas yang menyebabkan melonjaknya fluktuasi ekonomi, faktanya selama 1890 sampai 1905, ekonomi Amerika Serikat mengalami setidaknya lima resesi besar. Pada Konferensi Tahunan ke-24 Asosiasi Ekonomi Timur tanggal 27 Februari 1998, Edward M. Gramlich sebagai anggota Dewan Gubernur Federal Reserve menyebutkan fakta- fakta tersebut.

Apakah Standar Emas Dapat Diberlakukan Kembali di Amerika?

Salah satu pengaruh besar apabila standar emas diberlakukan kembali di Amerika, sistem ini akan membatasi pemerintah dalam mengelola perekonomian. The Fed tidak dapat lagi mengurangi jumlah uang yang beredar dengan menaikkan suku bunga saat inflasi terjadi. The Fed juga tak dapat lagi mencetak lebih banyak uang pada saat resesi. Namun, justru itulah yang menjadi faktor keinginan para pendukung emas untuk diberlakukan lagi sehingga sistem ini dapat menyeimbangkan anggaran, menegakkan disiplin fiskal, dan membatasi intervensi pemerintah. The Cato Institute telah melakukan analisis kebijakan tersebut yang berjudul “The Gold Standard: An Analysis of Some Recent Proposals” yang menyajikan evaluasi metode untuk kembali ke standar emas.

Persediaan uang tetap akan bergantung lagi pada cadangan emas yang membatasi pertumbuhan ekonomi. Akan banyak sekali bisnis atau usaha yang tidak mendapatkan dana karena kurangnya modal. Amerika Serikat juga tak dapat mengkonversi ke standar emas secara sepihak apabila seluruh dunia tidak melakukannya. Jika dapat dilakukan, semua orang di dunia dapat menuntut Amerika Serikat untuk menebus dolar mereka sehingga cadangan emas Amerika akan cepat habis. Hal terburuk ketika Amerika mempertahankan persediaan emasnya adalah munculnya masa depresi hebat yang dapat berakhir ketika President Franklin D. Roosevelt mengeluarkan kebijakan baru.

Saat ini, Amerika tak lagi memiliki persediaan emas yang cukup untuk melunasi hutangnya kepada investor asing. Ketika emas mencapai harga tertinggi -pun yaitu $1,896 per ons pada September 2011, Amerika Serikat tidak memiliki persediaan emas yang cukup untuk melunasi hutangnya. Bahkan dalam catatan utang di Departemen Keuangan AS, setidaknya terdapat sekitar $4,7 triliun di China, Jepang dan negara lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *