Lompat ke konten
Daftar Isi

Bookbuilding, Offering, dan Allocation dalam IPO

Bookbuilding, Offering, dan Allocation dalam IPO

Salah satu cara untuk membeli saham ketika harganya masih murah adalah dengan membeli saham tersebut ketika baru akan initial public offering (IPO). Meskipun demikian, membeli saham IPO terbilang cukup berisiko. Pasalnya, belum tentu harga saham tersebut akan naik ketika sudah dirilis di pasar. Bahkan, tak jarang harga saham IPO justru turun saat hari pertama.

Untuk mengatasi hal ini, pertama-tama Anda harus tahu terlebih dahulu soal berbagai istilah yang menyertai proses IPO. Tiga diantara berbagai istilah tersebut adalah bookbuilding, offering, dan allocation. Apa itu bookbuilding, offering, dan allocation dan bagaimana ketiga istilah tersebut dapat mempengaruhi harga saham kedepannya? Simak ulasannya berikut ini:

Pengertian Bookbuilding

Bookbuilding adalah serangkaian tahapan penentuan harga saham berdasarkan harga atau nilai permintaan yang diajukan oleh investor yang tertarik untuk membeli instrumen tersebut. Oleh sebab itu, umumnya harga instrumen tersebut pada tahap ini masih berbentuk rentang harga. 

Menurut laman geektonight.com, tahapan bookbuilding ini termasuk dalam pembentukan tim profesional untuk IPO, pengumpulan dokumen ke Bursa Efek Indonesia hingga proses penawaran di laman e-IPO. Ketika sudah tercatat di laman e-IPO inilah investor yang tertarik bisa memasukkan permintaan dan harga yang mereka inginkan. 

Harga-harga dari investor ini kemudian dikumpulkan dan dijadikan satu lalu dijadikan sebagai bahan penentu harga saham oleh tim ahli yang sudah ditentukan. Proses bookbuilding ini secara tidak langsung mengukur minat pasar terhadap instrumen tersebut.

Semakin tinggi nilai agregasi harga yang dimasukkan investor, maka semakin tinggi pula minat terhadap saham tersebut dan harganya juga akan meningkat. Proses bookbuilding ini sekarang berlangsung di laman e-IPO.co.id, sehingga dapat berlangsung secara transparan. Proses penawaran dan pengumpulan harga di laman e-IPO ini kurang lebih berlangsung selama 7 sampai 21 hari.

Selain mengukur minat investor terhadap saham yang ditawarkan, proses bookbuilding juga secara tidak langsung membantu perusahaan dalam menentukan nilai intrinsik instrumen yang mereka terbitkan, dan memasarkan saham tersebut.  Sebab dengan membuat saham yang mereka rilis tercantum di e-IPO, investor yang sebelumnya memiliki akun di website tersebut dapat memperoleh pemberitahuan. 

Pengertian Offering

Setelah tim ahli selesai menghitung nilai harga final, kini saatnya saham tersebut diterbitkan ke publik. Fase penerbitan saham ke publik pertama kali inilah yang disebut dengan fase offering. Fase ini berlangsung kurang lebih selama 1-5 hari kerja. 

Dalam fase offering ini, saham secara bebas diperjualbelikan di bursa. Karena trader jangka pendek juga bisa membeli saham ketika masa ini, maka tidak heran jika fluktuasi harga instrumen tersebut pada masa ini terbilang cukup tinggi. Oleh sebab itu, umumnya investor pemula tidak disarankan untuk membeli saham yang masih ada dalam fase ini. 

Pengertian Allocation

Tidak jarang jumlah permintaan yang dimasukkan oleh investor pada proses bookbuilding lebih besar dibandingkan jumlah saham yang akan dijual oleh emiten. Untuk mengatasi hal ini, emiten akan melakukan proses bernama allocation atau penjatahan supaya semua atau mayoritas investor yang sudah memasukkan bid saat bookbuilding akan mendapatkan jatah. 

Namun, ada kalanya investor tidak mendapatkan jatah. Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti:

  • Rasio pembagian antara investor institusi dan investor retail. Umumnya, investor institusi cenderung mendapatkan jatah yang lebih banyak dibandingkan dengan investor retail. Biasanya, rasio perbandingan jatah antara investor institusi dan retail adalah 90/10. Hal ini bisa jadi karena beberapa faktor, seperti modal, kemitraan dan lain sebagainya. Akan tetapi pada pelaksanaannya di lapangan bisa jadi berbeda.
  • Pemasaran melalui media. Perusahaan yang proses IPO-nya banyak diliput oleh media umumnya cenderung oversubscribed alias jumlah pemesanan saham lebih banyak dibandingkan dengan jumlah saham yang tersedia. Akibatnya, kesempatan seorang investor untuk mendapatkan saham tersebut semakin kecil. Tidak hanya itu, saham yang oversubscribed juga cenderung lebih rentan penurunan, khususnya apabila oversubscribed tersebut disebabkan oleh pesanan dari trader jangka pendek.
  • Tipe penawaran. Meskipun umumnya investor institusi mendapatkan jatah saham yang lebih banyak dibandingkan retail, namun ada beberapa industri yang fokus pada investor retail, sehingga apabila perusahaan dari industri tersebut menerbitkan saham, mereka akan berfokus untuk mendapatkan investasi dari investor jenis ini. 
  • Alokasi saham kepada rekanan perusahaan. Investor retail juga berpotensi mendapatkan jatah saham yang sedikit akibat perusahaan penerbit saham tersebut lebih memprioritaskan investor institusi atau investor retail besar yang sudah bekerja sama dengan perusahaan tersebut dalam jangka waktu tertentu. 
  • Relasi investor dengan perusahaan sekuritas. Selain menjadi perusahaan yang melayani investor berinvestasi saham (broker-dealer), perusahaan sekuritas juga bisa menjadi petugas penjamin emisi efek (underwriter) yang bekerja sama dengan emiten. Peluang Anda untuk mendapatkan jatah saham dari emiten akan lebih besar jika Anda sudah lama menggunakan jasa perusahaan underwriter emiten tersebut. 

Sebaliknya, peluang Anda mendapatkan jatah saham akan lebih kecil jika Anda sengaja membuat rekening efek di sebuah perusahaan sekuritas demi mendapatkan saham dari emiten yang bekerja sama dengan sekuritas tersebut.

Jika Anda sudah memasukkan bid tapi tidak mendapatkan jatah saat proses allocation, maka pihak perusahaan akan mengembalikan uang Anda. Oleh sebab itu, alih-alih sengaja memasukkan nominal permintaan saham yang besar dalam proses bookbuilding untuk menunjukkan tingginya ketertarikan Anda untuk memiliki saham tersebut, Anda sebaiknya memasukkan nominal permintaan saham yang sesuai dengan keinginan. 

Toh, apabila ternyata saham tersebut oversubscribed atau perusahaan memprioritaskan investor lain, jumlah saham yang Anda dapatkan lebih sedikit dibandingkan yang Anda inginkan atau bahkan Anda tidak mendapatkan jatah sama sekali. 

Nah, itu tadi pembahasan mengenai istilah bookbuilding, offering dan allocation dalam proses IPO. Jangan lupa apabila Anda berminat untuk membeli sebuah saham yang baru akan rilis di bursa, cek dulu prospektusnya. Tujuannya adalah supaya Anda tahu uang yang terkumpul dari proses IPO tersebut akan digunakan untuk apa saja dan bagaimana potensi bisnis perusahaan tersebut kedepannya. 

Sekali lagi, membeli saham yang baru akan IPO tergolong berisiko. Sebab, Anda tidak tahu nilai intrinsic value saham tersebut, banyaknya trader jangka pendek yang bermain dalam saham tersebut dan tidak tahu bagaimana perusahaan akan mengelola dana investor. Selain pemahaman terhadap beberapa istilah di atas, pastikan Anda membeli saham jenis ini dengan berhati-hati.

nv-author-image

Farichatul Chusna

Setelah lulus dari Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Farichatul Chusna aktif sebagai penulis artikel ekonomi, investasi, bisnis, dan keuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *