EV/EBITDA – Panduan dan Cara Menghitung

  • Saham
ev/ebitda investbro

Terdapat beberapa rumus penting yang biasanya digunakan investor dalam menganalisis saham. Di antaranya adalah Price to Earning Ratio (P/E), Price to Book Value (PBV), dan EV/EBITDA. Ketiganya digunakan oleh beberapa investor untuk mengetahui apakah harga suatu saham perusahaan sedang berada pada kondisi yang layak dibeli atau tidak.

Pada artikel ini, pembahasan akan dikhususkan pada rasio EV/EBITDA. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa rumus ini menawarkan analisis yang lebih menyeluruh tentang kondisi keuangan perusahaan. Pembahasan akan dimulai dengan menjelaskan apa itu EV, apa hubungannya dengan EBITDA, dan bagaimana rumus EV to EBITDA dan manfaatnya.

Apa itu EV/EBITDA?

EV/EBITDA adalah rasio fundamental saham berupa EV (Enterprise Value) dibagi dengan EBITDA (Earning Before Interest, Tax, Depreciation and Amortisation). Nilai yang didapat akan digunakan untuk menentukan apakah harga sebuah saham di atas atau di bawah angka wajar.

EV (Enterprise Value)

EV adalah kependekan dari Enterprise Value. EV sendiri merupakan sebuah nilai total atau nilai keseluruhan dari suatu perusahaan. EV biasanya lebih sering digunakan karena mampu memberikan analisis yang lebih komplit apabila dibandingkan dengan nilai kapitalisasi pasar atau yang biasa disebut dengan “market capitalization” atau “market cap”.

Dalam analisis EV, yang dimasukkan tidak hanya market cap dari sebuah perusahaan. Utang jangka panjang, utang jangka pendek, dan dana tunai, yakni cash, yang terdaftar dalam neraca keuangan perusahaan juga dimasukkan. Selain itu, EV juga biasanya digunakan sebagai alat analisis atau perhitungan untuk menilai suatu perusahaan sebelum dilakukan proses akuisisi.

Rumus EV dan Komponennya

Untuk mendapatkan nilai EV, yakni nilai keseluruhan dari sebuah perusahaan, rumus yang dapat digunakan adalah nilai kapitalisasi pasar perusahaan ditambah dengan total utang. Jumlah ini kemudian dikurangi dengan total kasnya.

Secara sederhana, rumus EV adalah: EV = Kapitalisasi Pasar + Total Utang – Total Kas.

Berikut adalah komponen-komponennya:

Kapitalisasi Pasar

Dalam hal ini, untuk mengetahui nilai market capitalization atau kapitalisasi pasar bisa dengan cara mengalikan harga saham yang terdapat hari ini dengan jumlah keseluruhan saham yang sedang beredar. Secara sederhana, rumus untuk mendapatkan nilai kapitalisasi pasar adalah harga saham beredar dikali dengan jumlah saham yang beredar.

Total Utang

Kemudian yang dimaksud dengan istilah Total Utang adalah total utang atau keseluruhan utang dari sebuah perusahaan. Keseluruhan ini mencakup baik utang jangka pendek maupun utang jangka panjang.

Kas

Kas merupakan total atau jumlah keseluruhan dana tunai yang terdaftar dalam baik neraca keuangan atau balance sheet maupun dalam kas dan setara kas, yakni cash and cash equivalents.

Cara Menghitung EV

Agar mendapatkan pemahaman yang lebih dalam mengenai cara untuk menghitung Enterprise Value, berikut ini contoh keuangan yang diambil dari perusahaan tertentu. Untuk lebih mudahnya, Anda dapat menyebutnya dengan perusahaan X.

Dalam hal ini, sebagaimana tercatat di BEI atau Bursa Efek Indonesia, perusahaan X memiliki 8.780.426.500 lembar saham dimana harga per lembarnya adalah 6.375 rupiah. Dengan demikian, untuk mendapatkan nilai kapitalisasi pasar dari perusahaan tersebut adalah sebagai berikut:

Harga saham (6.375 rupiah) dikali dengan jumlah lembar saham (8.780.426.500). Nilai yang akan didapatkan adalah 55.975.218.937.500 rupiah atau bisa dibulatkan menjadi 55,9 triliun rupiah.

Perusahaan X ini juga memiliki total utang sebesar 41.996.071 juta rupiah atau hampir 42 miliar. Kemudian terdapat dana dalam kas yang berjumlah 13.745.118 juta rupiah atau hampir 14 miliar.

Dengan demikian, angka EV atau nilai keseluruhan dari perusahaan tersebut bisa didapatkan dengan cara menjumlahkan nilai kapitalisasi pasar (55.975.218.937.500 rupiah) dengan total utang (41.996.071.000.000 rupiah). Jumlahnya kemudian dikurangi dana kas, yakni 13.745.118.000.000 rupiah. Jumlah akhirnya adalah Rp. 84,226,171,937,500 atau 84,2 triliun rupiah.

Berdasarkan angka EV tersebut, seorang investor dapat mengetahui bahwa nilai minimum yang perlu dia siapkan untuk melakukan akuisisi atas perusahaan X di atas adalah 84,2 triliun rupiah.

EBITDA

EBITDA merupakan kependekan dari Earning Before Interest, Tax, Depreciation and Amortisation. Rumus EBITDA digunakan untuk melakukan pengukuran atas kemampuan sebuah perusahaan dalam menghasilkan arus kas yang memang benar-benar didapatkan dari aktivitas operasi.

Penggunaan rumus EBITDA ini dianggap lebih baik apabila dibandingkan dengan analisis laba bersih. Hal ini karena rumus EBITDA terbebas dari distorsi dalam penerapan metode akuntansi pada item laba atau rugi.

Rumus EBITDA

Secara sederhana, rumus EBITDA adalah EBITDA = Net Profit + Interest + Tax + Depreciation + Amortisation.

Untuk mencari rumus EBITDA, Anda bisa mengingat kembali contoh perusahaan X di atas. Di dalam laporan laba rugi yang dikeluarkannya, perusahaan ini mencatat laba operasional sebesar Rp. 9.831.024 juta.

Dalam hal ini, nilai EBITDA perusahaan X tersebut bisa didapatkan dengan menambahkan nilai penyusutan dan amortisasinya yang, anggap saja, berjumlah 3.014.292 rupiah ke dalam laba operasional di atas.

Dengan begitu rumus EBITDA dari perusahaan X dapat dijabarkan sebagai berikut: laba operasional (Rp. 9.831.024) + nilai penyusutan dan amortisasi (Rp. 3.014.292). Jumlah yang didapatkan adalah 12.845.316 juta atau 12,8 miliar rupiah.

pergerakan EBITDA dari GGRM sejak 2011 hingga 2021. Terlihat terdapat kenaikan hingga penurunan.
Grafik EBITDA dari GGRM tahun 2011-2011 via tradingeconomics.

Rumus EV/EBITDA atau Enterprise Value Multiple (EVM)

Setelah angka EV dan EBITDA telah ditemukan, Anda dapat menggunakan rumus EV/EBITDA untuk menghitung enterprise value multiple (EVM). Caranya adalah dengan membagi nilai EV dengan nilai EBITDA.

Dalam hal ini, berdasarkan angka-angka dari perusahaan X, nilai EVM-nya adalah 6,55 yang didapat dari membagi nilai EV (Rp. 84.226.171.937.500) dengan nilai EBITDA (Rp. 12.845.316.000.000).

Manfaat Rasio EV/EBITDA untuk Investor

Berdasarkan rumus EV/EBITDA di atas, dapat diketahui bahwa nilai EVM dari perusahaan X adalah 6,55. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa apabila seorang investor mengakuisisi perusahaan X, dia akan membutuhkan waktu 6,55 tahun agar perusahaan tersebut dapat mencapai titik impasnya.

Titik impas disini maksudnya adalah pendapatan yang didapatkan sebanding dengan pengeluaran sehingga perusahaan tidak mengalami kerugian maupun untung. Inilah salah satu manfaat dari rasio EV to EBITDA yang merupakan salah satu istilah penting dalam fundamental saham.

Dengan menggunakan rumus ini, investor dapat melakukan penilaian terhadap harga saham. Makin rendah angka EVM-nya, ini menunjukkan bahwa kinerja perusahaan tertentu menjadi semakin baik. Hal ini karena dengan angka EVM yang rendah, juga dibutuhkan waktu yang lebih pendek untuk mencapai titik impas. Hal ini juga akan berimbas pada harga saham yang sedang diperdagangkan.

Hanya saja, sebagaimana rasio keuangan lainnya, nilai EVM suatu perusahaan juga perlu dibandingkan dengan perusahaan lain yang berada di dalam sektor industri yang sama. Hal ini dilakukan agar investor bisa memutuskan apakah harga saham dari perusahaan tersebut termasuk undervalued atau overvalued.

Apabila sebuah perusahaan memiliki nilai EV to EBITDA yang lebih rendah dibandingkan perusahaan lain, hal ini dapat membuat investor aware mengenai potensi peningkatan harga saham senilai dengan EV to EBITDA rata-rata pada sektor industri tersebut.

valuasi UNVR melalui berbagai rasio, termasuk EV/EBITDA. Terlihat nilainya sebesar 26.62.
Contoh valuasi UNVR berdasarkan EV/EBITDA. Dengan nilai 26.62, apakah layak dibeli dibanding kompetitornya?

Demikianlah penjelasan tentang EV, EBITDA, dan rasio EV/EBITDA dalam melakukan valuasi terhadap saham sebuah perusahaan. Rumus tersebut biasanya dianggap memiliki nilai yang lebih akurat mengenai perusahaan yang bersangkutan. Hal ini karena aspek-aspek keuangan seperti utang dan kas perusahaan tersebut juga dimasukkan dalam analisis perhitungannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *