Istilah-Istilah Umum Dalam Analisa Fundamental Saham

  • Saham
Istilah-istilah dalam analisa fundamental saham

Kepada investor yang hendak menempatkan uangnya berbentuk saham untuk jangka panjang tentu harus mengetahui selak beluk dunia persahaman. Sebaiknya dimulai dari istilah-istilah umum dalam analisis fundamental saham.

Analisa fundamental saham secara umum yaitu mendapatkan informasi mengenai hal-hal yang berkenaan dengan perusahaan yang mengeluarkan saham tersebut. Harga saham ditentukan oleh kinerja perusahaan atau emiten. Dalam analisa fundamental, yang dibutuhkan adalah hal-hal dasar dari perusahaan yang bisa memberi pengaruh pada harga saham. Dalam analisis ini juga dilihat prospek saham, industri dan juga situasi ekonomi makro.

Analisa fundamental saham memanfaatkan laporan keuangan untuk dasar dalam melakukan valuasi saham. Tentu ada banyak istilah umum dalam analisis fundamental saham yang harus dipahami calon investor. Beberapa yang paling penting adalah sebagai berikut :

1. Asset atau harta yaitu semua kekayaan yang dikuasai emiten contohnya bangunan, mesin produksi, dan sebagainya.

2. Liabilities atau diartikan utang yaitu jumlah utang yang harus ditanggung emiten.

3. Equity atau modal yaitu nilai bersih perusahaan. Bertambah tinggi nilai equity maka bertambah besar pula nilai emiten saham itu.

4. Debt to Equity Ratio atau DER, ialah rasio dari Liabilities dan Equity. Ketentuannya adalah bila  DER>1 artinya utang lebih banyak dibanding modal. Emiten dengan posisi ini tentu harus diwaspadai. Kemudian untuk nilai DER<1 artinya utang lebih kecil dibanding modal yang artinya emiten saham ini dalam posisi keuangan yang sehat. Lalu untuk nilai DER negative berarti modalnya juga negative atau utang lebih banyak dibanding harta. Saham dengan emiten seperti ini harus ditinggalkan.

5. Price to Book Value atau PBV, ialah rasio dari harga per lembar saham dibanding book value(equity) per lembar saham. Ketentuannya, bila nilai PBV<1 artinya harga saham lebih kecil dibanding equity yang berarti harga saham perusahaan itu murah. Lalu untuk nilai PBV>1 artinya harga saham lebih tinggi dibanding equity perusahaan yang berarti harga saham sudah mahal. Bagi para pemain, analisa fundamental saham ini dapat digunakan sebagai pilihan indikator beli. Patokannya jika nilai PBV saham < 1, lazimnya harga saham murah. Akan tetapi indikator lain pun harus diperhatikan yaitu ROE.

5. Return on Equity atau ROE ialah kemampuan pengembalian modal. Patokannya, bertambah besar nilai ROE artinya emiten saham itu kian sehat. Perumpamaan, jika ada perusahaan yang bisa meraih laba 20 persen per tahun dibanding modal, tentu pemilik tak akan menjual perusahaan itu hanya seharga modal atau PBV=1. Sehingga, nilai PBV >1 boleh dikatakan murah, dengan syarat ROE pun besar.

6. Earning per Share atau EPS ialah rasio dari net income dibanding jumlah saham perusahaan. Makin tinggi nilai EPS, maka makin bagus kondisi perusahaan sehingga sahamnya boleh dikoleksi.

7. Price to Earning Ratio atau PER, ialah rasio harga saham dengan EPS. Bertambah kecil nilai PER maka bertambah turun harga saham begitupun sebaliknya. Nilai PER pun dapat dianggap titik break event point. Umpamanya nilai PER adalah 10x itu artinya saham yang dibeli baru akan kembali modal 10 tahun kemudian.

8. Dividen, ialah bagi hasil atau laba emiten yang diberikan ke pemegang saham.

9. Dividen Payout Ratio atau DPR ialah rasio dari nilai dividen dengan EPS. Umpamanya nilai EPS sebesar Rp 100 dengan dividen Rp.50/lbr saham. Itu artinya nilai DPR sebesar 50%.

10. Dividen Yield atau DY ialah rasio dari dividen dibanding harga saham. Umpamanya harga saham TLKM Rp.2000/lbr dengan dividen Rp.50/lbr, sehingga nilai DY sebesar 2.5%. Nilai DPR tinggi tak serta merta nilai DY pun tinggi. Misalnya saham UNVR kerap memberikan 100% laba yang dihasilkan ke dividen yang artinya nilai DPR 100%. Namun nilai DY cuma 2-3% sebab valuasi harga saham cukup mahal.

Jadi poin-poin penting dari analisis fundamental saham yang perlu dipegang oleh para pemain saham adalah :

– EPS bagus bila naik, berarti emiten uahanya berkembang. Pemain harus membandingkan dengan  periode yang lebih lama.

– PER bagus bila nilainya kecil, berarti harga saham murah. Pemain haru membandingkan dengan saham di sektor setipe.

– PBV bagus bila nilainya mengecil, berarti harga saham itu murah. Pemain harus membandingkan dengan saham sektor setipe.

– ROE bagus bila naik, berarti emiten itu berkembang usahanya. Ini juga harus diperbandingkan dengan periode yang lebih lama.

– DER bagus apabila nilai DER kecil, berarti utang emiten saham itu masih bisa diterima.

– DY bagus apabila naik, berarti emiten saham itu mampu berkembang usahanya. Ini pun harus dibandingkan dengan periode sebelumnya.

Melakukan analisa fundamental yang benar yaitu menemukan emiten yang mempunyai kinerja keuangan bagus serta prospek ke depannya pun cerah. Bahkan Warren Buffet, seorang investor saham kelas dunia pun berkata bahwa dalam membeli saham, pilih perusahaan yang prospeknya bisa 20 tahun atau kalau bisa seumur hidup. Investor harus memanfaatkan data kinerja masa lalu, cek laporan keuangan di tahun-tahun yang telah lalu setidaknya 5 tahun dalam menentukan kinerja perusahaan.

Margin of Safety pun perlu diperhatikan. Prinsip ini disebut dalam buku The Intelligent Investor karangan Benjamin Graham. Prinsipnya, ketika melakukan prediksi, investor perlu menempatkan buffer sebagai langkah antisipasi ketakpastian masa mendatang misalnya terjadinya Pandemi Covid-19 yang tak ada seorang pun yang menyangka. Umpamanya, bila patokan harga wajar sebuah saham sebesar Rp.5.000 sesuai analisa fundamental untuk itu targetnya tidak lagi harga segitu namun ditambah 30 persen – 40 persen atau penambahannya Rp.3000 atau Rp.3.500. Sehingga MOS untuk harga saham itu sebesar Rp.8.000 – Rp.8.500 per lembar.

Ketika mengerti istilah-istilah analisia fundamental saham maka segala data mengenai saham, performa keuangan perusahaan, background perusahaan, maupun corporate action harus diperoleh dari sumber yang valid bukan dari rumor yang berkembang. Sumber informasi valid saham yang utama hanya ada dua yaitu dari website Bursa Efek Indonesia yaitu di www.idx.co.id dan website resmi emiten bersangkutan. Biasanya, perusahaan Go Public di situs resminya ada menu khusus ialah Investor Relation dimana di dalamnya dapat ditemukan berbagai data material mengenai perusahaan. Termasuk data vital yaitu informasi mengenai bisnis maupun kemajuan perusahaan.

Melakukan analisa saham dari ratusan saham yang terdaftar di lantai bursa tentu tidak mungkin. Karena itu investor dapat memanfaatkan tool Stock Screeneryang biasanya tersedia di broker saham. Fungsi utamanya adalah melakukan filter saham menurut parameter yang ditetapkan investor sendiri misalnya dividen, market cap, kinerja keuangan maupun berdasarkan analisis teknikal.

Perlu diketahui bahwa analisis kualitatif saham bertujuan memperoleh gain jangka panjang. Itu karena analisis fundamental pada saham berkonsentrasi ke performa keuangan perusahaan yang bisa menentukan harga saham. Kinerja emiten sehat, otomatis harga saham pun meningkat. Namun itu tak serta merta terjadi secara harian atau mingguan. Harga saham harian lazim bergerak naik turun dan tak menggambarkan nilai fundamental. Inilah perbedaan penting dalam analisa fundamental vs teknikal.

Bila investor sudah memilih saham dari emiten solid, prospektif serta kinerja keuangan bagus maka tak ada yang dapat dilakukan selain menunggu. Biarkan perusahaan bekerja untuk menghasilkan keuntungan. Pemegang saham cukup menunggu dan mengecek performa perusahaan melalui data laporan keuangan tiap kuartal yang diterbitkan. Tak usah memperhatikan harga saham setiap hari sebab hanya akan membuat panik.

Ada pesan penting dari pakar saham Warren Buffet : “Be Fearful When Others Are Greedy and Greedy When Others Are Fearful”. Investor harus memiliki keberanian membeli saham ketika pasar tengah bearish atau harga saham anjlok banyak seperti kejadian di awal Pandemi Covid-19 lalu. Ketika itu harga saham sudah sangat murah. Saat itu kebanyakan orang malah mengobral sahamnya sebab panik dengan situasi ekonomi yang ada. Dengan pemahaman tentang istilah-istilah dalam analisa fundamental saham yang benar maka, membeli saham perusahaan yang solid saat sedang anjlok tetap menguntungkan di masa mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *