Lompat ke konten

Apa itu Gross Domestic Product (GDP)?

Gross Domestic Product (GDP)

GDP merupakan salah satu indikator paling penting untuk mengukur kondisi ekonomi di sebuah negara. 

Sebuah negara yang memiliki nilai GDP tinggi dinilai memiliki pertumbuhan ekonomi yang bagus. Sebaliknya, apabila nilai GDP sebuah negara rendah atau bahkan negatif, maka dikatakan kalau pertumbuhan ekonomi negara tersebut sedang mengalami perlambatan. 

Lantas, apa yang disebut dengan pertumbuhan ekonomi, dan mengapa indikator ini penting? Simak ulasannya berikut ini.

Pengertian Gross Domestic Product (GDP)

Gross Domestic Product (GDP) adalah total nilai pasar dari semua produksi barang dan jasa yang dibuat di dalam batas-batas sebuah negara pada periode waktu tertentu. Dalam Bahasa Indonesia, GDP seringkali juga disebut dengan Produk Domestik Bruto (PDB). 

Perlu diingat bahwasannya GDP Indonesia adalah semua produk barang dan jasa yang dibuat dalam batas negara Indonesia terlepas dari warga negara tersebut atau warga negara asing yang tinggal dan bekerja disana dan belum termasuk produksi barang dan jasa orang atau badan usaha Indonesia yang bergerak di luar negeri. Hal ini untuk membedakan GDP dengan Gross National Product (GNP). 

GDP umumnya dihitung dalam satuan tahun (tahunan). Namun ada kalanya juga indikator ekonomi ini dihitung dalam satuan triwulanan (3 bulan sekali) untuk memperkirakan kondisi ekonomi dalam jangka yang lebih pendek. Perkembangan GDP dari tahun ke tahun juga merupakan indikator utama untuk mewakili pertumbuhan ekonomi di sebuah negara. 

Seperti yang telah disebutkan di atas, pertumbuhan ekonomi di sebuah negara akan disebut relatif baik jika nilai GDP-nya positif, begitupun sebaliknya. Selain itu, GDP juga menjadi tolok ukur untuk memastikan proporsi kesehatan utang sebuah negara. Artinya, tidak seharusnya utang sebuah negara melebihi GDP tahunannya. 

Rumus GDP

Terdapat tiga pendekatan yang digunakan untuk menghitung GDP, yaitu pendekatan pengeluaran, pendekatan produksi, dan pendekatan pendapatan. 

1. Pendekatan Pengeluaran

Pendekatan pengeluaran adalah rumus yang paling sering digunakan untuk menghitung Produk Domestik Bruto (PDB). Pada pendekatan ini, nilai pengeluaran untuk memenuhi berbagai faktor kebutuhan ekonomi dijumlahkan.

Rumusnya GDP adalah GDP = C + I + G + (X – M).

Keterangan:

C : Consumer spending. Jumlah uang yang dikeluarkan masyarakat untuk kebutuhan konsumsi. Nila konsumsi yang tinggi berarti masyarakat percaya diri mengenai kondisi ekonomi negara tersebut, begitupun sebaliknya. Sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, perekonomian Indonesia sangat tergantung pada variabel ini. Menurut data dari CEIC, 51,2% pertumbuhan ekonomi Indonesia berasal dari variabel ini. 

I : Investment. Jumlah yang dikeluarkan pebisnis dari dalam maupun luar negeri untuk kegiatan investasi, seperti membeli mesin, membuka pabrik baru, dan lain sebagainya. Dalam turunan rumus ini, variabel investasi ini juga termasuk jumlah tabungan masyarakat. 

G : Government spending. Jumlah uang yang dikeluarkan pemerintah untuk memutar roda perekonomian mulai dari membayar gaji pegawai, pembiayaan berbagai program. Dalam turunan rumus di atas, variabel government spending ini juga mencakup pendapatan pajak setelah dikurangi dengan program subsidi. 

X – M : Net export atau nilai ekspor (X) dikurangi nilai impor (M). Pada variabel ini, pertumbuhan ekonomi memperhitungkan faktor dari perdagangan internasional. 

2. Pendekatan produksi

Berbeda dengan penghitungan PDB dengan metode pengeluaran di atas, penghitungan PDB menggunakan pendekatan produksi tidak dihitung dengan cara menghitung jumlah biaya yang digunakan untuk membeli input untuk produksi. Penghitungan PDB menggunakan metode ini dilakukan dengan cara menjumlahkan nilai total output hasil produksi setelah dikurangi dengan biaya produksi. Dalam pendekatan ini, barang setengah jadi dihitung sebagai bahan baku produksi. 

3. Pendekatan pendapatan

Pada pendekatan pendapatan, PDB dihitung dengan cara menjumlahkan total uang yang diterima oleh masyarakat dari semua sumber produksi. Perlu diingat bahwasanya masyarakat bisa mendapatkan pendapatan dalam berbagai bentuk, seperti gaji atau upah (wage), pendapatan bunga (interest), pendapatan sewa (rent), dan lain sebagainya. Nah, dalam pendekatan ini, nilai pendapatan dari semua sumber tersebut dijumlahkan. 

Selain beberapa sumber pendapatan di atas, pendekatan ini juga melakukan penyesuaian untuk beberapa faktor tertentu, seperti pajak dan depresiasi. Hal ini mengingat bahwasanya dua faktor ini secara langsung berhubungan dengan pendapatan. 

Jenis-Jenis GDP

1. GDP Nominal

GDP Nominal adalah hasil penghitungan GDP sebuah negara pada periode waktu tertentu dengan menggunakan harga output pada periode tersebut. Dalam konteks Indonesia, GDP nominal ini juga biasa disebut dengan PDB atas dasar harga berlaku. 

Misalnya, nilai PDB atas dasar harga berlaku di Indonesia pada kuartal 2 tahun 2022 adalah sebesar Rp5.901,2 triliun. Untuk mendapatkan hasil tersebut, harga atau nilai pengeluaran yang digunakan adalah harga-harga pada kuartal 2 tahun 2022. 

2. GDP Rill

GDP riil adalah hasil penghitungan GDP sebuah negara pada periode waktu tertentu dengan menggunakan harga output pada tahun dasar. Dalam konteks Indonesia, GDP riil juga sering disebut dengan PDB atas dasar harga konstan.

Misalnya, nilai PDB atas dasar harga konstan Indonesia pada kuartal 2 tahun 2022 adalah sebesar Rp2.976,8 triliun. Untuk mendapatkan hasil tersebut, harga atau nilai pengeluaran yang digunakan adalah harga-harga pada tahun dasar. 

3. GDP per Capita

GDP per capita atau yang juga sering disebut dengan pendapatan per kapita adalah total GDP sebuah negara (baik GDP nominal maupun riil) dibagi dengan jumlah penduduk di negara tersebut. Tujuannya adalah untuk mengetahui “rata-rata” pendapatan penduduk sebuah negara. 

GDP per capita umumnya juga digunakan sebagai salah satu tolok ukur kemakmuran masyarakat di sebuah negara. Sederhananya, semakin besar nilai GDP per capita, maka semakin makmur pula masyarakat di negara tersebut. 

Tidak hanya itu, GDP per capita juga merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk menentukan apakah sebuah negara layak disebut sebagai negara maju, berkembang atau negara miskin. Banyak ahli ekonomi yang menilai sebuah negara dengan pendapatan per kapita di atas $12,000 sampai $15,000 sudah bisa masuk kategori negara maju. Namun dalam beberapa tahun terakhir ini, kategori negara maju tidak hanya dihitung berdasarkan GDP per capita saja, tetapi juga faktor lainnya, seperti Human Development Index (HDI). 

Manfaat GDP

1. Menjadi patokan umum dalam melihat pertumbuhan ekonomi

GDP adalah indikator umum yang digunakan untuk menghitung pertumbuhan ekonomi (economic growth). Economic growth adalah nilai perbandingan antara GDP sebuah negara pada tahun tertentu dengan nilai GDP negara tersebut pada tahun sebelumnya. Indikator ini secara tidak langsung akan memperlihatkan apakah perekonomian sebuah negara sedang lancar atau tidak. 

Pada pandemi covid19 tahun 2020 lalu misalnya, GDP nominal Indonesia turun dari 1,12 triliun USD pada tahun 2019 menjadi 1,02 triliun USD 2020. Pada saat yang bersamaan pertumbuhan ekonomi turun dari 5% pada tahun 2019 menjadi -2,1% pada tahun 2020. Angka-angka ini secara umum menggambarkan bagaimana kondisi ekonomi Indonesia saat itu. 

2. Menjadi patokan dalam kebijakan ekonomi

Selain inflasi, pertumbuhan GDP atau pertumbuhan ekonomi juga menjadi salah satu indikator yang dijadikan target oleh pemerintah. Tujuannya adalah supaya pemerintah dapat menyusun program kebijakan demi tercapainya target tersebut. 

Penentuan target pertumbuhan ekonomi juga menunjukkan bagaimana pandangan pemerintah sebuah negara terhadap proyeksi perkembangan negara tersebut kedepannya. Namanya juga target, ada kalanya target tercapai, tapi ada kalanya juga tidak. 

Contohnya menurut data dari Katadata, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,3% pada tahun 2020. Ya, walaupun dalam kenyataannya akibat pandemi pertumbuhan ekonomi justru -2,1. 

Kritik Terhadap GDP

1. Terbatas geografis

Seperti pengertiannya di atas, GDP adalah indikator ekonomi yang hanya mengukur produktivitas dalam batas sebuah negara terlepas dari produktivitas tersebut dilakukan oleh warga negara asing maupun penduduk negara tersebut sendiri. 

Hal ini mendiskreditkan dua faktor ekonomi lain, yaitu pendapatan negara yang diperoleh dari produktivitas penduduk negara tersebut yang tinggal dan bekerja di luar negeri (seperti TKI), dan nilai pendapatan atau keuntungan investasi yang dikirim oleh investor asing ke negaranya masing-masing. Hal ini bisa membuat nilai GDP menjadi overvalued maupun undervalued

2. Hanya mengukur data produktivitas yang tercatat

GDP tidak mencatat faktor-faktor ekonomi yang dilakukan secara informal atau underground, seperti kegiatan volunteer, part time, freelance atau bahkan jual beli barang terlarang yang dilakukan di black market. Ini artinya, GDP tidak bisa digunakan menjadi satu-satunya faktor dalam memperkirakan potensi ekonomi sebuah negara.

Selain itu, penghitungan GDP juga tidak memasukkan produktivitas dari aktivitas perdagangan bisnis ke bisnis (B2B). Sebab dalam rumus di atas, GDP hanya memperhitungan nilai barang jadi dan investasi terbaru dari sebuah perusahaan.

3. Hanya menghitung produktivitas, terlepas bermanfaat atau tidak

Rumus GDP hanya memasukkan nominal nilai atau uang yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk membiayai berbagai program, terlepas dari program tersebut berhasil untuk mengatasi masalah ekonomi atau tidak. Hal ini berarti bahkan program pemerintah yang gagal pun akan tetap masuk penghitungan GDP. 

4. GDP hanya menekankan pada keuntungan materiil dan bukan kesejahteraan masyarakat

Nilai GDP yang tinggi tidak berarti masyarakat di sebuah negara dapat hidup sejahtera. Bahkan dalam beberapa kasus, seiring dengan peningkatan GDP di sebuah negara, meningkat pula ketimpangan ekonomi di negara tersebut. 

Perlu diingat bahwasanya pertumbuhan ekonomi tidak sama dengan pembangunan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi hanya fokus pada produktivitas sebuah negara (GDP) dari waktu ke waktu, sementara isu yang diangkat dan harus ditangani dalam pembangunan ekonomi lebih luas. 

Isu pembangunan ekonomi tersebut, seperti pengangguran, indeks pembangunan manusia (IPM) atau human development index (HDI), tingkat kemiskinan, tingkat kesenjangan dan lain sebagainya. Maka dari itu tidak heran jika ada negara dengan GDP per capita tinggi yang tidak masuk klasifikasi sebagai negara maju karena variabel-variabel lain ini. 

Untuk menganalisis pembangunan ekonomi sebuah negara ahli ekonomi seringkali menggunakan GDP dengan berbagai variabel ekonomi makro lain, seperti nilai indeks pembangunan manusia (IPM), tingkat kemiskinan dan pengangguran dan indeks gini untuk memperkirakan kesenjangan dan lain sebagainya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *