Holding Period dalam Investasi, Saham, ETF

Apa itu Holding Period

Pada masa digital sebagaimana hari ini kita temui, sudah tak terhitung orang yang tertarik dengan dunia investasi. Beberapa alasan diantaranya sekedar mengikuti arus, tergiur profit yang dihailkan, kemudahan prosedur sampai kesadaran urgennya investasi dari sekarang. Ada banyak istilah dalam investasi, salah satunya holding period. Mari kita lebih mengenal lebih dalam istilah ini.

Pengertian Holding Period

Holding period adalah rentang waktu yang dipilih investor untuk menyimpan suatu instrumen investasi dalam period tertentu. Sementara holding period return (HPR) adalah perkiraan imbal hasil yang didapatkan saat investor dalam masa waktu memegang instrumen investasi yang dipilihnya.

Rumus holding period return adalah HPR = ((Pendapatan + (Nilai Akhir – Nilai Awal)) / Nilai Awal.

Pendapatan dapat berupa dividen yang diterima, nilai akhir adalah harga di akhir masa pegang, dan nilai awal adalah harga saat pembelian.

Saat investor terjun ke pasar modal tentu saja mesti merancang suatu strategi dengan tujuan supaya keuntungan selalu dapat diraih. Termasuk cara yang dapat diaplikasikan yaitu menjalankan strategi periode holding yang tepat disesuaikan dengan tujuan investasi yang hendak diwujudkan.

Jangka Waktu

Karena berurusan dengan waktu, maka masa pegang dibedakan menjadi holding period jangka pendek dan holding period jangka panjang.

Pada sejumlah kasus, holding period tertentu dibutuhkan supaya investor bisa memperoleh keuntungan tertentu. Umpamanya, investor mesti menyimpan obligasi setidaknya dua tahun demi menikmati nominal bunga yang sudah terakumulasi. Di samping itu, holding period sebuah investasi difungsikan menghitung pengenaan pajak dari keuntungan maupun kerugian modal.

Holding period investasi dikatakan jangka panjang apabila mengadopsi lama waktu minimum satu tahun atau lebih lama tanpa kadaluarsa. Sementara holding period jangka pendek jika kepemilikan di bawah satu tahun.

Pembagian dividen ke akun pun punya holding period-nya sendiri. Pengembalian holding period yaitu total pengembalian yang diperoleh dengan menyimpan instrumen investasi dalam jangka waktu tertentu, biasanya dalam bentuk persentase. Pengembaliannya ditentukan menurut jumlah pengembalian dari instrumen investasi itu.

Menentukan Holding Period Investasi

Masa pegang dihitung dari hari sesudah pembelian sekuritas hingga hari penjualan. Dana rentang waktu holding period itu bakal berpengaruh pada besar kecilnya nilai pajak yang harus ditanggung.

Contohnya: Pak Daniel membeli 300 lbr saham tanggal 2 April 2019. Saat akan menetapkan holding period maka Pak Daniel mulai menghitung dari 3 April 2019. Maka untuk hari ketiga per bulannya akan digunakan sebagai awal bulan baru tak peduli  jumlah hari dalam satu bulan.

Apabila Pak Daniel kemudian menjual saham yang disimpannya tanggal 23 Februari 2020 maka itu artinya ia merealisasikan capital gain atau capital loss jangka pendek sebab holding period-nya di bawah satu tahun. Bilamana Pak Daniel menjual saham tanggal 3 Oktober 2021, itu artinya ia merealisasikan capital gain atau capital loss long term sebab holding period melebihi satu tahun.

Holding Period pada Saham

Holding period saham artinya mengandaikan berapa lama seorang investor menyimpan saham yang dimilikinya agar bisa mewujudkan return sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

Tiap investor punya preferensi sendiri dari saham yang dibelinya. Apakah itu dilihat dari sisi industri yang dibidik misalnya saham ritel, saham properti, saham pertambangan, saham consumer goods, atau saham sektor keuangan. Lazimnya pilihan membeli atau menjual saham tergantung dari estimasi nilai intrinsik saham dibanding harga pasar yang terbentuk.

Holding period return adalah pendapatan keseluruhan yang didapatkan dari memegang instrumen investasi itu untuk jangka waktu tertentu. Apabila investor membeli saham tertentu bulan Februari 2021 misalnya, kemudian dijual di bulan Februari 2022 maka jumlah holding period return yang didapatkan yaitu penghasilan berbentuk cash dividen dari Februari 2021 sampai Februari 2022 beserta persentase EOPV (end of period value atau nilai akhir saat aham dijual) dipotong IV (initial value atau harga saat saham dibeli).

Aspek fundamental yang ditengarai sebagai alasan investor dalam menyimpan saham lebih lama adalah karena menyukai dividen. Dividend yield merupakan perbandingan dari dividen yang sudah diterima dengan harga per lembar saham. Sementara Dividend payout ratio adalah rasio dividen dibanding laba bersih yang didapatkan.

Investor biasanya menahan saham yang dikuasainya hingga kenaikan harga tertentu agar bisa menutupi biaya yang muncul dari transaksi saham yang dibuat. Tujuannya jelas agar bisa mendapatkan laba maksimal.

Holding Period pada ETF

Bukan hanya pada saham dan obligasi, dalam investasi ETF (exchange traded fund) pun dikenal istilah holding period.

Holding period dalam ETF adalah rata-rata lamanya waktu investor untuk memegang asetnya dalam period waktu tertentu. Langkah investor menahan investasi ETF tergantung dari berbagai pertimbangan misalnya bid-ask spread, market value, hingga variance return.

Ketika melakukan investasi, investor mesti memperhitungkan munculnya risiko yang ditemui kemudian. Tujuannya agar dapat memperoleh gain yang optimal. Menurut ETFTrends, masa pegang setiap investor harus sesuai dengan tujuan dan gaya investasinya.

Ada lagi istilah realized yield atau imbal hasil yang terwujud. Itu merupakan pengembalian aktual yang didapatkan investor dalam satu periode investasi. Return tersebut bisa berbentuk dividen, pembayaran bunga, dan bentuk lainnya. Lazimnya, realized yield diaplikasikan pada investasi obligasi.

Investor kerap mengadopsi istilah tersebut untuk mengacu ke imbal hasil yang diperoleh saat menjual obligasi sebelum jatuh tempo. Sehingga, realized yield umumnya ditentukan dengan menambah atau mengurangi return investasi yang telah diperoleh dengan nilai investasi semula.

Adakalanya, besaran return sesungguhnya dari suatu obligasi yang sudah jatuh tempo akan terpaut jauh dengan yang sudah tertera sebelumnya. Tetapi, hal tersebut tidak berlaku bila obligasi itu dibeli kemudian dijual pada harga pokok (face value).

Misalnya: suatu obligasi menawarkan besaran kupon 5% dalam masa holding period yang ke depannya pun akan dijual pada harga face value. Sehingga realized yield yang diperoleh investor pun sebesar 5%. Hanya saja, pada berbagai situasi, investor mungkin mendapatkan realized yield dengan nilai fluktuatif sebab ada perubahan pada nilai prinsipal obligasi itu.

Kalkulasi realized yield pun berlaku di ETF maupun instrumen investasi yang lain tanpa tanggal jatuh tempo. Umpamanya investor memegang ETF dan kemudian membayar bunga 4% untuk dua tahun kemudian dijual dengan keuntungan 2%, mendapatkan bunga 4% per tahun. Bertambahnya pokok pinjaman tersebar dalam dua tahun holding period dimana keuntungannya 1% per tahun, dengan begitu realisasi imbal hasil adalah 5% per tahun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *