Lompat ke konten
Daftar Isi
ForexIMF leaderboard banner ads.

Pentingnya Manajemen Keuangan Setelah Menikah

Pentingnya Manajemen Keuangan Setelah Menikah

Pernikahan adalah salah satu fase penting bagi sebagian besar orang. Ikrar nikah ini menggabungkan dua orang dengan latar belakang berbeda ke dalam satu biduk rumah tangga. Meskipun pastinya ada banyak momen membahagiakan, ada juga momen dimana pernikahan dilanda cobaan. 

Seringkali salah satu penyebab pernikahan dilanda cobaan itu adalah karena masalah keuangan. Mengapa demikian, simak pembahasannya berikut ini. 

Masalah Keuangan Rumah Tangga

Berbeda ketika Anda masih single,  setelah menikah, setiap keputusan keuangan yang Anda lakukan akan berpengaruh terhadap kondisi keuangan pasangan Anda begitupun sebaliknya. Maka dari itu tidak heran kalau ada beberapa masalah terkait keuangan rumah tangga yang harus Anda hadapi, yaitu:

1. Ego dan Kepribadian

Pernikahan adalah ikrar suci yang menggabungkan dua orang dengan ego dan kepribadian yang berbeda. Adapun masalah keuangan rumah tangga yang terkait dengan ego dan kepribadian ini seperti:

  1. Peran dalam mengatur keuangan, siapa yang kerja siapa yang mengatur keuangan. Banyak pasangan yang memilih satu bekerja satu mengelola keuangan tetapi banyak juga yang memilih keduanya bekerja. 
  2. Spending habits. Setiap orang pasti memiliki kebiasaan “jajan” yang berbeda seperti, suami suka membeli rokok sementara istri suka membeli make up dan skin care. Apabila kebiasaan ini tidak dikomunikasikan dengan baik tentu akan menjadi ganjalan rumah tangga kedepannya. 

Masalah ego dan peran dalam mengatur keuangan ini tidak jarang menjadi api dalam sekam dalam sebuah rumah tangga. Apalagi jika salah satu pihak dinilai tidak mampu melaksanakan tugasnya oleh pihak lainnya. 

2. Kebutuhan sehari-hari

Pemenuhan kebutuhan sehari-hari juga acap kali menjadi masalah keuangan dalam rumah tangga. Apalagi jika Anda sudah memiliki anak dan masuk ke dalam kategori sandwich generation. Adanya anak pasti meningkatkan beban keuangan sehari-hari mulai dari biaya susu ibu ketika masih mengandung hingga biaya popok dan baju saat sudah melahirkan. 

3. Utang

Dilansir dari QM Financial 70% pasangan suami istri berselisih mengenai masalah keuangan dengan berbagai penyebab. 67% dari 70% tersebut berselisih mengenai masalah utang. 

Terdapat peraturan tidak tertulis bahwasannya jika Anda menikah, maka utang Anda juga harus ditanggung oleh pasangan Anda begitupun sebaliknya. Padahal, bisa jadi Anda sudah menahan diri untuk tidak berhutang tetapi pasangan Anda memiliki beban utang yang cukup besar. 

Apabila tidak dikomunikasikan dengan baik, tentunya masalah utang ini bisa menjadi api dalam sekam dalam kehidupan rumah tangga. Apalagi saat ini banyak “utang” dalam bentuk lain seperti kredit dan paylater yang bisa jadi secara tidak sadar menimbulkan ketagihan yang bisa membahayakan keuangan rumah tangga. 

Beban utang ini tentunya akan semakin besar jika Anda dan pasangan menggunakan dana pinjaman untuk membiayai pesta pernikahan. Oleh sebab itu, pastikan sebelum menikah Anda dan pasangan memiliki prinsip keuangan yang mirip. 

4. Cita-cita

Apakah Anda ingin memiliki rumah sendiri? memiliki dana pensiun yang cukup? membuka bisnis sendiri atau memiliki anak dalam waktu dekat? Sekilas tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Namun, memiliki rumah dan bisnis sendiri tentunya membutuhkan modal dan acap kali modal tersebut diambil dari tabungan rumah tangga. 

Apalagi jika ingin memiliki anak. Memiliki anak tidak hanya membutuhkan kesiapan mental dan skill parenting tetapi juga keuangan. Tentu orang tua yang baik tidak ingin anaknya mendapatkan fasilitas hidup yang buruk  bukan?

Tips Mengatur Keuangan Rumah Tangga

1. Sebelum menikah, diskusikan prinsip mengatur keuangan dulu

Meskipun pasti akan ada banyak kompromi, akan tetapi sebaiknya Anda mulai membicarakan prinsip keuangan dengan calon pasangan sebelum naik ke pelaminan.

Tujuannya adalah supaya Anda tahu sedikit banyak mengenai pandangan dan caranya mengatur keuangan keluarga baru. Calon pasangan Anda nantinya juga bisa tahu bagaimana gaya hidup Anda yang sebenarnya dan bagaimana cara Anda mengelola uang. 

Membicarakan soal keuangan sebelum menikah banyak dianggap tabu oleh masyarakat Indonesia. Tapi, pernikahan adalah ikrar seumur hidup sehingga perlu untuk membicarakan masalah uang sejak dini. 

2. Keterbukaan dalam keuangan hukumnya wajib

Setelah menikah usahakan Anda tahu berapa pendapatan dan pengeluaran pasangan Anda dan pastikan dia juga tahu berapa pendapatan dan pengeluaran Anda setiap bulannya. Bahkan kalau bisa Anda dan pasangan membuat catatan keuangan bulanan.

Tujuannya adalah supaya Anda dan pasangan bisa menentukan siapa sumber pendapatan utama dan bagaimana cara mengatur pendapatan dan pengeluaran bersama misalnya, untuk membeli rumah impian atau untuk pendidikan anak. 

Walaupun suami adalah kepala rumah tangga, namun dalam setiap keputusan keuangan (apalagi yang penting seperti utang) juga harus berdiskusi dengan istri. Sebab walau bagaimanapun, adanya utang atau tabungan tersebut nantinya juga mempengaruhi kehidupan si istri. 

3. Buat budget bersama dan budget pribadi

Budget bersama untuk memenuhi kebutuhan dan impian bersama seperti, memiliki rumah sendiri, membiayai kebutuhan anak sementara budget pribadi untuk kesenangan sendiri misalnya beli rokok, beli make up, jalan-jalan dan lain sebagainya. 

Apabila Anda tidak bekerja dan bertugas mengatur keuangan rumah tangga pastikan suami tahu berapa uang yang dialokasikan untuk budget pribadinya dan berapa yang dialokasikan untuk budget pribadi Anda. Karena walau bagaimanapun uang yang Anda kelola adalah uangnya dia juga dan Anda pun berhak untuk mendapatkan kesenangan pribadi. 

Anggaran bersama dan anggaran pribadi ini kemudian dapat Anda masukkan ke dalam rekening yang berbeda sehingga Anda dan pasangan bisa mengawasi anggaran bersama secara bersamaan.

4. Manfaatkan uang sumbangan sebaik mungkin

Salah satu budaya masyarakat Indonesia adalah memberi sumbangan ketika ada sanak saudara atau teman yang menikah. Walaupun tidak bisa dianggap sebagai “imbal balik investasi”, namun bukan berarti uang sumbangan ini tidak bisa dipakai sebaik mungkin. 

Pertama, usahakan biaya resepsi tidak berasal dari uang utang sehingga uang hasil sumbangan bisa dimanfaatkan sepenuhnya untuk kebutuhan setelah menikah seperti, menyewa rumah kontrakan, memindahkan barang-barang ke dalam rumah baru atau membeli perkakas baru. 

Kedua, catat penggunaan uang sumbangan tersebut sebaik mungkin dan gunakan uang ini untuk membeli kebutuhan yang benar-benar penting. Dengan demikian Anda tahu mana kebutuhan yang bisa dipangkas mana yang tidak. 

Tidak akan ada rumah tangga yang bebas pertengkaran. Akan tetapi, untuk mebangun sebuah rumah tangga yang sakinah, mawadah dan rohmah, perlu adanya cinta, kepercayaan dan komunikasi yang baik antar pasangan.

nv-author-image

Farichatul Chusna

Setelah lulus dari Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Farichatul Chusna aktif sebagai penulis artikel ekonomi, investasi, bisnis, dan keuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *