Lompat ke konten
Daftar Isi

Pola Candlestick Hammer dan Hanging Man

Pola Candlestick Hammer dan Hanging Man

Candlestick adalah salah satu indikator yang paling banyak digunakan sebagai pertimbangan trading. Pasalnya, indikator yang satu ini dapat merekam pergerakan harga dan volume trading sekaligus, sehingga sangat bermanfaat untuk menentukan keputusan trading. 

Masalahnya adalah pola candlestick itu ada berbagai macam dan terkadang mirip satu sama lain, sehingga trader mau tidak mau harus mempelajari masing-masing pola tersebut. Salah satu pola candlestick yang bentuknya mirip adalah candlestick hammer dan hanging man. Berikut ini pembahasannya:

Pola Candlestick Hammer

Pola candlestick hammer adalah pola candle yang mirip dengan palu, yaitu bentuk kepalanya kecil dengan ekor memanjang ke bawah. Candle ini acap kali terletak pada akhir downtrend dan mengindikasikan akan adanya bullish reversal.

Body kecil dalam pola ini mengindikasikan bahwa tingkat penutupan dan pembukaan harga terletak pada level yang berdekatan. Adapun ekor yang panjang mengindikasikan penjual berusaha menekan harga serendah mungkin. Namun, ada akhirnya tekanan dari pembeli (buyer) lebih kuat, sehingga harga kembali naik dan trend berbalik. Oleh sebab itu, umumnya pola ini memiliki warna putih atau hijau. 

Pola Candlestick Hanging Man

Mirip dengan pola candlestick hammer, hanging man adalah pola candlestick berbentuk palu dengan kepala kecil dan ekor panjang. Bedanya adalah, pola ini terletak ketika harga aset sedang mengalami uptrend dan menjadi penanda akan adanya bearish reversal. 

Body kecil dalam pola ini juga menandakan kalau harga penutupan dan pembukaan terletak pada level yang sama. Hanya saja, bagian ekor yang panjang menunjukkan penjual (seller) berusaha menekan harga lebih rendah dibandingkan dengan harga pasar, tapi pembeli berusaha menaikkan harganya lagi tapi hanya bisa sampai pada level yang sama dengan harga pembukaan. Oleh sebab itu, umumnya pola ini memiliki warna merah atau hitam.

Perbedaan Hammer dan Hanging Man 

Dari pembahasan di atas, dapat diketahui bahwasanya perbedaan pola hammer dan hanging man adalah sebagai berikut:

Hammer

  • Warna hijau atau putih.
  • Terletak pada akhir trend bearish. 
  • Menunjukkan adanya potensi bullish reversal. 
  • Candle menunjukkan tekanan jual dan beli awalnya sama-sama kuat, namun kemudian tekanan beli jadi lebih kuat. 

Hanging man

  • Warna hitam atau merah. 
  • Terletak pada akhir trend bullish. 
  • Menunjukkan potensi bearish reversal. 
  • Candle menunjukkan tekanan jual dan beli awalnya sama-sama kuat, namun kemudian tekanan beli jadi lebih kuat. 

Untuk lebih memahami perbedaan ini, mari kita lihat gambar grafik berikut:

Gambar 1: Hammer vs Hanging Man (Sumber: hsb.co.id)
Gambar 1: Hammer vs Hanging Man (Sumber: hsb.co.id)

Cara Trading Dengan Pola Candlestick Hammer dan Hanging Man

Salah satu kekurangan dari pola candlestick hammer dan hanging man adalah, keduanya muncul sendiri dengan tanpa candle pembantu, seperti inside bar atau  pola harami. Candlestick yang muncul sendiri, dinilai memiliki tingkat akurasi yang rendah, sehingga Anda harus menunda keputusan terlebih dahulu. Adapun beberapa hal yang patut Anda pertimbangkan untuk trading menggunakan pola ini adalah:

1. Pastikan bentuk dan letak pola

Karena bentuk candlestick hammer dan hanging man mirip, Anda harus menunggu bentuk pola tersebut sampai terbentuk penuh dan memastikan letaknya. Tujuannya adalah supaya Anda bisa memastikan apakah yang terbentuk itu candlestick hammer atau hanging man. 

Setelah candle terbentuk utuh, Anda bisa membuka posisi trading sesuai dengan potensi trend yang ditunjukkan oleh candle tersebut. Namun, sekali lagi pola ini terbentuk sendiri, sehingga tingkat akurasinya rendah dan membuka posisi dengan tanpa bantuan candle konfirmasi maupun indikator teknis lain akan sangat berisiko. 

2. Menunggu candle konfirmasi

Candle yang terletak setelah pola hammer dan hanging man berperan sebagai alat untuk mengkonfirmasi pergerakan harga selanjutnya. Dengan demikian, Anda bisa lebih mantap dalam menentukan keputusan trading. 

Namun kelemahannya adalah, menunggu candle konfirmasi pada pola hammer berarti bahwa Anda tidak bisa membeli aset dengan harga terendah (buy on weakness) dan mendapatkan keuntungan maksimum. Pada posisi ini, yang bisa Anda lakukan adalah membuka posisi trading saat breakout terjadi atau ketika candle konfirmasi telah sepenuhnya terbentuk.

3. Menggunakan indikator teknis lain

Selain menunggu candle konfirmasi, Anda juga bisa menggunakan indikator teknis lain untuk membantu mengidentifikasi kekuatan trend. Indikator teknis lain tersebut, seperti stochastic oscillator, commodity channel index (CCI) dan lain sebagainya. 

Dengan menggunakan leading indicator seperti ini, Anda bisa menentukan kapan harus jual dan kapan harus membeli aset pada kondisi ketidakpastian ketika pola candlestick ini muncul. Selain itu, dengan menggunakannya, Anda juga bisa menentukan titik jual atau titik beli sebelum candle konfirmasi terbentuk sempurna, sehingga berpeluang untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar. 

Kesimpulan

Candlestick hammer dan hanging man adalah dua pola candlestick yang berbentuk mirip palu. Meskipun mirip, namun keduanya mengindikasikan reversal ke arah yang berbeda. Perbedaan candle ini utamanya terletak pada warna dan letaknya. Pola pertama terletak pada akhir bearish trend, sementara pola kedua terletak pada akhir bullish trend. Karena mirip, dan merupakan candle yang berdiri sendiri, trader diminta untuk tetap menggunakan indikator teknis lain sebagai konfirmasi.

Farichatul Chusna

Farichatul Chusna

Setelah lulus dari Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Farichatul Chusna aktif sebagai penulis artikel ekonomi, investasi, bisnis, dan keuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *