Lompat ke konten

Resesi Ekonomi: Pengertian, Penyebab, dan Dampaknya Bagi Suatu Negara

Resesi adalah

Sama seperti bisnis pada umumnya, kondisi ekonomi suatu negara juga ada kalanya naik dan ada kalanya turun. Kondisi ekonomi sedang turun itulah yang disebut dengan resesi. Ketahui apa itu resesi ekonomi, penyebab dan dampaknya bagi perekonomian suatu negara dalam artikel di bawah ini:

Pengertian Resesi Ekonomi

Resesi ekonomi adalah penurunan kegiatan ekonomi yang signifikan dalam waktu dua kuartal berturut-turut. Kondisi ini biasanya ditandai dengan penurunan berbagai indikator ekonomi, seperti pertumbuhan ekonomi yang negatif, peningkatan jumlah pengangguran dan kemiskinan, penurunan gross domestic bruto (GDP). 

Resesi sedikit berbeda dengan depresi. Beberapa literatur menyebutkan bahwa depresi ekonomi adalah resesi ekonomi tapi yang lebih parah. Penurunan ekonomi dapat disebut sebagai resesi apabila pertumbuhan ekonomi menurun kisaran -0,3 sampai -5,1 dan berlangsung selama mentok 18 bulan. Lain halnya dengan depresi. Depresi ekonomi terjadi kalau pertumbuhan ekonomi minus 14,7% sampai 38,1% dan bisa terjadi selama lebih dari 18 bulan. 

Salah satu contoh mudah resesi adalah ketika pandemi covid19 pada awal tahun 2020 hingga tahun 2021 lalu. Ketika itu, pertumbuhan ekonomi tahunan Indonesia hanya sebesar  -2,07% dan 3,69%. Padahal sebelumnya pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi tahunan 2020 sebesar 5,3%.

Penyebab Resesi Ekonomi

Resesi dapat disebabkan oleh banyak faktor. Bahkan tidak jarang, resesi diakibatkan karena berbagai banyak faktor tadi saling berkelindan satu sama lain, sehingga susah untuk diurai. Berikut ini beberapa faktor yang bisa menyebabkan resesi ekonomi. 

1. Goncangan ekonomi

Penyebab resesi yang pertama adalah goncangan ekonomi. Dalam dua tahun terakhir, resesi disebabkan oleh adanya covid19 yang mendadak menyerang masyarakat Indonesia dan dunia. Goncangan ini melambatkan pertumbuhan ekonomi, khususnya di bidang penerbangan dan pariwisata. 

Namun, pada tahun 2022 ini ada goncangan ekonomi lain yang berpotensi menyebabkan resesi, yaitu perang Ukraina dan Rusia. Perang ini berpotensi menyebabkan resesi karena Rusia merupakan salah satu produsen minyak bumi terbesar di dunia, sehingga perang tersebut bisa menyebabkan supply minyak bumi ke negara lainnya berkurang, sehingga harganya meningkat. Peningkatan harga minyak bumi umumnya merembet ke peningkatan harga barang-barang lain, seperti BBM, komoditas ekspor impor dan lain sebagainya. 

2. Inflasi

Inflasi sebenarnya merupakan fenomena yang umum terjadi dalam sebuah ekonomi. Inflasi yang dikontrol dengan baik menandakan perkembangan ekonomi sebuah negara atau masyarakat. Namun, apabila tidak dikontrol dengan baik, inflasi yang terlalu tinggi justru akan mengurangi daya beli masyarakat. 

Akibatnya, daya beli masyarakat rendah, bisnis lesu karena tidak ada yang beli, pajak menurun karena pengangguran meningkat (penurunan pajak PPh) dan tidak ada orang yang beli barang-barang yang kena pajak PPn dan lain sebagainya. 

3. Deflasi

Inflasi yang berlebihan tidak baik, deflasi yang berlebihan juga tidak baik. Kebalikan dari inflasi, deflasi adalah penurunan harga barang-barang secara serentak. Pada tingkat tertentu, deflasi memang bisa berarti peningkatan daya beli masyarakat. Namun, kalau berlebihan juga akan mengurangi pendapatan dan gairah bisnis. Pada saat pandemi lalu misalnya,harga beberapa sektor komoditas di Indonesia sempat mengalami penurunan hingga 1,28% dan 1,44%. 

4. Suku bunga

Biasanya, peningkatan inflasi akan diikuti dengan peningkatan suku bunga. Alasannya adalah inflasi biasanya menunjukkan tingginya jumlah uang beredar di masyarakat, sehingga masyarakat bisa membeli berbagai kebutuhan. Oleh sebab itu, bank sentral akan menaikkan suku bunga. Tujuannya supaya uang yang beredar di masyarakat tadi masuk ke bank dan tidak digunakan untuk kepentingan konsumsi. 

Namun kalau peningkatan suku bunga tidak dilakukan dengan tepat, bisa-bisa justru memperparah resesi. Sebab, peningkatan suku bunga sama artinya dengan meningkatkan jumlah uang yang harus dibayarkan oleh masyarakat yang meminjam uang ke bank. 

5. Pecahnya gelembung aset

Resesi ekonomi juga bisa disebabkan oleh pecahnya gelembung aset (asset bubble burst) di pasar modal. Hal ini setidaknya pernah terjadi dua kali yaitu saat krisis finansial Amerika Serikat pada tahun 2008 dan The Great Depression yang terjadi pada negara yang sama pada tahun 1929-1930-an. 

Sederhananya, krisis finansial 2008 di negeri Paman Sam tersebut disebabkan oleh kredit KPR yang disalurkan untuk nasabah yang memiliki risiko tinggi dan dokumen kredit nasabah tersebut dijual kembali kepada investor dalam bentuk investasi instrumen derivatif. Akibatnya, ketika nasabah tersebut gagal membayar cicilan kredit, tidak hanya bank yang terdampak, tetapi juga investor institusi lainnya dan investor retail secara luas.

Adapun The Great Depression pada tahun 1929-1930-an disebabkan oleh penurunan nilai saham-saham Amerika Serikat secara keseluruhan. Masalahnya adalah, ketika itu sudah banyak investor yang menggunakan utang untuk membeli saham (margin). Akibatnya, ketika harga saham turun, investor panik tak alang kepalang. Di Indonesia sendiri, dampak krisis ini terlihat dalam penundaan pembangunan Gedung Sate, Bandung dan penurunan hasil komoditas ekspor, seperti Batik. 

6. Perkembangan teknologi

Selain 5 sebab di atas, resesi ekonomi juga bisa terjadi akibat perkembangan teknologi. Hal ini karena perkembangan teknologi bisa menyebabkan penggantian manusia oleh teknologi, sehingga ada kemungkinan seiring dengan kemajuan teknologi, pengangguran juga meningkat. 

Dampak Resesi Ekonomi Bagi Suatu Negara

Dampak resesi ekonomi bagi perekonomian sebuah negara dapat terjadi secara simultan. Namun, supaya lebih paham, mari kita awali resesi ekonomi berdampak pada penurunan produktivitas perusahaan. Dengan produktivitas perusahaan yang menurun, maka:

  1. Perusahaan akan melakukan efisiensi dengan memotong gaji atau jumlah tenaga kerja. 
  2. Pemotongan tenaga kerja akan berakibat pada penurunan pendapatan masyarakat. 
  3. Daya beli masyarakat menurun. 
  4. Pendapatan perusahaan lebih turun lagi. 
  5. Penurunan produktivitas perusahaan dan masyarakat membuat pendapatan pajak menurun. 
  6. Karena pemerintah dituntut untuk tetap aktif dan stabil, maka mau tidak mau pemerintah akan meningkatkan utang baik itu utang dalam negeri maupun luar negeri. 

Dalam kasus krisis moneter tahun 1998, resesi ekonomi Indonesia juga mendorong dan memperparah ketidakstabilan sosial politik. 

Sekilas Tentang Resesi Ekonomi di Indonesia

Sebagai negara dengan perekonomian terbuka untuk ekspor dan impor, perekonomian Indonesia mudah terkena imbas dari fluktuasi ekonomi dunia. Selain covid19, dalam narasi di atas Indonesia juga sedikit banyak terdampak The Great Depression tahun 1929-1930-an dan terkena imbas dari krisis keuangan Amerika Serikat pada tahun 2008. 

Namun resesi tersebut tidak separah dengan Krisis Moneter tahun 1998 atau yang juga dikenal dengan The 1997 Asian Financial Crisis. Krisis yang berawal pada tanggal 2 Juli di Thailand ini merembet ke Indonesia dan Korea Selatan dalam beberapa bulan berikutnya. 

Ketika itu, perekonomian Indonesia terkontraksi selama 1,5 tahun, pertumbuhan ekonomi Indonesia turun hingga -13%, nilai tukar rupiah ke USD dari yang awalnya 1 dolar setara 2.500 menjadi 1 dolar setara dengan 16.000 hanya dalam waktu beberapa bulan saja.

Akibatnya, harga barang-barang kebutuhan pokok meningkat, 16 bank ditutup paksa, beberapa bank digabung menjadi Bank Mandiri, Indonesia menerima bantuan dari IMF, Bank Indonesia menjadi lembaga independen dan tentu saja Presiden Soeharto turun dari tahta.

nv-author-image

Farichatul Chusna

Setelah lulus dari Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Farichatul Chusna aktif sebagai penulis artikel ekonomi, investasi, bisnis, dan keuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.