Lompat ke konten

10 Saham Blue Chip USA (Amerika Serikat)

blue chip stock

Saham blue chip adalah surat berharga yang diterbitkan oleh perusahaan terkemuka yang sudah mapan di industri terkait. Tidak jarang, perusahaan penerbit saham blue chip tersebut juga membagikan dividen kepada investornya. Maka dari itu tidak heran apabila saham-saham blue chip banyak diincar oleh investor manapun. 

Nah, di Indonesia sendiri saham blue chip umumnya tergabung dalam indeks LQ45 yaitu indeks yang berisi perusahaan dengan kapitalisasi pasar besar dan likuiditas yang baik. Adapun kalau Anda ingin membeli saham blue chip perusahaan asal Amerika Serikat, Anda bisa membeli saham anggota indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA). DJIA adalah indeks yang berisi 30 perusahaan besar yang sudah diseleksi secara ketat.

Di antara 30 saham perusahaan tersebut, berikut ini 10 saham blue chip Amerika Serikat:

1. Apple (AAPL)

Siapa sih yang tidak mengenal perusahaan teknologi yang satu ini? Yup! Perusahaan yang didirikan oleh Steve Jobs dan Steve Wozniak pada tahun 1976 ini kini menjadi salah satu perusahaan teknologi dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar di dunia. Tercatat pada Juli 2022, perusahaan ini berhasil mencatatkan nilai market cap sebesar 2,34 triliun USD. 

Apple memposisikan diri sebagai perusahaan teknologi yang terus berinovasi dan menghadirkan produk-produk kualitas premium yang tidak ada duanya di pasaran. Oleh sebab itu, tidak heran kalau meskipun harga produknya mahal, Apple masih memiliki basis konsumen yang loyal di seluruh dunia. Akibatnya, pada tahun 2021 saja perusahaan ini berhasil mencetak laba senilai 9,4 miliar USD. 

Tertarik untuk membeli saham Apple?

2. Johnson and Johnson (JNJ)

Anda menggunakan produk Clean and Clear atau Johnson’s baby? Yup! Kedua produk tersebut adalah salah satu produk dari Johnson and Johnson (JNJ). Selain Clean and Clear dan Johnson’s baby, JNJ cabang Indonesia juga memproduksi barang konsumen lain, seperti Listerine dan Envagrow A+. 

Johnson and Johnson adalah perusahaan asal New Jersey Amerika Serikat yang memproduksi barang-barang konsumen, peralatan medis dan obat-obatan. Perusahaan ini menjadi perusahaan blue chip bukan tanpa alasan. Selain karena produk-produknya selalu dibutuhkan oleh masyarakat dunia, JNJ juga berdiri pada tahun 1886. Ini artinya, perusahaan ini sudah beroperasi lebih dari 135 tahun dan termasuk perusahaan “sesepuh” yang sangat dihormati di negara asalnya. 

3. Procter and Gamble (PG)

Anda mungkin masih asing dengan nama Procter and Gamble atau PG. Tapi jangan salah, produk perusahaan ini juga terkenal di Indonesia. Sebut saja Vicks, Head and Shoulders, Pampers, Downy, Gillette, Rejoice, Pantene dan masih banyak lagi. Yup! Procter and Gamble atau P&G adalah perusahaan Amerika Serikat yang memproduksi consumer goods khususnya personal care dan healthcare. 

Didirikan pada tahun 1837 oleh William Procter dan James Gamble, P&G merupakan salah satu perusahaan dengan harga saham yang relatif naik dalam 5 tahun terakhir. Pada tahun 2017, tercatat harga saham perusahaan ini sebesar 87 USD dan kini per lembar saham P&G bisa dijual dengan harga 146 USD. 

Peningkatan harga saham ini bukan tanpa alasan. Dalam 5 tahun terakhir, pendapatan P&G secara konsisten menunjukkan peningkatan begitu pula dengan laba bersihnya yang meskipun sempat menurun pada tahun 2018 dan 2019, namun bisa kembali meningkat. 

4. Walmart (WMT)

Walmart adalah salah satu perusahaan retail terbesar di dunia. Bahkan menurut Fortune 500, Walmart merupakan perusahaan dengan tingkat pendapatan (revenue) terbesar di seluruh dunia selama 10 tahun berturut-turut. Tercatat pada tahun 2021 perusahaan ini berhasil mencetak pendapatan sebesar 572 miliar USD dan laba sebesar 13 miliar USD. 

Perusahaan yang didirikan oleh Sam Walton pada tahun 1962 ini pernah masuk ke Indonesia dengan mendirikan cabang di Supermal Karawaci pada pertengahan tahun 1990-an. Namun karena dirasa kurang menguntungkan, perusahaan ini lantas angkat kaki dari Indonesia. Sekarang Walmart memiliki 10.585 gerai di 24 negara dengan menggunakan 46 nama yang berbeda.  

5. Visa Inc (V)

Seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat untuk melakukan transaksi keuangan secara digital, maka semakin besar pula peluang pasar yang dimiliki oleh Visa. Visa adalah perusahaan penyedia layanan kartu kredit, kartu debit dan pembayaran yang beroperasi di seluruh dunia, termasuk Indonesia. 

Peningkatan peluang pasar Visa ini ditunjukkan dengan meningkatnya harga saham perusahaan tersebut selama 14 tahun terakhir dari yang awalnya “hanya” 17 USD per lembar pada tahun 2008 menjadi 205 USD per lembar ketika tulisan ini dibuat. Peningkatan harga saham ini juga senada dengan peningkatan pendapatan Visa dan laba bersihnya. Maka dari itu, tidak heran apabila Visa menjadi salah satu perusahaan blue chip terkemuka di Amerika Serikat. 

6. Walt Disney Co (DIS)

Perusahaan blue chip keenam yang patut Anda antisipasi di tahun 2022 ini adalah the Walt Disney Company atau singkatnya Disney. Perusahaan yang didirikan pada tahun 1923 ini mulai IPO pada tahun 1957 dan sejak tahun 1991 telah menjadi “penghuni tetap” Dow Jones Industrial Index (DJIA). 

Perusahaan industri hiburan terbesar di Amerika Serikat ini bergerak di semua lini industri mulai dari pembuatan komik dan animasinya, pembuatan live action seperti Marvel Cinematic Universe (MCU) hingga merilis aplikasi streaming service miliknya sendiri yang bernama Disney.

Hingga paruh awal tahun 2022 ini harga saham Walt Disney terus mengalami penurunan. Menurut publikasi di laman Investopedia, hal ini karena terbatasnya hiburan ke luar ruangan  yang tidak disertai dengan peningkatan subscriber Disney+. Akibatnya, pendapatan Walt Disney paruh awal tahun ini juga menurun tajam. 

Menanggapi hal ini, perusahaan tersebut tetap menargetkan jumlah subscriber hingga 260 juta orang pada tahun 2024. Caranya adalah dengan meningkatkan jumlah negara yang bisa mengakses Disney+ hingga 120 negara pada tahun depan. 

7. Microsoft Corporation (KO)

Satu lagi perusahaan raksasa teknologi yang patut untuk diantisipasi perkembangannya tahun ini. Perusahaan tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Microsoft Corporation. Microsoft Corporation atau Microsoft adalah perusahaan teknologi yang menyediakan software dan sistem operasi komputer serta beberapa layanan lain yang mendukungnya. 

Harga saham perusahaan yang didirikan oleh Bill Gates dan Paul Allen pada tahun 1975 ini dalam 5 tahun kebelakang terus menunjukkan peningkatan dari yang awalnya 72 USD per lembar pada tahun 2017 menjadi 264 USD per lembar ketika tulisan ini dibuat. Peningkatan harga saham hingga 3,5 kali lipat ini tentunya membuat MSFT menjadi salah satu idaman investor yang mencari keuntungan jangka panjang dari dividen maupun capital gain. 

Tinggi atau rendah, diperkirakan pendapatan MSFT juga diperkirakan akan meningkat. Hal ini mengingat bahwasanya di era digital seperti ini kebutuhan terhadap laptop, smartphone dan gawai digital lainnya semakin meningkat.   

8. Coca-Cola (KO)

Nama coca-cola pasti sudah tidak terdengar asing di telinga masyarakat Indonesia. Maklum, menurut laman resmi coca-cola Indonesia, brand asal Atlanta, Georgia Amerika Serikat ini sudah masuk ke Indonesia sejak tahun 1927 atau nyaris 100 tahun lalu. Coca-cola memang sebuah perusahaan yang sudah berdiri lama. Perusahaan ini berdiri sejak tahun 1892 atau 6 tahun setelah minuman soda ini ditemukan oleh John Stith Pemberton. 

Meskipun terkenal dengan minuman soda, namun seiring waktu coca-cola juga terus melakukan inovasi seperti dengan merilis minuman soda rendah gula, jus botolan seperti Minute Maid dan minuman rasa buah seperti Fanta. 

Dengan range produk yang luas ini, maka tidak heran jika coca-cola bertumbuh dengan cukup konsisten. Pendapatan perusahaan yang listing di New York Stock Exchange (NYSE) pada tahun 1919 ini meningkat dari 35 miliar USD pada tahun 2017 menjadi 28 USD pada tahun 2021. 

9. Merck & Co Inc (MRK)

Perusahaan blue chip adalah perusahaan yang sudah mapan di industrinya. Maka dari itu, tidak mengherankan apabila banyak dari perusahaan yang masuk kategori ini sudah berdiri sejak ratusan tahun lalu. Termasuk diantaranya adalah Merck & Co Inc. 

Merck & Co Inc adalah perusahaan produsen obat-obatan dan vaksin baik untuk manusia maupun hewan yang berpusat di New Jersey, Amerika Serikat. Sejarah perusahaan ini bisa ditelisik hingga 1891 ketika George Merck mendirikan Merck & Co Inc sebagai cabang dari Merch Group, sebuah perusahaan teknologi asal Jerman yang berdiri sejak abad ke-17. 

Namun karena Perang Dunia 1, perusahaan ini lantas dinasionalisasi oleh pemerintah Amerika Serikat sebelum kemudian diambil alih lagi oleh George Merck. Sejak saat itu, Merck & Co Inc berdiri sendiri dengan tanpa afiliasi dengan Merck Group Jerman. 

Selama lebih dari 130 tahun sejak didirikan di AS, Merck & Co Inc terus berinovasi dengan menyediakan obat-obatan terbaik seperti, antibodi untuk kanker, obat untuk membantu menanggulangi HIV/Aids dan lain sebagainya. 

Maka dari itu tidak heran jika performa perusahaan ini dalam 5 tahun terakhir terbilang cukup stabil. Merck & Co Inc tercatat menghasilkan pendapatan dan laba masing-masing sebesar 48,9 miliar USD dan 12,3 miliar USD pada tahun 2021. 

10. Cisco Systems Inc (CSCO)

Cisco Systems Inc (CSCO) adalah perusahaan yang bergerak di bidang penyedia fasilitas dan infrastruktur teknologi mulai dari software, networking hardware, hingga energy management. Salah satu produk dari Cisco yang terkenal di Indonesia adalah WebEx, aplikasi konferensi via video yang banyak digunakan untuk sekolah online. 

Perusahaan teknologi ini berdiri sejak tahun 1984 dan sejak saat itu memberikan layanan dan fasilitas high technology terbaik. Dengan kualitas layanan ini serta meningkatnya kebutuhan terhadap internet dan teknologi membuat Cisco memiliki jaringan pelanggan yang cukup kuat sehingga tidak mengherankan apabila harga saham Cisco bisa meningkat cepat atau lambat setelah mengalami kontraksi selama paruh pertama tahun 2022 ini. Hal ini utamanya mengingat bahwa dalam 5 tahun ini performa keuangan Cisco terbilang cukup stabil.

Saham blue chip menjadi salah satu pilihan terbaik investor konvensional yang ingin menghindari atau meminimalisir risiko inflasi. Meskipun terkontraksi akibat inflasi dan peningkatan suku bunga AS pada awal tahun 2022 ini, kualitas keuangan perusahaan penerbit saham blue chip boleh dibilang tidak diragukan lagi dalam jangka panjang.

nv-author-image

Farichatul Chusna

Setelah lulus dari Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Farichatul Chusna aktif sebagai penulis artikel ekonomi, investasi, bisnis, dan keuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.