Lompat ke konten
Daftar Isi

Slippage: Pengertian, Cara Menghindari, Dampak

Pengertian slippage

Dalam trading dan investasi, seorang trader maupun investor sebaiknya memiliki trading plan atau dokumen perencanaan trading. Dalam trading ini terdapat berbagai rincian strategi yang akan digunakan oleh investor dan trader kedepannya. Termasuk diantaranya adalah pada level harga berapa seorang investor akan memperjualbelikan aset. 

Sayangnya, tidak semua rencana pada trading plan akan berbuah manis. Karena satu dan lain hal, strategi yang Anda susun bisa jadi akan gagal. Termasuk apabila Anda terpaksa menjual aset pada level harga yang berbeda dengan harga jual rencana Anda. Fenomena inilah yang disebut dengan slippage. 

Pengertian Slippage

Makna slippage secara bahasa adalah terpeleset.

Sedangkan dalam dunia trading dan investasi, slippage adalah selisih antara harga aset yang direncanakan dengan level harga aset yang dieksekusi

Misalnya, Anda berekspektasi untuk menjual saham BBCA dengan harga 7.500 per lembar. Namun karena satu dan lain hal, Anda harus menjual saham bank swasta terbesar tersebut dengan harga 7.000 per lembar. Nah, selisih antara 7.500 dan 7.000 itulah yang disebut dengan slippage. 

Selain itu, slippage juga bisa terjadi ketika investor atau trader mau membeli instrumen dalam volume besar tetapi tidak ada pihak lain yang menjual instrumen tersebut pada volume yang diinginkan.

Contohnya, Anda ingin membeli saham BBCA sebesar 1000 lot. Tapi, pada saat Anda membuka open posisi buy, tidak ada investor saham BBCA yang menjual sahamnya dalam jumlah tersebut. Akibatnya, transaksi Anda bisa delay atau bisa dieksekusi tapi dengan harga yang berbeda sesuai dengan tingkat penyerapan pasar.

Perlu dipahami bahwasanya slippage tidak selalu bermakna negatif.

Kondisi ini bisa bermakna positif apabila:

  1. Harga beli sebuah aset di pasaran lebih rendah dibandingkan dengan perkiraan investor yang ingin membeli aset tersebut.
  2. Harga jual sebuah aset di pasaran lebih tinggi dibandingkan dengan harga yang diperkirakan oleh investor yang ingin menjualnya.

Slippage adalah kondisi atau fenomena yang wajar dan susah dihindari dalam trading dan investasi instrumen apapun. Namun demikian, bukan berarti risiko terkena slippage tidak dapat diminimalisir. Artikel ini salah satunya akan membahas mengenai cara menghindari dan dampak dari adanya kondisi ini. 

Pengertian Slippage Tolerance

Slippage tolerance adalah tingkat toleransi slippage yang bisa Anda terima sehingga ketika harga sebuah instrumen jatuh di bawah atau naik di atas tingkat toleransi ini, transaksi yang Anda lakukan tidak akan dieksekusi oleh sistem.

Terminologi slippage tolerance umumnya digunakan dalam transaksi crypto. Jadi, mari kita ambil contoh dalam transaksi cryptocurrency. 

Misalnya, Anda ingin membeli sebuah NFT di NFT Marketplace seharga 100 BTC dan menerapkan slippage tolerance sebesar 2%. Ini artinya, transaksi tersebut tidak akan dieksekusi oleh sistem kalau harga NFT itu naik dari 100 BTC ke 102 BTC atau turun dari 100 BTC menjadi 98 BTC.

Bagi trader dan investor (khususnya yang membutuhkan uang secara tiba-tiba) keberadaan fitur slippage tolerance ini penting. Sebab, umumnya investor yang menjual asetnya secara tiba-tiba, menggunakan sistem market order. Ini artinya, investor tidak bisa menentukan besaran harga jual yang pas ketika transaksi tersebut dieksekusi.

Penyebab Terjadinya Slippage

Saham, forex dan instrumen trading lainnya adalah pasar yang menerapkan sistem informasi sempurna. Artinya, dalam pasar instrumen ini sebuah transaksi tidak akan dieksekusi kalau tidak ada harga dan volume trading yang sama dari pihak yang berlawanan. 

Contohnya, Anda membeli saham BBCA dengan harga 7.500 dan jumlah 1.000 lot. Transaksi ini tidak akan dieksekusi kalau tidak ada penjual yang bersedia menjual saham BBCA dengan harga 7.500 per lembar atau eksekusinya jadi agak delay kalau ada penjual yang menjual saham BBCA dengan harga 7.500 per lembar tapi dengan jumlah saham yang lebih sedikit. 

Slippage terjadi ketika adanya selisih harga dan jumlah barang yang di set oleh penjual dan pembeli berbeda. Oleh sebab itu, kondisi ini adalah kondisi yang umum terjadi di pasar modal dan komoditas dan akan lebih sering terjadi apabila volatilitas harga sebuah instrumen sedang tinggi-tingginya entah karena berita, atau karena kondisi alamiah instrumen itu sendiri. 

Hal ini mungkin terdengar menggelikan, namun slippage juga bisa terjadi apabila Anda menjual aset yang Anda miliki dengan mekanisme market order dengan tanpa melihat bid/ask price aset tersebut terlebih dahulu entah karena Anda perlu mendapatkan uang dengan cepat atau karena FOMO.

Cara Menghindari Slippage

1. Tentukan slippage tolerance

Karena acap kali kondisi slippage tidak dapat dihindari, maka sebaiknya Anda menetapkan tingkat slippage tolerance terlebih dahulu pada trading plan Anda. Tujuannya adalah supaya Anda tahu kapan harus bersiap-siap menjual aset ketika ada penurunan dan peningkatan harga dari level harga yang Anda inginkan. 

Beberapa broker forex menyediakan fitur untuk menerapkan slippage tolerance ini. Jika Anda merupakan forex trader, jangan lupa untuk memasang slippage tolerance ini pada aplikasi trading yang Anda gunakan.

2. Gunakan limit order

Kebalikan dari market order adalah limit order. Limit order adalah perintah pembelian atau penjualan instrumen dengan level harga atau volume trading tertentu. Dalam mekanisme ini, perintah penjualan atau pembelian tersebut tidak akan dieksekusi oleh sistem saat level harga atau volume trading yang tersedia tidak sesuai dengan keinginan Anda. 

Kelebihannya adalah Anda bisa mendapatkan atau menjual aset dengan harga dan volume yang Anda inginkan. Kekurangannya pertama, Anda melewatkan kesempatan emas dengan menjual aset tersebut pada harga tertinggi. Kekurangan yang kedua adalah Anda harus menunggu sampai ada investor atau trader lainnya yang menetapkan jumlah harga beli aset yang sama dengan Anda sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama.

3. Hindari trading ketika volatilitas harga sedang tinggi

Cara menghindari slippage yang ketiga adalah dengan tidak trading ketika volatilitas harga suatu aset sedang tinggi. Tingkat volatilitas harga yang tinggi biasanya didapati pada instrumen dengan likuiditas rendah atau instrumen dengan likuiditas tinggi tapi sedang ada berita besar yang bisa mempengaruhi harga instrumen tersebut. 

Misalnya, ketika ada pengumuman Non-farm payroll pada pasar forex atau ketika ada skandal korupsi pimpinan sebuah perusahaan. Berita-berita negatif cenderung akan mendorong sebagian besar investor untuk menjual asetnya sehingga ada ketimpangan antara jumlah volume yang dijual dan volume yang dibeli. 

4. Menentukan perkiraan harga

Slippage bisa juga bisa terjadi apabila trader atau investor tidak bisa menentukan harga ekspektasi dengan tepat dan akurat. Memang, untuk bisa menentukan ekspektasi harga yang pas dibutuhkan latihan dan penelitian yang cukup ekstensif terlebih dahulu. Sebagai solusinya, investor dan trader bisa membaca hasil penelitian dari tim ahli investasi. Biasanya tim ahli investasi ini disediakan oleh pihak perusahaan sekuritas atau penyedia aplikasi screening saham untuk nasabah dengan akun premium.

nv-author-image

Farichatul Chusna

Setelah lulus dari Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Farichatul Chusna aktif sebagai penulis artikel ekonomi, investasi, bisnis, dan keuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *