Lompat ke konten
Daftar Isi

Apa itu Stimulus Ekonomi? Pengertian dan Dampaknya

Stimulus ekonomi

Seperti roda, ekonomi juga harus berputar dan perputaran ekonomi terkadang juga akan kempes atau terganjal batu. Ganjalan ini membuat pengendara kendaraan tersebut (pemerintah) harus melakukan sesuatu supaya bisa memutar roda ekonomi kembali, mulai dari mendorongnya dari belakang hingga melakukan penambalan disana-sini. Tindakan pemerintah untuk mendorong dan menambal roda ekonomi tersebut disebut dengan stimulus ekonomi. 

Pengertian Stimulus Ekonomi

Stimulus ekonomi adalah program pemerintah yang ditujukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di suatu negara, khususnya jika ekonomi negara tersebut sedang mengalami resesi atau krisis. Stimulus ekonomi bisa berbentuk stimulus fiskal seperti diskon pajak dan subsidi atau stimulus moneter, seperti penurunan suku bunga acuan. 

Meskipun dampak jangka panjang stimulus ekonomi masih perlu dikaji lebih lanjut, namun dampak jangka pendek program ini bisa membantu meningkatkan kepercayaan diri masyarakat terhadap kondisi ekonomi sebuah negara. Namun demikian, memang pemberian stimulus ekonomi memiliki keuntungan dan risiko yang harus dipertimbangkan. 

Jenis-Jenis Stimulus Ekonomi

1. Stimulus fiskal

Stimulus fiskal adalah stimulus ekonomi yang berkaitan dengan kebijakan pengelolaan pendapatan dan pengeluaran pemerintah. Umumnya stimulus fiskal dirancang dengan detail untuk menargetkan masyarakat dengan spesifikasi tertentu. Contoh stimulus fiskal, seperti:

  1. Diskon pajak. Saat pandemi covid19 lalu, Pemerintah Indonesia menerapkan pengurangan besaran pajak yang harus dibayarkan oleh masyarakat di beberapa kategori, mulai dari pajak PPnBM, hingga PPh final untuk UMKM. Dengan pengurangan beban pajak ini, diharapkan pendapatan bisnis di kala pandemi akan tetap stabil dan proses produksi dan konsumsi bisa tetap berjalan dengan baik.
  2. Program padat karya. Setelah terjadi bencana alam, tidak hanya harta benda masyarakat yang hilang, tetapi juga kondisi psikologis mereka. Dalam kondisi seperti ini, biasanya pemerintah bekerja sama dengan berbagai lembaga nasional dan internasional mempekerjakan kembali masyarakat yang terdampak bencana untuk membangun infrastruktur di dekat mereka, tentunya dengan mendapatkan gaji atau upah. Program padat karya seperti ini tidak hanya bertujuan untuk membangun infrastruktur yang rusak, tetapi juga untuk membangkitkan kondisi psikologis masyarakat terkait. 
  3. Bantuan langsung tunai (BLT). Selain diskon pajak, pada pandemi lalu Pemerintah Indonesia juga menerbitkan program kartu prakerja. Tidak hanya mendapatkan berbagai pelatihan yang dibutuhkan di masa digital, kartu prakerja juga menawarkan bantuan langsung tunai selama 4 bulan mengikuti kursus. Dengan program ini, diharapkan generasi muda Indonesia mendapatkan skill yang dibutuhkan sekaligus bisa bertahan menghadapi tekanan dari pandemi. Sebelum pandemi, beberapa kali Pemerintah Indonesia juga menerbitkan Bantuan Langsung Tunai di masa Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

2. Stimulus moneter

Berbeda dengan stimulus fiskal, stimulus moneter adalah program stimulus ekonomi yang dilaksanakan oleh otoritas  kebijakan moneter (Bank Indonesia). Transmisi program ini nantinya lebih kepada sektor keuangan dan perbankan di Indonesia, sehingga dampaknya cenderung lebih menyeluruh dibandingkan dengan stimulus fiskal. Contohnya adalah:

  1. Penurunan suku bunga acuan. Penurunan suku bunga acuan (BI7DRR) ditujukan supaya suku bunga kredit dan simpanan di bank-bank umum menurun. Dengan demikian, harapannya adalah masyarakat tidak takut mengambil pinjaman di bank (masyarakat peminjam) dan masyarakat yang memiliki banyak uang tidak menyimpannya saja. Pada akhirnya, ekonomi bisa berputar kembali. Pada pandemi covid19 lalu misalnya, Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan dari 6,00% pada tahun 2019 menjadi 3,5% pada pertengahan tahun 2022. Ketika ekonomi sudah membaik, BI lantas perlahan-lahan meningkatkan suku bunga kembali.. 
  2. Penambahan likuiditas bank-bank umum. Bank umum tentunya tidak akan memberikan pinjaman kepada masyarakat kalau tidak memiliki uang kas yang cukup untuk mengoperasikan bisnis mereka. Oleh karena itu, Bank Indonesia selaku pemangku otoritas moneter di negeri ini menambah likuiditas (aset yang mudah dicairkan bank-bank umum) dengan membeli kembali surat berharga (sekuritas) yang sebelumnya telah mereka jual. Dengan program ini, diharapkan bank-bank umum tidak khawatir untuk memberikan pinjaman kepada masyarakat. 

Cara Kerja Stimulus Ekonomi

Ketika perekonomian sedang mengalami resesi, akan ada peningkatan ancaman ekonomi, seperti peningkatan jumlah pengangguran dan kemiskinan. Akibatnya, kemampuan masyarakat untuk membeli barang dan jasa menurun (penurunan daya beli). Apabila hal ini dibiarkan terus menerus, maka perekonomian akan mengalami kondisi depresi, yaitu kondisi yang lebih parah dibandingkan dengan resesi. 

Stimulus ekonomi baik fiskal maupun moneter, seperti program-program di atas, ditujukan untuk memberikan injeksi kepada sektor ekonomi tertentu yang sekiranya memiliki efek berganda (multiplier effect) yang besar. Dengan multiplier effect yang besar ini, diharapkan ekonomi dapat berputar kembali. 

Misalnya pemerintah menerbitkan program padat karya pembangunan jalan raya di pedesaan ketika pandemi dengan memberdayakan masyarakat desa tersebut. Tukang yang terlibat dalam proses pembangunan akan mendapatkan gaji, sementara toko bangunan yang menyuplai bahan akan mendapatkan pendapatan. Efek berganda dari stimulus fiskal ini terjadi ketika dengan gaji yang mereka dapatkan, tukang-tukang tersebut dapat membeli kebutuhan sehari-hari, menyekolahkan anak dan membayar listrik, toko bangunan dapat membeli stok barang dan menggaji pegawai dan lain sebagainya. 

Ketika kondisi ekonomi sudah membaik lagi, harapannya adalah masyarakat yang mendapatkan stimulus di atas dapat kembali membayar pajak dan tetap bisa membayar pinjaman ketika suku bunga dinaikkan. 

Dampak dan Risiko Stimulus Ekonomi

Dalam jangka pendek, stimulus ekonomi bisa jadi dapat memperbaiki kondisi perekonomian di sebuah negara. Namun dalam jangka panjang, dampak dari kebijakan ini perlu dikaji kembali. Banyak ahli meragukan dampak kebijakan ini, seperti:

  1. Stimulus ekonomi dapat mencegah industri tertentu untuk menyesuaikan diri terhadap kondisi perekonomian yang sebenarnya. Dalam berbagai kasus, kondisi resesi membuat pemerintah khawatir mengenai gelombang PHK di industri tertentu, sehingga memberikan stimulus ke industri tersebut. Padahal, bisa jadi sebenarnya sejak awal memang industri tersebut perlu restrukturisasi bahkan tanpa adanya resesi sekalipun. 
  2. Efisiensi stimulus ekonomi bisa terganjal dengan cara masyarakat menanggapi stimulus tersebut. Misalnya, masyarakat akan mengkonsumsi listrik dalam jumlah sedikit meskipun harganya didiskon. Hal ini karena masyarakat tahu kalau setelah resesi berakhir, harga listrik tetap akan naik. 
  3. Stimulus ekonomi dapat mengurangi investasi. Hal ini karena stimulus ekonomi akan meningkatkan biaya tenaga kerja (gaji). Kenaikan biaya tenaga kerja dengan tanpa diikuti dengan kenaikan potensi pendapatan dan laba akan menurunkan minat investor, khususnya investor luar negeri, untuk berinvestasi di negara tersebut. 

Dari segi politik, stimulus ekonomi bisa menghadirkan dua dampak, yaitu peningkatan kredibilitas pemerintah apabila dilakukan dengan tepat dan kontroversi apabila tidak dilakukan dengan tepat. Pada program BLT misalnya, program tersebut sempat menimbulkan kontroversi karena ketidaksesuaian data dan potensi timbulnya korupsi. Oleh sebab itu, stimulus ekonomi apapun itu bentuknya harus disusun dan diterapkan secara hati-hati.

nv-author-image

Farichatul Chusna

Setelah lulus dari Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Farichatul Chusna aktif sebagai penulis artikel ekonomi, investasi, bisnis, dan keuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *