4 Akibat Tidak Membayar Pinjaman Online, Ini Konsekuensinya

Konsekuensi Gagal Bayar Pinjol

Sanksi tidak membayar pinjaman online dapat berupa informasi Anda akan diberikan ke OJK, denda dan bunga utang bertambah banyak, pekerjaan Anda akan terganggu, dan sulit meminjam di lain waktu.

Kehadiran perusahaan financial technology (fintech) yang juga sering disebut pinjol makin memudahkan orang dalam memperoleh akses utang dana segar tanpa perlu memberikan jaminan. Dengan modal ponsel dan KTP, masyarakat akan memperoleh dana dalam waktu singkat. Dimana-mana utang harus dibayar. Jika Anda kabur, meskipun tidak bisa dipidanakan, tentu saja ada resikonya.

Pastinya berkat fasilitas yang didapatkan itu, merupakan kewajiban debitur agar membayar utangnya tanpa terlambat. Apabila peminjam terlambat atau justru gagal bayar, sudah pasti ada konsekuensi yang mesti diterima yang pastinya merugikan diri peminjam itu.

Apa saja akibat tidak membayar pinjaman online? Ini dia resikonya:

1. Informasi Debitur Diberikan Ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Akibat yang didapat debitur yang gagal melunasi pinjaman adalah data dirinya langsung diberikan kemudian dimasukkan ke daftar hitam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK. Jika sudah demikian, debitur tak bakalan dapat melakukan pinjaman ke berbagai platform pinjaman online dan juga bank mana saja.

Masalah tersebut tentu merugikan peminjam di masa mendatang, sebab mereka pasti kesulitan memperoleh utang saat membutuhkan. Oleh karena itu bila debitur gagal membayar otomatis histori kredit juga akan jelek. Namun, bila debitur memang memiliki tanggung jawab dengan membayar utang tepat waktu otomatis riwayat kredit pun bagus. Kesudahannya debitur akan dapat selalu memperoleh utang dari fintech atau bank kapan pun membutuhkan.

2. Denda Dan Bunga Utang Bertambah Banyak

Tiap institusi finansial yang menawarkan kredit tentu bakal memberlakukan bunga sekaligus denda apabila debitur terlambat membayar angsuran. Bilamana debitur terlambat membayar, itu artinya bunga dan denda makin meningkat yang akan makin memberatkan.

Otoritas Jasa Keuangan mengeluarkan ketentuan mengenai bunga dan denda keterlambatan bago fintech P2P lending, meliputi :

  • Paling banyak bunga kredit yang dibebankan yaitu sebesar 0,8%/hari.
  • Paling banyak besarnya denda keterlambatan yang dipungut sejumlah 0,8%/hari dari total pokok utang debitur.
  • Besarnya denda keterlambatan utang yang dibebankan paling banyak yaitu 100% dari jumlah pokok utang. Misalnya debitur mendapatkan utang Rp3 juta, oleh karena itu paling banyak uang yang mesti dibayarkan apabila menunggak yaitu Rp6 juta yaitu 100% dari total utang seluruhnya.

Regulasi tadi sudah barang tentu dijalankan perusahaan fintech resmi yang mendapat ijin dari OJK. Sehingga bila ada debitur yang diharuskan membayar pinjaman lebih dari 100 % pokok utang karena terlambat membayar, sudah bisa dipastikan jika perusahaan pinjaman online itu adalah  ilegal. Oleh karena itu usahakan para peminjam memang tak lupa dengan tanggal jatuh tempo pelunasan utang supaya tak dibebankan biaya denda keterlambatan yang semestinya tak perlu dikeluarkan.

3. Pekerjaan Debitur Akan Terkendala

Biasanya perusahaan pinjaman online telah punya tatacara ketika menangani debitur yang terlambat atau malah gagal membayar. Seluruh tatacara penagihan utang dijalankan mengikuti rambu-rambu yang diputuskan pihak asosiasi yaitu AFPI (Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia).

Lazimnya debitur akan ditegur agar segera melunasi pinjamannya via SMS, e-mail, telepon atau mendatangkan tim collection yang akan menagih ke rumah debitur secara langsung. Pastinya, ketika tindakan penagihan tersebut dilakukan, pekerjaan peminjam bakal terganggu. Hal tersebut malah dapat pula mengganggu istirahat sekaligus mengakibatkan stres.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa perusahaan pinjol gemar melakukan teknik terror untuk mendapatkan kembali dana yang sudah diberikan. Terutama jika Anda tidak membayar pinjaman online ilegal. Meskipun melanggar hukum, praktik ini masih umum terjadi.

4. Sulit Meminjam di Lain Waktu

Sanksi tidak bayar pinjaman online lainnya adalah Anda menjadi terkendala meminjam di lain waktu. Jika Anda gagal bayar, maka data Anda akan tersebar ke institusi-institusi lainnya. Hal ini membuat Anda berisiko masuk ke dalam blacklist. Meskipun akhirnya bisa mengajukan kredit, jumlahnya biasanya menjadi lebih sedikit karena perusahaan ingin meminimalkan risiko.

Karakter pinjaman online yang instan dan praktis berakibat ke nilai plafon yang diberikan. Tak dapat memperoleh utang bernilai besar. Untuk kredit berjumlah besar, peminjam masih harus mengandalkan bank umum.

Sebelum memutuskan untuk mengambil utang dari perusahaan fintech, hal yaang paling pertama sekali perlu dilakukan adalah mengecek legalitas perusahaan itu. Cara paling mudah adalah mengeceknya langsung ke regulator dalam hal ini di website resmi OJK.

Bila sudah mendapatkan daftarnya, langkah selanjutnya adalah membandingkan.

Membandingkan di sini terutama untuk besarnya bunga dan biaya keterlambatan. Debitur pastinya ingin pinjaman yang diperoleh menerapkan bunga yang rendah dan juga denda keterlambatan yang tak mencekik leher. Pun perlu diperhatikan oleh calon debitur yaitu biaya admin atau biaya penanganan yang juga berpotensi memberatkan jika tidak dipilih yang menerapkan biaya yang rendah.

Manfaatkan aplikasi pinjaman online secara bijaksana sekaligus penuh tanggung-jawab. Saat akan mengajukan utang, cek bahwa nilai angsuran tak melebihi 30% dari total pendapatan. Ketentuan tersebut penting demi mengurangi kemungkinan mengalami gagal bayar. Bandingkan juga dengan rate yang ditawarkan bank, hitung bunga pinjaman bank kemudian bandingkan dengan pinjol.

Lalu juga yang tak kalah utama, usahakan mengajukan utang melalui aplikasi pinjaman online yang telah terdaftar serta mendapat ijin dari OJK. Perusahaan pinjaman online resmi akan menjamin data nasabah aman serta seluruh tatacara penagihan yang dijalankan mengikuti ketentuan yang dikeluarkan OJK dan AFPI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *