Capital Asset Pricing Model (CAPM)

CAPM

Capital Asset Pricing Model (CAPM) adalah model yang digunakan untuk menentukan harga suatu aset berdasarkan kondisi seimbang atau ekuilibrium. Pada ekuilibrium, keuntungan yang didapatkan pemodal saham akan dipengaruhi risiko. Risiko yang dimaksud bukanlah deviasi tingkat keuntungan, melainkan diukur dengan beta.

Parameter ini senada dengan sebuah teori portfolio, yakni jika seorang pemodal melakukan diversifikasi dengan tepat, maka pengukur risiko saham masuk ke dalam portfolio, sedangkan jika pemodal memegang portfolio pasar, sumbangan ini adalah beta. Perumusan CAPM ini sebenarnya hanyalah merupakan serangkaian asumsi penyederhanaan saja.

Konsep Penting dalam Capital Asset Pricing Model

Berikut adalah beberapa konsep penting serta risiko investasi yang perlu dipahami dalam Capital Asset Pricing Model:

1. Systematic Risks

Konsep penting yang pertama dalam CAPM adalah Systematic Risks atau Risiko Sistematis. Risiko sistematis merupakan bagian tak terpisahkan yang berhubungan erat dengan semua pergerakan dari pasar saham dan juga tidak bisa dihindari. Risiko ini juga dikenal dengan istilah risiko pasar atau umum, yakni yang berkaitan dengan perubahan keseluruhan yang terjadi di pasar.

Selanjutnya, perubahan pasar ini dapat mempengaruhi variabilitas retur dari suatu investasi. Artinya, risiko sistematis ini adalah risiko yang tidak bisa didiversifikasi. Kemunculan risiko ini terjadi karena pengaruh keadaan sosial budaya, politik, dan juga perekonomian. Faktor lain yang turut berpengaruh adalah kurs valuta asing, kebijakan pemerintah, daya beli masyarakat, dan lain-lain.

2. Unsystematic Risks

Unsystematic Risks atau risiko tidak sistematis merupakan bagian risiko tidak umum di dalam sebuah perusahaan. Risiko ini tidak bisa dipisahkan. Unsystematic risks juga kerap disebut dengan risiko perusahaan atau spesifik, yakni yang tidak memiliki keterkaitan dengan perubahan pasar keseluruhan.

Risiko spesifik lebih berkaitan erat dengan perubahan posisi mikro dari sebuah perusahaan penerbit sekuritas. Di dalam sebuah manajemen portfolio, dikatakan bahwa risiko perusahaan dapat diminimalkan dengan cara melakukan diversifikasi aset pada suatu portfolio. Faktor yang dapat mempengaruhi antara lain struktur aset, tingkat likuiditas, dan struktur modal.

3. Market risks

Market risks atau risiko pasar juga kerap disebut dengan istilah interest rate risk. Nilai sebuah investasi akan menurun apabila suku bunga meningkat. Hal ini akan menyebabkan para pemilik investasi mengalami kondisi capital loss. Selain itu, ada juga istilah reinvestment risks, yakni risiko yang disebabkan karena aset memiliki yield lebih sedikit dari beberapa waktu mendatang.

4. Default risks, inflation risks, currency risks, dan political risks

Default risks merupakan risiko jika sebuah penerbit aset gagal dalam membayar bunga. Inflation risk adalah risiko menurunnya nilai investasi karena terjadi inflasi. Currency risks merupakan risiko menurunnya nilai aset yang disebabkan oleh penurunan nilai mata uang yang digunakan oleh aset. Political risks adalah risiko menurunnya nilai aset yang disebabkan oleh perubahan peraturan atau hukum karena kebijakan pemerintah.

5. Beta

Beta berfungsi untuk menghubungkan antara co varian sebuah aset dengan portfolio pasar dan varian dari portfolio pasar. Istilah ini juga digunakan untuk mendefinisikan laba yang diharapkan CAPM. Capital Asset Pricing Model menjelaskan bahwa beta adalah alat pengukur risiko relevan dan memiliki hubungan positif serta linear antara beta dan tingkat keuntungan yang diharapkan.

Apabila koefisien beta lebih besar dari 1, maka bisa diartikan bahwa saham memiliki pergerakan yang responsif. Jika beta saham sama dengan 1, artinya saham mempunyai pergerakan sama dengan IHSG. Jika beta saham kurang dari 1 berarti saham bergerak lebih lambat dari pergerakan pasar. Sedangkan jika nilai beta negatif, saham memiliki pergerakan yang berlawanan dengan arah pasar.

6. Security market line

Security market line atau garis pasar modal berfungsi untuk menggambarkan trade off bersih laba di dalam pasar finansial. Akan tetapi, hal ini hanya berlaku untuk portfolio efisien dan tidak dapat digunakan dalam mempertimbangkan ekuilibrium laba suatu negara. Di dalam CAPM, seluruh investor memegang portfolio pasar yang merupakan pembanding terhadap portfolio lainnya.

Para investor selanjutnya akan mengharapkan premium risiko guna membeli aset seperti saham. Semakin besar risiko saham tersebut, maka semakin besar pula premium risikonya. Apabila investor ini memegang portfolio yang telah didiversifikasi, maka mereka harus tertarik pada risiko portfolio dibandingkan risiko sekuritas individual.

Asumsi-Asumsi dalam Capital Asset Pricing Model

CAPM memiliki asumsi bahwa investor merupakan perencana dalam suatu periode tunggal dan memiliki persepsi sama tentang keadaan pasar dan juga mencari mean-variance dari portfolio optimal.

Selain itu, Capital Asset Pricing Model juga memiliki asumsi pasar saham ideal adalah pasar saham yang besar dan investor adalah price takers. Tidak ada bajak atau biaya transaksi dan seluruh aset bisa diperdagangkan secara umum.

Selain asumsi di atas, masih ada beberapa asumsi lain tentang CAPM. Asumsi tersebut antara lain:

  1. Seluruh investor memiliki distribusi probabilitas masa depan yang identik.
  2. Setiap investor mendiversifikasikan portfolio dan memilihnya berdasarkan preferensi investor kepada risiko dan return.
  3. Seluruh investor memiliki periode waktu yang sama.
  4. Tidak ada biaya dalam seluruh proses transaksi
  5. Seluruh investor bisa meminjam dan juga meminjamkan uang dengan tingkat return yang bebas risiko. Artinya, pemodal dapat menyimpan atau meminjam dengan tingkat bunga yang sama adalah sesuatu yang tidak realistik. Akan jauh lebih realistik apabila pemodal dapat menyimpan uang dengan tingkat bunga yang bebas risiko, contohnya dengan Sertifikat Bank Indonesia.
  6. Tidak terdapat inflasi.
  7. Tidak adanya pajak pendapatan. Asumsi ini mengimplikasikan bahwa pemodal bersikap indifferent guna menerima penghasilan berbentuk capital gain atau deviden. Selain itu, seluruh pemodal memegang portfolio dengan risiko yang sama.
  8. Jika pasar sedang dalam kondisi ekuilibrium, maka hal ini mengimplikasikan seluruh investor akan memilih portfolio pasar yang berisi seluruh aktiva dalam pasar dan portfolio pasar ini merupakan portfolio aktiva berisiko yang berada pada efficient frontier.
  9. Ada banyak investor dan tak ada satu pun yang bisa mempengaruhi harga sebuah sekuritas.

Kelebihan dan Kekurangan Capital Asset Pricing Model

CAPM mempunyai beberapa kelebihan. Kelebihan tersebut antara lain bisa digunakan untuk perhitungan jangka pendek, tidak terlalu membutuhkan waktu yang lama untuk memperkirakan return, serta data yang dibutuhkan cukup mudah untuk didapatkan.

Akan tetapi, sebagai sebuah model yang cukup mudah digunakan, CAPM juga mempunyai beberapa kekurangan. Kekurangan tersebut adalah CAPM hanya bisa digunakan untuk memperhitungkan risiko pasar sebagai risiko tunggal di dalam perkiraan return saham. Oleh karena itu, hasil perkiraan ini bisa dikatakan kurang akurat.

Siapa yang Cocok Menggunakan Capital Asset Pricing Model?

Mengingat pengertian CAPM adalah pricing model untuk menentukan harga sebuah aset, maka CAPM sangat penting diketahui oleh para pemain saham atau pemilik aset. Dengan pengetahuan tentang CAPM, seseorang bisa menghitung perkiraan harga aset dengan tepat dan bisa memperkirakan seberapa besar risiko yang akan dihadapi dalam melakukan transaksi aset.

Itulah beberapa penjelasan terkait dengan Capital Asset Pricing Model (CAPM). Pada intinya, CAPM sangat penting diketahui oleh seluruh pemilik aset maupun para pelaku investasi lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *