Cara Pembagian Saham Perusahaan, Persentase Kepemilikan Antar Founder

Membagi Kepemilikan Saham

Saham merupakan penyertaan modal dari seseorang atau badan usaha kepada  perusahaan atau perseroan terbatas. Pihak yang menyertakan modal akan memiliki hak atas pendapatan pada sebuah perusahaan. Lalu bagaimana cara membagi saham perusahaan? Yuk cari tahu disini!

Cara Menghitung Pembagian Saham Perusahaan Antar Founder

Di dalam pembagian jumlah saham pada perusahaan atau startup, terdapat dua peranan penting.

Peran yang pertama yakni capital expense atau belanja modal, di mana modal diberikan dalam bentuk material seperti uang tunai. Dana ini nantinya digunakan sebagai modal awal membuka usaha.

Peran yang kedua adalah working capital atau disebut juga dengan modal non material. Non material ini contohnya seperti memiliki keterampilan, pengalaman kerja, dan juga waktu kerja. Jika Anda ingin mendirikan perusahaan baru, maka kedua peran ini sangat penting dalam menentukan pembagian saham nantinya.

Dalam penghitungan persentase kepemilikan saham, tidak terdapat hitungan atau kalkulasi yang pasti dalam jumlah pembagian saham tersebut. Perhitungan dan cara pembagian saham usaha dapat dilakukan berdasarkan ketentuan bersama dan juga kesepakatan dari masing-masing founder dan co-founder.

Menurut Harvard Business Review, negosiasi pembagian saham sebaiknya dilakukan saat perusahaan sudah matang. Hindari melakukan negosiasi saat usaha baru didirikan, karena masih terlalu banyak ketidakpastian di masa depan.

Bahkan pada beberapa perusahaan juga memberikan alokasi sebagian persen dari saham kepada Employee Stock Option Plan atau ESOP. ESOP merupakan keuntungan yang diberikan oleh founder kepada karyawan untuk bisa mendapatkan saham perusahaan. Penentuan ESOP ini biasanya akan dilakukan berdasarkan masa kerja dan kinerja dari karyawan tersebut.

Pada pembagian persen sahamnya sendiri, pemilik modal biasanya akan mendapatkan jumlah yang lebih besar. Sebut saja, A memiliki modal untuk mendirikan perusahaan, namun tidak memiliki keterampilan dalam menjalankan usaha tersebut. Untuk itu, A akan mendapatkan 50 persen dari kepemilikan saham perusahaan.

Sedangkan pihak B berperan sebagai working capital karena tidak memiliki modal dalam memberikan usaha, tetapi mempunyai skill dan keterampilan untuk menjalankan usaha tersebut. Maka dari itu, pada pembagian saham perusahaan ini, B akan mendapatkan kepemilikan saham sebesar 40 persen.

Berdasarkan kesepakatan yang dibuat oleh A dan B, maka sisa kepemilikan saham senilai 10 persen tersebut akan diberikan kepada karyawan lain sesuai dengan kebijakan dan juga kinerja dari karyawan tersebut. Menurut Softwarebrothers, 10% saham sebaiknya disisihkan untuk karyawan dengan performa baik. Contohnya, ketika A sebagai pemilik modal hanya bisa memberikan uang dan B sebagai working capital hanya bisa menjadi koki atau manajer dapur saja.

Kedua pendiri usaha harus mencari seseorang yang mampu memasarkan usaha, seperti Chief Marketing. Namun, karena A dan B masih belum sanggup membayar dengan gaji yang tinggi, maka A dan B memberikan saham senilai 10 persen kepada C sebagai ganti dari gaji tersebut. Mereka juga akan mendapat dividen jika usaha membuahkan hasil.

Apabila terdapat perusahaan lain yang ingin menanamkan modal atau memberikan pendanaan kepada perusahaan A dan B, kalkulasi kepemilikan saham juga akan mengalami perubahan. Untuk sistem kepemilikannya akan menjadi, A memiliki saham senilai 45 persen, B memiliki saham senilai 36 persen dan karyawan yang ditunjuk sebagai ESOP akan memiliki saham senilai 9 persen. 

Sebab terdapat perusahaan baru yang menanamkan saham dan pendanaan senilai 10 persen. Otomatis kepemilikan saham akan mengalami perubahan. Namun penghitungan kalkulasi ini berdasarkan kesepakatan bersama. Terutama jika perusahaan yang Anda jalankan termasuk start up yang memiliki founder dan co-founder. 

Cara menghitung persentase kepemilikan saham biasanya akan memberikan jatah tertinggi pada pemilik modal yang mendanai awal berdirinya perusahaan. Sehingga tak heran jika A akan mendapat kepemilikan saham awal yakni 50 persen. Berbanding dengan B yang hanya 40 persen dan juga C dengan saham kepemilikan 10 persen.

Perhitungan itu juga memastikan masing-masing founder dapat melakukan perhitungan break even point dengan akurat. Sehingga keuntungan yang diterima masing-masing pendiri sesuai dengan kontribusi yang diberikan.

Cara pembagian dividen perusahaan juga menyesuaikan proporsi saham yang dimiliki. Perhitungan pembagian dividen akan bergantung pada jumlah keuntungan perusahaan kemudian dibagi sesuai persentase kepemilikan masing-masing individu.

Jumlah Pembagian Saham yang Diberikan ke Investor

Setelah mengetahui penghitungan kepemilikan saham antar founder, selanjutnya cara pembagian saham perusahaan juga dilihat dari risiko yang ditanggungnya.

Sebagai pemodal, Anda pun akan menanyakan berapa persen saham dan dividen yang akan dibagikan kepada investor. Penanam modal pun dapat memperoleh passive income dari dividen jika keuntungan yang didapat bisa stabil dalam waktu panjang.

Untuk jawaban atas pertanyaan tersebut, akan bergantung dari risiko yang ditanggung oleh perusahaan yang akan Anda berikan pendanaan. Bisa dikatakan jika pengalaman Anda sebagai pengelola telah tinggi, akan berbanding lurus dengan menurunnya angka risiko. Contohnya Anda telah berpengalaman di dunia saham dalam waktu yang lama, maka Anda pun akan bisa mendapatkan hasil yang tinggi.

Sedangkan jika Anda baru saja terjun di dunia bisnis, maka bisa saja persentase pembagian saham akan terlihat tak sebanding. Misalnya dalam perusahaan tersebut terdapat investor yang ingin memberikan modal kepada usaha yang Anda miliki. Maka untuk pembagiannya sendiri bisa jadi 70 persen untuk investor lain dan 30 persen untuk Anda.

Pembagian yang jelas juga akan memudahkan Anda untuk menarik investor asing untuk berinvestasi di usaha Anda. Prospektus yang jelas akan menambah kesan profesional sebuah perusahaan.

Apa Itu Saham Penghargaan?

Cara membagi saham perusahaan selanjutnya juga bisa dilakukan dengan saham penghargaan. Saham penghargaan adalah saham kosong yang diberikan tanpa harus membayar terlebih dahulu.

Menurut Finra, saham penghargaan berbeda dengan opsi saham. Umumnya hadiah ini diberikan kepada karyawan yang telah berjasa atau telah mampu untuk duduk di kursi direksi.

Sedangkan untuk besarannya sendiri tidak menentu. Akan tetapi, bisa Anda bayangkan apabila sebuah perusahaan memiliki saham yakni dengan nilai 200 triliun, maka mendapatkan saham sejumlah 1 persen saja, maka Anda pun telah mendapatkan saham yakni sebesar 2 triliun.

Sehingga, Anda bisa menjual saham tersebut dan menginvestasikan ulang dengan rata rata yakni 0.5 persen saja per bulannya. Anda pun nantinya akan bisa mendapatkan penghasilan pasif yakni senilai 10 miliar per bulan. Atau dalam per harinya adalah sekitar 330 juta rupiah. Tentunya angka atau nominal tersebut bukanlah angka yang sedikit.

Umumnya untuk cara pembagian saham ini akan didasarkan kepada kondisi perusahaan sekarang. Selain itu, ada pula yang didasarkan pada iming-iming maupun penggabungan dari keduanya. Adapun untuk cara penghitungannya adalah pertama, Anda bisa menghitung gaji yang pantas untuk karyawan yang akan diberikan saham tersebut.

Contohnya saja, untuk gaji tertinggi yang ada di luar perusahaan adalah 50 juta per bulan. Namun, Anda hanya sanggup untuk memberikan gaji yakni sebesar angka cukup yakni berada di angka 10 juta per bulan. Oleh karena itu, defisit 40 juta per bulan tersebut bisa dilakukan dengan masa kerja dari karyawan tersebut dan ditambah dengan masa kontak pada saat saham telah diberikan.

Untuk sistem bagi hasil ini umumnya bisa Anda temukan pada investor yang sekaligus menjadi rekan kerja. Apabila Anda mendirikan bisnis yang bekerja sama dengan teman, mungkin sistem satu ini akan bisa saja terjadi. Sehingga jika teman Anda memberikan modal dan menjadi rekan kerja aktif yang terhitung karyawan, maka partner sekaligus investor dari perusahaan yang Anda jalankan tersebut akan mendapatkan dua gaji.

Itulah hal yang perlu Anda tahu tentang pembagian saham di perusahaan. Pembagian tersebut akan berbeda dan tergantung dengan kondisi yang dimiliki oleh perusahaan. Namun, apabila Anda ingin menjadi investor tak ada salahnya untuk melihat latar belakang perusahaan terlebih dahulu. Hal ini bertujuan agar ketika Anda telah menanamkan modal atau saham tidak akan mengalami kerugian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *