Passive Income Dari Dividen Saham? Bisa!

Dividen Saham Sebagai Sumber Passive Income

Faktanya, berinvestasi dalam saham lumrah dilakukan investor untuk mendapatkan passive income. Saat merancang anggaran keuangan, Anda tentu telah mempertimbangkan berbagai cara mewujudkan kebebasan keuangan. Namun dapatkah meraih kebebasan keuangan cuma dari gaji semata? Jawabnya adalah sulit. Harus ada sumber lain sebagai passive income. Salah satu caranya adalah melalui dividen saham.

Harus dimengerti, jika gaji adalah pemasukan aktif yang untuk memperolehnya kita wajib bekerja. Selanjutnya, kita juga ingin memperoleh kenaikan gaji. Namun naiknya gaji pun ternyata belum bisa mencukupi segala kebutuhan sekaligus rencana finansial di masa depan. Bahkan berposisi sebagai manajer pun belum menjamin kita bisa mendapatkan kebebasan finansial yang didambakan.

Kebebasan finansial bisa dicapai dengan beragam cara, bukan hanya dari gaji ataupun penghasilan aktif saja. Strateginya yaitu harus punya penghasilan pasif. Penghasilan pasif tersebut dapat kita peroleh dari usaha atau bisnis yang dilakukan tanpa harus menghabiskan tenaga dan waktu kita.

Karena itu harus ada sumber pendapatan lain yang dapat diandalkan memberikan pemasukan tanpa kita perlu bekerja membanting tulang. Salah satu cara untuk mendapatkan passive income adalah melalui dividen saham yang sangat menarik untuk diterjuni.

Sumber Passive Income: Dividen Saham

Saat menanamkan investasi dalam instrumen saham, pastinya kita menginginkan profit. Profit itu berbentuk imbal hasil investasi yang terdiri dari capital gain serta dividen.

Capital gain adalah selisih dari harga jual dengan harga beli saham. Umpamanya, kita membeli saham dari emiten Unilever (UNVR) pada harga Rp. 2.900 kemudian setelah beberapa waktu kita menjualnya seharga Rp.3.500. Itu artinya, capital gain yang didapatkan dari saham itu sebesar Rp.600 / lbr saham. Bila dipersentasekan sebanyak 20%.

Selain dari capital gain, kita pun akan memperoleh imbal hasil saham yang lain yaitu dividen. Dividen adalah bagian dari laba emiten yang diberikan untuk pemegang saham. Selaku pemegang saham, pastinya kita menghendaki emiten yang dipilih sebagai sahamnya mampu terus memberikan laba  yang tinggi. Apabila emiten berhasil mencetak keuntungan yang tinggi, otomatis akan bisa memberikan keuntungan ke investor berupa dividen. Dividen itulah yang dapat diandalkan menjadi sumber passive income.

Dividen saham bisa dikatakan sebagai sumber passive income karena kita memperoleh profit dari keuntungan emiten tanpa mesti menghabiskan tenaga dan waktu untuk bekerja.

Nilai dividen yang diberikan oleh emiten ke pemegang saham tersebut adalah selisih dari laba perusahaan dikurangi laba ditahan. Laba ditahan adalah laba yang diamankan perusahaan dan hanya digunakan untuk biaya ekspansi di masa mendatang.

Investor secara umum dibedakan menjadi dua: investor jangka pendek dan investor jangka panjang. Apabila kita adalah investor jangka pendek, pastinya dividen dengan nilai besar itu yang diharapkan. Namun, bila kita termasuk investor jangka panjang, mendapatkan dividen dengan nilai kecil tentu tak masalah sepanjang emiten yang dimiliki sahamnya bisa melakukan ekspansi untuk pengembangan perusahaan.

Di samping itu, kita pun harus mengetahui cara menghitung dividen per lembar saham lewat nilai Dividend Payout Ratio (DPR). Nilai DPR saham tersebut adalah persentase dividen dari laba bersih perusahaan.

Emiten besar semisal Unilever Indonesia (UNVR) atau HM Sampoerna (HMSP) adalah contoh perusahaan dengan nilai DPR yang dapat berada di angka 100%. Itu artinya semua keuntungan perusahaan dibagikan untuk para pemegang saham.

payout history dari dividen UNVR
Contoh payout history dari emiten UNVR. Sumber: finbox.com.

Bila perusahaan seperti Sampoerna atau Unilever tadi akan berekspansi mengembangkan perusahaan maka ia akan memanfaatkan uang kas. Kedua perusahaan itu memang memiliki kas dalam jumlah besar yang membuatnya tak lagi perlu laba ditahan untuk mendanai ekspansi.

Emiten dengan angka DPR rendah umumnya adalah perusahaan yang sedang berekspansi, oleh karena itu perlu anggaran untuk mendanai langkah pengembangan perusahaan tersebut. Perusahaan yang sedang tumbuh biasanya menghasilkan nilai DPR kira-kira 20 % sampai 50 %.

Di samping DPR, kita juga mesti menghitung Dividend Yield dari emiten yang sahamnya kita beli. Dividend yield yaitu dividen per saham dimana kemudian hasilnya dibagi dengan harga pasar saham. Atau dapat dikatakan, dividend yield yaitu tingkat profit yang dihasilkan perusahaan itu.

Misalnya, kita memegang saham Indofood CBP Sukses Makmur dengan kode ICBP dimana perusahaan ini mampu membagikan dividen per saham senilai Rp500. Harga pasar saham hari ini yaitu Rp8.800. Sehingga, dividend yield dari saham Indofood yaitu 5%.

dividend yield emiten HMSP
Dividend Yield dari HMSP sebesar 8.94%. Sumber: finbox.

Emiten dengan angka dividend yield besar, pasti harga sahamnya mengalami kenaikan utamanya ketika pembagian dividen diumumkan.

Antara DPR dan dividend yield mana yang harus dipegang sebagai investor? Tentunya dividend yield, karena berhubungan dengan harga saham yang kita pegang. Sebagai investor pastinya lebih senang dengan perusahaan yang mempunyai tingkat return lebih tinggi, walau terkadang perusahaan dengan dividend yield rendah lebih diminati.

Poin yang mesti dipahami yakni tak setiap emiten dengan nilai DPR besar juga punya nilai dividend yield yang besar juga.

Setiap perusahaan memiliki cara pembagian dividen saham yang berbeda-beda. Dua cara yang paling umum adalah dividen tunai dan dividen saham.

Dividen tunai tersebut akan dibagikan berwujud tunai, sementara dividen saham akan memberikan saham gratis untuk pemegang saham. Untuk Indonesia, dividen saham berbentuk tunai adalah yang paling banyak dipilih emiten. Sementara dividen saham biasanya dibagikan apabila kondisi kas perusahaan tak memungkinkan bila harus dibagi dividen tunai.

Tips Memilih Saham Berdividen untuk Pemula

Untuk berinvestasi saham, Anda mesti mengetahui cara membeli saham. Pemilik modal diwajibkan membuka rekening efek yang didukung perusahaan sekuritas. Begitu rekening dimiliki maka investor mesti mengisinya dengan uang sejumlah tertentu. Dana itulah yang kemudian digunakan layaknya e-money.

Ketika membeli saham, ada biaya transaksi yang harus ditanggung investor. Karena itu investor pemula sebaiknya memilih mana perusahaan sekuritas yang memberlakukan biaya cukup rendah. Biaya pembelian biasanya 0,19% namun ada juga yang cuma 0,15%. Sedangkan biaya penjualan umumnya sebesar 0,29% meski ada juga yang hanya 0,20%.

Para pemula pun biasanya kesulitan menentukan saham mana yang mesti dibeli. Karena itu tipsnya untuk pembelian saham pertama silahkan memilih saham yang terdaftar dalam indeks IDX High Dividend 20. Tidak usah risau, berbagai saham itu umumnya punya likuiditas cukup tinggi dengan fundamental yang sangat bagus.

Untuk mencari saham yang memiliki dividen tinggi, lihat rasio DPR dan Dividend Yield yang dimiliki emiten. Semakin tinggi maka semakin bagus.

Jadi dalam berinvestasi di saham, tak cuma profit dalam bentuk capital gain saja yang bakal diperoleh, profit berbentuk dividen juga dapat dinikmati dan dapat sebagai salah satu sumber passive Income untuk kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *