Lompat ke konten
Daftar Isi
ForexIMF leaderboard banner ads.

Cash Ratio (Rasio Kas): Pengertian, Rumus, Cara Menghitung, Contoh

Cash Ratio (Rasio Kas): Pengertian, Rumus, Cara Menghitung, Contoh

Pernahkah Anda berpikir bagaimana jika berpergian ke mana-mana tapi tidak punya uang tunai di dompet dan tidak punya saldo uang di mobile banking? Ya, pasti Anda akan kebingungan. Apalagi jika di tengah jalan ban kendaraan Anda bocor atau punya kebutuhan mendesak lainnya. 

Sama halnya dengan untuk memenuhi kebutuhan individu, posisi uang kas dalam sebuah perusahaan juga sangat penting baik untuk melakukan transaksi yang terjadi saat itu juga maupun untuk berjaga jaga. Perbandingan ini sering menjadi pertimbangan bagi investor saham dengan menganalisa laporan keuangan.

Sebab, uang kas dapat langsung ditukarkan dengan apapun yang dibutuhkan oleh perusahaan entah itu membeli peralatan maupun bayar utang. Maka dari itu, tidak heran jika kas menjadi aset yang paling likuid dalam akuntansi dan harus dihitung benar-benar. 

Salah satu indikator dalam laporan keuangan yang menjadikan kas sebagai faktor utama adalah cash ratio atau rasio kas. Rasio kas harus dihitung dengan teliti supaya kas perusahaan cukup untuk memenuhi kebutuhan perusahaan tersebut.

Pengertian Cash Ratio

Cash ratio (rasio kas) adalah rasio perbandingan antara jumlah uang kas dan setara uang kas yang dimiliki perusahaan dengan kewajiban atau utang jangka pendek perusahaan tersebut. Setara uang kas di sini adalah aset lain yang bisa segera dicairkan menjadi uang kas. 

Contoh sederhananya adalah, jika Anda punya utang 100.000 kepada seseorang bernama A dan tiba-tiba A menagih utang tersebut padahal saat itu Anda hanya punya uang tunai 50.000. Tapi, Anda tidak khawatir sebab di dalam tabungan, Anda punya uang 200.000 yang bisa segera Anda ambil. 

Dalam kasus ini, yang dinamakan uang kas adalah uang 50.000 yang Anda pegang sedangkan yang dinamakan setara kas adalah uang 200.000 yang bisa segera Anda ambil. Rasio kas adalah perbandingan antara uang yang Anda pegang ditambah uang dalam tabungan Anda dengan total utang Anda kepada A. 

Nilai Ideal Cash Ratio

Nilai Cash ratio yang baik adalah jika hasil perbandingannya sama dengan 1. Ini artinya jumlah uang tunai yang dimiliki oleh perusahaan tersebut sama besar dengan utang yang harus dibayarkan. 

Jika nilai rasio ini kurang dari 1, maka artinya perusahaan tidak memiliki uang tunai yang cukup untuk membayar utang jangka pendek mereka sehingga ketika utang tersebut ditagih, mereka harus menjual aset-aset lainnya. Sebaliknya jika nilai rasio kas sebuah perusahaan lebih dari 1, artinya uang tunai milik perusahaan tersebut lebih dari cukup untuk membayar utang. 

Nilai cash ratio yang besar tidak selalu memiliki arti baik sebab, bisa saja sebuah perusahaan yang memiliki cash ratio yang besar adalah perusahaan yang enggan berinvestasi. 

Sebaliknya, nilai cash ratio yang rendah bisa mengindikasikan bahwa perusahaan tersebut sedang ekspansi sehingga, Anda harus mempertimbangkan indikator keuangan lain seperti current ratio dan rasio solvabilitas juga supaya hasil analisis Anda valid.

Manfaat Cash Ratio

Bagi investor atau kreditur, mengetahui nilai rasio ini akan membantu mereka mengerti tingkat keamanan berinvestasi atau meminjamkan uang kepada sebuah perusahaan. Gampangnya tentu Anda akan berpikir pikir lagi untuk meminjamkan uang kepada orang yang utangnya sudah banyak dan tidak punya uang sepeserpun di dompet. 

Adapun manfaat menghitung rasio kas bagi sebuah perusahaan adalah agar perusahaan tersebut tahu apakah mereka dapat membayar kebutuhan jangka pendek yang mereka miliki dan mendefinisikan kebijakan untuk mengatasi masalah jika ternyata uang tunai yang mereka punya tidak mampu menutupi utang jangka pendek mereka. 

Rumus Cash Ratio

Rumus cash ratio adalah:

Cash ratio = (uang kas + aset setara uang kas) / utang jangka pendek

Dilansir dari laman Investopedia, yang dimaksud dengan aset setara uang kas adalah aset-aset yang memiliki kriteria berikut:

  1. Aset yang dapat dicairkan dengan mudah entah itu dijual di pasar modal maupun di pasar keuangan. 
  2. Memiliki struktur pasar sekunder yang kuat atau memiliki tingkat likuiditas tinggi sehingga dapat memfasilitasi transaksi jual beli dengan mudah dan dengan harga yang tepat.
  3. Biasanya instrumen ini adalah instrumen yang tingkat keuntungan dan resiko nya relatif rendah. 

Contoh instrumen yang bisa masuk ke dalam kategori ini adalah saham biasa, obligasi pemerintah dan instrumen pasar keuangan lainnya (termasuk deposito sebagaimana contoh di bagian sebelumnya). 

Contoh Perhitungan Cash Ratio

PT Maju Mundur Nusantara Tbk memiliki aset lancar sebesar 500 juta rupiah. Di antara uang 500 juta tersebut terdapat 150 juta uang tunai dan tabungan biasa di rekening bank, 100 juta deposito dan 100 juta aset dalam bentuk obligasi pemerintah. 

Di saat yang sama, perusahaan tersebut harus membayar utang lancar sebesar 350 juta rupiah kepada bank dan supplier. Maka, nilai rasio kas PT Maju Mundur Nusantara adalah sebesar:

Cash ratio = (150 juta + 100 juta + 100 juta) : 350 juta = 1

Dengan memiliki nilai cash ratio sama dengan 1, artinya total uang kas dan aset setara uang kas yang dimiliki oleh PT Maju Mundur Nusantara Tbk cukup untuk membayar semua utang lancar mereka. Hanya saja, jika utang tersebut harus dibayar dalam satu kali waktu, akibatnya PT Maju Mundur Nusantara Tbk tidak akan memiliki sisa uang kas lagi. 

Faktor Yang Mempengaruhi Cash Ratio

Sama seperti indikator keuangan lainnya, tidak ada standar rasio kas untuk semua industri. Standar rasio kas pada setiap industri yang berbeda beda. Berikut ini beberapa faktor yang bisa mempengaruhi nilai rasio ini:

1. Jenis Industri

Beberapa industri secara natural cukup tergantung dengan adanya utang atau kewajiban lancar. Contoh dari jenis industri ini adalah industri konstruksi yang biasanya perlu pinjam ke bank dulu supaya bisa membangun rumah atau kantor. Industri perbankan itu sendiri juga tergantung dengan ‘utang’ berupa simpanan yang diperoleh bank dari nasabah. 

Oleh sebab itu, supaya analisis yang Anda lakukan bisa reliable, bandingkan beberapa perusahaan yang bergerak di dalam industri yang sama dan ambil rata-ratanya. 

2. Kondisi Perusahaan

Perusahaan yang sedang tumbuh biasanya rajin menggunakan uang kas yang mereka miliki untuk investasi. Di sisi lain, perusahaan yang sedang ada dalam tahap ini acap kali juga tidak sungkan untuk meminjam uang ke bank atau mencari pendanaan tambahan ke investor. 

Akibatnya adalah, tingkat cash ratio perusahaan seperti ini kemungkinan besar akan rendah. 

3. Kondisi Ekonomi

Sama seperti individu pada umumnya, kondisi ekonomi yang tidak stabil di suatu negara akan membuat perusahaan lebih memilih mencairkan aset yang mereka miliki di pasar modal sehingga  rasio kas perusahaan tersebut akan besar. 

Kesimpulan

Cash ratio membandingan jumlah kas perusahaan dengan utang lancar perusahaan tersebut. Nilai rasio ini akan membantu Anda mengidentifikasi risiko berinvestasi di sebuah perusahaan. 

nv-author-image

Farichatul Chusna

Setelah lulus dari Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Farichatul Chusna aktif sebagai penulis artikel ekonomi, investasi, bisnis, dan keuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *