Lompat ke konten

Daftar Saham Media Terbaik di Indonesia (2022)

Emiten Media Top

Performa keuangan saham sektor media massa berpeluang melonjak tahun 2022 ini didorong peningkatan permintaan iklan. Penikmat konten digital yang makin meningkat pun akan memperbesar laba yang dapat ditangguk emiten media pada tahun mendatang. Pada kuartal pertama 2021 lalu, sejumlah emiten media sukses meningkatkan kinerja usai terpuruk.

Berikut rekomendasi daftar saham media dengan performa terbaik di tahun 2021 untuk Anda yang berminat masuk pasar saham industri media di tahun 2022:

1. Surya Citra Media (SCMA)

Surya Citra Media (SCMA)

PT. Surya Citra Media adalah perusahaan yang menaungi dua stasiun televisi besar di Indonesia yaitu SCTV dan Indonesiar. Pada akhir 2021, perusahaan ini berhasil membukukan laba bersih sebesar 1,087 triliun. Jumlah ini lebih besar dibandingkan akhir tahun 2020 yang mana SCMA hanya bisa membukukan laba 911 miliar.

Bila untuk tahun sebelumnya kinerja sektor ini jatuh gegara pandemi, recovery ekonomi mulai terlihat tahun ini sehingga diharapkan memperbesar porsi belanja iklan perusahaan yang sering menempatkan iklan di media. Hanya saja mesti diwaspadai, Surya Citra Media tahun ini pun sedang berkonsentrasi berekspansi pada konten Vidio.com.

Faktor tersebut walhasil memicu penambahan biaya produksi yang berpeluang mengurangi marjin laba yang didapat. Sekarang Vidio telah mengantongi 72 juta pelanggan aktif di mana 1,45 juta adalah pelanggan premium. Pencapaian itu dianggap telah sesuai dengan target SCMA sebesar 2 juta pelanggan berbayar hingga penghujung tahun.

SCMA termasuk saham media paling bagus untuk dikoleksi, karena sudah masuk ke dalam indeks saham Kompas100 yang berisi 100 perusahaan top di Indonesia.

2. Media Nusantara Citra (MNCN)

Media Nusantara Citra (MNCN)

Media Nusantara Citra atau MNCN adalah perusahaan yang bergerak di bidang media terpadu. Perusahaan ini tidak hanya memiliki 4 saluran televisi nasional saja (RCTI, GTV, MNC TV dan iNews) tapi juga mengembangkan layanan TV digital yang bisa dibayar menggunakan dompet elektronik (QRIS). MNC juga memiliki anak perusahaan MNC Vision Networks (IPTV) yang merupakan salah satu perusahaan telekomunikasi terkemuka.

Dengan berbagai layanan bisnis yang dimiliki ini, tidak heran rasanya jika MNCN bisa bertahan menghadapi pandemi covid19 ini. Terhitung per September 2021 lalu, perusahaan milik Harry Tanoe ini berhasil mendapatkan laba bersih sebesar 1,8 triliun rupiah. Jumlah ini 400 miliar lebih besar dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

3. Mahaka Radio Integra (MARI)

Mahaka Radio Integra (MARI)

MARI atau PT Mahaka Radio Integra adalah perusahaan media yang menaungi beberapa radio di Jakarta dan Jawa Barat. Sepanjang tahun 2021, harga saham perusahaan ini terus merangkak naik. Hal ini diperkirakan karena pamor aplikasi podcast dan radio yang dikembangkan perusahaan ini yaitu Noice juga sedang naik.

Meskipun demikian, perusahaan ini masih belum bisa mencetak laba. Pada kuartal ketiga tahun 2021, MARI justru membukakn kerugian hingga 15 miliar rupiah. Nilai ini memang cukup besar, namun apabila dibandingkan pada periode yang sama di tahun 2020, perusahaan telah berhasil memangkas keruugian sebanyak 3 miliar.

4. Elang Mahkota Teknologi (EMTK)

Elang Mahkota Teknologi (EMTK)

Elang Mahkota Teknologi ada dalam kelompok emiten berkapitalisasi pasar melebihi Rp 100 triliun. Sesuai data yang dirilis IDN Financial, kapitalisasi pasar EMTK sebanyak Rp 147 triliun pada Desember 2021. Perusahaan ini menaungi beberapa televisi termasuk SCTV dan beberapa perusahaan penyedia infrastruktur dan teknologi informasi dan komunikasi.

Performa fundamental EMTK tahun kemarin terhitung apik kendati kondisi masih pandemi Covid-19. Pada kuartal ketiga tahun 2021 misalnya, perusahaan membukakn laba sebesar 549 miliar rupiah. Jumlah ini memang jauh lebih rendah dibandingkan tahun 2020 yang bisa mencapai 1,8 triliun. namun demikian, pengurangan ini lebih disebabkan karena kerugian yang dialami oleh entitas anak perusahaan alih-alih oleh perusahaan induk.

5. Digital Mediatama Maxima (DMMX)

Digital Mediatama Maxima (DMMX)

Salah satu perusahaan media yang sedang naik daun pada tahun 2021 ini adalah PT Digital Mediatama Maxima atau DMMX. Perusahaan yang baru IPO pada akhir tahun 2019 ini kini memiliki harga saham senilai 2720 rupiah per lembar. Padahal awalnya, harga IPO saham perusahaan ini hanyalah 282 rupiah per lembar.

Hal ini bukan karena tanpa alasan. Perusahaan yang menyediakan layanan iklan digital di berbagai toko modern di seluruh Indonesia ini mencatatkan penlaba bersih senilai 24,8 triliun rupiah. Nilai ini 3 kali lipat lebih besar dibandingkan periode yang sama tahun 2020 lalu. Ketika itu, DMMX hanya membukukan laba bersih senilai 7,3 triliun rupiah.

6. Graha Layar Prima (BLTZ)

Graha Layar Prima (BLTZ)

Graha Layar Prima (Blitz) adalah perusahaan layanan perfilaman beserta industri yang menyertainya. Jika Anda masih asing dengan perusahaan ini, maka mudahnya Blitz adalah perusahaan yang menaungi bioskop CGV beserta restoran yang ada di sekitar bioskop tersebut.

Sepanjang tahun 2021, harga saham Blitz terus berfluktuasi pada harga kisaran 3000-4680 per lembar. Tentunya hal ini berkaitan dengan larangan menonton film di bioskop selama pandemi. Jadi, tidak heran jika ketika bioskop mulai dibuka kembali ketika kondisi sudah normal, harga saham Blitz bisa naik.

Meskipun kondisi ekonomuii sudah mulai membaik, tapi tampaknya Blitz harus menunggu lebih lama lagi. Sebab, pada laporan keuangan kuartal ketiga 2021, perusahaan ini membukukan rugi sebesar 233 miliar rupiah. Jumlah ini memang masih lebih baik daripada tahun 2020, namun perkembangan bisnis Blitz masih perlu diawasi lagi sebab, seiring dengan adanya pandemi, jumlah layanan streaming di Indonesia juga meningkat. Layanan streaming seperti, Netflix, Disney Hotstar atau Viu tentu menjadi anvcaman bisnis bioskoo pada umumnya.

7. MD Pictures (FILM)

MD Pictures (FILM)

Sektor perfilman adalah bidang yang benar-benar terdampak pandemi Covid-19. Diberlakukannya pembatasan aktifitas masyarakat di luar rumah pun mengganggu semua kegiatan syuting dan produksi.

FILM merupakan emiten perfilman yang pertama kali listing di bursa. Perusahaan ini sukses menghasilkan beberapa judul film favorit. Pasar yang tak menentu dalam masa pandemi Covid 19 berangsur pulih di tahun 2021.

Tercatat hingga kuartal ketiga tahun 2021, perusahaan milih Punjabi bersaudara ini berhasil mendapatkan laba bersih sebesar 19 triliun. Hal ini berbalik dengan periode yang sama pada tahun 2020 yang mana MD Pictures justru membukukan kerugian hingga lebih dari 45 miliar rupiah.

8. Tempo Inti Media (TMPO)

Tempo Inti Media (TMPO)

Tempo Inti Media makin serius dalam menjawab fenomena go online yang semakin marak. Termasuk langkah strategis yang diambil yaitu mengantarkan PT Info Media Digital (IMD) listing di bursa saham. IMD merupakan anak perusahaan TMPO yang membawahi website berita tempo.co dan beberapa strategic business unit (SBU).

Pada kuartal kedua tahun 2021, perusahaan yang sempat dibredel pada zaman orde baru ini berhasil mencetak keuntungan sebesar 1,4 miliar. Hal ini tentu pertanda baik mengingat bahwasanya pada periode April hingga Juni 2020 Tempo merugi hingga 24 miliar rupiah.

Dari segi harga saham, harga saham tempo bergerak cukup fluktuatif diangka 130 sampai 200 rupiah per lembar sepanjang tahun 2021. Hal ini membuat saham perusahaan majalah ini masih cukup terjangkau untuk investor pemula.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.