Lompat ke konten
Daftar Isi

Daftar Saham Media Terbaik di Indonesia (2023)

Emiten Media Top

Sektor media adalah salah satu sektor saham yang diperkirakan akan mengalami bullish trend pada tahun 2023 ini. Terdapat beberapa alasan yang melatarbelakangi hal ini. Pertama, usaha emiten media untuk melebarkan sayapnya di industri layanan streaming over the top kini mulai membuahkan hasil.

Kedua, tahun 2024 adalah tahun Pemilihan Umum Presiden Republik Indonesia, sehingga diperkirakan tahun ini para pelaku industri media akan kebanjiran pendapatan dari iklan. Belum lagi dengan adanya layanan streaming sebagai salah satu sektor yang paling boomig, tidak menutup kemungkinan para pengiklan akan menggunakan jalur iklan di aplikasi tersebut juga.

Namun, sebelum Anda mulai membeli saham di sektor ini, berikut ini beberapa saham media terbaik tahun 2023:

1. Surya Citra Media (SCMA)

Surya Citra Media (SCMA)

PT. Surya Citra Media adalah perusahaan yang menaungi dua stasiun televisi besar di Indonesia yaitu SCTV dan Indonesiar. Pada akhir 2021, perusahaan ini berhasil membukukan laba bersih sebesar 741 miliar rupiah. Jumlah ini lebih kecil dibandingkan akhir tahun 2021 yang mana SCMA hanya bisa membukukan laba lebih dari 1 triliun rupiah.

Bila untuk tahun sebelumnya kinerja sektor ini jatuh gegara pandemi, recovery ekonomi mulai terlihat tahun ini sehingga diharapkan memperbesar porsi belanja iklan perusahaan yang sering menempatkan iklan di media. Hanya saja mesti diwaspadai, Surya Citra Media tahun ini pun sedang berkonsentrasi berekspansi pada konten Vidio.com.

Faktor tersebut walhasil memicu penambahan biaya produksi yang berpeluang mengurangi marjin laba yang didapat. Sekarang Vidio telah mengantongi 72 juta pelanggan aktif di mana 1,45 juta adalah pelanggan premium. Pencapaian itu dianggap telah sesuai dengan target SCMA sebesar 2 juta pelanggan berbayar hingga penghujung tahun.

Kesuksesan vidio.com menyajikan tayangan Piala Dunia 2022 membuktikan bahwa aplikasi yang satu ini juga berpotensi untuk menayangkan serba serbi pemilu tahun depan. SCMA termasuk saham media paling bagus untuk dikoleksi, karena sudah masuk ke dalam indeks saham Kompas100 yang berisi 100 perusahaan top di Indonesia.

2. Media Nusantara Citra (MNCN)

Media Nusantara Citra (MNCN)

Media Nusantara Citra atau MNCN adalah perusahaan yang bergerak di bidang media terpadu. Perusahaan ini tidak hanya memiliki 4 saluran televisi nasional saja (RCTI, GTV, MNC TV dan iNews) tapi juga mengembangkan layanan TV digital yang bisa dibayar menggunakan dompet elektronik (QRIS). MNC juga memiliki anak perusahaan MNC Vision Networks (IPTV) yang merupakan salah satu perusahaan telekomunikasi terkemuka.

Dengan berbagai layanan bisnis yang dimiliki ini, tidak heran rasanya jika MNCN bisa bertahan menghadapi pandemi covid19 ini. Terhitung per September 2022 lalu, perusahaan milik Harry Tanoe ini berhasil mendapatkan laba bersih sebesar 1,8 triliun rupiah dari pendapatan di atas 7 triliun rupiah. Jumlah laba ini 100 miliar lebih besar dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

3. Mahaka Radio Integra (MARI)

Mahaka Radio Integra (MARI)

MARI atau PT Mahaka Radio Integra adalah perusahaan media yang menaungi beberapa radio di Jakarta dan Jawa Barat. Sepanjang tahun 2021, harga saham perusahaan ini terus merangkak naik. Hal ini diperkirakan karena pamor aplikasi podcast dan radio yang dikembangkan perusahaan ini yaitu Noice juga sedang naik.

Meskipun demikian, perusahaan ini masih belum bisa mencetak laba. Pada kuartal ketiga tahun 2022, MARI justru membukakn kerugian hingga 80 miliar rupiah. Dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, besaran kerugian yang harus ditanggung oleh perusahaan ini naik hingga lebih dari 5 kali lipat, sebab pada September 2021, nominal kerugian yang diderita Mari hanya sebesar 15 miliar rupiah.

4. Elang Mahkota Teknologi (EMTK)

Elang Mahkota Teknologi (EMTK)

Elang Mahkota Teknologi sempat menjadi kelompok emiten berkapitalisasi pasar melebihi Rp 100 triliun tahun lalu. Sesuai data yang dirilis IDN Financial, kapitalisasi pasar EMTK sebanyak Rp 147 triliun pada Desember 2021 namun turun menjadi 61 miliar pada Januari 2023. Perusahaan ini menaungi beberapa televisi termasuk SCTV dan beberapa perusahaan penyedia infrastruktur dan teknologi informasi dan komunikasi.

Performa fundamental EMTK tahun kemarin terhitung apik kendati kondisi masih pandemi Covid-19. Pada kuartal ketiga tahun 2022 misalnya, perusahaan membukakn laba lebih dari 5 triliun rupiah. Jumlah ini naik hingga 10 kali lipat dibandingkan dengan laba perusahaan tersebut pada September 2021.

5. Digital Mediatama Maxima (DMMX)

Digital Mediatama Maxima (DMMX)

Salah satu perusahaan media yang sedang naik daun pada tahun 2021 ini adalah PT Digital Mediatama Maxima atau DMMX. Perusahaan yang baru IPO pada akhir tahun 2019 ini kini memiliki harga saham senilai 2720 rupiah per lembar. Padahal awalnya, harga IPO saham perusahaan ini hanyalah 282 rupiah per lembar.

Hal ini bukan karena tanpa alasan. Perusahaan yang menyediakan layanan iklan digital di berbagai toko modern di seluruh Indonesia ini mencatatkan penlaba bersih senilai 24,8 triliun rupiah. Nilai ini 3 kali lipat lebih besar dibandingkan periode yang sama tahun 2020 lalu. Ketika itu, DMMX hanya membukukan laba bersih senilai 7,3 triliun rupiah.

6. Graha Layar Prima (BLTZ)

Graha Layar Prima (BLTZ)

Graha Layar Prima (Blitz) adalah perusahaan layanan perfilaman beserta industri yang menyertainya. Jika Anda masih asing dengan perusahaan ini, maka mudahnya Blitz adalah perusahaan yang menaungi bioskop CGV beserta restoran yang ada di sekitar bioskop tersebut.

Sepanjang tahun 2022, harga saham Blitz terus berfluktuasi pada harga kisaran 2600-3480 per lembar. Tentunya hal ini berkaitan dengan larangan menonton film di bioskop selama pandemi. Jadi, tidak heran jika ketika bioskop mulai dibuka kembali ketika kondisi sudah normal, harga saham Blitz bisa naik.

Meskipun kondisi ekonomuii sudah mulai membaik, tapi tampaknya Blitz harus menunggu lebih lama lagi. Sebab, pada laporan keuangan kuartal ketiga 2022, perusahaan ini membukukan rugi sebesar 14 miliar rupiah. Jumlah ini memang masih lebih baik daripada tahun 2020 dan 2021, namun perkembangan bisnis Blitz masih perlu diawasi lagi sebab, seiring dengan adanya pandemi, jumlah layanan streaming di Indonesia juga meningkat. Layanan streaming seperti, Netflix, Disney Hotstar atau Viu tentu menjadi anvcaman bisnis bioskoo pada umumnya.

7. MD Pictures (FILM)

MD Pictures (FILM)

Tidak dapat dipungkiri bahwasanya sektor perfilman adalah bidang yang benar-benar terdampak pandemi Covid-19. Namun nyatanya, insan perfilman dan masyarakat Indonesia mampu beradaptasi dengan baik, sehingga ketika pandemi usai, industri film negeri ini kembali menggeliat dan bahkan memecahkan jumlah penonton terbanyak sepanjang masa.

FILM merupakan emiten perfilman yang pertama kali listing di bursa. Perusahaan ini sukses menghasilkan beberapa judul film favorit. Pasar yang tak menentu dalam masa pandemi Covid 19 berangsur pulih di tahun 2021.

Tercatat hingga kuartal ketiga tahun 2022, perusahaan milih Punjabi bersaudara ini berhasil mendapatkan laba bersih sebesar 151 miliar rupiah dari pendapatan sebesar 381 miliar rupiah. Jumlah laba ini naik hingga lebih dari 7 kali lipat dibandingkan September tahun 2021 lalu yang hanya menembus 19 miliar rupiah.

Tidak dapat dipungkiri bahwa kenaikan jumlah laba ini salah satunya adalah akibat tingginya antusiasme masyarakat untuk menonton film “KKN di Desa Penari”. Diberitakan bahwasanya film ini menjadi film Indonesia dengan jumlah penonton terbanyak, yaitu sebesar 9,2 juta penonton.

8. Tempo Inti Media (TMPO)

Tempo Inti Media (TMPO)

Tempo Inti Media makin serius dalam menjawab fenomena go online yang semakin marak. Termasuk langkah strategis yang diambil yaitu mengantarkan PT Info Media Digital (IMD) listing di bursa saham. IMD merupakan anak perusahaan TMPO yang membawahi website berita tempo.co dan beberapa strategic business unit (SBU).

Pada kuartal tiga tahun 2022, perusahaan yang sempat dibredel pada zaman orde baru ini harus membukukan kerugian sebesar 808 juta rupiah. Dari segi harga saham, harga saham tempo bergerak cukup fluktuatif diangka 135 sampai 150 rupiah per lembar sepanjang tahun 2022. Hal ini membuat saham perusahaan majalah ini masih cukup terjangkau untuk investor pemula.

nv-author-image

Pratomo Eryanto

Pratomo Eryanto memiliki motto "Investasi tidak harus membosankan". Sebagai penggiat dunia pasar saham, Pratomo memiliki misi meningkatkan literasi finansial masyarakat Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *