Daftar Saham Media Terbaik di Indonesia (2021)

Emiten Media Top

Performa keuangan saham sektor media massa berpeluang melonjak tahun 2021 ini didorong peningkatan permintaan iklan. Penikmat konten digital yang makin meningkat pun akan memperbesar laba yang dapat ditangguk emiten media pada tahun mendatang. Pada kuartal pertama 2021 sejumlah emiten media sukses meningkatkan kinerja usai terpuruk.

Berikut rekomendasi daftar saham media dengan performa terbaik di 2021.

1. Surya Citra Media (SCMA)

Surya Citra Media (SCMA)

Perusahaan media ini mampu membukukan peningkatan pendapatan sebanyak 7,69% yoy. Performa keuangan saham di sektor media sepertinya kompak meningkat tahun ini.

Bila untuk tahun sebelumnya kinerja sektor ini jatuh gegara pandemi, recovery ekonomi mulai terlihat tahun ini sehingga diharapkan memperbesar porsi belanja iklan perusahaan yang sering menempatkan iklan di media. Hanya saja mesti diwaspadai, Surya Citra Media tahun ini pun sedang berkonsentrasi berekspansi pada konten Vidio.com.

Faktor tersebut walhasil memicu penambahan biaya produksi yang berpeluang mengurangi marjin laba yang didapat. Sekarang Vidio telah mengantongi 72 juta pelanggan aktif di mana 1,45 juta adalah pelanggan premium. Pencapaian itu dianggap telah sesuai dengan target SCMA sebesar 2 juta pelanggan berbayar hingga penghujung tahun.

SCMA termasuk saham media paling bagus untuk dikoleksi, karena sudah masuk ke dalam indeks saham Kompas100 yang berisi 100 perusahaan top di Indonesia.

2. Media Nusantara Citra (MNCN)

Media Nusantara Citra (MNCN)

MNCN memantapkan diri sebagai salah satu saham media terbaik dengan menorehkan peningkatan pendapatan. Performa Media Nusantara Citra berpeluang meningkat sebab ditopang pertumbuhan audience share sebesar 53%. Audience share yang meningkat maka pendapatan MNCN pun berpeluang melonjak dua digit pada kuartal pertama tahun ini.

Saham emiten kepunyaan Hary Tanoesoedibjo ini tetap direkomendasikan untuk dikoleksi karena potensi pertumbuhan pendapatan di tahun 2021. MNCN pun merilis model bisnis terbaru di FTA iklan yaitu e-TV Mall. Dengannya para penonton dapat memesan produk yang diiklankan dengan metode pembayaran QRIS yang tertera di layar TV.

MNC juga memiliki anak perusahaan MNC Vision Networks (IPTV) yang merupakan salah satu perusahaan telekomunikasi terkemuka.

3. Mahaka Radio Integra (MARI)

Mahaka Radio Integra (MARI)

Sektor media tahun 2021 ini diperkirakan bullish bersamaan dengan peningkatan kinerja yang kuat. Kalangan perusahaan yang tahun kemarin mengendalikan belanja iklan, namun tahun ini banyak yang meningkatkan pengeluaran untuk iklan.

Saham perusahaan pengelola radio tersebut mampu melonjak hingga 218% serta membukukan kapitalisasi pasar hingga Rp 1,5 triliun. Bukan hanya investor lokal, investor asing pun banyak yang memborong saham media ini.

Penguatan harga saham MARI disebabkan munculnya sentimen yang menyebutkan jika perusahaan sedang menjalankan peningkatan bisnis berupa aplikasi digital NOICE. NOICE adalah bagian dari lini bisnis terbaru digital Mahaka Media (ABBA) sebagai hasil adaptasi akan perubahan medi sejak hantaman pandemi Covid-19. Paling tidak Alpha JWC dan Kinesys Group siap menanamkan investasinya dalam proyek tersebut.

4. Elang Mahkota Teknologi (EMTK)

Elang Mahkota Teknologi (EMTK)

Elang Mahkota Teknologi ada dalam kelompok emiten berkapitalisasi pasar melebihi Rp 100 triliun. Sesuai data yang dirilis RTI, kapitalisasi pasar EMTK sebanyak Rp 129,25 triliun pada Februari 2021.

Performa fundamental EMTK tahun kemarin terhitung apik kendati kondisi masih pandemi Covid-19. Sementara di tahun 2019 dan 2018, perusahaan media ini masih menderita net loss. Prospek usaha EMTK pun didapatkan berkat tren konsumen yang serba digital. Juga komitmen pemerintah untuk pembangunan infrastruktur yang akan memudahkan berbagai akses.

Termasuk dalam emiten berbasis teknologi, EMTK tetap menawarkan potensi bisnis yang mengesankan. Seperti diketahui EMTK memiliki tiga divisi bisnis utama meliputi media, telekomunikasi serta solusi TI termasuk konektivitas.

5. Digital Mediatama Maxima (DMMX)

Digital Mediatama Maxima (DMMX)

DMMX mampu mencatat peningkatan top line serta bottom line sebanyak 65,2% dan 541,4% yoy. Jumlah pendapatan untuk enam bulan pertama 2021 menyentuh angka Rp363,3 miliar. Sementara laba bersih perusahaan mencapai Rp115,8 miliar.

Peningkatan pendapatan ditopang dari cloud advertising dan trade marketing. Bisnis digital cloud advertising mampu mencetak Rp11,9 miliar yang artinya meningkat 107,6% yoy. Lalu  trade marketing meningkat 65,9% yoy hingga Rp284,2 miliar.

Adapun untuk bottom line, perluasan organik dari operasi serta laba investasi memicu peningkatannya. Perusahaan pun mencatatkan laba dari investasi lainnya sebanyak Rp105 miliar. Perusahaan membeli saham PT Telefast Indonesia sebesar 50 juta lembar saham pada harga Rp.800 / saham yang setara Rp40 miliar.

6. Graha Layar Prima (BLTZ)

Graha Layar Prima (BLTZ)

Pada 13 September 2021 saham BLTZ meningkat 3,66 % dengan harga Rp 3.400/lembar. Keseluruhan frekuensi perdagangan sebanyak 8 kali dimana volume perdagangan sebanyak 27 serta jumlah transaksi harian Rp 9 juta.

Peningkatan saham BLTZ ini berseberangan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang malah melemah di awal sesi. IHSG turun 0,34 % menjadi 6.071,89. Graha Layar Prima menjalankan bisnis jaringan bioskop CGV dengan jumlah 66 gedung bioskop ditambah dua gedung bioskop blitztheater.

Sampai Juni 2021, perusahaan membukukan pendapatan bersih jatuh 58,01 % dengan nilai hanya Rp 98,17 miliar dibanding tahun lalu yang mencapai Rp 233,83 miliar. Beban pokok pendapatan pun anjlok ke Rp 125,89 miliar enam bulan pertama 2021 dibanding periode sama tahun lalu yang masih mampu membukukan Rp 232,37 miliar. Keseluruhan liabilitas perusahaan meningkat ke Rp 1,75 triliun hingga Juni 2021 dari sebelumnya Rp 1,6 triliun.

7. MD Pictures (FILM)

MD Pictures (FILM)

Sektor perfilman adalah bidang yang benar-benar terdampak pandemi Covid-19. Diberlakukannya pembatasan aktifitas masyarakat di luar rumah pun mengganggu semua kegiatan syuting dan produksi.

FILM merupakan emiten perfilman yang pertama kali listing di bursa. Perusahaan ini sukses menghasilkan beberapa judul film favorit. Pasar yang tak menentu dalam masa pandemi Covid 19 berangsur pulih di tahun 2021 ini.

FILM pun optimistis kinerjanya di tahun 2021 bisa lebih baik dibanding tahun 2020. FILM menggunakan konten digital ditambah kolaborasi dengan beragam platform resmi untuk menghadirkan konten streaming film resmi.

Kondisi keuangan perseroan untuk kas dan utang jangka pendek cukup bagus. Penjualan yang anjlok masih dianggap lumrah selama wabah pandemi. Laba perusahaan pun tergerus yang mengakibatkan Rugi bersih dengan ROE yang kecil.

8. Tempo Inti Media (TMPO)

Tempo Inti Media (TMPO)

Tempo Inti Media makin serius dalam menjawab fenomena go online yang semakin marak. Termasuk langkah strategis yang diambil yaitu mengantarkan PT Info Media Digital (IMD) listing di bursa saham. IMD merupakan anak perusahaan TMPO yang membawahi website berita tempo.co dan beberapa strategic business unit (SBU).

Di kuartal I tahun 2021, TMPO dapat mengurangi rugi bersih sebesar 73,98% yang semula Rp 7,65 miliar di tiga bulan pertama 2020 menjadi Rp 1,99 miliar untuk tahun 2021. Keberhasilan itu tidak luput dari berkurangnya beban dari beberapa pos diantaranya beban umum dan administrasi, beban pemasaran dan penjualan, dan juga beban operasional lain.

Saham media massa ini dapat mencatatkan laba usaha sebanyak Rp 180,15 juta. Lebih baik bila dibanding rugi usaha yang dialami di kuartal I 2020 yang sebanyak Rp 6,73 miliar. Kendati demikian, pendapatan usaha TMPO tetap turun. Sampai Maret 2021 TMPO membukukan pendapatan usaha sebanyak Rp 38,07 miliar atau turun 18,28% bila dibanding pencapaian di periode sama tahun sebelumnya sebanyak Rp 46,59 miliar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *