Lompat ke konten

Kelebihan dan Kekurangan Obligasi

Keuntungan obligasi

Surat utang atau obligasi merupakan instrumen investasi yang dapat Anda coba selain saham dan reksa dana. Instrumen yang satu ini bisa diterbitkan oleh pemerintah (obligasi negara) maupun diterbitkan oleh perusahaan swasta (obligasi korporasi). Eits, saat ini obligasi juga memiliki versi syariahnya tersendiri yang bernama sukuk. Menarik bukan?

Akan tetapi, sebelum mulai berinvestasi pada instrumen ini sebaiknya Anda mengetahui kelebihan dan kekurangan obligasi terlebih dahulu. Sebab, setiap instrumen investasi pasti memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Yuk dipahami!

Kelebihan Investasi Obligasi

1. Mendapatkan pendapatan rutin

Jika dalam saham Anda mengenal istilah capital gain dan dividen, maka sumber keuntungan obligasi terletak pada capital gain (selisih harga beli dan harga jual) dan kupon (coupon). Perbedaan antara kupon dan dividen adalah kupon dibayarkan secara rutin dengan rasio tertentu, sementara dividen dibayarkan oleh perusahaan kapanpun dan berapapun sesuai dengan kebijakan mereka sehingga tidak menentu. 

Kelebihan lain pendapatan obligasi dibandingkan saham adalah, hasil kupon obligasi tidak terkena pajak karena tercatat sebagai biaya dalam pembukuan perusahaan atau pemerintah (CNBC). Jadi, Anda berpotensi untuk mendapatkan net income yang lebih besar. 

2. Hak aju klaim

Salah satu risiko yang harus dihadapi oleh investor, baik itu obligasi maupun saham adalah risiko default alias gagal bayar atau perusahaan bangkrut. Dalam kasus seperti ini, klaim dari pemegang obligasi akan diprioritaskan dibandingkan investor saham, termasuk pemegang saham preferen. Selain itu keuntungan obligasi adalah apabila emiten gagal membayar utangnya, investor dan emiten bisa bernegosiasi untuk mengubah obligasi menjadi saham alias melakukan convertible bond

3. Investasi lebih aman

Investasi obligasi jadi lebih aman dari risiko default dibandingkan saham karena:

  1. Adanya hak aju klaim prioritas di atas. 
  2. Khusus untuk obligasi negara (treasury bond), risiko defaultnya terbilang kecil karena surat utang jenis ini biasanya diterbitkan oleh pemerintah pusat, sehingga pasti akan dibayar kecuali apabila negara yang bersangkutan bangkrut. 

Untuk surat utang korporasi dan surat utang yang diterbitkan oleh lembaga tertentu atau pemerintah daerha, risiko default ini bisa diminimalisir dengan memilih instrumen yang diterbitkan oleh perusahaan dengan credit rating yang bagus atau AAA. Data mengenai credit rating ini bisa Anda lihat melalui website perusahaan pemeringkat efek, seperti Fitch Ratings, Moody’s Investor Service, PT. Pemeringkat Efek Indonesia dan lain sebagainya.

Kekurangan Investasi Obligasi

1. Likuiditas terbatas

Kekurangan pertama dari investasi obligasi adalah tingkat likuiditas yang terbatas. Ini artinya, Anda tidak bisa memperjualbelikan obligasi secepat saham karena kurangnya jumlah investor yang mau memperjualbelikan obligasi di pasar sekunder (investor vs investor). Menurut penulis, hal ini karena tiga hal, yaitu:

  1. Obligasi tidak sepopuler saham. 
  2. Emiten yang menerbitkan surat utang ini tidak sebanyak saham. Jika saat ini ada lebih dari 500 emiten saham di BEI, maka jumlah obligasi yang diterbitkan dalam 1 tahun biasanya hanya puluhan saja. 
  3. Saat ini surat utang ini sudah bisa dibeli di berbagai aplikasi trading. Namun sayangnya, banyak juga aplikasi yang belum menyediakan instrumen ini. 

Karena kekurangan likuiditas ini jugalah, instrumen ini cenderung akan lebih lama terjual sehingga kurang cocok untuk dijadikan instrumen penyimpan dana darurat dan lebih cocok untuk instrumen investasi jangka menengah (khususnya sampai tenornya habis).

2. Besaran kupon obligasi dipengaruhi oleh suku bunga acuan

Pada setiap periode tertentu, Bank Indonesia selalu menerbitkan tingkat suku bunga acuan. Perubahan suku bunga acuan ini lantas akan mempengaruhi suku bunga di pasar keuangan seperti, suku bunga kredit dan tabungan bank dan suku bunga alias kupon obligasi. 

Umumnya, apabila suku bunga acuan BI naik, kupon obligasi juga akan naik, begitupun sebaliknya. Bahkan, tidak jarang kenaikan keuntungan obligasi ini lebih tinggi dibandingkan suku bunga deposito. Tujuannya adalah supaya investor menyimpan uangnya dengan membeli surat utang ini alih-alih menyimpan dalam bentuk obligasi. 

Contohnya, pada tahun 2045 BI menetapkan suku bunga acuan sebesar 5%. Supaya bisa menarik investor, perusahaan A lantas menerbitkan surat utang dengan kupon sebesar 6%. Satu tahun kemudian, perusahaan B menerbitkan obligasi dengan tingkat kupon sebesar 7% karena suku bunga acuan BI naik menjadi 6%.

3. Suku bunga acuan secara tidak langsung mempengaruhi harga obligasi di pasar sekunder

Hal ini bisa terjadi karena investor pasti memilih obligasi yang memiliki tingkat kupon yang lebih tinggi. Mari, kita ambil contoh perusahaan A dan B yang menerbitkan surat utang pada tahun 2045 dan 2046 di atas. 

Logikanya, investor pasti akan menjual obligasi perusahaan A dan menukarnya dengan obligasi perusahaan B pada tahun 2046, padahal tenor surat utang A adalah selama 3 tahun. Secara otomatis hal ini akan membuat harga obligasi A di pasar sekunder juga akan turun. 

4. Risiko perubahan nilai tukar

Investor obligasi juga harus menghadapi risiko perubahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. Khususnya apabila investor tersebut berinvestasi pada surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah atau perusahaan yang berdomisili di negara lain.

Apakah Investasi di Obligasi Menguntungkan?

Investasi pada obligasi bisa jadi menguntungkan jika Anda bisa memilihnya sesuai dengan profil risiko dan tingkat keuntungan obligasi yang Anda inginkan. Oleh karena itu, pilihlah instrumen obligasi terbaik. Caranya:

  1. Memeriksa credit rating yang telah disediakan oleh perusahaan pemeringkat efek di atas. 
  2. Jangan lupa membaca prospektusnya. Sama seperti saham, penerbitan surat utang ini juga harus diikuti dengan prospektus. Dengan membaca dokumen ini, Anda akan tahu detail-detail penting mengenai surat utang tersebut, seperti siapa penerbitnya, uang investasi yang dikumpulkan akan dipakai untuk apa, bagaimana peluang bisnisnya dan lain sebagainya. 
  3. Anda sebaiknya juga memeriksa laporan keuangan emiten terkait, termasuk pemerintah. Alasannya, tentu Anda tidak ingin meminjamkan uang pada individu atau institusi yang memiliki kemampuan pengelolaan uang yang buruk bukan? Laporan keuangan pemerintah pusat dapat Anda lihat melalui tautan di situs LKPP Kemenkeu.

Apabila Anda ragu dalam memilih instrumen ini, solusinya Anda bisa membeli reksa dana obligasi atau reksa dana pendapatan tetap (RDPT). Sebab, dalam reksa dana jenis ini, manajer investasi akan mengalokasikan uang Anda mayoritas ke instrumen surat utang terpilih. 

Obligasi juga merupakan instrumen yang cocok untuk investasi jangka menengah, karena biasanya tenor instrumen ini antara 1 sampai 5 tahun. Dengan demikian, Anda bisa melakukan diversifikasi portofolio investasi dengan memilih reksa dana pasar uang (RDPU) untuk jangka pendek, obligasi untuk investasi jangka menengah dan saham untuk jangka panjang.

nv-author-image

Farichatul Chusna

Setelah lulus dari Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Farichatul Chusna aktif sebagai penulis artikel ekonomi, investasi, bisnis, dan keuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.