Lompat ke konten

Cara Membeli Obligasi Korporasi dan Pemerintah

cara membeli obligasi korporasi dan pemerintah

Selain saham, instrumen investasi lain yang patut Anda coba adalah obligasi. Obligasi adalah surat utang yang diterbitkan oleh emiten untuk mendapatkan tambahan pendanaan. Secara garis besar, instrumen ini terbagi menjadi dua menurut penerbitnya yaitu obligasi pemerintah (government bond) dan obligasi swasta atau korporasi. 

Keuntungan investasi dengan membeli surat utang ini adalah tingkat return coupon (semacam dividen) yang lebih tinggi dari reksa dana dan pemilik obligasi juga berpeluang untuk mendapatkan capital gain dari penjualan di pasar sekunder. 

Selain itu, investor yang membeli sekuritas ini juga memiliki hak untuk mengklaim aset terlebih dahulu sebelum pemilik saham. Oleh karena keuntungan inilah umumnya tingkat imbal hasil obligasi lebih tinggi dibandingkan reksa dana tapi lebih rendah dibandingkan saham.

Cara Membeli Obligasi

Lantas, bagaimana cara membeli obligasi? Mari kita ulas berikut ini:

1. Buat Single Investor Identity (SID) Dulu

Single investor identity (SID) adalah serangkaian angka yang diberikan oleh KSEI untuk mengidentifikasi identitas investor, dealer partisipan atau pihak lain yang terlibat di pasar modal. Memiliki SID adalah wajib hukumnya bagi investor yang ingin membeli obligasi baik di pasar perdana maupun sekunder. 

SID ini akan Anda dapatkan jika Anda berinvestasi di pasar modal Indonesia entah itu dengan membeli reksa dana maupun saham. Kalau sebelumnya Anda sudah pernah membeli reksa dana di aplikasi investasi reksa dana, Anda bisa mengecek nomor SID ini dengan masuk ke akun AKSes KSEI. Kalau belum daftar, silahkan daftar terlebih dahulu dengan memasukkan email dan nomor KTP. 

2. Tentukan Jenis Obligasi Yang Ingin Anda Beli

Seperti yang telah dibahas di atas, ada dua jenis obligasi yaitu surat utang pemerintah (government bond) dan obligasi swasta. Kedua jenis sekuritas ini memiliki risiko dan tingkat imbal hasil yang berbeda. 

Umumnya, surat utang pemerintah cenderung memiliki tingkat imbal hasil yang lebih rendah dibandingkan obligasi swasta. Alasannya adalah surat utang pemerintah biasanya diterbitkan oleh pemerintah pusat yang notabene memiliki risiko kebangkrutan yang lebih kecil. Sebaliknya, obligasi korporasi diterbitkan oleh perusahaan yang bisnisnya bisa sewaktu-waktu kolaps.

Meskipun menghasilkan return yang lebih kecil, berinvestasi di Surat Utang Negara (SUN) bisa memberikan jaminan investasi yang lebih baik.

3. Tentukan Tempat Pembelian Obligasi

Jenis produk ini juga menentukan kemana Anda bisa membelinya sebab, tidak semua aplikasi investasi menyediakan dua jenis surat utang ini sekaligus. Untuk surat utang pemerintah, saat ini Anda sudah bisa membelinya dari berbagai mitra distribusi seperti, bank hingga beberapa aplikasi supermarket reksa dana. Adapun obligasi korporasi bisa dibeli melalui bank maupun melalui beberapa aplikasi investasi saham. 

Contoh form pembelian obligasi di aplikasi Digibank.

Perlu Anda ketahui bahwasanya setiap bank yang menawarkan obligasi korporasi pasti memiliki kebijakan pembelian yang berbeda. Khususnya apabila surat utang tersebut masih dijual di pasar perdana (langsung dari perusahaan penerbit).

Membeli obligasi di aplikasi Bibit misalnya, Anda harus memiliki akun Stockbit Sekuritas dan membuka rekening dana nasabah (RDN) BCA. Jadi, kalau Anda bukan nasabah Bank BCA, Anda harus membuat rekening di bank tersebut terlebih dahulu.

4. Tentukan Produk Obligasi

Apabila dirinci lagi, obligasi pemerintah maupun korporasi pasti memiliki “merek” sendiri-sendiri. ORI021 misalnya pasti memiliki rincian yang berbeda dengan ORI sebelumnya dan berbeda dengan saving bond ritel (SBR) meski sama-sama diterbitkan oleh pemerintah. 

Sama halnya dengan obligasi korporasi. Surat utang jenis ini mirip dengan saham yaitu nilai intrinsiknya tergantung dengan kualitas keuangan dan kinerja perusahaan yang menerbitkan. Pastinya Anda tidak ingin memberi utang kepada perusahaan yang kinerjanya jelek dong? 

Saat menentukan produk obligasi yang ingin Anda beli, Anda harus memperhatikan beberapa hal seperti:

  1. Tujuan penerbitan obligasi. Apakah tujuan penerbitan ini bisa menghasilkan keuntungan kedepannya atau tidak. 
  2. Coupon yang ditawarkan oleh obligasi.
  3. Rekam jejak keuangan dan kinerja perusahaan. 
  4. Dokumen keterangan lebih lanjut. Sama halnya dengan saham dan reksa dana, obligasi juga punya prospektus. Tidak jarang dokumen ini juga berisi kapan surat utang terkait bisa dijual ke pasar sekunder dan berapa nilai minimum penjualannya. Rincian mengenai kapan dan berapa nilai penjualan ini tentunya akan mempengaruhi tingkat likuiditas obligasi. Jika Anda membeli surat utang ini untuk dana darurat, usahakan memilih surat utang yang bisa dijual kapan saja.

Baca dokumen ini dengan teliti. Jangan sampai Anda memberi utang kepada perusahaan atau produk obligasi pemerintah  yang salah.

5. Siapkan Dana

Cara yang terakhir adalah dengan menyiapkan dana yang dibutuhkan. Seringkali pembelian obligasi (khususnya di pasar primer) membutuhkan uang yang lebih dari Rp100.000.000 (seratus juta). Untungnya saat ini pemerintah beberapa kali menerbitkan obligasi yang bisa dibeli hanya dengan Rp1.000.000. 

Kalau Anda sudah punya saldo yang cukup di aplikasi trading atau banking yang Anda gunakan, maka Anda tinggal autodebet. Akan tetapi jika dananya belum cukup, Anda harus isi ulang terlebih dahulu. Oh ya, sekarang ini Anda juga bisa top up saldo portofolio obligasi Anda di berbagai mitra offline seperti, Indomaret. 

Selain beberapa cara di atas, tidak menutup kemungkinan Anda juga akan diminta untuk mengisi beberapa formulir tertentu. Khususnya apabila Anda membeli surat berharga ini melalui bank di pasar perdana. Tujuannya adalah supaya lembaga keuangan tersebut tahu profil risiko Anda dan bisa merekomendasikan surat utang apa yang cocok untuk dibeli menurut profil risiko tersebut.

Pilih Obligasi Korporasi Atau Obligasi Pemerintah?

Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, obligasi korporasi dan obligasi pemerintah (government bond) memiliki imbal hasil dan risiko yang berbeda.

Biasanya surat utang yang diterbitkan oleh perusahaan swasta menawarkan tingkat kupon yang tinggi tapi risikonya tinggi juga. Sebaliknya, surat utang pemerintah cenderung memiliki return dan risiko yang rendah.

Dari sini terlihat bahwasanya obligasi pemerintah lebih cocok untuk Anda yang memiliki profil risiko konservatif dan moderat. Di sisi lain, obligasi yang diterbitkan korporasi cocok untuk para risk taker atau investor dengan profil risiko agresif. 

Selain obligasi, Anda juga bisa berinvestasi pada sukuk. Dulu, sukuk didefinisikan sebagai obligasi syariah namun belakangan ini banyak pihak yang menyatakan bahwasanya sukuk bukan surat utang melainkan surat penyertaan modal sebagaimana saham. Hanya saja sukuk digunakan untuk membiayai proyek-proyek tertentu saja. 

Sama seperti obligasi, sukuk juga diterbitkan baik oleh pemerintah maupun swasta. Bedanya, dengan membeli instrumen yang satu ini Anda bisa mengusahakan bahwa dana yang Anda investasikan tidak dipakai untuk membiayai proyek-proyek yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Selamat mencoba.

nv-author-image

Farichatul Chusna

Setelah lulus dari Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Farichatul Chusna aktif sebagai penulis artikel ekonomi, investasi, bisnis, dan keuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.