Lompat ke konten

Pengaruh Suku Bunga Acuan Terhadap Harga Obligasi

Pengaruh Suku Bunga Acuan Terhadap Harga Obligasi

Suku bunga acuan dan inflasi adalah dua instrumen kebijakan moneter yang akan mempengaruhi banyak aspek dalam ekonomi masyarakat Indonesia. Termasuk diantaranya adalah mempengaruhi keputusan investor dalam memilih instrumen investasi obligasi. 

Dalam tulisan kali ini, penulis akan membahas mengenai dampak perubahan instrumen kebijakan moneter ini terhadap obligasi secara teoritis dan bagaimana cara menghitungnya. Harapannya adalah Anda dapat menentukan instrumen investasi yang tepat di tengah ancaman kenaikan suku bunga the Fed dan Bank Indonesia kedepannya.

Sebelum membahas mengenai bagaimana dampaknya terhadap harga obligasi, mari kita pahami dulu, apa itu suku bunga acuan.

Apa Itu Suku Bunga Acuan?

Suku bunga acuan adalah target tingkat suku bunga yang ditetapkan oleh bank sentral. 

Target ini lantas harus dijadikan acuan atau patokan tingkat bunga tabungan dan pinjaman oleh bank dan lembaga keuangan lainnya di negara tempat bank sentral tersebut beroperasi.

Di Indonesia sendiri, suku bunga acuan ini disebut dengan BI Rate atau BI 7-Day (Reverse) Repo Rate (BI7DRR), sedangkan di Amerika Serikat istilahnya adalah Federal Funds Rate. 

Mengapa Suku Bunga Acuan Penting?

Untuk menjawab mengapa suku bunga penting, mari kita ambil contoh sederhana. Misalnya, jika BI menetapkan BI rate sebesar 3,75%, maka suku bunga kredit yang ditetapkan oleh bank 10,75%. Akan tetapi, kalau BI rate naik jadi 4,5%, maka suku bunga kredit naik juga jadi 11,5%. 

Ini artinya kalau BI Rate naik, jumlah uang yang harus dibayarkan oleh orang yang pinjam uang ke bank naik juga. Di sisi lain, uang yang bisa didapat oleh nasabah penabung naik juga. 

Nah, biasanya kenaikan instrumen kebijakan moneter ini disebabkan oleh kondisi perekonomian sebuah negara sedang membaik, sehingga inflasinya tinggi. Kenaikan suku bunga bertujuan untuk meredam gejolak inflasi. 

Sebaliknya, kalau sebuah negara sedang resesi, Bank Indonesia akan menurunkan tingkat BI Rate supaya masyarakat bisa meminjam uang di bank dengan biaya rendah, sehingga ekonomi bisa berjalan kembali. 

Dampak Suku Bunga Terhadap Obligasi

Menurut Rudiyanto, Direktur Panin Asset Management dalam bukunya yang berjudul Obligasi Pahami, Nikmati menyebutkan bahwa secara teoritis, suku bunga berkorelasi negatif dengan harga obligasi. Artinya, kalau BI Rate naik, maka harga obligasi akan turun begitupun sebaliknya. 

Hal ini karena:

  1. Investor beralih ke saham. Seiring dengan perbaikan ekonomi yang ditandai dengan kenaikan inflasi, investor akan lebih berani membeli instrumen yang lebih berisiko dibandingkan obligasi, yaitu saham. 
    Saham lebih berisiko dibandingkan obligasi karena instrumen yang satu ini tidak akan mendapatkan prioritas untuk mengklaim aset jika sebuah perusahaan bangkrut. Lebih dari itu, obligasi juga relatif aman karena investor bisa memilih obligasi negara
  1. Investor beralih ke obligasi yang baru terbit. Kenaikan BI Rate mendorong kenaikan ekspektasi keuntungan yang diinginkan oleh investor, sehingga obligasi yang terbit ketika ekonomi sedang membaik cenderung akan menawarkan tingkat yield atau kupon yang lebih tinggi dibandingkan dengan obligasi yang terbit sebelumnya. Akibatnya, harga obligasi lama tersebut akan turun. 

Rudiyanto dalam kanal YouTube-nya juga menyebutkan bahwa dampak instrumen kebijakan moneter ini terhadap harga obligasi akan lebih parah apabila surat utang tersebut memiliki tenor yang panjang. Misalnya, kalau BI Rate naik jadi 3%, maka obligasi yang memiliki tenor 3, 5,7 dan 10 tahun akan turun masing-masing sebesar 0,5%, 1,5%, 2,9% dan 6%. Sebaliknya, kalau bunga turun, kenaikan tertinggi juga akan diperoleh obligasi dengan tenor paling panjang. 

Bagaimana Cara Menghitung Pengaruh Suku Bunga Acuan

Selain membagikan aspek teori, Direktur Panin Asset Management tersebut juga membagikan cara menghitung pengaruh variabel moneter ini terhadap harga obligasi menggunakan aplikasi spreadsheet, seperti Microsoft Excel. Berikut ini langkah-langkahnya:

1. Kumpulkan data harga obligasi terlebih dahulu

Langkah yang pertama adalah mengumpulkan data harga obligasi. Apabila Anda membeli obligasi negara, maka Anda bisa mengunjungi bagian statistik pada laman Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan. Apabila yang ingin Anda beli adalah obligasi korporasi, maka Anda bisa melihat data harga obligasi tersebut pada aplikasi trading yang Anda gunakan atau di Bursa Efek Indonesia. 

Karena ini merupakan uji coba, maka sebaiknya Anda mengumpulkan data perubahan harga sebuah obligasi dalam periode waktu tertentu entah itu 6 bulan atau satu tahun. Tujuannya supaya, hasil analisis tersebut kurang lebih bisa dipertanggungjawabkan. 

2. Ketahui data perubahan BI Rate

Langkah kedua adalah dengan mengetahui data kenaikan BI Rate supaya hasil analisis yang Anda lakukan sudah cukup sesuai dengan kondisi terkini. Data ini bisa Anda peroleh di situs BI.

3. Susun tabel Anda sedemikian rupa

Susunannya adalah:

  • A1-A5: Tanggal.
  • B2-C2: Periode jatuh tempo (5 tahun, 10 tahun dll).
  • B3-C3: Nama obligasi.
  • B4-C4: Tingkat kupon.
  • B5-C5: Tanggal jatuh tempo
  • B6: Harga.
  • C6: Yield (ekspektasi return yang diinginkan oleh investor). 
  • Setelah B6 dan C6 bisa diisi dengan data harga dan yield pada tanggal terkait. 

Jika data harga telah selesai, maka Anda bisa mengisi sel di bawahnya dengan data berikut:

  • Tingkat yield yang baru. 
  • Proyeksi perubahan harga.
  • Tanggal Anda membeli obligasi. 
  • Nominal harga obligasi pada saat jatuh tempo (100).
  • Frekuensi pembayaran kupon.
  • Basis harian diisi dengan angka 1.
  • Kenaikan suku bunga.

4. Tentukan tingkat yield yang baru

Yield adalah tingkat keuntungan yang diekspektasikan oleh investor. Umumnya, yield didefinisikan dalam bentuk persentase. Untuk mendapatkan yield yang baru setelah kenaikan tingkat suku bunga, Anda bisa menambahkan nilai yield pada data terakhir dengan tingkat kenaikan bunga tersebut. Jadi, kalau nilai yield terakhir adalah 5,6% dan tingkat kenaikan bunga 0,5%, maka yield yang baru adalah sebesar 6,1%. 

5. Masukkan data yang ada pada sel terakhir ke dalam rumus

Langkah terakhir adalah memasukkan data Tingkat yield yang baru, Proyeksi perubahan harga, Tanggal Anda membeli obligasi, Nominal harga obligasi pada saat jatuh tempo (100), Frekuensi pembayaran kupon, Basis harian, dan kenaikan suku bunga ke dalam fungsi price

Apabila semua data sudah masuk, maka Anda tinggal klik enter lalu melihat proyeksi perubahan harga obligasi karena perubahan tingkat bunga (BI Rate) 

Perlu diingat bahwasanya cara ini hanyalah untuk membantu memperkirakan dampak perubahan tingkat bunga terhadap harga obligasi. Kondisi di lapangan bisa jadi berbeda karena banyak investor FOMO dan perubahan harga obligasi yang bisa terjadi harian, sementara BI7DRR baru akan diupdate sebulan sekali dan suku bunga acuan Indonesia tersebut bisa tidak berubah sama sekali dalam beberapa bulan.

nv-author-image

Farichatul Chusna

Setelah lulus dari Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Farichatul Chusna aktif sebagai penulis artikel ekonomi, investasi, bisnis, dan keuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.