Perbedaan Saham dan Obligasi Dalam Investasi

saham vs obligasi

Baik saham dan obligasi akan terdengar sangat familiar karena cukup populer di kalangan investor. Meskipun secara umum keduanya memiliki tujuan untuk penanaman modal dan mendapatkan keuntungan, perbedaan saham dan obligasi perlu dipahami agar tidak salah kaprah saat mulai berinvestasi terutama risiko masing-masing yang sangat berbeda. Mari simak artikel berikut untuk memahami perbedaannya.

Memahami Saham dan Obligasi

Saham merupakan surat bukti kepemilikan seseorang atas aset suatu perusahaan sedangkan obligasi merupakan surat bukti hutang perusahaan kepada pemilik modal yang lengkap disertai dengan tanggal jatuh tempo pembayaran dan bunga. Perbedaan yang paling mencolok dari keduanya adalah bagaimana mereka menghasilkan keuntungan. Investor dapat meraup keuntungan dari saham dengan mendapatkan dividen yang dibayarkan setiap periode dan bergantung terhadap kinerja perusahaan. Di sisi lain, investor yang berinvestasi pada obligasi mendapatkan keuntungan dengan pendapatan bunga dari debitur atau orang yang berhutang ditambah dengan pokok hutang di akhir periode investasi. Simak berikut untuk mengenal perbedaan saham dan obligasi lebih lanjut.

Saham

Seperti yang sudah disinggung di bagian awal, saham merupakan surat bukti kepemilikan aset atau ekuitas suatu perusahaan – biasanya perusahaan terbuka (Tbk.). Dia sering sekali ditakar berdasarkan analisis fundamental dan teknikal. Investor yang berinvestasi pada saham sebenarnya hanya membeli sebagian kecil perusahaan – satu kesatuan yang utuh atau satu saham yang dapat dibagi. Semakin banyak saham yang dibeli tentu semakin banyak pula bagian atau ekuitas perusahaan yang dimiliki. Contohnya, Perusahaan memiliki harga saham sekitar 5000 rupiah per unit dan ketika kita menginvestasikan 250.000 rupiah maka kita memiliki 50 unit saham di perusahaan tersebut.

beli saham

Profit yang didapatkan dari saham dihasilkan melalui sistem bagi hasil dari laba yang diperoleh perusahaan tersebut yang disebut dividen. Laba ini sangat dipengaruhi oleh kinerja perusahaan tersebut. Bila secara konsisten perusahaan yang diinvestasikan memiliki kinerja yang baik, maka tingkat kesuksesan investor dalam mendapatkan keuntungan akan sangat baik. Contohnya, jika harga saham naik menjadi 7500 rupiah per unit atau sama dengan 50%, maka nilai saham yang kita miliki juga naik 50% dari 250.000 menjadi 375.000. Ketika menjual kembali saham tersebut maka kita akan mendapatkan keuntungan sebesar 125.000.

Begitu pula sebaliknya, jika perusahaan yang kita investasikan berkinerja buruk yang kita dapatkan adalah kerugian. Bahkan bisa saja ketika kita menjual kembali saham tersebut – karena harganya jatuh dan jauh di bawah harga saat kita membelinya – dan hasilnya kita kehilangan uang tersebut tanpa keuntungan. Inilah mengapa risiko dari investasi saham sangat bergantung pada perusahaannya. Pastikan Anda mengerti cara membaca laporan keuangan agar dapat menganalisa dengan baik.

Perusahaan juga dapat menerbitkan saham ke publik karena faktor-faktor lainnya namun pada umumnya faktor yang mempengaruhi perusahaan menerbitkan saham ke publik karena perusahaan ingin mengumpulkan uang tunai guna mendorong pertumbuhan harga saham di masa depan. Jenis jenis saham sendiri sangat beragam mulai dari saham biasa, saham preferen, saham ekuitas dan sekuritas perusahaan.

Obligasi

Bentuknya sebagai surat bukti hutang jangka panjang, tentunya obligasi tidak melibatkan ekuitas atau kepemilikan aset seperti yang dilakukan oleh saham. Sederhananya, perusahaan sedang berhutang kepada investor – ketika investor membeli obligasi – dengan catatan perusahaan akan membayarkan bunga pinjaman untuk jangka waktu tertentu dan setelahnya perusahaan akan membayar kembali sepenuhnya seharga obligasi yang dibeli investor. Risiko yang dimiliki obligasi sedikit lebih ringan dibandingkan saham, jika perusahaan berkinerja buruk dan pailit maka investor akan berhenti menerima pembayaran bunda dan tidak mungkin mendapatkan kembali seluruh pokok uang yang diberikan di akhir periode tersebut.

bond obligasi

Membeli obligasi senilai 25 juta rupiah dan pembayaran bunga tahunan 2% selama 10 tahun, artinya setiap tahun investor akan mendapatkan keuntungan sebesar 500.000 rupiah. Setelah jangka waktu 10 tahun, investor akan menerima bunga 5 juta rupiah dan mendapatkan kembali dana yang dibayarkan di awal pembelian yaitu 25 juta. Keuntungan yang diraup memang tidak sebesar saham, namun kepastian pembayarannya lebih kuat obligasi – karena pasti dibayarkan – sehingga investor tetap mendapat keuntungan tiap tahunnya. Low risk, low reward.

Berinvestasi pada obligasi, baik oleh investor ritel dan investor institusional, membuat investor lebih mudah memperkirakan keuntungan yang didapat. Pada awal pembelian, investor akan tahu persis untuk apa hutang tersebut, pembayaran bunga sebagai keuntungan secara reguler dalam periode yang ditentukan membuat obligasi dapat digunakan sebagai sumber pendapatan tetap yang cukup mudah diperkirakan. Obligasi menawarkan kepastian. Jangka waktunya tergantung dari jenis obligasi yang dipilih. Ada yang berkisar beberapa hari bahkan sampai dengan 30 tahun. Tingkat bunga yang akan dibayarkan secara reguler pun sangat tergantung dengan jenis obligasi apa yang dipilih dan periode waktu obligasi tersebut.

Beberapa Perbedaan Saham dan Obligasi

Meskipun keduanya sama-sama meraup keuntungan atas laba dan aktiva, keduanya memiliki cara yang berbeda dalam melakukannya dan menawarkan bentuk keuntungan yang sangat berbeda.

Ekuitas versus Hutang

Ekuitas adalah aset keuangan likuid yang saat ini digandrungi oleh para investor karena dapat dengan mudah ditukar menjadi uang tunai. Dengan mengeluarkan ekuitas, perusahaan berupaya untuk mengumpulkan uang guna biaya operasional dan memperluas distribusinya dengan imbalan investor diberi kesempatan untuk mendapatkan keuntungan dari pertumbuhan dan kesuksesan perusahaan tersebut di masa yang akan datang.

Berbeda dengan ekuitas, membeli obligasi berarti membeli surat utang yang diterbitkan oleh perusahaan di mana hutang tersebut harus dilunasi dengan bunga. Kita tidak akan memiliki saham perusahaan tapi kita bisa memiliki kepastian dari perjanjian yang sudah dibuat di mana bunga tersebut akan dibayar tetap dari waktu ke waktu serta jumlah pokok di akhir periode yang disepakati.

Baik ekuitas atau pun hutang, keduanya adalah hal yang dibeli saat berinvestasi di saham dan obligasi.

Keuntungan Modal versus Pendapatan Tetap

Perbedaan saham dan obligasi dalam menghasilkan uang pun berbeda, berikut perbandingannya.

Investasi pada saham membuat investor mendapatkan keuntungan dengan cara menjual saham perusahaan dengan harga yang lebih tinggi daripada sesuai dengan harga beli saham di awal. Keuntungan itu disebut dengan capital gain atau keuntungan modal. Keuntungan modal dapat digunakan sebagai pendapatan tetap atau diinvestasikan kembali, tetapi akan dikenakan pajak sesuai dengan jangka waktu keuntungan modal tersebut.

Pada obligasi, mereka menghasilkan keuntungan dalam bentuk uang tunai melalui pembayaran bunga secara reguler. Frekuensi pendistribusian hasil pembayaran bunga tersebut berbeda beda, namun secara umum jenis dan jangka waktunya sebagai berikut:

  • Obligasi dan surat utang negara: Setiap enam bulan sekali hingga jatuh tempo
  • Treasury bills (T-bills) atau surat utang jangka pendek: Hanya setelah jatuh tempo
  • Obligasi perusahaan: Setiap setengah tahun, triwulan, bulan, atau saat jatuh tempo.

Obligasi dapat dijual di pasar modal untuk mendapat keuntungan modal, meskipun menurut para investor konservatif memiliki pendapatan tetap melalui obligasi yang dapat diprediksi lebih menarik dan aman. Begitu pula, beberapa jenis saham ada yang menawarkan pendapatan tetap dan lebih menyerupai hutang dibandingkan ekuitas, tetapi itu bukanlah sumber nilai saham. Hal tersebut terjadi karena kebanyakan investor lebih menyukai kepastian.

Kinerja Perusahaan

Hal penting lainnya yang mendasari perbedaan obligasi dan saham adalah keduanya memiliki hubungan yang berkebalikan dalam persoalan harga ketika saham naik, harga obligasi akan turun dan begitu pula sebaliknya.

Ketika harga saham naik, banyak orang akan membeli dan memanfaatkan pertumbuhan harga tersebut. Sedangkan di lain sisi, harga obligasi akan menurun karena permintaanya yang lebih rendah. Begitu pula sebaliknya, ketika harga saham, jatuh dan investor ingin beralih dengan berinvestasi pada obligasi karena berisiko lebih rendah walaupun low risk low reward maka permintaan akan obligasi meningkat dan harganya pun demikian.

Selain dari kinerja perusahaan, sebetulnya tingkat keuntungan yang dapat diraup oleh obligasi sangat dipengaruhi oleh tingkat suku bunga. Misalnya jika kita membeli obligasi dengan keuntungan 2% maka bisa jadi harganya menjadi tinggi ketika suku bunga turun karena mungkin akan meningkatkan permintaannya. Tetapi, ketika tingkat suku bunga meningkat dengan harga yang dihasilkan tinggi akan menurunkan permintaan obligasi dan demikian pula harganya. Untuk merangsang pengeluaran, Bank Sentral biasanya memotong suku bunga selama penurunan ekonomi yang akan menjadi periode terburuk bagi saham. Suku bunga yang lebih rendah akan meningkatkan permintaan obligasi yang tinggi sehingga memperkuat dinamika harga yang berkebalikan tersebut.

Risiko dan Keuntungan

risiko saham dan obligasi

Risiko Saham

Yang sangat berdampak pada kerugian investasi saham adalah saat nilai saham turun setelah investor membelinya. Ada banyak penyebabnya mengapa harga saham berfluktuasi, namun singkatnya penyebabnya adalah kinerja perusahaannya tidak cukup baik atau memenuhi harapan investor sehingga harga saham turun. Suatu bisnis perusahaan dapat menurun karena banyak sekali faktor yang mempengaruhi hal tersebut sehingga saham lebih berisiko dibandingkan obligasi.

Meskipun terdengar sangat mengerikan – karena uang yang diinvestasikan bisa saja sampai tidak kembali lagi – saham ini memiliki filosofi higher risk higher return kebalikan dari obligasi. Contohnya pada 11 Juni 2020, pasar saham Amerika memiliki pengembalian rata-rata 10 tahun sebesar 10,65% sedangkan di pasar obligasi hanya memiliki pengembalian rata-rata 10 tahun sebesar 3,92%.

Risiko Obligasi

Obligasi pemerintah lebih stabil daripada saham dalam jangka pendek namun risiko yang ada pun lebih rendah yakni sesuai dengan filosofinya low risk low reward seperti yang sudah disinggung di bagian awal artikel ini. Treasury securities – obligasi pemerintah yang merupakan investasi – seperti surat hutang dan tagihan pemerintah hampir bebas risiko karena pemerintah amerika serikat menunjang obligasi tersebut.

Dii sisi lain, obligasi perusahaan memiliki tingkat risiko dan keuntungan yang sangat bervariasi. Perusahaan yang memiliki kemungkinan akan pailit tidak dapat terus menerus membayar bunga sehingga pada perusahaan tersebut obligasi jauh lebih berisiko daripada obligasi pada perusahaan yang memiliki peluang pailit rendah. Kemampuan perusahaan dalam membayar kembali hutangnya dapat dilihadri tingkat kreditnya yang diberikan oleh lembaga pemeringkatan kredit perusahaan seperti Moody’s dan Standard & Poor’s.

Obligasi perusahaan dapat dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu obligasi dengan nilai investasi dan obligasi dengan hasil tinggi. Nilai investasi cenderung memiliki risiko rendah karena peringkat kredit di perusahaan tersebut lebih tinggi. Sedangkan hasil tinggi – hasil dari obligasi yang biasa disebut sampah – dapat memiliki tingkat risiko yang tinggi karena peringkat kreditnya sangatlah rendah.

Dapat disimpulkan bahwa investor perlu memilih dengan penuh pertimbangan atas seberapa banyak yang akan diinvestasikan atau disebut juga dengan membangun portofolio investasi. Seorang perencana keuangan mengatakan bahwa baik saham maupun obligasi memiliki peran yang berbeda dalam memberikan hasil yang terbaik saat dipasangkan sebagai pelengkap satu sama lain. Investor yang mencari keuntungan lebih tinggi sebaiknya berinvestasi lebih banyak pada ekuitas dibandingkan pendapatan tetap yang berisiko karena menghasilkan keuntungan yang lebih rendah. Namun peran utama pendapatan tetap dalam portofolio pun perlu dilakukan untuk diversifikasi dari saham dan menjaga keuntungan modal, bukan untuk mencapai keuntungan setinggi mungkin.

Alokasi Portofolio

Ada banyak cara untuk menentukan seberapa banyak alokasi saham dan obligasi dalam portofolio kita. Ada yang mengatakan bahwa persentase saham dalam portofolio harus sama dengan 100 dikurangi dengan umur kita. Misal kita berumur 30 tahun, maka portfolio kita harus berisi 70% saham dan 30% obligasi atau investasi yang aman lainnya. Lalu, apabila kita berumur 60 tahun maka alokasinya adalah 40% saham dan 60% obligasi. Teori tersebut lumayan masuk akal karena ketika umur kita mendekati usia pensiun kita harus lebih mulai berjaga-jaga dengan mengalokasikan lebih banyak dana untuk obligasi dibandingkan untuk saham yang terbilang cukup liar atau tak dapat diperkirakan.

Meski begitu, teori tersebut banyak dikritik karena pendekatan tersebut terlalu konservatif mengingat rentang hidup kita bisa saja lebih panjang dan prevalensi dana indeks rendah sehingga menawarkan bentuk diversifikasi portofolio yang lebih mudah dan murah juga memiliki sedikit risiko. Beberapa orang berpendapat bahwa 110 atau 120 dikurangi umur kita saat ini adalah pendekatan yang lebih baik daripada teori yang menggunakan patokan 100.

Alokasi saham dan obligasi juga disesuaikan dengan preferensi toleransi risiko dari para investor. Hal tersebut berkaitan dengan seberapa siapkah kita dengan beberapa hal yang cukup riskan dalam jangka pendek bagi kita namun dengan imbalan keuntungan jangka panjang yang lebih kuat. Vanguard melakukan studi yang mengumpulkan data dari 1926 hingga 2019 menunjukkan bagaimana alokasi portfolioo pada jangka waktu tersebut. Data ini akan membantu investor dalam memahami perbedaan saham dan obligasi dan mempertimbangkan kesesuaiannya dengan jangka waktu tersendiri dan preferensi toleransi risiko yang baik untuk kita.

Alokasi PortfolioRata-rata pengembalian tahunanJumlah tahun dengan kerugian (dari 94)
100% saham10.20%25
80% saham 20% obligasi9.70%24
70% saham 30% obligasi9.40%23
60% saham 40% obligasi9%22
50% saham 50% obligasi8.60%20
40% saham 60%obligasi8.10%19
30% saham 70% obligasi7.70%18
20% saham 80% obligasi7.10%16
100% obligasi6%19

Perlu diingat bahwa hasil dari rata-rata tahunan jarang sekali benar-benar sesuai dengan yang sudah diperkirakan. Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah di bagian kolom sebelah kanan. Portofolio yang terdiri dari 100% saham memiliki kemungkinan dua kali lipat lebih tinggi dalam mengakhiri tahun dengan kerugian daripada portofolio dengan alokasi obligasi 100%. Investor perlu menimbang kembali dalam pengalokasian saham dan obligasi agar sesuai dengan yang ingin dicapai dari investasi tersebut. 

Ketika Peran Hutang dan Ekuitas Tertukar

Ada jenis obligasi yang menyerupai saham dengan higher risk higher return dan ada pula jenis saham yang menyerupai obligasi dengan menawarkan manfaat pendapatan tetap lower risk lower return. Berikut adalah pembahasan apabila peran mereka tertukar.

Dividen dan Saham Preferen

Saham dividen yang merupakan salah satu sumber passive income dikeluarkan oleh perusahaan besar dan stabil yang berupaya menghasilkan keuntungan tinggi secara teratur. Alih-alih menginvestasikan keuntungannya dalam pertumbuhan, perusahaan akan lebih sering mendistribusikan keuntungan tersebut kepada para investor yang disebut juga dengan dividen. Perusahan seperti ini tidak memiliki target pertumbuhan perusahaan yang agresif sehingga harga saham tidak naik atau turun dengan sangat drastis. Perusahaan ingin pembayaran dividen yang konsisten dan bermanfaat bagi para investor dalam mendiversifikasi aset pendapatan tetap mereka.

Saham preferen sangat menyerupai obligasi dan dianggap sebagai investasi pendapatan tetap yang umumnya lebih berisiko dibandingkan obligasi namun lebih rendah risikonya apabila dibandingkan dengan saham biasa. Saham preferen mendistribusikan dividen lebih tinggi daripada dividen dari saham biasa serta memiliki pembayaran bunga seperti obligasi. Hal tersebut karena dividennya memiliki sifat tetap seperti bunga obligasi.

Penjualan Obligasi

Di pasar modal, obligasi juga dapat dijual untuk mendapatkan keuntungan modal jika nilai obligasi tersebut lebih tinggi dari harga pembelian awal. Hal tersebut dipengaruhi oleh perubahan suku bunga, peningkatan peringkat lembaga kredit atau kombinasi keduanya. Untuk mencari keuntungan tinggi dari obligasi dapat dibilang cukup berisiko. Faktor penyebabnya adalah tujuan berinvestasi pada obligasi digunakan untuk melakukan diversifikasi ekuitas, menjaga modal, dan memberikan sarana untuk penurunan pasar lebih cepat yang jauh berbeda dari tujuan berinvestasi pada obligasi yang sebenarnya yaitu menjaga pendapatan tetap dan memiliki kepastian jangka waktu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *