Lompat ke konten

Rasio Leverage: Pengertian, Rumus, Jenis, Contoh

Rasio Leverage

Dalam jual beli saham istilah leverage cukup sering digunakan. Anda akan menemukan istilah ini baik ketika menjadi seorang trader maupun ketika menjadi seorang investor biasa. Konteks penggunaan kata leverage dalam dua kondisi ini berbeda, namun keduanya memiliki satu makna yang sama yaitu “mencari keuntungan dengan memanfaatkan hutang.”

Untuk pemahaman lebih lanjut, berikut ini penjelasan mengenai rasio leverage untuk Anda. 

Pengertian Rasio Leverage

Rasio leverage adalah rasio yang membandingkan antara jumlah utang perusahaan dengan aset atau ekuitas yang dimiliki oleh perusahaan tersebut.

Secara bahasa, leverage berarti manfaat. Secara istilah, leverage adalah jumlah utang yang dimanfaatkan untuk meningkatkan keuntungan perusahaan.

Dalam istilah trading, rasio leverage juga digunakan untuk membandingkan antara jumlah modal yang dimiliki oleh seorang trader dengan jumlah pinjaman yang disediakan oleh perusahaan broker untuk trader tersebut. 

Namun, pada artikel kali ini kita akan lebih berfokus membahas mengenai rasio leverage yang dipakai dalam konteks investasi jangka panjang. Dalam konteks ini, rasio leverage juga seringkali disebut sebagai solvability ratio

Manfaat Rasio Leverage

Seperti yang telah disebutkan di atas, rasio leverage berfungsi membandingkan antara utang perusahaan dengan aset atau ekuitas yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Berbeda dengan current ratio, utang yang dibandingkan dalam rasio ini adalah utang jangka panjang. 

Beberapa manfaat rasio leverage:

  1. Untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban yang sifatnya jangka panjang. 
  2. Untuk mengetahui seberapa besar operasional dan aset perusahaan yang dibiayai oleh utang. 
  3. Untuk mengetahui seberapa besar aset dan operasional perusahaan yang dibiayai dari modal sendiri dan seberapa besar bagian dari modal tersebut yang harus dipakai untuk membayar utang. 
  4. Untuk mengetahui berapa jumlah dana utang yang akan jatuh tempo. 

Perlu diketahui bahwasanya tidak ada nilai rasio leverage yang baik untuk semua industri. Masing-masing industri memiliki standar rasio leverage yang berbeda beda. Industri yang secara natural banyak dibiayai oleh utang seperti industri konstruksi dan properti tentu berbeda dengan industri yang secara natural bisa dibiayai oleh modal sendiri seperti restoran. 

Oleh sebab itu, Anda perlu membandingkan rasio leverage perusahaan incaran Anda dengan perusahaan yang bergerak di bidang serupa. 

Jenis-jenis Rasio Leverage Serta Rumusnya

Setidaknya, rasio leverage terbagi menjadi 4 jenis yaitu Debt to Total Assets Ratio (DAR), Debt to Total Equity Ratio (DER), Interest Coverage Ratio, Degree of Financial Leverage. Mari kita bahas satu per satu. 

1. Debt to Total Assets Ratio (DAR)

Debt to Total Assets Ratio adalah rasio yang membandingkan total utang perusahaan (jangka pendek dan jangka panjang) dengan seluruh aset yang dimiliki oleh perusahaan tersebut (tangible dan intangible assets). Formula DAR adalah sebagai berikut:

DAR= (Utang Jangka Pendek+Utang Jangka Panjang+Beban Bunga) : (Total Aset)

Rasio ini dapat menunjukkan 3 hal yaitu:

  • Jumlah aset perusahaan yang dibiayai oleh utang. 
  • Kemampuan aset perusahaan untuk membayar utang. 
  • Besaran utang yang dimiliki oleh sebuah perusahaan dan kira-kira apakah utang tersebut dapat dibiayai oleh perusahaan terkait. 

Rasio ini penting untuk dihitung sebab aset perusahaan adalah hal yang akan dijual pertama kali jika sebuah perusahaan gagal membayar utang. Semakin tinggi nilai DAR, maka semakin riskan pula berinvestasi di perusahaan tersebut. 

2. Debt To Equity Ratio (DER)

Debt to Equity Ratio (DER) adalah rasio perbandingan antara total ekuitas (modal) yang dimiliki oleh perusahaan dengan total utang yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Analisis ini seringkali digunakan untuk mengidentifikasi kesehatan keuangan perusahaan. 

Alasannya adalah jika nilai DER besar, maka kemungkinan perusahaan memiliki utang yang besar juga tapi tidak memiliki ekuitas atau cash flow  yang cukup untuk membayar utang tersebut. Ini penting sebab nilai utang yang belum dibayar akan semakin besar karena bunga utang yang membengkak. 

Berikut ini formula DER:

DER= (Utang Jangka Pendek+Utang Jangka Panjang+Beban Bunga) : (Saham Preferen + Saham Biasa+Modal Pemilik)

3. Interest Coverage Ratio (ICR)

Sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya, utang yang belum dibayar akan menghasilkan bunga dan jumlah bunga tersebut akan membengkak jika utang terkait belum juga dilunasi. Pokok dan bunga utang adalah hal yang harus dibayar terlepas dari bagaimanapun kondisi keuangan perusahaan yang meminjam uang. 

Interest Coverage Ratio (ICR) adalah rasio yang membandingkan laba perusahaan dengan jumlah bunga yang harus dikeluarkan oleh perusahaan tersebut.

Rumus Interest Coverage Ratio:

ICR= EBITDA: Beban Bunga

Rasio ini secara langsung mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar bunga utang sekaligus secara tersirat mengindikasikan kemampuan perusahaan dalam menggunakan uang hasil pinjaman untuk menghasilkan keuntungan.

4. Degree of Financial Leverage (DFL)

Degree of Financial Leverage adalah rasio yang membandingkan antara perubahan EPS (Earning per Share) dengan perubahan EBIT (Earning Before Interest and Taxes). Rasio ini bermanfaat untuk memperkirakan sensitivitas pendapatan perusahaan terhadap perubahan pada biaya operasi dan pajak. 

Adapun formula rasio ini adalah sebagai berikut:

DFL= % perubahan EPS : % perubahan EBIT atau EBIT: EBIT- Beban Bunga

Semakin besar nilai DFL, maka semakin tinggi pula pengaruh biaya operasional, pajak dan bunga terhadap nilai EPS. Artinya, perubahan keuntungan yang dihasilkan perusahaan terkait dari tahun ke tahun bisa lebih volatile karena biaya operasional, pajak dan bunga yang ditanggung tinggi. 

Contoh Perhitungan Rasio Leverage

Dikisahkan perusahaan A pada November 2021 memiliki data keuangan sebagai berikut:

  • Total Aset= Rp. 500.000.000
  • Utang Jangka Pendek= Rp. 50.000.000
  • Utang Jangka Panjang=Rp. 300.000.000
  • Beban Bunga= Rp. 10.000.000
  • Jumlah Pendapatan Sebelum Dikurangi Pajak dan Bunga (EBIT)= Rp. 15.000.000
  • Total Ekuitas= Rp. 300.000.000

Maka rasio leverage perusahaan A adalah sebagai berikut:

1. Debt To Asset Ratio

DAR = (50.000.000+ 300.000.000+10.000.000) : 500.000.000 

= 360.000.000: 500.000.000= 0,72.

Ini artinya 72% aset perusahaan A dibiayai oleh utang entah itu utang jangka pendek maupun utang jangka panjang. 

2. Debt To Equity Ratio

DER =(50.000.000+ 300.000.000+10.000.000) : 300.000.000

= 360.000.000 : 300.000.000 = 1,2 

Hal ini berarti untuk setiap 1 rupiah ekuitas yang dimiliki oleh para pemegang saham (termasuk pemilik perusahaan) ada 1,2 rupiah utang yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. 

3. Interest Coverage Ratio (ICR)

ICR = 15.000.000: 10.000.000= 1,,5

Ini menunjukkan bahwa laba perusahaan masih bisa dipakai untuk membayar bunga utang perusahaan tersebut. 

4. Degree of Financial Leverage (DFL)

DFL= 15.000.000: (15.000.000-10.000.000)

= 15.000.000: 5.000.000

= 3

Nilai DFL ini menunjukkan bahwa dalam kasus perusahaan A, 1% perubahan pada total biaya akan berpengaruh terhadap 3% pendapatan perusahaan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.