8 Rekomendasi Saham Untuk Pemula (2021)

Saham Terbaik Untuk Pemula

Berinvestasi di pasar saham memiliki potensi keuntungan yang cukup besar jika memang mampu menguasainya. Hanya saja, banyak pemula yang masih kesulitan dalam memilih saham mana saja yang berpotensi cuan.

Dalam investasi saham dikenal yang namanya saham multibagger yang menggiurkan bagi investor karena bisa memberikan profit berkali-kali lipat. Hanya saja buat para investor pemula tentu masih kesulitan dalam memilih saham-saham multibagger tersebut. Salah satu analis mengatakan jika secara teknikal lalu mencermati peluang terjadinya recovery ekonomi maka kebanyakan saham di berbagai sektor berpotensi masuk dalam saham yang memiliki potensial untung tinggi.

Untuk meraih keuntungan dari saham multibagger maka investor harus bersabar, sebab investasi tersebut adalah jangka panjang. Dengan begitu kenaikan harga saham akan terealisasikan.

Berikut rekomendasi saham untuk pemula yang menjanjikan dan aman di tahun 2021.

1. BBNI

Bank Negara Indonesia (BBNI)

BBNI adalah salah satu saham terbaik untuk pemula karena merupakan perusahaan BUMN yang termasuk dalam saham blue chip terbaik yang ada di Indonesia.

Saham PT Bank Negara Indonesia diprediksi tetap menjanjikan sejalan dengan kapabilitas emiten mempertahankan kinerja fungsi intermediasi tengah tahun ini. Realisasi emiten ini boleh dibilang memuaskan hingga 6 bulan pertama tahun ini, kendati tetap menduduki peringkat di bawah dibanding bank milik pemerintah lainnya.

Langkah restrukturisasi kredit yang dijalankan terdahulu berdampak ke pertumbuhan kinerja di mana kini langkah itu telah turun sehingga memberikan sinyal jika kualitas penyelesaian kredit BBNI makin bagus. Di penutupan bulan Juni 2021 besarnya Rp 81,75 triliun, lebih kecil dari jumlah di bulan Desember 2020 yang menyentuh Rp 102,38 triliun.

Selanjutnya, berkat rencana perluasan bisnis BBNI ditambah lagi digitalisasi sektor perbankan maka ditargetkan bisa berdampak pada kinerja BBNI bisa makin membaik.

2. BMTR

Global Mediacom (BMTR)

Lo Kheng Hong yang merupakan investor besar saham pun mengoleksi saham PT Global Mediacom Tbk (BMTR) ini. Pertimbangannya, induk usahanya yaitu PT Media Nusantara Citra selalu mencatat performa cemerlang sekaligus tata kelola berbagai perusahaannya yang tak usah dipertanyakan lagi.

Di tahun 2020, ketika awal pandemi BMTR ini mampu mencatat laba bersih hingga Rp 900 miliar. Lebih-lebih, di 2019, boleh jadi laba yang dihasilkan pasti lebih besar. Jika emiten memiliki laba besar, maka tata kelola yang dijalankan tak usah diragukan lagi. Karena, jika pengelolaannya payah, pasti tak dapat menghasilkan keuntungan besar.

Untuk diketahui, laba yang dihasilkan grup MNC bisa mencapai lebih dari Rp 1 triliun. Karena merupakan perusahaan dengan track record baik dan potensi pertumbuhan besar, BMTR bisa menjadi pilihan bagus untuk investor saham pemula.

3. MBSS

PT Mitrabahtera Segara Sejati (MBSS)

Investor ternama Indonesia Lo Kheng Hong cukup berminat dengan saham PT Mitrabahtera Segara Sejati ini. Salah satu alasannya adalah valuasi MBSS dianggap masih murah dengan nilai buku per saham Rp 1.200.

Lo Kheng Hong kerap menyatakan bahwa kecermatan investor membeli saham emiten bagus ketika harganya murah. Sebagian indikator yang kerap dicermati Lo yaitu menghitung PER dan price book ratio value.

Mitrabahtera kali pertama listing di Bursa Efek Indonesia April 2011 silam. Ketika itu saham MBSS dijual di harga Rp 1.600. Akan tetapi, harga tersebut terus turun sampai di harga Rp 221. Semenjak Lo Kheng Hong mulai membeli sahamnya di tahun 2016, harga saham MBSS mulai meningkat kembali.

4. PTRO

PT Petrosea Tbk (PTRO)

Petrosea (PTRO) adalah anak usaha PT Indika Energy (INDY). INDY memiliki saham PTRO sebanyak 704.014.200 saham yang setara dengan 69,80%. Investor lainnya yaitu Lo Kheng Hong yang menguasai 151.422.200 saham yang setara 15,01%. Adapun kepemilikan saham publik kurang dari 5% porsinya mencapai 13,50%.

Sebagian besar pendapatan emiten dihasilkan dari usaha pertambangan, jasa, rekayasa dan konstruksi sementara pendapatan lainnya. Penyusutan pendapatan dikarenakan permintaan batubara dari beberapa pelanggan yang berkurang.

5. ADRO

Adaro Energy (ADRO)

Harga batubara internasional makin melejit. Kalangan analis mencermati prospek emiten batubara masih dapat menguat, termasuk PT Adaro Energy dengan kode saham ADRO. Harga batubara  untuk kontrak pengiriman Oktober 2021 di Ice Newcastle misalnya meningkat 0,68% menjadi $141,00/metrik ton. Malah pernah mencapai rekor $143/metrik ton.

Kendati harga batubara relatif meningkat dari permulaan tahun, nyatanya performa ADRO untuk kuartal pertama tahun 2021 tak begitu solid. Karena pemasukan emiten jatuh 7,8% yoy ke US$ 692 juta. Sedangkan untuk laba bersih emiten juga anjlok 27% yoy menjadi US$ 72 juta. Untuk jangka pendek saham ADRO pun berpeluang rebound berkat peningkatan harga batubara.

Karena merupakan perusahaan tambang berstatus blue chip yang memiliki reputasi internasional baik, ADRO sering dianggap sebagai saham pertambangan terbaik yang bisa masuk dalam koleksi investasi saham bagi pemula.

6. BBRI

Bank Rakyat Indonesia TBK (BBRI)

Bank Rakyat Indonesia dengan kode saham BBRI mengadakan rights issue untuk pembentukan Holding Ultra Mikro. Emiten ini menyediakan maksimal 28.213.191.604 saham seri B yang harganya cuma Rp 50/lembar.

Emiten sudah menentukan harga saham saat rights issue sebanyak Rp 3.400 / saham. Sehingga, bank milik pemerintah bisa mengantongi dana ditambah hasil inbreng senilai Rp 95,92 triliun. Hadirnya ekosistem Holding Ultra Mikro bisa sebagai tolok-ukur sejarah baru perkembangan UMKM yang belum menikmati layanan dari bank.

Kinerja BRI tetap positif kendati dihajar pandemi Covid-19. Emiten bisa mencatat laba Rp 12,54 triliun sampai penghujung semester I 2021. Realisasi tersebut meningkat kurang-lebih 22,93% bila dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Bank BRI telah lama memegang status sebagai saham bank terbaik sehingga potensi jangka panjangnya kami nilai sangat baik untuk dikoleksi investor yang baru memulai.

7. KLBF

Kalbe Farma (KLBF)

Emiten Kalbe Farma dengan kode saham KLBF mampu mencatat performa memuaskan dalam semester I tahun 2021. Perusahaan ini mencatat peningkatan top line dan juga bottom line. KLBF menghasilkan peningkatan penjualan bersih sampai 6,6% yoy sebesar Rp 12,37 triliun sementara tahun  sebelumnya hanya Rp 11,6 triliun.

Laba pun meningkat 7,91% yoy menjadi sebesar Rp 1,49 triliun. Peningkatan kinerja KLBF dalam enam bulan pertama 2021 ini tak terlepas dari situasi perekonomian nasional yang mulai menunjukkan tanda-tanda pulih. KLBF berusaha membuat inovasi dengan pengadaan layanan maupun produk yang makin ekonomis serta dibutuhkan masyarakat.

KLBF mengincar pertumbuhan top line serta bottom line dari 5% sampai 6% untuk tahun 2021.

8. PGAS

Perusahaan Gas Negara (PGAS)

Untuk kuartal pertama tahun 2021, PGAS mampu mencatat pendapatan senilai USD 733,15 juta. Jumlah itu anjlok dari periode yang sama tahun lalu yang bisa mencapai USD 873,80 juta. Sesuai besaran pendapatan itu maka PGAS membukukan laba operasi senilai USD 95,90 juta dengan nilai EBITDA senilai USD 191,24 juta.

PGAS  meraup pertumbuhan laba yang diatribusikan ke pemilik entitas induk sebesar Rp 870 miliar di kuartal pertama tahun 2021, bertumbuh bila dibanding periode yang sama tahun 2020 yang hanya USD 47,7 juta. Mencermati prospek permintaan gas bumi yang tetap prospektif ke depan di mana akan ada penambahan demand hingga 550 juta ton per tahun di tahun 2030.

PGAS akan berusaha menambah perluasan usaha LNG salah satunya adalah masuk ke pasar LNG Retail. PGAS tentunya memiliki tanggung jawab besar dalam memenuhi kebutuhan gas dalam negeri yang berkecenderungan naik di tahun-tahun mendatang.

Dengan potensi pertumbuhan yang tinggi, saham ini cocok untuk dikoleksi investor pemula untuk dimasukkan dalam portofolio jangka panjang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *