Lompat ke konten
Daftar Isi

5 Sektor Saham Paling Berisiko

Sektor Saham Paling Berisiko

Saham merupakan salah satu instrumen investasi dengan tingkat risiko tinggi. Namun demikian, setiap saham memiliki potensi risiko dan imbal hasil yang berbeda. Hal ini terjadi karena banyak faktor, termasuk diantaranya adalah faktor sektor bisnis perusahaan penerbit saham tersebut. 

Pada tahun 2021-2022 lalu misalnya, harga komoditas tambang di pasar dunia naik, maka tidak heran jika harga saham perusahaan pertambangan di negeri ini juga naik, sementara sektor lainnya tidak. Oleh karena itu, penting bagi Anda untuk mengetahui sektor-sektor saham apa saja yang ada di Bursa Efek Indonesia dan bagaimana pergerakannya. 

Untungnya pada awal tahun 2021 lalu, BEI menerbitkan beberapa indeks saham per sektor. Dengan indeks ini, Anda bisa mengetahui pergerakan rata-rata harga saham sektor terkait di bursa dengan tanpa harus memeriksa setiap saham. Setelah membahas 5 sektor saham paling stabil, berikut ini 5 sektor saham paling berisiko:

1. Sektor Teknologi (IDXTechno)

Tidak dapat dipungkiri bahwa sektor teknologi adalah salah satu sektor saham yang sempat trend dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini karena adanya beberapa perusahaan startup yang mulai melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), seperti PT Gojek Tokopedia (GOTO) dan Bukalapak. 

Selain perusahaan startup pembuat aplikasi, seperti kedua perusahaan tersebut, IDXTechno juga terdiri dari perusahaan penjual berbagai alat elektronik, seperti PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL), penyedia solusi dan jasa konsultan teknologi dan masih banyak lainnya. 

Sejak dirilis pada Januari 2021, nilai indeks IDXTechno sempat naik 5 kali lipat dari 2.100 per lembar menjadi 11.900 per lembar, sebelum kemudian berangsur-angsur turun hingga mencapai titik 4.700 seperti saat ini. Dilihat dari fluktuasi nilai ini saja tampak bahwasanya saham-saham sektor ini memang memiliki risiko tinggi. 

Tidak hanya dari fluktuasi harga, risiko tinggi ini juga datang dari kondisi bisnis. Pasalnya, beberapa perusahaan yang bergerak di sektor ini masih belum mencapai titik profitabilitas. Hal ini disebabkan oleh banyak hal, mulai dari mahalnya akuisisi bisnis teknologi di Indonesia, hingga manajemen strategik yang kurang baik. 

High risk high return, namun jika perusahaan-perusahaan teknologi ini bisa berhasil dalam beberapa tahun ke depan, maka tidak menutup kemungkinan keuntungan yang bisa Anda peroleh juga besar. 

2. Sektor Infrastruktur (IDXInfra)

Secara natural,bisnis di bidang pembangunan infrastruktur, seperti pembangunan jalan, tower, bandara dan lain sebagainya memang merupakan investasi berisiko tinggi. Pasalnya, modal awal yang dibutuhkan untuk membangun berbagai fasilitas publik tersebut sangat besar, belum termasuk biaya operasionalnya setiap tahun. Maka dari itu, tidak heran jika investasi di sektor ini juga cukup berisiko. 

Namun demikian, apabila pembangunan dan perawatan fasilitas publik tersebut bisa sukses dan berjalan dengan baik, maka keuntungan yang diperoleh juga besar. Misalnya dari pembangunan jalan tol. Jika jalan tol tersebut ramai, maka jumlah kas yang masuk ke perusahaan pengelola dari setiap kendaraan yang masuk juga besar. 

Selain perusahaan konstruksi seperti Waskita Karya dan Wijaya Kaya, indeks ini juga termasuk perusahaan yang membangun infrastruktur teknologi, seperti Telkom (TLKM), Smartfren (FREN), Indosat (ISAT) dan lain sebagainya. 

3. Sektor Properti (IDXPropert)

Sama seperti sektor infrastruktur, bisnis di bidang properti dan real estate juga memiliki risiko tinggi, sebab proses pembangunannya yang memakan waktu lama dan membutuhkan biaya besar. Belum lagi apabila unit perumahan atau toko yang dibangun belum terjual semua. Hal ini mengakibatkan investasi di bidang ini juga memiliki risiko tinggi. 

Selain dari segi bisnis, hal ini juga tercermin dari pergerakan nilai IDXPropert sejak pertama kali diterbitkan pada awal 2021. Meskipun sempat mengalami kenaikan beberapa kali, namun secara garis besar nilai indeks saham ini mengalami penurunan hingga 17,5% dari 881 rupiah pada Januari 2021 menjadi 727,16 rupiah per Juli 2023. 

Indeks ini terdiri dari 79 perusahaan dengan berbagai skala yang bergerak di bidang pembangunan dan manajemen real estate. Beberapa diantaranya yang cukup terkenal adalah Lippo Cikarang (LPCK), Bumi Serpong Damai (BSDE), Sentul City (BKSE), Ciputra Development (CTRA) dan masih banyak lainnya.

4. Sektor Bahan Baku (IDXBasic)

IDX Sector Basic Materials merupakan indeks yang berisi saham dari berbagai perusahaan yang memproduksi bahan baku untuk konsumen retail maupun industri lain. Bahan baku tersebut, seperti bahan kimia, bahan-bahan untuk membangun infrastruktur dan properti, bahan untuk pengepakan hingga bahan tambang, seperti besi, tembaga dan lain sebagainya. 

Contoh perusahaan yang bergerak di bidang ini adalah PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), sebuah perusahaan yang memproduksi resin, seperti Monomer, Polyethylene, Polypropylene dan masih banyak lainnya. 

Investasi di sektor ini terbilang berisiko karena kinerja bisnis perusahaan-perusahaan ini secara umum bergantung pada kinerja bisnis lain yang bekerja sama dengannya dan harga bahan baku di pasar domestik maupun internasional. Meskipun demikian, karena bergerak di bidang industri bahan dasar, kinerja perusahaan di bidang ini masih tetap akan dibutuhkan dalam jangka panjang. 

5. Sektor Transportasi (IDXTrans)

Sesuai dengan namanya, IDX Sector Transportation & Logistic adalah indeks yang berisi saham-saham yang bergerak di bidang transportasi, baik itu darat, laut maupun udara. Jasa yang disediakan oleh perusahaan-perusahaan dalam indeks ini pun beragam, mulai dari maskapai penerbangan, seperti Garuda, perusahaan bis, perusahaan sewa mobil dari mobil biasa hingga mobil box dan mobil mewah, hingga persewaan helikopter, semua ada. 

Secara garis besar, nilai IDXTrans cukup konsisten meningkat dari Rp 850 per lembar pada awal peluncurannya menjadi 1.900 rupiah pada awal Juli 2023. Namun dari Juni 2022 hingga awal Juli 2023 nilai indeks ini terus mengalami penurunan dari 2.352 rupiah hingga 1.900 rupiah. Penurunan ini seiring dengan penurunan saham-saham besar yang menjadi konstituen indeks ini, seperti Blue Bird (BIRD), PT Temas (TMAS), AirAsia Indonesia (CMPP) dan beberapa lainnya. 

Hal ini bukan merupakan hal yang aneh, mengingat ancaman penurunan daya beli akibat inflasi dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada paruh akhir tahun 2022, mau tidak mau mempengaruhi kinerja bisnis sektor ini. Pemahaman mengenai pembagian sektor saham penting untuk dimiliki oleh Anda sebagai investor pemula, sebab hal ini akan membuat pemilihan saham sesuai kondisi ekonomi menjadi relatif lebih mudah.

Farichatul Chusna

Farichatul Chusna

Setelah lulus dari Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Farichatul Chusna aktif sebagai penulis artikel ekonomi, investasi, bisnis, dan keuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *