Lompat ke konten
Daftar Isi

Strategi Investasi Agresif dan Risikonya

Strategi Investasi Agresif dan Risikonya

Pernahkah Anda mendengar istilah strategi investasi agresif? Atau mengenal istilah investor tipe agresif? Yup! Sederhananya, strategi ini adalah strategi yang diambil oleh investor dengan profil risiko tersebut. Namun, mengambil strategi yang satu ini juga memiliki risiko dan tantangan sendiri. Apa saja itu? Simak pembahasannya berikut ini:

Pengertian Strategi Investasi Agresif

Dilansir dari laman Investopedia, strategi investasi agresif adalah strategi yang berusaha memaksimalkan keuntungan, alih-alih hanya menjaga keamanan modal investasi. Strategi yang satu ini umumnya diterapkan dalam bentuk pengaturan portofolio investasi. 

Seorang investor disebut memiliki strategi investasi yang agresif apabila dia mencari keuntungan dengan mengalokasikan modalnya pada instrumen yang menawarkan keuntungan dan risiko tinggi, seperti saham, komoditas atau forex. Namun demikian, tingkat agresivitas ini relatif apabila dibandingkan dengan portofolio dari investor lainnya. 

Misalnya, kita punya investor A, B, dan C. Investor A memiliki portofolio investasi yang terdiri dari 50% saham, 25% obligasi dan 25% reksa dana. Investor B memiliki portofolio investasi 25% saham, 25% obligasi, 25% reksa dana dan 25% deposito. Adapun investor C memiliki portofolio investasi 10% forex, 35% saham, 35% obligasi dan 20% deposito. Dari contoh ini dapat disimpulkan bahwa strategi investor C paling agresif, investor A agresif nomor dua dan investor B paling konservatif. 

Strategi investasi agresif umumnya lebih cocok untuk investor berusia muda. Selain karena tanggap teknologi, strategi investasi ini juga menuntut investor dan trader untuk terlibat secara aktif dalam pembentukan dan eksekusi strategi trading. 

Contoh Instrumen Investasi Agresif

1. Saham kapitalisasi pasar rendah

Contoh instrumen investasi agresif yang pertama adalah saham dengan kapitalisasi pasar rendah. Saham jenis ini umumnya memiliki tingkat risiko lebih tinggi dibandingkan dengan saham blue chip. Pasalnya, saham yang masuk ke dalam kategori ini umumnya belum terkenal dan tidak terlalu diminati pasar. 

2. Investasi di negara berkembang

Negara-negara di dunia terbagi kedalam 3 kategori, yaitu negara maju, negara berkembang dan negara miskin. Saat ini mayoritas negara berkembang terletak di Asia dan Eropa Timur, termasuk Indonesia. Selain dalam masalah pertumbuhan dan perkembangan ekonomi, kondisi sosial politik dan kualitas pemerintahan di negara berkembang seringkali lebih tidak stabil apabila dibandingkan dengan kondisi sosial politik di negara maju. 

Namun demikian, negara-negara berkembang adalah negara yang berpotensi memiliki tingkat pertumbuhan tinggi. Oleh sebab itu, investasi di negara berkembang acapkali dianggap lebih berisiko dibandingkan dengan investasi di negara maju. 

Investasi di negara berkembang ini dapat disalurkan menjadi dua, yaitu melalui investasi atau trading forex dengan membeli mata uang negara tersebut atau dengan berinvestasi secara langsung dengan mendirikan pabrik atau cabang perusahaan misalnya.

3. Obligasi dengan kupon tinggi

High risk high return, semakin tinggi risikonya, semakin tinggi pula keuntungan yang ditawarkan. Dalam konteks obligasi, tingginya keuntungan bergantung pada besar kecilnya kupon yang ditawarkan. Sebuah perusahaan akan mempertimbangkan banyak hal untuk menentukan besaran kupon yang akan mereka tawarkan kepada calon investor. Termasuk dari hal yang ditawarkan tersebut adalah tingkat kupon obligasi pemerintah dan ranking obligasi dari lembaga pemeringkat efek. 

Obligasi korporasi cenderung menawarkan kupon yang lebih tinggi dibandingkan obligasi pemerintah. Perusahaan penerbit obligasi korporasi juga akan menawarkan kupon yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan lainnya apabila dia mendapatkan peringkat efek yang buruk dari lembaga pemeringkat efek. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah supaya investor tertarik untuk membelinya. Oleh sebab itu, obligasi dengan kupon tinggi cenderung berisiko karena diterbitkan oleh perusahaan dengan riwayat kredit yang buruk.

4. Instrumen derivatif

Instrumen derivatif adalah instrumen investasi yang nilai dan harganya mengikuti nilai dan harga aset yang mendasarinya. Biasanya, instrumen ini terdiri dari kontrak-kontrak yang terkait dengan aset dasar tersebut (underlying asset). Maka dari itu, Anda tidak bisa dikatakan telah berinvestasi pada instrumen investasi terkait dengan membeli instrumen derivatif ini. 

Instrumen derivatif dikatakan sebagai instrumen investasi agresif karena beberapa hal, seperti menuntut pengetahuan ekonomi dan kontrak terkait dengan baik, serta acapkali membutuhkan modal besar. 

5. Investasi properti

Strategi investasi agresif tidak melulu soal instrumen keuangan, tetapi bisa juga investasi properti. Pasalnya, investasi properti seperti membangun rumah atau kamar untuk disewakan membutuhkan modal yang lumayan tinggi, perawatan teratur dan pemasaran yang baik. Akan tetapi kalau investasi properti yang Anda lakukan berhasil, keuntungan dari properti tersebut bisa besar dan awet hingga bertahun-tahun.

Strategi investasi agresif juga bisa berbentuk “cara” atau transaksi untuk memperjualbelikan instrumen di atas. Contohnya, Anda membeli saham kapitalisasi pasar besar dengan binary option, atau membeli saham dengan tanpa analisis terlebih dahulu.

Risiko dan Tantangan Investasi Agresif

Risiko investasi agresif setinggi dengan potensi keuntungan yang bisa Anda peroleh. Seperti investasi properti di atas misalnya, kalau menguntungkan, keuntungannya bisa besar dan awet bertahun-tahun, tapi kalau gagal, uang puluhan hingga ratusan juta bisa melayang.

Untuk mengatasi hal ini, investor atau manajer investasi dituntut untuk bisa melakukan kebijakan investasi aktif. Dalam konteks pasar modal dan pasar komoditas, kebijakan investasi aktif ini berbentuk jual beli instrumen investasi terkait untuk menyeimbangkan atau mengurangi kerugian yang ada dalam portofolio investasi. 

Dalam konteks investasi properti, hal ini memiliki wujud yang berbeda. Investor properti, selain dituntut untuk rajin memasarkan propertinya, juga dituntut untuk merawat properti tersebut dengan baik. Tentu calon pembeli atau penyewa enggan memilih rumah atau kamar kos yang tidak dirawat dengan baik. Akibatnya, harganya bisa turun. 

Seberapa Agresif Sebaiknya dalam Berinvestasi?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, pertama Anda harus tahu tipe profil risiko Anda terlebih dahulu. Pasalnya, strategi investasi agresif tidak cocok untuk investor tipe konservatif karena risikonya terlalu tinggi. 

Kedua, tentukan level keuntungan yang ingin Anda peroleh dan level kerugian yang ingin Anda hindari. Dari data level keuntungan dan kerugian tersebut, Anda akan tahu instrumen apa yang cocok. 

Ketiga, tentukan cara transaksi. Seperti yang telah disebutkan di atas, transaksi saham dengan binary option sangat berisiko meskipun saham yang dibeli adalah saham blue chip. Begitu pula dengan membeli saham bagus tapi tidak dengan menggunakan uang dingin atau membutuhkan biaya besar. 

Keempat, pertimbangkan waktu. Strategi investasi agresif membutuhkan waktu dan keahlian untuk menyeimbangkan portofolio, sehingga strategi ini relatif kurang cocok untuk investor yang memiliki pekerjaan atau kesibukan lain di luar investasi terkecuali jika Anda menyewa jasa manajer investasi atau tim ahli lainnya.

Farichatul Chusna

Farichatul Chusna

Setelah lulus dari Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Farichatul Chusna aktif sebagai penulis artikel ekonomi, investasi, bisnis, dan keuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *