Lompat ke konten

Apakah Trading Halal Atau Haram Menurut Hukum Islam?

Sebagai agama yang rahmatan lil alamin, hukum-hukum agama Islam dituntut untuk bisa sesuai dengan perkembangan zaman. Termasuk saat ini ketika transaksi ekonomi di dunia telah tidak mengenal batas negara dan waktu. 

Salah satu transaksi ekonomi yang sering diperdebatkan mengenai boleh atau tidaknya dalam agama Islam adalah transaksi trading. Hal ini mengingat bahwasanya trading memang transaksi yang memiliki risiko tinggi dan apabila tidak hati-hati bisa terjebak skema judi (maysir), ,riba atau jenis transaksi lain yang tidak diperbolehkan dalam hukum Islam. 

Sebelum membahas apakah trading itu halal atau haram dalam agama Islam, sebaiknya Anda memahami terlebih dahulu apa itu trading dan bagaimana mekanismenya. 

Mengenal Trading

Trading secara bahasa dapat diartikan sebagai transaksi jual beli. Secara istilah, istilah trading identik digunakan untuk jual beli aset-aset keuangan di pasar modal, pasar keuangan maupun pasar komoditi berjangka.

Banyak orang yang menyalah artikan bahwa trading sama dengan investasi, begitupun sebaliknya. Akan tetapi, pada dasarnya kedua hal ini memiliki perbedaan yang cukup mendasar yaitu investasi berorientasi pada keuntungan jangka panjang sementara trading adalah jual beli aset keuangan yang berorientasi pada keuntungan jangka pendek. 

Seorang trader umumnya hanya akan memegang suatu aset dalam jangka waktu kurang dari satu tahun sementara seorang investor bisa memegang aset dalam jangka waktu bertahun-tahun. 

Komoditas yang diperjualbelikan dalam trading umumnya juga lebih bervariasi daripada investasi. Komoditas investasi umumnya berupa saham, etf, reksa dana atau obligasi sementara komoditas yang diperjualbelikan dalam trading bisa berupa saham, mata uang hingga minyak. 

Trading Menurut Hukum Islam

Secara garis besar, hukum trading adalah mubah (boleh). Salah satu karakteristik hukum mubah ini adalah hukum mubah atau boleh bisa menjadi sunnah atau wajib jika ada hal-hal yang membuatnya demikian. Sebaliknya, hukum mubah akan menjadi makruh atau haram jika ada faktor-faktor yang mengharamkannya juga. 

Contoh perubahan hukum ini dalam konteks umum seperti, makan. Secara umum, hukum seorang manusia mengkonsumsi makanan adalah boleh. Namun jika makanan yang dikonsumsi adalah babi atau anjing, maka hukumnya menjadi haram. Makan akan menjadi wajib apabila seseorang yang sakit harus makan obat supaya terhindar dari kematian. 

Dalam konteks trading, hal ini tergantung dengan banyak hal seperti, jenis komoditas yang diperjualbelikan dan kontrak jual beli yang dijalankan. Oleh sebab itu, jangan heran apabila ada perselisihan diantara para ulama’ mengenai komoditas dan transaksi apa yang boleh dijalankan dengan sistem trading.

Trading saham misalnya hukumnya mubah atau boleh selama saham yang diperjualbelikan tidak mengandung unsur riba, dan bukan diterbitkan oleh perusahaan yang menjual barang-barang yang diharamkan agama maupun negara. 

Trading saham juga tidak diperbolehkan apabila kontrak trading yang dijalankan adalah short selling (jual kosong). Hal ini karena dalam Islam jual kosong termasuk kategori bai’ al ma’dum yaitu jual beli suatu barang yang barangnya belum ada. 

Selain itu, transaksi ini juga tidak diperbolehkan karena pada dasarnya penjual tidak memiliki hak untuk menjual saham tersebut karena belum sepenuhnya menjadi miliknya. Hal ini sama saja dengan Anda menyewakan rumah kepada pengontrak lalu pengontrak tersebut menjual rumah tersebut kepada orang lain. 

Fatwa MUI Mengenai Trading

Otoritas mengenai penentuan hukum sebuah transaksi muamalah di Indonesia sepenuhnya dimiliki oleh Majelis Ulama’ Indonesia khususnya Dewan Syariah Nasional (DSN-MUI). Untuk menjalankan tugasnya ini, MUI telah mengeluarkan berbagai fatwa diantaranya:

1. Fatwa DSN-MUI 28/DSN-MUI/III/2002 tentang jual beli mata uang

Dalam fatwa ini, MUI dengan jelas menetapkan bahwa transaksi jual beli mata uang asing (forex) diperbolehkan asal memenuhi syarat berikut:

  1. Tidak ada unsur spekulasi atau jual beli forex dengan dasar untung-untungan saja dengan tanpa analisis yang mendalam.
  2. Ada kebutuhan untuk berjaga-jaga, simpanan atau untuk lindung nilai. 
  3. Apabila mata uang yang ditukarkan adalah mata uang yang sama (IDR/IDR, USD/USD dan lain sebagainya), maka jumlah nilai pertukaran harus sama dan dilakukan secara tunai. 
  4. Apabila mata uang yang ditukarkan adalah mata uang yang berbeda (IDR/USD atau sebaliknya), maka nilai pertukaran harus sesuai dengan kurs valas yang berlaku serta harus dilakukan secara tunai. 

MUI juga menuliskan beberapa kontrak forex yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan dalam mekanisme trading ini. Kontrak yang diperbolehkan adalah kontrak spot dimana transaksi dilakukan pada hari itu tapi penyelesaiannya dua hari kemudian. 

Adapun transaksi forward, swap dan option telah secara resmi melarangnya. Hal ini terkecuali untuk transaksi forward yang berbentuk forward agreement dan dilakukan karena kebutuhan. 

2. Fatwa DSN-MUI 80/DSN-MUI/III/2011 tentang penerapan prinsip syariah dalam perdagangan efek bersifat ekuitas di pasar reguler Bursa Efek

Sama halnya dengan forex, transaksi jual beli atau trading dalam pasar reguler Bursa Efek Indonesia juga diperbolehkan oleh MUI. Tentunya hal ini berlaku dengan ketentuan khusus seperti:

  1. Adanya kesepakatan antara jumlah dan harga penjualan antara penjual dan pembeli. 
  2. Pembeli baru bisa menjual efek yang dibelinya ketika proses transaksi jual beli efek tersebut sudah selesai. 
  3. Efek yang diperjualbelikan sudah sesuai dengan prinsip syariah. Artinya, tidak menjual barang-barang haram atau mengandung riba dalam batasan tertentu yang telah ditetapkan oleh MUI. 
  4. Harga jual beli yang dijalankan sama seperti harga pasar.

MUI juga telah menetapkan berbagai jenis transaksi yang tidak diperbolehkan seperti:

  1. Pump and Dump.
  2. Hype and Dump.
  3. Trading berdasarkan informasi yang menyesatkan.
  4. Front Running.
  5. Wash Sale.
  6. Pre-Arranged Trade.
  7. Pooling interest.
  8. Cornering.
  9. Insider trading.
  10. Margin Trading.
  11. Short Selling dan lain sebagainya. 

Tips Trading Agar Sesuai Dengan Hukum Islam

1. Trading saham syariah

Tips yang pertama tentu saja dengan trading pada saham-saham syariah. Saham-saham syariah disini adalah saham dari perusahaan yang tidak memperjualbelikan barang haram, kondisi utang dan bunga bank yang sudah sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan oleh MUI serta tidak memiliki pendapatan bunga atau pendapatan tidak halal lainnya lebih dari 10%. 

Saat ini Bursa Efek Indonesia sudah menerbitkan berbagai indeks syariah yang bisa membantu investor dan trader untuk memilih saham-saham syariah terbaik.

2. Analisislah objek trading secara mendalam

Salah satu tindakan yang tidak diperbolehkan dalam transaksi keuangan menurut agama Islam adalah tindakan spekulasi atau untung-untungan. Sayangnya, tindakan ini bisa dilakukan oleh banyak orang mulai dari trader sampai investor. 

Untuk menghindari sikap ini, analisisnya objek atau komoditas yang ingin Anda perjual belikan. Ketahui mengapa nilai tukar rupiah ke dollar bisa naik turun, mengapa harga saham fluktuatif dan lain sebagainya.

Pada dasarnya, penetapan saham syariah bertujuan untuk menghindari kerugian baik dari sisi trader maupun perusahaan. Oleh sebab itu, pilihlah komoditas trading Anda dengan hati-hati.

nv-author-image

Farichatul Chusna

Setelah lulus dari Ilmu Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Farichatul Chusna aktif sebagai penulis artikel ekonomi, investasi, bisnis, dan keuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.