Daftar Saham Syariah Terbaik di Indonesia (2021)

  • Saham
Saham Syariah Paling Bagus

Untuk investor yang tertarik berinvestasi namun ragu akan kehalalan aset yang akan dibeli, pilih saja saham syariah. Perusahaan-perusahaan ini merupakan kumpulan saham dengan usaha sesuai dengan prinsip islam. Konsep emiten yang sesuai syariah adalah adanya aktivitas musyarakah atau syirkah yang artinya penyertaan modal yang menawarkan hak bagi hasil.

Tak setiap emiten bisa langsung dikelompokkan dalam saham syariah. Ada dua peraturan yang mendasarinya. Pertama yaitu saham yang sesuai kriteria seleksi sesuai regulasi Otoritas Jasa Keuangan No. 35/POJK.04/2017 mengenai Kriteria dan Penerbitan Daftar Efek Syariah. Kedua yaitu saham yang dicatatkan emiten ke kelompok saham syariah sesuai ketentuan OJK nomor 17/POJK.04/2015.

Berbagai kriteria dari saham syariah sesuai aturan OJK di antaranya: perusahaan tak menjalankan aktivitas usaha perjudian, perdagangan tanpa penyerahan barang/jasa, layanan keuangan ribawi seperti bank atau lembaga pembiayaan konvensional ataupun juga asuransi konvensional, dan masih banyak lagi.

Emiten-emiten di daftar di bawah merupakan perusahaan yang termasuk dalam indeks saham syariah Indonesia seperti Jakarta Islamic Index 70 (JII70) dan IDX-MES BUMN 17.

Berikut saham syariah terbaik di Indonesia pada tahun 2021:

1. Bank Syariah Indonesia (BRIS)

Bank Syariah Indonesia (BRIS)

Bank sebagai penggabungan tiga banyak syariah ini punya jumlah asset sekitar Rp 234,4 triliun, di mana di kuartal pertama 2021 mampu mencetak kinerja cerah dengan net profit kurang-lebih Rp 741,6 milar. Apabila membandingkannya dengan jumlah asset, harga saham bank syariah ini terhitung sangat murah (1 Juli 2021 harganya hanya Rp.2.280 dengan nilai PBV kurang-lebih 4,1).

Dicermati dari sisi fundamental maka tak mustahil jika harga saham BRIS bisa mencapai Rp.10.000 di akhir tahun.

2. Indofood Sukses Makmur (INDF)

Indofood Sukses Makmur (INDF)

Performa saham Indofood Sukses Makmur di semester pertama tahun 2021 terlihat sudah sesuai prediksi. Pendapatan dan laba bersih meningkat 27,2% dan 23,57% seiring dengan mulai membaiknya perekonomian. INDF termasuk dalam perusahaan consumer goods paling baik saat ini.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pun otomatis menaikkan daya beli masyarakat. Penjualan produk konsumer INDF makin menguat berkat empat kelompok bisnis strategis yang melengkapi satu sama lain.

Di samping itu setelah melakukan akuisisi Pinehill Company Limited oleh ICBP pun diprediksi akan melebarkan target penjualan produk INDF di pasar mancanegara. Kini saham INDF memiliki nilai PER 8 kali lebih rendah dibanding rata-rata nilai PER pada tiga tahun terakhir yang mencapai 12,97 kali.

Karena itu sejumlah analis pun memberikan rekomendasi untuk membeli saham INDF pada target harga Rp 8.450.

3. Unilever Indonesia (UNVR)

Unilever Indonesia (UNVR)

UNVR dalam semester pertama tahun 2021 kinerjanya tetap saja lesu. Data penjualan bersih saham yang masuk dalam indeks syariah ini anjlok 7,33% yoy ke Rp 20,18 triliun. Sementara untuk periode sama tahun 2020 lalu nilai penjualan bersih mampu membukukan angka Rp 21,77 triliun.

Produk kebutuhan rumah tangga dan perawatan tubuh tetap menguasai penjualan yang kontribusinya mencapai Rp 12,49 triliun. Namun, realisasi tersebut lebih kecil 10,71% dari nilai pada semester pertama 2020. Kemudian data penjualan makanan dan minuman membukukan angka Rp 6,69 triliun yang meningkat tipis 0,33% yoy dibanding periode sama tahun 2020 sebesar Rp 6,66 triliun.

Penjualan produk UNVR yang lesu ikut menurunkan angka laba bersih. Hingga Juni 2021, laba bersih UNVR menurun 15,85% yoy dengan hanya menghasilkan Rp 3,05 triliun.

4. Japfa Comfeed Indonesia (JAPFA)

Japfa Comfeed Indonesia (JAPFA)

Emiten saham syariah ini membukukan kinerja keuangan positif enam bulan pertama 2021. Bila membandingkannya dengan periode sama tahun sebelumnya, performa keuangan Japfa melejit hingga 7 kali. Di paruh pertama tahun 2021, saham ini sukses mencatat besaran laba hingga Rp1,59 triliun sementara di periode sama tahun lalu cuma Rp 204 miliar.

Harga saham JPFA sempat menembus nilai tertinggi di 30 April 2020 seharga Rp2.330. Sementara terendah sempat berada di angka Rp1.360.

5. Semen Indonesia (SMGR)

Semen Indonesia (SMGR)

Saham syariah dengan kode SMGR ini sukses membukukan performa bagus dalam enam bulan pertama 2021. Perusahaan milik negara ini mencatat volume penjualan hingga 19,15 juta ton yang artinya bertumbuh 5,7% dibanding periode sama tahun sebelumnya sebanyak 18,11 juta ton.

Naiknya volume penjualan itu ditopang volume penjualan pasar dalam negeri serta ekspor. SMGR mencatat pendapatan seharga Rp 16,21 triliun semester pertama 2021 ini yang artinya meningkat 1,18% yoy.

Saham ini pun mengantongi laba bersih hingga Rp 794,12 miliar untuk enam bulan pertama 2021 atau meningkat 29,66 %. SMGR dianggap masih memiliki potensi meningkat. Untuk enam bulan kedua 2021 diproyeksikan volume penjualan bakal meningkat antarar 6%-8%. Peningkatan yang mayoritas dihasilkan dari penjualan dalam negeri.

6. Indah Kiat Pulp and Paper (INKP)

Indah Kiat Pulp and Paper (INKP)

Saham INKP mencatat lonjakan penjualan bersih sampai 9,64% yoy ke angka US$ 1,62 miliar pada enam bulan pertama tahun 2021. Sementara laba bersihnya melejit 39,20% yoy ke angka US$ 282,9 juta.

Sekalipun mencatat peningkatan performa bagus dalam semester pertama tahun 2021 fluktuasi harga saham INKP relatif menurun dari Januari. Pada 24 Agustus misalnya, harga INKP merosot hingga 34,05% year to date ke harga Rp 6.875 per lembarnya. Namun, dicermati dari siis fundamental, laba INKP yang meningkat sampai 39,20% yoy dapat sebagai sentimen positif untuk kenaikan saham syariah ini.

7. Pakuwon Jati (PWON)

Pakuwon Jati (PWON)

Meskipun terkena imbas pandemi Covid-19, performa top line saham PWON di kuartal pertama tahun 2021 merasakan pelemahan. Kendati demikian, laba bersih saham syariah PWON malah bisa membukukan peningkatan.

Selama kuartal pertama 2021, PWON dapat mencatat pendapatan senilai Rp 1,11 triliun yang artinya anjlok 32,4% yoy. Sedangkan untuk bottom line, perusahaan yang bergerak di sektor properti tersebut mencetak pertumbuhan hingga 254,5% yoy.

8. Kalbe Farma (KLBF)

Kalbe Farma (KLBF)

Perusahaan farmasi PT Kalbe Farma mampu mencatat performa bagus dalam semester I tahun 2021. Emiten saham yang sesuai dengan syariah dengan kode KLBF tersebut mencatat peningkatan untuk top line dan juga bottom line. KLBF menghasilkan peningkatan penjualan bersih sebanyak 6,6% yoy ke Rp 12,37 triliun. Sementara untuk periode sama tahun kemarin hanya mencatat besaran Rp 11,6 triliun.

Peningkatan dalam penjualan bersih tersebut ikut meningkatkan laba periode berjalan sebesar 7,91% yoy ke Rp 1,49 triliun. Peningkatan kinerja KLBF dalam enam bulan pertama 2021 tak lepas dari situasi perekonomian dalam negeri yang mulai pulih beberapa waktu belakangan.

Seperti diketahui pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan bisa mencapai besaran 3,1% sampai 3,3% pada semester pertama tahun 2021 yang akan ikut mendongkrak daya beli masyarakat. Laba KLBF yang baik menjadikannya salah satu saham kesehatan terbaik.

9. XL Axiata (EXCL)

XL Axiata (EXCL)

Performa laba bersih perusahaan dengan kode EXCL di enam bulan pertama 2021 menurun sampai 59% bila dibanding periode yang sama tahun lalu. Meskipun terjadi penurunan laba, XL Axiata masih dianggap sebagai salah satu saham telekomunikasi terbaik yang ada di pasar modal.

Hingga Juni 2021, EXCL menghasilkan laba bersih sebesar Rp716 miliar yang artinya anjlok dikomparasi dengan periode tahun lalu yang menembus angka Rp1,75 triliun.

Kendati performa bottom line anjlok namun beberapa analis tetap merekomendasikan mengoleksi saham perusahaan telekomunikasi ini dengan target harga Rp3.600 sampai penghujung tahun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *