Lompat ke konten

Daftar Saham Syariah Terbaik di Indonesia (2022)

Saham Syariah Paling Bagus

Saham syariah cocok untuk investor yang tertarik berinvestasi namun ragu akan kehalalan aset yang akan dibeli. Konsep emiten yang sesuai syariah adalah adanya aktivitas musyarakah atau syirkah yang artinya penyertaan modal yang menawarkan hak bagi hasil.

Tak setiap emiten bisa langsung dikelompokkan dalam saham syariah. Ada dua peraturan yang mendasarinya. Pertama yaitu saham yang sesuai kriteria seleksi sesuai regulasi Otoritas Jasa Keuangan No. 35/POJK.04/2017 mengenai Kriteria dan Penerbitan Daftar Efek Syariah. Kedua yaitu saham yang dicatatkan emiten ke kelompok saham syariah sesuai ketentuan OJK nomor 17/POJK.04/2015.

Berbagai kriteria dari saham syariah sesuai aturan OJK di antaranya: perusahaan tak menjalankan aktivitas usaha perjudian, perdagangan tanpa penyerahan barang/jasa, layanan keuangan ribawi seperti bank atau lembaga pembiayaan konvensional ataupun juga asuransi konvensional, dan masih banyak lagi.

Emiten-emiten di daftar di bawah merupakan perusahaan yang termasuk dalam indeks saham syariah Indonesia seperti Jakarta Islamic Index 70 (JII70) dan IDX-MES BUMN 17.

Berikut saham syariah terbaik di Indonesia pada tahun 2022:

1. Bank Syariah Indonesia (BRIS)

Bank Syariah Indonesia (BRIS)

Bank hasil penggabungan tiga bank syariah ini punya jumlah asset sekitar Rp 251 triliun rupiah dan laba bersih sebesar 2 triliun pada kuartal ketiga tahun 2021. Jumlah ini lantas meningkat pada akhir November tahun 2021 lalu. Ketika itu, perusahaan membukukan laba sebesar 2,8 triliun rupiah dan aset sebesar 256 triliun.

Meskipun menunjukkan performa yang solid dan potensi pasar besar, namun kenyataannya harga saham BRIS sepanjang tahun 2021 cenderung mengalami penurunan. Saat ini, saham BRIS dijual dengan harga 1795 rupiah per lembar.

Dengan nilai tersebut, maka kapitalisasi pasar BRIS sebesar 73,090 triliun rupiah dan Bank Syariah Indonesia resmi menjadi salah satu saham perbankan terbesar di Indonesia.

2. Indofood Sukses Makmur (INDF)

Indofood Sukses Makmur (INDF)

Performa saham Indofood Sukses Makmur sepanjang tahun 2021 terlihat fluktuatif di angka 6.000-6.850 per lembar. Harga saham perusahaan ini memiliki potensi kenaikan seiring dengan peningkatan daya beli masyarakat pasca pandemi karena walau bagaimanapun INDF termasuk dalam perusahaan consumer goods paling baik saat ini.

Pendapatan dan laba bersih perusahaan ini meningkat dari 4,7 triliun pada akhir 2020 menjadi 8 triliun lebih pada akhir kuartal ketiga tahun 2021 ini. Hal ini membuktikan bahwa kinerja perusahaan sebenarnya cukuo baik hanya saja memang menunggu proses pemulihan ekonomi nasional.

3. Unilever Indonesia (UNVR)

Unilever Indonesia (UNVR)

Setelah pandemi Covid-19, industri consumer goods di Indonesia kembali melambung setelah sempat menurun.

Apabila dilihat dari segi fundamental, penjualan bersih Unilever pada kuartal ketiga tahun 2021 hanya turun sebesar 2 triliun dibandingkan periode yang sama di tahun 2020 lalu. Laba bersih perusahaan asal Belanda ini juga hanya turun 1 triliun.

Apabila dilihat dari variabel yang sama (penjualan dan laba bersih) pada 5 tahun keblakang penjualan produk dan laba bersih Unilever memang termasuk terendah. Akan tetapi, rentang penjualan dan laba perusahaan ini masih berkisar pada 30 triliun dan 4-7 triliun saja. Hal ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa kinerja saham tidak melulu menggambarkan kondisi keuangan perusahaan secara menyeluruh.

Ini juga membuktikan bahwa perusahaan ini sebenarnya cukup stabil dan siap untuk rebound seiring dengan perbaikan ekonomi dan daya beli masyarakat.

4. Japfa Comfeed Indonesia (JAPFA)

Japfa Comfeed Indonesia (JAPFA)

Japfa adalah perusahaan peternakan yang terkemuka di Indonesia. Banyak produk-produk perusahaan ini yang dikonsumsi masyaarakat sebagai lauk pauk atau pakan ternak. Maka dari itu, tidak heran jika Japfa juga terpukul ketika pandemi.

Pada kuartal ketiga tahun 2020 misalnya, laba periode berjalan perusahaan ini hanya menyentuh 190 miliar. Nilai ini jauh lebih rendah dibandingkan laba periode yang sama di tahun 2019 dan 2018 yang berhasil menembus 1 triliun. Untungnya pada akhir September 2021 lalu perusahaan ini berhasil rebound dengan menghasilkan laba 1,6 triliun rupiah.

Dengan performa keuangan sebaik ini, tidak heran jika harga saham Japfa cenderung stabil antara 1.500 per lembar hingga 2.000 per lembar pa sepanjang tahun 2021. Kini harga saham peternakan ini dijual dengan harga 1750 per lembar.

5. Semen Indonesia (SMGR)

Semen Indonesia (SMGR)

Saham syariah dengan kode SMGR ini sukses membukukan performa cukup bagus sepanjang tahun 2021. Perusahaan milik negara ini mencatat pendapatan sebesar 25,3 triliun rupiah pada akhir September 2021. Jumlah ini sedikit menurun dibandingkan pendapatan tahun 2020 yang mana SMGR berhasil mencetak pendapatan sebesar 25,6 triliun rupiah.

Penurunan pendapatan ini berimbas pada laba bersih dan sahharga saham SMGR. Pada periode Januari-September 2021, laba bersih perusahaan semen ini menurun 6,3% dari yang awalnya 1,5 triliun di tahun 2020 menjadi 1,4 triliun di tahun 2021.

Saham SMGR pun juga turun hingga mencapai salah satu titik terendah dalam 5 tahun terakhir. Namun demikian, banyak pihak yang menilai, disamping Covid-19, penurunan harga saham SMGR juga disebabkan oleh banyaknya investor asing yang menjual saham perusahaan ini.

6. Indah Kiat Pulp and Paper (INKP)

Indah Kiat Pulp and Paper (INKP)

Indah Kiat Pulp and Paper adalah perusahaan yang memproduksi barang-barang dari bubur kayu seperti, tisu, kertas, buku tulis dan lain-lain. Salah satu produksi perusahaan ini yang terkenal adalah buku buku tulis Sinar Dunia (Sidu).

Hingga akhir kuartal ketiga tahun 2021, kinerja keuangan INKP cukup bagus. Perusahaan ini berhasil mencatatkan pendapatan sebesar 2,5 miliar USD dan laba sebesar 389 miliar USD. Nilai ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama di tahun 2020. Saat itu, perusahaan hanya membukukan pendapatan dan laba masing-masing sebesar 2.191 miliar USD dan 285 miliar USD. Hal ini terbilang cukup beralasan mengingat salah satu sumber pendapatan perusahaan ini adalah negeri tiongkok.

Berbalik dengan performa keuangannya, harga saham INKP justru menunjukkan trend penurnuan yang kuat selama tahun 2021. Puncaknya, hsaham perusahaan ini sempat dijual dengan harga 6250 per lembar pada tanggal 19 Agustus. Harga jual ini lebih rendah 30% apabila dibandingkan dengan harga jual saham perusahaan ini saat ini yaitu sebesar 7825 per lembar.

7. Pakuwon Jati (PWON)

Pakuwon Jati (PWON)

Meskipun terkena imbas pandemi Covid-19, laba bersih saham syariah PWON malah bisa membukukan peningkatan hingga akhir September 2021. Tercatat pada Januari-September 2021, perusahaan developer ini berhasil mencetak laba bersih sebesar 801 miliar rupiah.

Laba ini memang masih jauh lebih rendah dibandingkan laba PWON sebelum pandemi yang bisa menembus angka 2 triliun. Namun, dibandingkan kuartal ketiga tahun 2020, jumlah ini sudah meningkat hingga 70 miliar rupiah.

Di satu sisi meskipun cukup berfluktuasi, harga saham PWON sudah menunjukkan perbaikan pasca pandemi. Hal ini menunjukkan bahwa investor masih belum sepenuhnya percaya kalau industri konstruksi dan properti akan segera membaik pasca pandemi.

8. Kalbe Farma (KLBF)

Kalbe Farma (KLBF)

Perusahaan farmasi PT Kalbe Farma mampu mencatat performa bagus di tahun 2021. Emiten saham yang sesuai dengan syariah dengan kode KLBF tersebut mencatat peningkatan untuk top line dan juga bottom line. KLBF menghasilkan peningkatan penjualan bersih sebanyak 10,5% yoy ke Rp 19 triliun. Sementara untuk periode sama tahun kemarin hanya mencatat besaran Rp 17 triliun.

Peningkatan dalam penjualan bersih tersebut ikut meningkatkan laba periode berjalan sebesar 10,84% yoy ke Rp 2,3 triliun. Peningkatan kinerja KLBF di tahun 2021 tak lepas dari situasi perekonomian dalam negeri yang mulai pulih beberapa waktu belakangan.

Seperti diketahui meskipun sektor kesehatan adalah salah satu industri yang agak diuntungkan pandemi, namun demikian tetap saja kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat berperan penting dalam industri ini. Laba KLBF yang baik menjadikannya salah satu saham kesehatan terbaik.

9. XL Axiata (EXCL)

XL Axiata (EXCL)

Performa laba bersih perusahaan dengan kode EXCL hingga kuartal ketiga 2021 masih 50% saja bila dibanding periode yang sama tahun lalu. Meskipun demikian, XL Axiata masih dianggap sebagai salah satu saham telekomunikasi terbaik yang ada di pasar modal.

Hingga September 2021, EXCL menghasilkan laba bersih sebesar Rp 1,03 triliun yang artinya anjlok dikomparasi dengan periode tahun lalu yang menembus angka Rp 2,08 triliun.

Kendati performa bottom line anjlok namun beberapa analis tetap merekomendasikan mengoleksi saham perusahaan telekomunikasi ini diperkirakan akan tetap naik hingga akhir tahun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.