Window Dressing dalam Saham: Pengertian, Contoh, Kasus

Window Dressing dalam Dunia Saham

Dalam dunia investasi saham ada yang dikenal dengan window dressing. Bagi para pelaku saham teknik ini cukup familiar. Para emiten atau perusahaan yang menjual sahamnya adalah pelaku utamanya.

Pengertian Window Dressing

Window dressing adalah teknik yang dilakukan emiten untuk memoles tampilan laporan keuangan pada portofolio agar terlihat lebih menarik di mata investor dan pemegang saham. Aksi manipulasi melalui window dressing dikategorikan tidak etis karena berisi informasi menyesatkan.

Selain perusahaan, manajer investasi juga melakukan hal yang sama tapi objeknya adalah reksa dana yang dikelola. Tujuannya agar saham dan reksa dana terlihat memiliki catatan positif yang menarik investor untuk membeli dan memanfaatkan instrumen saham tersebut.

Pengaruh window dressing adalah citra perusahaan yang meningkat di mata publik. Jika citra perusahaan yang semakin bagus, alhasil investor akan semakin banyak yang membeli saham mereka. Tapi, ada juga efek negatifnya ketika ternyata polesan yang dilakukan berlebihan sehingga dicurigai investor.

Contoh Window Dressing

Ada beberapa contoh praktek window dressing untuk mempercantik portofolio yang terindikasi dilakukan oleh sejumlah emiten. Biasanya emiten akan menerapkan sejumlah trik di bidang akuntansi untuk lebih mempertegas strategi ini tanpa ketahuan. Berikut ini penjelasannya.

1. Piutang Menjadi Pendapatan

Pada tahun 2018 lalu ada sebuah perusahaan kategori BUMN teridentifikasi melakukan strategi mempercantik laporan keuangan. Dimana pada laporan di bursa saham terlihat perusahaan tersebut mendapatkan keuntungan, tapi kenyataannya malah mengalami kerugian.

Kenapa bisa begitu? Setelah diselidiki terdapat piutang dari perusahaan yang belum dilakukan penagihan, kemudian dimasukkan ke dalam kolom pendapatan. Harusnya, piutang masuk dalam kas dan harusnya kas perusahaan menjadi minus akibat piutang tersebut.

2. Laporan Akhir Tahun

Ada pula perusahaan yang menjadi emiten melakukan polesan pada laporan keuangan akhir tahunnya, agar terlihat lebih menggairahkan untuk dijadikan emiten oleh investor. Sehingga di awal tahun berikutnya, emiten memiliki lebih banyak investor yang akan membuat nama baiknya di bursa saham semakin maksimal.

3. Diskon Harga Saham

Emiten akan melakukan diskon harga saham kepada investor, sehingga ketika banyak yang membeli saham mereka maka dana pembelian bisa jadi pendapatan awal yang cukup menggiurkan.

4. Tunda Bayar Tagihan Investor

Ada juga emiten yang melakukan penundaan pembayaran tagihan dari investor, fungsinya adalah untuk meminimalisir pengeluaran periode tersebut. Lalu, memasukkan tagihan pada periode berikutnya. Supaya laporan keuangan periode ini tetap terlihat baik tanpa adanya indikasi merugi.

5. Tunda Pembagian Keuntungan

Di akhir tahun, ada emiten yang menunda pembagian keuntungan supaya memberikan tampilan portofolio khususnya saldo akhir tahun yang lebih tinggi.

Kapan Strategi Mempercantik Portofolio Ini Dilakukan?

Ada dua waktu yang biasa dijadikan momen bagi para emiten untuk mempercantik laporan keuangan mereka.

Pertama, pada setiap kuartal atau tiga bulan sekali dimana mereka harus menyetor laporan keuangan ke bursa saham untuk ditampilkan. Fungsinya, tentu untuk menarik minat pelaku saham membeli saham perusahaan mereka. Laporan keuangan yang baik adalah salah satu faktor yang mempengaruhi harga saham.

Waktu berikutnya adalah, akhir tahun saat membuat laporan akhir tahun yang juga akan dilaporkan secara terbuka di bursa saham. Soal jadwal pastinya adalah di bulan Desember setiap tahun, tergantung kondisi perusahaan dan pasar saham di bulan tersebut.

Dampaknya akan sangat signifikan pada laju Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) yang juga akan memperlihatkan tren positif.

Tips Beli Saham Saat Emiten Melakukan Window Dressing

Jika Anda ingin membeli saham ketika tren ini terjadi, ada beberapa tips yang harus diterapkan. Secara strategi, lebih baik melakukan pembelian saham ketika pergerakan indeks saham mengalami tren positif.

1. Cari Saham Kategori Blue Chip

Blue Chip adalah saham yang merupakan kapitalisasi dari pasar skala besar. Biasanya jumlah pendapatannya mencapai Rp. 10 triliun. Jika Anda tidak mau repot menghitung kapitalisasinya, bisa langsung lihat di daftar saham blue chip di Indonesia.

Dalam daftar emiten di bursa saham kategori ini akan masuk pada indeks LQ45, dimana kemungkinan melakukan window dressing berlebihan sangat kecil, baik oleh perusahaan itu sendiri maupun oknum yang “bermain” di pasar tersebut.

Biasanya harga sahamnya cukup tinggi jika Anda melihat daftar pada indeks LQ45, jika modal terbatas bisa mengecek emiten kategori ini pada indeks IDX30 dan IDX80 yang harga sahamnya lebih murah tapi tetap berkualitas.

2. Cek Teknikal dan Fundamental Saham Emiten

Untuk melihat teknikal saham, Anda bisa cek tren harga saham dari emiten tersebut pada waktu tertentu. Mulai dari satu minggu, satu bulan, tiga bulan, hingga satu tahun ke atas. Jika terlihat tren positif dimana harga saham cenderung meningkat, maka masukkan emiten tersebut dalam daftar incaran Anda.

Sedangkan untuk pengecekan fundamental dilakukan dengan melihat laporan keuangan dari perusahaan tersebut.

3. Alokasi Dana yang Cukup

Jangan memaksakan diri untuk membeli saham harga mahal dengan menggunakan dana kebutuhan sehari-hari Anda. Mulailah dengan menggunakan dana “dingin” seperti selisih pengeluaran dan pendapatan bulanan. Jadi, Anda tidak akan merasa rugi ketika nantinya harga saham turun di saat-saat tertentu.

Trik alokasi dan yang paling aman untuk investasi adalah, menyisihkan sekitar 20 persen dari penghasilan Anda untuk berinvestasi saham. Tapi, itu dilakukan setelah semua kebutuhan tercukupi ya!

4. Lebih Teliti Membaca Laporan Keuangan

Ketelitian dalam membaca laporan keuangan sangat penting dilakukan, jangan sampai ada hal yang terlewatkan karena taruhannya adalah modal yang akan Anda investasikan. Jika Anda tidak mahir mendeteksi perusahaan yang melakukan window dressing, bisa meminta bantuan ahli akuntansi atau fitur-fitur yang tersedia jika melakukan investasi saham menggunakan aplikasi pihak ketiga. Tapi sebaiknya Anda belajar lebih mendalam tentang cara membaca laporan keuangan.

Plus Minus Tren Mempercantik Tampilan Portofolio Emiten

Ada plus minus yang akan dirasakan baik dari segi emiten maupun investor terhadap strategi Window Dressing.

Untuk investor, nilai plusnya adalah semakin banyak investor yang tertarik membeli saham mereka. Tentunya akan meningkatkan nama baik dari perusahaan tersebut pada bursa saham.

Kemudian, dengan tingginya pembelian saham emiten tersebut, akan membuat pendapatan dari jual beli saham jadi meningkat dan bisa menutupi kebutuhan perusahaan bahkan meminimalisir kerugian.

Sedangkan nilai minusnya adalah, ketika ketahuan melakukan windows dressing bisa saja mendapatkan sanksi atau mendapatkan ketidakpercayaan dari investor sehingga melakukan tren selling yang akan berdampak pada turunnya harga saham secara signifikan.

Sedangkan untuk investor, nilai plusnya adalah jika jeli dalam memilih emiten akan mendapatkan harga saham promo dari emiten kategori Blue Chip yang sedang melakukan strategi window dressing. Kemudian, keuntungan jangka panjang dari investasi saham tersebut bisa lebih besar karena mereka memiliki emiten dengan kekuatan keuangan tinggi.

Nilai minusnya adalah kerugian signifikan yang diperoleh, jika tidak teliti memilih emiten pelaku window dressing. Apalagi, jika sampai mengalokasikan modal dari semua sumber penghasilan.

Demikianlah penjelasan lengkap tentang teknik manipulasi ini. Sebagai tambahan wawasan bagi Anda yang ingin bermain saham dan memanfaatkan momen window dressing untuk membeli saham dan menjadikannya investasi jangka panjang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *